NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Di lobi kantor Dirgantara Group yang megah, Bianca melangkah keluar dengan bahu yang sedikit lelah namun tetap tegak. Seorang pria berseragam rapi sudah berdiri di samping sedan hitam mengkilat, membukakan pintu untuknya dengan takzim.

"Silakan, Nona Gita," ucap supir itu sopan.

Bianca mengangguk tipis, sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya. Ada rasa canggung yang masih sering menyelinap; ia dikontrak sebagai asisten pribadi, namun Arlan memperlakukannya lebih menyerupai tamu istimewa.

Sepanjang perjalanan membelah kemacetan ibu kota, Bianca hanya menatap keluar jendela. Pikirannya melayang pada kehidupan lamanya sebagai Bianca Adytama—kehidupan penuh lampu kilat dan sanjungan palsu yang kini ia kubur dalam-dalam di balik nama Gita Ivara.

Sesampainya di penthouse apartemen, keheningan menyambutnya. Arlan belum pulang. Bianca melangkah menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar utama. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sebuah objek yang kontras di atas ranjang putihnya yang rapi.

Sebuah kotak beludru berwarna burgundy gelap.

Bianca mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kotak itu dengan ragu. Saat tutupnya dibuka, napasnya sejenak tertahan. Di sana terbaring sepotong gaun malam berwarna black midnight berbahan satin sutra yang jatuh dengan sangat anggun. Di sampingnya, terdapat sepasang stiletto high heels berdesain minimalis namun sangat tajam.

"Seleramu selalu luar biasa, Tuan Arlan," bisik Bianca lirih, hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri.

Potongan gaun itu bukan hanya sekadar mahal, tapi menunjukkan kelas yang sangat spesifik—maskulin namun sensual secara bersamaan. Arlan selalu menyukai wanita yang terlihat kuat namun misterius. Kilasan memori tentang pesta-pesta masa lalu sempat melintas, namun Bianca segera menggelengkan kepala. Ia bukan lagi Bianca yang haus perhatian; ia adalah Gita yang butuh perlindungan.

Ting.

Ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah ia hafal di luar kepala muncul di layar:

"Aku sudah menyiapkan gaunmu untuk malam ini. Jam 7 tepat, aku akan menjemputmu di lobi utama. Jangan terlambat, Gita."

Bianca hanya mengetik jawaban singkat: "Baik, Tuan. Terima kasih."

Pukul 19.00 tepat.

Bianca berdiri di depan cermin besar. Gaun hitam itu membalut tubuhnya dengan presisi yang menakutkan, seolah sang desainer sudah mengukur setiap lekuk tubuhnya dengan saksama. Ia sengaja mengikat rambutnya ke atas dengan model chignon yang rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang pucat. Tidak ada perhiasan mencolok, hanya anting mutiara kecil yang ia bawa dari Surabaya.

Saat ia turun ke lobi, Arlan sudah menunggu di sana, bersandar pada mobil dengan tuxedo yang membuatnya terlihat seperti penguasa malam. Pria itu sedang menyesap rokok elektriknya, namun gerakannya terhenti saat melihat sosok wanita yang melangkah keluar dari lift.

Arlan tidak menyapa. Ia hanya menatap Bianca dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan intensitas yang nyaris bersifat predator. Ada binar aneh di matanya—campuran antara kekaguman dan rasa ingin tahu yang sangat besar.

"Gaun itu cocok untukmu," suara Arlan terdengar lebih berat dari biasanya. Ia melangkah maju, tangannya dengan posesif mendarat di pinggang kecil Bianca, menuntunnya masuk ke dalam mobil.

Bianca merasakan panas menjalar ke pipinya. "Pakaian ini hanya pinjaman, Tuan. Saya tetaplah saya."

"Kita lihat saja nanti di dalam," balas Arlan misterius.

Pertemuan bisnis malam itu diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi oleh jajaran direksi perbankan dan pengusaha properti. Begitu Arlan masuk dengan Bianca di lengannya, suasana sejenak hening. Semua mata tertuju pada wanita asing yang terlihat begitu "berkelas" namun tak pernah terlihat di radar sosialita Jakarta sebelumnya.

