Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Let Her Go? Or Not?
"Kenapa nggak ngasih tau sih, Kak, kalau mau dinner sama Tuan Muda?" kata Julio malas ketika Lia mengatakan Ren akan menjemputnya untuk makan malam diluar. Pasalnya Julio sudah terlanjur sampai di ruangan Lia saat itu.
"Sorry. Tuan Muda juga mendadak ngajaknya," kata Lia sambil berkemas.
"Keknya Kakak bahagia ya nikah sama Tuan Muda. Padahal dulu pas mau dijodohin bilang nggak mau," komentar Julio membuat Lia menghentikan acara berkemasnya.
"Adekku sayang, hidup cuma sekali, ngapain dibikin pusing? Ini udah takdir Kakak. Terima, nikmati, udah," kata Lia lalu kembali memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya.
"Tapi, Tuan Muda baik kan sama Kakak?" tanya Julio khawatir.
"Buktinya dia ngajakin Kakak dinner," jawab Lia. Julio manggut-manggut.
"Ya udah, Kakak duluan. Udah jam lima soalnya," kata Lia lalu berjalan keluar ruangannya. Julio menatap punggung kakaknya yang berlalu.
"Dia itu mau makan diluar sama suami kenapa nggak touch-up make-up dulu? Heran gue," gumam Julio.
Lia dengan cepat berjalan menuju pintu keluar. Lia yakin Ren sudah menunggunya. Saat Lia mempercepat langkahnya, sebuah suara memanggil.
"Lia,"
Lia menoleh ke arah lobi, dimana sumber suara berasal. Radit berlari kecil menghampiri Lia.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Lia sopan.
"Berhenti menggunakan bahasa formal, Lia," kata Radit.
"Anda tamu saya. Sudah menjadi SOP hotel kami untuk melayani tamu dengan menggunakan bahasa yang sopan, Tuan," kata Lia dingin. Radit menghela napas.
"Baiklah. Besok Tuan Hartmann akan kembali ke Jerman. Dia mencari satu asisten untuk mengerjakan proyek besar disana. Bagaimana? Kamu mau coba?" tanya Radit.
"Saya? Mencoba jadi asisten Tuan Hartmann?" tanya Lia memastikan dia tak salah dengar. Radit mengangguk.
"Bagaimana?" tanya Radit lagi. Lia terdiam.
"Kalau kamu butuh waktu buat mikirin itu, silakan. Aku tunggu sampai nanti malem jam sepuluh," kata Radit. Lia terdiam, berpikir.
Sementara itu, Ren sudah tiba di Hotel Lavendra tepat pukul lima sore. Dia bergegas turun untuk menemui Lia di dalam hotel. Saat memasuki pintu masuk hotel, mata Ren membulat. Dia melihat Lia berdiri di depan Radit. Wajah Lia terlihat begitu serius.
'Apa yang mereka bicarakan? Apa pria itu sedang menyatakan perasaannya?'
***
"Sayang?" panggil Ren pada Lia sambil berjalan mendekat ke arah Lia. Lia menoleh ke arah Ren.
"Ah! Maaf. Aku sudah mau keluar ketika Tuan Radit memanggil," kata Lia. Ren menoleh ke arah Radit, menatapnya tajam.
"Selamat sore, Tuan Muda Damaris. Saya hanya menanyakan satu hal pada Li-, ah, maksud saya, Nona Lia," kata Radit berusaha ramah menyapa Ren yang menatapnya dingin.
"Satu hal?" tanya Ren sambil menoleh ke arah Lia. Lia menaikkan kedua alisnya.
"Hm? Ah, kita bahas sambil makan, gimana? Maaf, Tuan Radit, suami saya sudah datang. Terimakasih tawarannya. Saya akan diskusikan terlebih dahulu dengan suami saya," kata Lia sambil tersenyum ramah.
"Baik. Saya tunggu kabar baiknya," kata Radit lalu berlalu pergi. Ren masih menatap punggung Radit yang berlalu.
"Ehem... Tuan nggak jatuh cinta sama kakak kelas saya itu kan?" tanya Lia dengan nada berbisik dan sedikit meledek. Ren menatap Lia tajam.
"Dia bukan seleraku," kata Ren sambil menatap Lia tajam, membuat Lia sedikit salah tingkah.
