NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 7 : Tujuan Baru

Saat sedang memanggang daging di api, Theo dapat merasakan sesuatu disekitarnya bergerak.

shriek!

Semak di sekitar Theo bergerak, membuat Theo langsung meninggalkan daging dan masuk dalam mode siaga.

Tak disangka, keluar ular putih dari semak-belumar. "Tuan, baunya enak sekali. muehehehehe" ucap White dengan wajah yang ngiler.

"Huh, White, lain kali langsung panggil aku. Kaget aku, kukira musuh tadi."

"Ya tuan."

"Eh ngomong-ngomong, ukuranmu menjadi lebih besar sepertinya ya." ucap Theo dengan wajah berkerut penuh keheranan.

"Eh iyakah tuan?" balas White.

Theo kemudian melihat ukuran White. Dia menjelaskan, White yang tadinya sebesar ibu jari, sekarang sudah sebesar pergelangan tangan.

"Waah, iya tuan. Aku bertambah besar, hehehehe." ucap White dengan raut wajah yang ceria.

Krucuk!

Terdengar suara keroncongan yang sangat keras, sontak White pun langsung memerah pipinya.

"Hehe tuan, White sudah lapar."

"Baiklah, ini, sate harimau tadi." Theo segera mengambil beberapa tusuk daging, dan melepaskannya serta menaruhnya di sebuah puing bangunan.

"nyamm, nyamm, nyamm...

emh... Enyak tuan, racanya mmm."

"Hei telan dulu dagingnya." Theo merasa khawatir karena ular itu berbicara dengan pipi yang terlihat seperti ikan buntal.

Glek

Ukuran White sedikit membesar, lalu ia menatap daging panggang lain dan segera melahapnya.

"Hei hei hei, sisakan sedikit untukku." Theo segera mengambil beberapa daging untuknya.

"Tuan, White masih lapar, muehehehehe.

Di saku tuan, wangi."

White langsung lompat masuk ke saku Theo, kemudian ia memakan sesuatu di saku Theo.

"Hei, itu nggak boleh kamu makan."

Theo segera mengeluarkan White dari sakunya. Sial, White sudah memakan kristal di saku Theo, membuatnya membesar seukuran paha manusia.

"Hei..." Theo yang ingin menegur White segera takjub. Seluruh tubuh White bersinar biru, mengecil, lalu White mulai melilit leher Theo dan tertidur.

"Hahahaha, dia semakin tumbuh. Apalah dayaku manusia yang lemah ini. Haah...

Adikku..."

Theo perlahan menatap ke arah langit yang telah gelap, menyisakan jalur-jalur bintang yang indah dan cahaya bulan yang sangat megah.

Perlahan, langit malam ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang nyaman membuat Theo terlelap bersama dengan White.

Mentari pagi menyambut hari, membangunkan Theo yang sedang tertidur.

"Hoaahm, sungguh pagi yang cerah. Mari kita mencari beberapa tanaman."

Theo segera berjalan berkeliling, tentu dengan White yang masih tertidur di lehernya.

Theo berkeliling hutan, mencari tanaman-tanaman yang kiranya bisa dimakan.

Theo melihat ada sebuah tanaman berwarna merah kehitaman, dia kemudian memetik daunnya dan menggosokkannya, lalu ia sedikit memberikan sari daun itu ke bibirnya.

"Wah, sensasi ini," ucap Theo dengan kegirangan.

"Hah! Gila! Pedas pedas huah hah hah hah hah!"

Theo segera berlari ke sungai di dekat tanaman itu dan berkumur.

"Kakak, kenapa?"

"Eh White? Maaf sudah membangunkan kamu."

Theo kemudian lanjut mencari tanaman yang bisa dimakan. Tidak lupa, ia mengambil buah dari tanaman pedas yang ia makan tadi.

Setelah berkeliling hutan, Theo pergi ke reruntuhan gua.

"Tuan, rumah kita..." White hendak menanyakan tentang gua yang sudah mereka anggap rumah, tapi ia membatalkannya takut membuat Theo tidak nyaman.

"Umm, White, gimana kalo kita cari desa atau pemukiman di dekat sini?

Mmm, aku sih nggak tau ada apa nggak, tapi gimana kalo kita coba?"

"Baiklah tuan."

Sebelum berangkat, mereka menatap reruntuhan gua itu dengan tatapan yang sendu. Mereka mulai memutar balik kenangan bagaimana mereka bisa ada di sana, dan bagaimana mereka tinggal di sana.

