Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.Di Balik Bayangan Hutan — Sasaran Adalah Sang Raja Beruang Emas
Udara di Hutan Perburuan Jiwa terasa berat, beraroma tanah lembap, daun membusuk, dan hawa dingin yang menembus hingga ke tulang. Di antara rimbunan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi, cahaya matahari hanya mampu menembus berkas-berkas tipis, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang bergoyang-goyang seolah bernyawa.
Di tengah jalan setapak yang tertutup lumut tebal itu, berjalanlah sosok pemuda berusia sekitar dua belas tahun. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna kelabu, kainnya agak usang namun bersih, dan di pinggangnya terikat tas kain berisi bekal serta beberapa benda kecil. Itu adalah Xiao Xuan.
Dengan napas yang tenang dan tatapan yang jernih, ia sudah menenangkan detak jantungnya yang sempat memacu kencang saat melewati gerbang masuk hutan. Ia tidak bertindak sembarangan.
Sejak awal, ia tahu bahwa melangkah masuk ke tempat ini sendirian—terutama bagi seorang pemuda dengan kekuatan jiwa tingkat sepuluh—adalah perjudian nyawa. Maka, sebelum melangkah lebih jauh, ia telah dengan cermat mengamati setiap kelompok pemburu yang datang, menilai gerak-gerik mereka, ketegasan mata mereka, dan bagaimana cara mereka berinteraksi satu sama lain.
Bukan dengan daftar angka atau data dingin, melainkan dengan insting tajam yang diasah sejak kecil: orang yang bisa dipercaya selalu memiliki tatapan yang mantap, bukan yang berkedip-kedip penuh rencana jahat.
Akhirnya, pilihannya jatuh pada satu tim yang beranggotakan lima orang. Kapten mereka adalah seorang lelaki berwajah keras, berotot kekar, dengan aura kekuatan jiwa yang menyala stabil di tingkat tiga puluh dua—seorang Tetua Roh bertipe serangan. Namanya Lang Xi.
Xiao Xuan menghampiri, mengangguk hormat, lalu meletakkan setengah keping perak ke telapak tangan lelaki itu. "Kapten Xi, saya mohon izin ikut masuk bersama kalian. Saya hanya butuh ditempatkan di pinggiran aman, selebihnya saya akan bergerak sendiri."
Lang Xi mengamati pemuda di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada kegugupan di sana, tidak ada permohonan yang merendahkan diri. Hanya ketenangan yang tidak wajar bagi anak seusianya.
Ia menyimpan uang itu tanpa banyak bicara, lalu mengangguk pelan. Bagi orang yang juga pernah hidup dalam kekurangan seperti dirinya, ia mengerti betul apa arti perjuangan untuk menjadi lebih kuat.
Kini, setelah melewati zona penjagaan dan masuk cukup jauh ke dalam hutan, Lang Xi berhenti. Ia menoleh ke arah Xiao Xuan, raut wajahnya berubah menjadi campuran antara rasa iba dan kewaspadaan.
"Nak, sampai di sini saja batas tanggung jawabku," ucapnya dengan suara berat, nada bicara tegas namun tidak kasar. "Sesuai kesepakatan, setelah kau melangkah sendiri, urusan hidup matimu bukan lagi tanggung jawab timku.
Jika kau bertemu patroli Balai Roh, katakan saja kau terpisah dari Kelompok Lang Xi. Itu cukup untuk membuatmu selamat dari masalah yang tidak perlu."
Angin berhembus, menggoyangkan ujung lengan baju mereka. Xiao Xuan menangkupkan kedua tangannya di dada, memberi penghormatan yang tulus. "Terima kasih banyak, Kakak Lang Xi. Nasihat dan bantuanmu tidak akan saya lupakan."
Ia berbalik hendak pergi, namun suara berat lelaki itu kembali terdengar di belakang punggungnya.
"Hei, tunggu dulu."
Xiao Xuan berhenti, menoleh sedikit.
"Jenis cincin roh apa yang kau cari?" tanya Lang Xi, matanya meneliti pemuda itu seolah berusaha menebak batas keberaniannya.
"Saya membutuhkan kekuatan murni, Kak," jawab Xiao Xuan tenang, matanya menatap lurus ke arah hutan yang lebih dalam. "Target saya adalah binatang roh bertipe beruang. Semakin kokoh tenaganya, semakin baik."
Sekilas bayangan keprihatinan melintas di wajah Lang Xi. Ia menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah utara, di mana pepohonan terlihat semakin rapat dan hawa kekuatan roh terasa semakin kental.
"Berjalanlah sekitar lima belas li ke arah sana. Di sana ada Beruang Tanah berusia sekitar lima puluh tahun. Dengan tingkatanmu, itu sudah cukup berisiko namun masih masuk akal untuk dicoba. Tapi ingat—jangan melangkah lebih jauh dari itu."
Suaranya menurun, penuh peringatan. "Lebih lima belas li lagi ke arah yang sama, ada penghuni yang jauh lebih berbahaya: Beruang Emas Pencabik, usianya sudah mendekati empat ratus tahun. Makhluk itu ganas, buas, dan kulitnya sekeras besi tempa.