"Jadi, kita akan makan dimana?" tanya Lia pada Ren dengan nada suara yang sedikit keras. Staff resepsionis bahkan sampai menoleh ke arah mereka. Ren mengangkat sedikit sudut bibirnya melihat akting Lia.
"Ke tempat yang kamu suka," kata Ren sambil menggandeng tangan Lia tanpa canggung lalu berjalan keluar hotel, membuat jantung Lia melompat-lompat heboh.
Mobil Ren melaju dengan kecepatan sedang menuju restauran Prancis bintang lima yang sudah dia pesan. Lia terlihat menerawang selama perjalanan. Ren tidak bertanya tentang apa yang Lia bicarakan dengan Radit di lobi, meskipun Ren sangat penasaran.
Ren sengaja memilih restauran yang tak terlalu jauh dari Hotel Lavendra. Selain karena menghemat waktu perjalanan, restauran itu adalah salah satu langganan Keluarga Damaris. Setelah lima belas menit perjalanan, mobil Ren sudah terparkir di area parkir Bon Appétit.
"Saya kira Tuan tak tahu resto ini," komentar Lia saat turun dari mobil.
"Keluarga Damaris sering mengadakan jamuan bisnis disini," kata Ren sambil memposisikan lengannya membentuk sudut agar tangan Lia bisa bertengger disana. Lia tersenyum.
"Padaha kita bisa makan di rumah dengan menu yang sama," kata Lia sambil berjalan mengikuti langkah kaki Ren.
"Aku ingin sesuatu yang tak biasa hari ini," kata Ren. Pandangannya lurus ke depan.
Begitu memasuki restauran, Ren dan Lia disambut dengan ramah oleh pelayan disana. Seperti restauran Prancis kebanyakan, Bon Appétit memiliki kesan elegan dan romantis. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak linen putih, lilin aromatik, dan rangkaian bunga segar.
Seorang pelayan mengantarkan Ren dan Lia menuju meja mereka di dekat jendela kaca yang tinggi membentang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan pemandangan taman kecil dengan bunga mawar putih.
Lia mengangguk ramah saat pelayan menarik kursi untuknya. Ren dan Lia duduk saling berhadapan. Setelah memesan makanan, Lia melemparkan pandangan keluar jendela, menatap mawar-mawar putih yang bermekaran. Ren menatap Lia dalam-dalam tanpa mempedulikan pengunjung lain yang diam-diam memperhatikan mereka.
"Kak Radit," kata Lia masih menatap keluar jendela. Ren mengerutkan kedua alisnya saat mendengar Lia menyebut nama pria lain.
"Menawarkan saya untuk menjadi asisten Tuan Hartmann dalam sebuah proyek besar," lanjut Lia. Ren menyimak. Lia menoleh, menatap Ren.
"Dia meminta saya memikirkannya dan memberi jawaban malam ini juga. Besok Tuan Hartmann dan timnya akan terbang kembali ke Jerman," kata Lia, membuat wajah Ren seketika menegang.
"Kamu... mau menerima tawaran itu?" tanya Ren akhirnya. Jantungnya berdegup begitu kencang.
"Menurut Tuan?" tanya Lia. Ren terdiam sesaat.
"Itu kesempatan bagus," jawab Ren singkat.
"Jadi?" tanya Lia sambil menatap Ren.
"Menjadi interior designer adalah mimpi saya," kata Lia. Ren merasakan sesuatu yang perih menusuk hatinya mendengar kata-kata Lia.
"Bukankah akan lebih baik kalau Anda menerima tawaran itu?" tanya Ren dingin.
Lia menaikkan satu alisnya, menyadari perubahan panggilan Ren kepadanya. Lia tersenyum.
"Jadi... Tuan mengijinkan saya?" tanya Lia, mencoba memastikan reaksi Ren.
"Saya tidak berhak atas Anda," kata Ren dingin, sambil membuang pandangannya ke arah taman mawar putih diluar jendela. Lia tersenyum.
"Bukankah saya isteri Anda?" tanya Lia. Ren menoleh, menatap Lia yang tersenyum tipis padanya.
"Isteri?" tanya Ren lirih. Lia mengangguk.
Ren menatap Lia dalam-dalam, mencoba mencari tahu apa yang diinginkan Lia. Tapi Ren sama sekali tak bisa membaca kedua mata yang selalu berbinar itu.
'Apa aku harus menahannya? Atau membiarkannya pergi mengejar mimpinya?'
***