Selang beberapa waktu, mereka mulai berjalan menuju satu arah, terutama menuju tempat yang belum pernah mereka jelajahi.

"White, jujur aja, aku nggak suka kamu manggil aku 'tuan'. Gimana kalo kamu manggil aku kakak?" ucap Theo di sela-sela perjalanan mereka.

"Mmm, kakak? Ok deh, kakak.

Kakak, yey kakak, hehehehe."

Theo berjalan cukup lama, terkadang mereka akan berhenti dan mencari sumber air untuk beristirahat.

Theo menebang beberapa bambu hutan, lalu membuat tombak ikan dari bambu itu. Ia pergi ke sungai dan mulai memancing.

Di sungai, Theo menunggu dengan sabar berharap ada ikan yang lewat. Namun naas, tidak sedikitpun ikan lewat di sungai itu.

Satu jam berlalu, Theo belum mendapatkan ikan apapun.

"Kakak, White mau bantu, hehehe."

White mendongakkan kepalanya, lalu ia mulai menjulurkan lidahnya. Dari ujung lidahnya, terbentuk jarum-jarum kecil berwarna perak. Ia kemudian meniupkan jarum itu ke beberapa ikan yang ada di sungai.

Jarum-jarum itu terbang dengan kecepatan yang bukan main, dan menancap di tubuh ikan membuat ikan itu pingsan dan mengapung di sungai.

"Woah, kamu hebat ya White. Aku bangga sama kamu."

"Hehehe, White hebat, hehehe." White merasa sangat bahagia karena dipuji oleh Theo.

Theo segera mengambil semua ikan yang sudah mengapung. Ia kemudian mengambil beberapa herbal dari tasnya, menumbuknya dan mengoleskan pasta herbal ke seluruh ikan yang ada.

Tidak lupa ia juga membersihkan ikan itu, dan menghilangkan sisiknya. Lalu ia membuat api, dan memanggang semua ikan yang sudah di beri bumbu.

White yang ada di leher Theo mulai merasa lapar dan tidak sabar menanti hasil ikan bakar tersebut.

"Hei, hei, Jangan ngiler dong. Nanti ikannya bau. Apalagi kamu kan ilernya ada bisa."

"Hehehe, Kak. Aku udah laper banget nih, hehehe."

Theo mulai memberikan ikan yang dia panggang kepada White. Lalu mereka makan dengan lahap, menikmati langit yang mulai menguning, ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang nyaman.

"White..."

"Iya kak?"

"Gimana kalo kita bermalam di sini aja? Niatku mau bikin ikan asap biar kita punya bekal yang awet."

"Boleh kak, aku bantu lagi ya?"

"Mmm, iya deh tapi kamu kalo bisa arahin di kepala ikannya ya."

Theo menunjuk ke arah kepala ikan.

Mereka mulai bercengkerama, Theo mulai membicarakan bagaimana dia bisa datang di dunia ini, lalu White juga menceritakan ingatan yang ibunya beri melalui mata kanan ibunya.

"Wah, jadi kakak berasal dari dunia lain? Hebaat."

"Ah, tidak seberapa. Kayanya, malah aku yang takjub sama kamu. Ngomong-ngomong White, jujur awalnya aku takut. Apalagi aku meninggalkan adikku di rumah. Adikku berumur 5 tahun, dia adalah gadis mungil yang imut."

"Wah, adik kakak masih 5 tahun? Aku mau ketemu loh. Pasti asik main sama dia." Suara White terdengar polos, tapi hal itu mulai membuat Theo meneteskan air mata.

"Kakak, jangan nangis kak, White yakin kakak pasti bakal ketemu adik kakak kok. Yakinlah kak. Kakak pasti bisa."

White merasa bersalah karena ia mengganggap bahwa dirinyalah yang sudah membuat Theo menangis. Namun, Theo segera menyanggah hal itu, lalu mereka mulai bersenda gurau menikmati malam bersama. Tidak lupa, Theo juga membuat ikan asap demi perjalanan mereka.

Theo dan White mulai tertidur. Di dalam mimpinya, Theo mendapatkan pemandangan aneh. Sebuah tanah lapang, dengan sungai di tengahnya.

"Ini?"

...****************...

End Ch. 7 : Tujuan Baru

Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa like, Favorite dan comment

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!