Bahkan kami berlima pun tidak berani mencari masalah ke wilayahnya. Jangan pernah, dalam keadaan apa pun, mendekat ke sana. Kau mengerti?"
Di samping Lang Xi, seorang wanita bertipe pertahanan yang menjadi pelindung tim itu mendengus kesal, jelas tidak senang kaptennya terlalu banyak bicara pada orang asing. Namun Lang Xi mengabaikannya, menatap tajam ke arah Xiao Xuan seolah ingin menanamkan peringatan itu ke dalam kepala pemuda itu.
"Saya mengerti sepenuhnya. Terima kasih atas petunjuknya," jawab Xiao Xuan sambil tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin namun sopan. "Kalau ada takdir, kita pasti akan bertemu lagi di masa depan."
Lang Xi hanya mengangkat tangan tanda perpisahan, lalu berbalik memimpin timnya pergi menjauh, menghilang di balik rimbunan dedaunan.
Ketika suara langkah kaki mereka benar-benar lenyap, senyum di bibir Xiao Xuan perlahan menghilang. Matanya yang hitam pekat berkilat tajam, menatap lurus ke arah utara—ke arah yang justru dilarang oleh Lang Xi.
Beruang Emas Pencabik... batinnya bergema, seolah ada bisikan halus yang melintas di benaknya, lembut namun penuh kepastian. Kau memang yang kucari.
Ia masih ingat betul apa yang pernah dibacanya di perpustakaan Akademi Notting. Beruang Emas Pencabik adalah keturunan sampingan dari ras Beruang Cakar Teror Emas Gelap—salah satu jenis binatang roh terkuat di benua ini.
Meskipun tidak memiliki darah murni leluhurnya, kekuatan tempurnya sama mengerikannya. Catatan tertulis jelas: seekor Beruang Emas Pencabik berusia seratus tahun saja sudah berani berkelahi memperebutkan wilayah dengan binatang roh berusia seribu tahun!
Kulitnya tebal, tenaganya dahsyat, dan serangan cakarnya memiliki sifat menembus pertahanan—persis apa yang paling dibutuhkan oleh Tongkat Besi Penghancur Langit miliknya.
Beruang Tanah berusia lima puluh tahun yang disebutkan Lang Xi? Xiao Xuan hanya menggeleng pelan, sedikit geli dalam hatinya. Itu terlalu lemah. Mengapa ia harus bersusah payah mengeluarkan kemampuan, merencanakan strategi, dan menempuh bahaya hanya untuk sesuatu yang nilainya begitu kecil? Itu sama saja membuang waktu dan potensi.
Dengan napas panjang yang ditarik dalam-dalam, aura di sekeliling Xiao Xuan perlahan berubah. Cahaya samar berwarna biru kehijauan melintas di balik manik matanya
Mata Spiritual Xuan Qing telah diaktifkan, membuat pandangannya menembus kabut, mendeteksi aliran energi dan jejak keberadaan makhluk hidup di kejauhan.
Di saat yang sama, kakinya bergerak dengan irama halus namun cepat, melangkah mengikuti ritme alam—Langkah Awan Tangga. Ia tidak berlari kencang, namun setiap langkahnya menempuh jarak yang jauh, tubuhnya melayang ringan di atas akar pohon dan semak belukar tanpa menimbulkan suara berisik.
Seluruh kekuatan jiwa di dalam tubuhnya dialirkan merata, dijaga agar tidak bocor sedikit pun agar tidak memancing perhatian makhluk buas di sekitarnya.
Jarak yang harus ditempuh sekitar tiga puluh li. Di tanah datar, itu hanya butuh waktu setengah hari. Namun di sini, di tengah hutan purba di mana
cahaya matahari sulit masuk, di mana setiap belokan bisa jadi sarang bahaya, perjalanan itu akan memakan waktu jauh lebih lama. Xiao Xuan memperkirakan, ia baru akan sampai di tujuan besok siang.
Tengah hari berlalu, sore berganti senja, dan kegelapan mulai menyelimuti hutan. Xiao Xuan berhenti di sebuah celah di antara akar pohon raksasa yang cukup aman.
Ia mengeluarkan roti pipih dan air minum yang dibawanya dari Kota Nuoding, makan dengan tenang sambil matanya tetap mengawasi sekeliling. Ia tidak menyalakan api—cahaya dan asap hanya akan menjadi umpan bagi pemangsa malam.
Ia tidur bersandar pada batang pohon yang kokoh, telinga menangkap setiap suara aneh, tubuhnya selalu dalam posisi siap bangun dan bertindak kapan saja.
Keesokan harinya, saat sinar matahari baru saja mulai menyelinap di antara dedaunan, ia sudah kembali melangkah. Semakin jauh ia berjalan, semakin kental hawa buas yang tercium. Bau keringat binatang, bau darah, dan aroma liar yang pekat memenuhi udara.
Dan akhirnya, tepat saat matahari berada di atas kepala, Xiao Xuan berhenti mendadak.
