Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1:TAKDIR
Malam di sudut kota fiktif di Tiongkok selalu terasa lebih dingin bagi mereka yang tak punya tempat bersandar. Bagi Chen, seorang pemuda yatim piatu berusia dua puluh satu tahun, hidup adalah tentang bertahan dari satu fajar ke fajar berikutnya. Setiap hari, punggungnya menjadi tumpuan ratusan kilogram karung beras, kotak buah, dan barang-barang berat di pasar grosir kota. Upahnya yang pas-pasan hanya cukup untuk membayar sewa kamar kos sempit dan mengisi perutnya yang sering keroncongan.
Malam itu, jam digital di ponsel retaknya menunjukkan pukul sebelas. Pasar sudah sepi, dan Chen berjalan gulai menyusuri trotoar yang remang-remang. Tubuhnya pegal-pegal, efek dari kerja rodi belasan jam.
Namun, langkah Chen terhenti ketika ia melihat sesosok tubuh kurus meringkuk di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
Seorang kakek tua, mengenakan pakaian compang-camping, tampak tertidur pulas di atas semen yang dingin.
Awalnya, Chen egois. “Dunia ini keras, urus saja dirimu sendiri, Chen,” bisik hatinya. Ia melangkah melewati kakek itu sejauh tiga meter. Namun, embusan angin malam yang menusuk tulang membuat Chen merinding. Ia menatap jaket usang yang melekat di tubuhnya sendiri—satu-satunya pelindung yang ia miliki.
Rasa iba mengalahkan logikanya. Chen berbalik, menghela napas panjang, dan melepas jaketnya. Ia mendekat perlahan, berniat menyelimuti tubuh ringkih sang kakek agar tidak mati kedinginan.
Namun, tepat saat ujung jaket Chen hampir menyentuh pundak pria tua itu, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Set!
Mata kakek itu terbuka lebar secara instan. Tidak ada kantuk, tidak ada kebingungan. Sepasang manik mata yang luar biasa jernih, kontras dengan wajahnya yang keriput, langsung mengunci pandangan Chen.
Chen terkesiap, hendak mundur, tetapi seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Saraf-sarafnya terkunci.
Jangankan melangkah, mengedipkan mata pun ia tidak mampu. Malam yang tadinya bising oleh suara angin seketika menjadi sunyi senyap. Hanya ada Chen dan tatapan intens sang kakek.
Kepala Chen mulai berputar hebat. Rasa pusing yang luar biasa menghantam otaknya, seolah-olah ada jutaan informasi tak kasat mata yang dipaksa masuk menembus retinanya.
Pandangannya mengabur, dipenuhi kilatan cahaya keemasan yang aneh. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya dan ia ambruk ke aspal, telinga Chen menangkap suara kekehan pelan yang terdengar sangat lega.
"Misiku telah selesai... Akhirnya, aku bebas."
Ketika kalimat itu selesai diucapkan, bayangan sang kakek perlahan memudar dan menghilang di udara, meninggalkan Chen yang telah jatuh pingsan, tertidur pulas di jalanan yang dingin.
Tirai yang Tersingkap
Kriitt…
Chen tersentak bangun saat matahari pagi mulai menyengat kulitnya. Ia mengerang, memegangi kepalanya yang masih terasa agak berat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.
"Kenapa... kenapa aku bisa tertidur pulas di jalanan?" gumamnya heran. Ia mengingat kejadian semalam, tentang kakek tua itu, tetapi semuanya terasa seperti mimpi buruk yang samar. Anehnya, tubuhnya tidak terasa sakit atau kaku sama sekali. Malah, ia merasa jauh lebih segar dari biasanya.
Sambil memungut jaketnya yang tergeletak di sampingnya, Chen bergegas berjalan pulang ke rumah kosnya yang terletak di gang sempit padat penduduk. Otaknya masih memutar ulang kejadian aneh semalam.
Sesampainya di lorong kos lantai dua, Chen berjalan menuju kamarnya yang berada di ujung. Di sebelah kamarnya, adalah kamar seorang gadis muda bernama Mei, tetangga kos yang terkenal tertutup dan jarang bersosialisasi.
Saat melewati pintu kamar Mei, Chen tiba-tiba merasakan sensasi hangat yang menjalar dari belakang kepalanya menuju kedua bola matanya. Pandangannya bergetar sedikit.
Dan detik itu juga, dunia di sekitar Chen berubah.
Dinding beton tebal berwarna hijau pudar di kamar Mei perlahan-lahan menjadi transparan, seperti lapisan kaca jernih yang memudar. Chen terbelalak. Ia mengucek matanya dengan panik, mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur.
Namun, pemandangan di depannya tidak berubah. Malah menjadi semakin tajam.
Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Chen menyadari satu hal: hidupnya yang biasa sebagai kuli angkut miskin, telah berakhir di malam yang dingin itu.
...KLIK TOMBOL LIKE DAN VOTE YA GAN 😎...
👍😁