Arlan terus menggenggam tangan Bianca, tak membiarkan wanita itu menjauh lebih dari satu jangkah darinya. Ia mengenalkan Bianca sebagai asisten pribadinya, namun caranya memperlakukan Bianca—mulai dari mengambilkan minuman hingga membisikkan instruksi tepat di telinganya—mengatakan hal yang berbeda.

"Tuan, saya rasa beberapa orang mulai berbisik," bisik Bianca pelan saat mereka berdiri di sudut ruangan.

"Biarkan saja. Mereka hanya iri karena aku menemukan permata di tengah perkebunan teh, sementara mereka hanya menemukan batu kerikil di meja judi," jawab Arlan dingin.

**

Bianca berjalan dengan anggun di samping Arlan, jemarinya terselip di lengan jas pria itu. Meski hanya berstatus sebagai "asisten" dari desa, Bianca membawa dirinya dengan ketenangan seorang ratu yang sedang menyamar.

Setiap kali Arlan memperkenalkannya kepada kolega bisnisnya, Bianca hanya tersenyum tipis dan memberikan tanggapan secukupnya. Arlan, di sisi lain, tampak sangat menikmati perhatian yang tertuju pada wanita di sampingnya. Ia bersikap sangat protektif; tangannya hampir tidak pernah lepas dari pinggang Bianca, seolah sedang memamerkan sebuah harta karun yang baru ia temukan di pelosok Jawa Barat.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Gita," bisik Arlan rendah di dekat telinga Bianca, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Sikapmu jauh lebih elegan daripada kebanyakan wanita yang lahir di lingkungan ini."

Bianca hanya menunduk sedikit. "Saya hanya mencoba tidak mempermalukan Anda, Tuan."

Langkah mereka terhenti saat dua sosok familiar muncul dari balik kerumunan tamu. Bianca merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Di depannya, berdiri Kirana Adytama dan Raditya Mahardika. Pasangan itu tampak begitu serasi dan memancarkan aura kebahagiaan yang tulus—pemandangan yang sangat kontras dengan gejolak batin yang dirasakan Bianca saat ini.

Arlan, yang mengenal Raditya sebagai salah satu pemain besar di industri yang sama, langsung menyapa dengan hangat.

"Raditya! Senang melihatmu di sini. Aku tidak menyangka kamu akan membawa istrimu ke acara seformal ini."

Raditya menjabat tangan Arlan dengan tegas sembari tersenyum. "Kirana sedikit bosan di rumah, jadi kupikir suasana malam ini mungkin bisa menghiburnya."

Mata Kirana beralih dari Arlan ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. Detik itu juga, napas Kirana tertahan. Bianca, adiknya berdiri disamping Arlan.

"Dan siapa wanita cantik ini, Arlan?" tanya Raditya, pura-pura tidak mengenal Bianca.

"Ini Gita Ivara, asisten pribadiku," jawab Arlan tanpa ragu, suaranya terdengar sangat bangga. "Aku membawanya dari desa karena bakat dan kecerdasannya yang luar biasa."

Suasana mendadak menjadi tegang bagi mereka yang terlibat dalam rahasia. Arlan dan Raditya kemudian memisahkan diri ke sudut ruangan untuk membahas kerja sama strategis, meninggalkan dua wanita itu dalam keheningan.

Kirana segera menarik Bianca ke arah balkon yang lebih sepi. Begitu mereka hanya berdua, Kirana mencengkeram tangan adiknya itu dengan cemas.

"Bianca? Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu bersama Arlan Dirgantara?"

Bianca menghela napas panjang, menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. "Panggil aku Gita, Mbak. Di sini, aku adalah Gita Ivara."

"Jangan konyol! Kamu adalah Bianca Adytama," bisik Kirana tajam. "Aku tidak menyangka Arlan akan membawamu ke tempat ini. Dan kenapa kamu harus menjadi pelayan, Bianca? Kamu punya rumah, kamu punya kami. Berhenti menghukum dirimu sendiri."