Di depannya, di sebuah dataran kecil yang dikelilingi bebatuan besar, terlihat sosok makhluk raksasa berdiri. Tingginya hampir empat meter, tubuhnya tertutup bulu emas keemasan yang berkilau seperti logam yang dipoles.
Otot-ototnya bergelombang di bawah kulit yang tebal, dan cakar di kakinya yang besar saja terlihat cukup untuk merobek batang pohon seukuran pinggang manusia.
Itulah dia. Beruang Emas Pencabik.
Dan keberuntungan benar-benar berpihak padanya. Saat ini, raksasa berbulu emas itu sedang sibuk. Di bawah cakar besarnya tergeletak seekor Rusa Berduri berusia sekitar empat puluh tahun yang sudah tewas.
Beruang itu sedang merobek kulit mangsanya dengan cakar tajam, mulutnya bergerak-gerak bersiap menyantap daging segar itu.
Hati Xiao Xuan berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang tertahan.
Makan di wilayah sendiri, di depan sarang sendiri... makhluk buas mana pun, saat sedang kenyang atau sedang menikmati makanan lezat, akan menurunkan kewaspadaannya sampai titik terendah.
Naluri dasar mengatakan bahwa saat ini adalah saat paling aman, saat paling nyaman. Padahal, justru saat itulah mereka paling rentan.
Inilah kesempatannya, batin Xiao Xuan, matanya menyipit tajam, seluruh emosi hilang dari wajahnya, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan tajam sebilah pisau.
Tidak ada keraguan, tidak ada rasa ragu. Segala rencana sudah tersusun rapi di kepalanya sejak kemarin.
Tangan kanannya bergerak pelan ke dalam tas kain di pinggang. Tiga lembar kertas jimat berwarna hijau tua, dengan guratan simbol yang rumit dan penuh kekuatan jiwa, tergenggam erat di sana. Itu adalah Jimat Duri Kayu Menancap.
Ada dua cara menggunakan jimat. Cara pertama adalah melepaskannya secara langsung, cepat dan sederhana. Cara kedua, yang jauh lebih sulit namun jauh lebih berbahaya bagi musuh, adalah dengan memandu energinya menggunakan Mata Spiritual Xuan Qing.
Energi itu akan bergerak tak terlihat, menembus tanah, dan meledak tepat di titik yang ditentukan—tanpa peringatan, tanpa suara, seolah muncul dari alam itu sendiri.
Hanya saja, cara kedua ini menghabiskan kekuatan jiwa dua kali lipat. Tapi bagi Xiao Xuan, itu harga yang pantas dibayar demi keberhasilan serangan pertama.
Ia menutup matanya sebentar, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali. Cahaya biru kehijauan melesat dari kedua matanya, menembus tanah, mengunci tiga titik tepat di sekeliling tubuh Beruang Emas itu dalam formasi segitiga—memotong jalan lari, memblokir ruang gerak.
Tanpa ragu lagi, ia melepaskan ketiga jimat itu.
"Hancur!"
Suaranya tidak keras, namun bergema di dalam benak kekuatan jiwanya sendiri.
Bum! Bum! Bum!
Tiga ledakan tertahan terdengar samar dari bawah tanah. Tanah di sekeliling Beruang Emas Pencabik tiba-tiba pecah. Tiga batang kayu raksasa, tebalnya setengah meter, panjangnya lebih dari tiga meter, menjulang tajam ke atas secepat kilat, seolah tumbuh dari dalam bumi itu sendiri.
Beruang Emas itu sama sekali tidak menyangka ada serangan. Tubuh raksasanya tersentak kaget, namun sudah terlambat. Duri kayu yang ujungnya sekeras baja itu menusuk masuk ke sisi kiri, sisi kanan, dan belakang tubuhnya.
Kulitnya yang tebal dan liat memang mampu menahan tusukan yang dalam, namun kekuatan dorongan itu begitu dahsyat hingga robekan panjang terbuka di bulu emasnya, dan darah merah segar seketika membasahi bulu keemasan itu.
"Mengaummm—!!"
Raungan mengerikan, berat, dan mengguncang tanah meledak dari tenggorokan raksasa itu. Mangsa di bawah cakarnya langsung terlempar jauh.
Beruang Emas Pencabik itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, matanya yang besar dan merah darah memancarkan amarah yang meluap-luap. Rasa sakit yang tajam itu membakar seluruh akal sehatnya.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat tiga tiang kayu yang menjulang tinggi mengurungnya. Dengan amarah yang meledak, ia mengayunkan cakar besarnya ke tiang kayu di sebelah kanan, berniat menghancurkan penghalang itu menjadi serpihan.
Namun di balik bayangan pohon, bibir Xiao Xuan menyunggingkan senyum dingin yang tipis. Tangan kirinya kini sudah memegang lembaran jimat kedua, kertas berwarna merah menyala yang memancarkan hawa panas.
"Masakan belum selesai, Tuan Besar," bisiknya pelan.
Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, kekuatan jiwanya berkumpul di ujung jari, siap melontarkan serangan berikutnya.
"Jimat Bola Api... nyala!"