NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: KONTROL HORMON YANG GAGAL

Langkah kaki Anaya baru saja mencapai setengah jalan menuju pintu keluar ketika sebuah pergerakan kilat memotong jalurnya. Bima, dengan tubuh tegapnya yang menjulang bak model papan atas, entah bagaimana caranya sudah berhasil memutari meja marmer besar itu tanpa menimbulkan suara. Sebelum Anaya sempat memutar knop pintu, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang tercetak maskulin sudah bertumpu di atas daun pintu, menutup kembali celah udara yang baru saja terbuka.

Anaya tersentak, memeluk kotak bekal stroberinya erat-erat di depan dada seperti seorang ibu yang sedang melindungi anaknya dari serbuan badai. "Pak Bima! Astaga, hobi banget sih muncul mendadak kayak jelangkung!"

Bima tidak menjawab dengan omelan sekretarisnya yang biasa. Pria itu justru menundukkan kepalanya sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Anaya yang kini terpaksa bersandar pada pintu kayu ek yang kokoh. Jarak mereka kembali terkikis habis, menyisakan ruang sempit yang dipenuhi oleh sisa-sisa aroma stroberi segar dan wangi mint dari napas Bima yang berembus pelan.

"Saya kan sudah bilang, Anaya..." suara Bima terdengar sangat rendah, mengalun santai namun penuh dengan intimidasi yang anehnya sanggup membuat lutut Anaya mendadak lemas. "Pajak keamanannya ditinggal di sini. Kamu gak bisa pergi begitu saja setelah bikin kontrol hormon saya berantakan sejak jam delapan pagi."

"Pak, saya cuma makan buah, bukan lagi ikut audisi film dewasa! Kenapa Bapak yang repot kontrol hormon sih?!" protes Anaya dengan berani, meskipun matanya tidak bisa berbohong kalau dia sedang panik melihat kancing kemeja Bima yang sengaja dibiarkan terbuka di bagian atas.

Mata elang Bima tidak mendengarkan protes itu. Fokusnya justru teralih pada tangan Anaya yang gemetar. Di sela-sela jemari wanita itu, masih ada satu butir stroberi berukuran paling besar yang sudah tergigit setengah—sisa kepanikan Anaya saat mencoba menyelamatkan sarapannya tadi.

Tanpa aba-aba, Bima menurunkan tangannya. Dengan gerakan yang teramat santai namun tidak bisa ditolak, jemari panjangnya menyelip di antara jemari Anaya, merebut paksa stroberi setengah tergigit itu dari genggaman sang sekretaris.

Anaya melongo sempurna. "Pak Bima?! Itu kan bekas saya—"

Hap.

Kata-kata Anaya langsung tertelan kembali ke dalam tenggorokan. Matanya melebar sampai rasanya mau keluar dari kelopak saat melihat Bima tanpa ragu sedikit pun memasukkan stroberi setengah tergigit itu ke dalam mulutnya sendiri. Pria itu mengunyahnya dengan santai, matanya sama sekali tidak beralih dari wajah Anaya yang kini sudah berubah warna dari merah muda menjadi merah tua keunguan.

TOLONG! BOS GUE BENERAN KESURUPAN REOG KAMPUNG SEBELAH! INI MANUSIA PURBA KENAPA JADI BEGINI SIH?! teriak Anaya histeris di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Bima menelan buah itu dengan perlahan, membiarkan keheningan di antara mereka terasa semakin pekat dan menyesakkan. Pria itu kemudian mengernyitkan dahinya sedikit, memasang wajah seolah sedang menilai sebuah draf investasi bernilai miliaran rupiah.

"Kurang manis," komentar Bima singkat, suaranya terdengar datar namun sarat akan maksud terselubung.

Anaya mendengus sebal, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang sudah berserakan di lantai marmer. "Ya lagian lagak Bapak kayak kritikus makanan Perancis! Kalau tahu kurang manis, ngapain direbut terus dimakan juga? Dasar bos aneh, kurang kerjaan!"

Bima tidak membalas omelan itu dengan kemarahan. Dia justru memajukan wajahnya satu sentimeter lagi, membuat ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung mungil Anaya. Tatapan mata pria itu turun, melekat lekat-lekat pada bibir bawah Anaya yang sedikit basah karena sisa lip balm dan buah stroberi.