Bianca menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan yang kini jauh lebih dewasa dan tegar. "Aku tidak sedang menghukum diriku, Mbak. Aku sedang mencari arti kedamaian tanpa nama besar ayah. Di desa, aku menemukan ketenangan. Bersama Tuan Arlan... aku belajar untuk berdiri sendiri tanpa embel-embel harta keluarga."

Kirana menatap adiknya dengan nanar. Ia tahu Bianca adalah sosok yang sangat keras kepala, sifat yang diwarisi langsung dari ayah mereka.

"Arlan bukan pria sembarangan, Bianca. Dia skeptis, dingin, dan sangat berkuasa. Jika dia tahu kamu membohonginya soal identitasmu..."

Bianca terkekeh kecil, sebuah tawa getir yang terdengar sangat manusiawi. "Aku hanya mengikuti jejak Mas Raditya, bukan? Bukankah dia juga dulu pura-pura jadi pembantu untuk mendapatkan cintamu? Mungkin ini kutukan atau tradisi di keluarga kita."

Kirana akhirnya tidak bisa menahan senyum tipisnya, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepala, teringat masa lalunya sendiri dengan Raditya.

"Raditya melakukan itu karena cinta, Bianca. Tapi kamu... kamu melakukannya untuk melarikan diri dari masa lalu. Berhati-hatilah. Arlan terlihat sangat posesif padamu. Sorot matanya saat melihatmu tadi... itu bukan sorot mata seorang majikan kepada asistennya."

"Aku tahu, Mbak," bisik Bianca lirih.

"Berjanjilah padaku satu hal," Kirana menggenggam tangan Bianca erat. "Jaga kesehatanmu. Jika sesuatu terjadi, jika Arlan mulai menyakitimu atau rahasiamu terungkap, kembalilah pulang. Jangan pernah merasa sendiri."

Bianca mengangguk, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, momen haru itu terputus saat suara langkah kaki mendekat. Arlan berdiri di ambang pintu balkon, matanya menatap tajam ke arah tangan mereka yang masih bertautan.

"Sepertinya kalian sudah sangat akrab dalam waktu singkat," komentar Arlan, nadanya terdengar tenang namun ada nada kecemburuan yang tersirat di sana.

Kirana segera melepaskan tangan Bianca dan kembali ke sisi Raditya yang baru saja menyusul.

"Gita adalah wanita yang sangat menarik, Arlan. Dia mengingatkanku pada seseorang yang sangat dekat denganku."

Arlan melingkarkan tangannya di pinggang Bianca, menariknya lebih dekat ke tubuhnya seolah sedang menegaskan kepemilikan. "Dia memang unik. Dan aku bermaksud untuk menjaganya tetap berada di sisiku."

Malam itu berakhir dengan kecanggupan yang menggantung. Saat Bianca dan Arlan kembali ke apartemen, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih dingin. Arlan tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun cengkeramannya pada tangan Bianca saat mereka turun dari mobil terasa jauh lebih kuat dari biasanya.

Sesampainya di dalam penthouse, Arlan menghentikan Bianca tepat di depan pintu kamarnya. Ia menyudutkan wanita itu ke dinding, menatapnya dengan pandangan yang mampu menembus jiwa.

"Gita," panggil Arlan, suaranya parau. "Kenapa aku merasa bahwa setiap orang di pesta tadi mengenalmu lebih baik daripada aku mengenalmu?"

"Itu hanya perasaan Anda saja, Tuan," jawab Bianca, mencoba menjaga suaranya agar tidak gemetar.

Arlan mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di pipi Bianca. "Jangan pernah berpikir untuk membohongiku. Karena jika aku tahu kamu hanya sedang bermain peran denganku... aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah."

Arlan kemudian berbalik pergi, meninggalkan Bianca yang terpaku dalam ketakutan.

***

1
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
Mukeseh
deg deg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!