"Saya tahu kenapa buah ini rasanya kurang manis, Anaya," bisik Bima, suaranya kini berubah menjadi sangat parau dan seksi, tipe suara yang biasa dia gunakan kalau sedang ingin mengunci kesepakatan bisnis yang mustahil. "Kayaknya... semua rasa manis dari stroberi ini sudah pindah ke bibir kamu."

Deg.

Kontrol waras di otak Anaya resmi melakukan force close. Kalimat gombalan tingkat dewa yang keluar dari bibir seorang Bimantara yang biasanya super angkuh itu terasa seperti hantaman godam tepat di ulu hatinya. Anaya bisa merasakan napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat karena pasokan oksigen di ruangan itu mendadak terasa menipis secara drastis.

"Pak Bima... Bapak kalau lagi sakit atau kurang tidur, mending saya ambilin obat di kubikel deh," cicit Anaya, tangannya yang bebas mencoba mendorong dada bidang Bima yang terbalut kemeja navy, namun rasanya seperti sedang mendorong dinding beton—keras dan tidak bergeming sedikit pun. "Jangan ngomong yang aneh-aneh. Saya bisa laporin Bapak ke HRD atas tuduhan pelecehan sekretaris sendiri ya!"

Bima terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya bergetar di depan wajah Anaya, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat seluruh bulu kuduk Anaya berdiri tegak.

"Silakan lapor ke HRD, Anaya," sahut Bima dengan nada narsisnya yang legendaris yang kini berpadu dengan aura posesif yang pekat. "Kamu lupa siapa yang punya perusahaan ini? Kepala HRD bahkan harus minta tanda tangan saya dulu kalau mau beli kertas ujian karyawan. Jadi, laporan kamu gak akan pernah sampai ke mana-mana, kecuali kembali ke meja saya."

"Bapak beneran... diktator narsis gak tahu diri!" umpat Anaya dengan suara yang tertahan di tenggorokan, menatap sengit ke arah mata elang di depannya.

"Saya memang diktator, terutama kalau itu menyangkut sekretaris saya yang hobi tebar pesona," balas Bima tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tangannya yang tadinya menempel di pintu kini bergerak turun, dengan berani mengusap pelan sudut bibir Anaya menggunakan ibu jarinya, menghapus sisa kilau basah stroberi di sana dengan gerakan yang teramat lembut namun menuntut.

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi bagi Anaya. Dia membeku seketika, matanya terpejam sesaat menikmati sensasi hangat yang menjalar dari ibu jari Bima menuju seluruh aliran darahnya. Proses slow burn yang selama lima tahun ini mereka jaga di bawah batas profesionalitas kantor, rasanya pagi ini benar-benar sudah berada di titik didih tertinggi, siap membakar habis semua batasan yang ada.

Bima menarik kembali tangannya saat merasakan tubuh Anaya yang semakin menegang di dalam kungkungannya. Pria itu tahu betul kapan harus menekan dan kapan harus memberi kelonggaran agar korbannya tidak benar-benar pingsan karena serangan jantung. Dengan senyuman kemenangan yang sangat menyebalkan namun sialnya terlihat sangat tampan, Bima melangkah mundur dua pijakan.

"Sekarang, kamu boleh keluar," ujar Bima santai, kembali merapikan kerah kemejanya seolah-olah tidak terjadi drama erotis apa pun barusan. "Tapi kotak stroberinya ditinggal. Saya butuh asupan gula untuk menjaga konsentrasi saya setelah draf kerjaan semalam dihancurkan oleh rok sobek seseorang."

Anaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa memedulikan kotak bekalnya yang kini resmi disita oleh sang penjajah narsis, Anaya langsung memutar knop pintu dengan gerakan secepat kilat dan melesat keluar dari ruangan CEO seperti baru saja melihat hantu siang bolong.

Gubrak!

Anaya menutup pintu ruangan Bima dengan keras, lalu bersandar di sana sambil memegang dadanya yang berdegup sangat kencang, saking kencangnya sampai dia takut orang-orang kantor yang baru berdatangan bisa mendengarnya.

"Gila... Pak Bima beneran udah gak waras. Saya harus cepet-cepet cari info lowongan kerja baru sebelum iman saya beneran luluh lantak sama drakula purba itu!" gumam Anaya dengan napas tersengal, sementara di dalam ruangan, Bima sedang menatap sisa stroberi di mejanya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya sepanjang pagi itu.

Tunggu kelanjutannya ya kakak, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!