NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: ANOMALI SEISMIK

07:17:05

Vero tidak berteriak. Dia tidak menangis.

Wajahnya keras seperti batu granit. Matanya kering dan tajam.

Dia sudah mati 15 kali. Diledakkan, ditusuk, ditembak, digas, dan terakhir tertimpa reruntuhan beton akibat gempa bumi.

"Gempa..." gumam Vero pelan.

Dia melihat jam tangannya.

07:17:15.

Waktu sudah terlalu mepet untuk melompat ke Kereta Kargo. Jalur rel sudah mulai memisah di depan sana. Jika dia memaksakan diri ke pintu sekarang, dia hanya akan melompat ke udara kosong dan mati konyol di atas kerikil.

Jadi, di loop ini, Kereta Kargo itu akan meledak pukul 08:00. Itu kepastian.

Dan dia akan mati. Itu juga kepastian.

Tapi Vero punya waktu 43 menit sebelum kematian itu datang. 43 menit untuk memecahkan teka-teki baru: Kenapa bumi berguncang di saat dia berhasil menang?

Vero berdiri, berjalan tenang ke arah Sarah.

Dia tidak perlu menyeret Sarah kali ini. Dia duduk di sebelahnya dengan sopan.

"Sarah," panggil Vero.

Wanita itu menoleh, kaget melihat pria asing yang tiba-tiba duduk dan memanggil namanya dengan nada akrab yang mengerikan.

"Siapa—"

"Jangan tanya. Buka laptopmu," perintah Vero tenang. "Lupakan deadline beritamu. Lupakan Triad Industries untuk sebentar. Aku butuh kau membuka situs BMKG. Sekarang."

Sarah mengerutkan kening. "BMKG? Untuk apa? Cuaca cerah."

"Bukan cuaca. Gempa," kata Vero. "Cek aktivitas seismik real-time di wilayah Jakarta dan Selat Sunda. Apakah ada precursor? Apakah ada gempa susulan atau aktivitas vulkanik dalam 24 jam terakhir?"

Sarah menatap Vero aneh. "Kau paranormal?"

"Cek saja. Tolong."

Sarah menghela napas, tapi aura otoritas Vero membuatnya menurut. Dia membuka browser, masuk ke portal data terbuka BMKG.

"Nih," Sarah memutar laptopnya. "Hijau semua. Tidak ada aktivitas signifikan. Sensor di Anak Krakatau normal. Sensor sesar Lembang normal. Tidak ada tanda-tanda gempa besar."

"Cek lagi," desak Vero. "Cek sensor mikro. Bukan yang di laut. Cek sensor tanah di Jakarta Pusat."

Sarah mengetik beberapa filter.

"Jakarta itu tanah endapan, Mas. Jarang ada pusat gempa di sini kecuali kiriman dari selatan. Tunggu..."

Mata Sarah terpaku pada grafik garis di layar.

Ada lonjakan-lonjakan kecil.

Bukan gelombang naik-turun yang halus seperti gempa alam.

Tapi lonjakan tajam. Vertikal. Ritmik.

Dug. Dug. Dug.

"Ini aneh," gumam Sarah. "Sensor di stasiun pemantau Monas dan Kota Tua menangkap getaran frekuensi rendah. Polanya... teratur."

"Teratur?"

"Intervalnya presisi. Setiap 30 detik. Ini bukan lempeng bumi yang bergeser. Ini..." Sarah mencari kata yang tepat. "Ini seperti hantaman mekanis. Atau ledakan bawah tanah yang diredam."

Vero merasa darahnya mendidih.

"Bukan gempa," bisiknya. "Itu bukan gempa 8.5 SR."

Di loop lalu, stasiun runtuh pukul 08:01.

Guncangannya terasa seperti gempa karena stasiun itu berada di bawah tanah.

Tapi jika itu buatan...

"Sarah, cari cetak biru Stasiun Pusat," perintah Vero. "Cari tahu apa yang ada di bawah fondasinya. Gorong-gorong? Pipa gas? Atau proyek konstruksi?"

Sambil Sarah mencari, Vero berdiri.

"Teruskan mencari. Aku harus bicara dengan teman lama."

Vero berjalan ke Gerbong 4.

Dia tidak berlari. Dia tidak membawa gunting.

Dia mendekati Pria Jaket Hitam itu dengan tangan kosong.

Pria itu sedang melihat jam tangannya, gelisah.

Vero langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya.

"Halo, Unit 01," sapa Vero.

Pria Jaket Hitam itu tersentak, tangannya refleks merogoh saku.

Vero menahan tangan pria itu dengan santai tapi kuat.

"Jangan repot-repot. Aku tahu pisau di kiri, pemicu di kanan, Glock di belakang. Aku tahu bom di tasmu cuma mainan. Aku tahu bom kimia di Kereta Kargo sebelah."

Wajah Pria Jaket Hitam itu memucat seketika. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. "Siapa kau... Intelijen?"

"Lebih buruk. Aku hantu masa depanmu," kata Vero. Dia mendekatkan wajahnya. "Aku sudah mematikan bom kargomu di kehidupan lalu. Tapi stasiun tetap runtuh jam 08:01. Kalian menyebutnya gempa bumi."

Pria itu mencoba menyembunyikan senyumnya, tapi gagal. Sudut bibirnya berkedut.

"Ah..." desis pria itu. "Jadi kau berhasil menghentikan Omega? Hebat. Tapi kau lupa Alpha?"

Vero mencengkeram kerah jaket pria itu.

"Apa itu Alpha? Di mana letaknya?"

"Kau pikir Triad Industries sebodoh itu?" Pria itu terkekeh pelan, meski ketakutan terlihat di matanya. "Proyek ini namanya Total Wipeout. Jika gas gagal, jika ledakan gagal... kami pastikan tanahnya yang menelan semuanya."

"Di mana?" tekan Vero. "Di fondasi?"

"Kau tidak akan pernah menemukannya," bisik pria itu. "Itu ditanam saat renovasi stasiun tahun lalu. Di tiang pancang utama. Di bawah beton setebal lima meter. Kau butuh bor industri untuk mencapainya, bukan gunting kuku."

Vero melepaskan cengkeramannya.

Dia mundur.

Bom ketiga.

Bukan di kereta. Tapi di struktur bangunan stasiun itu sendiri.

Ditanam di tiang pancang.

Diledakkan pukul 08:01 sebagai fail-safe terakhir.

Vero kembali ke Sarah. Wajahnya suram.

"Dapat sesuatu?"

Sarah mengangguk, wajahnya tegang. "Aku meretas data maintenance MRT. Ada laporan anomali struktur di Sektor C—area fondasi Stasiun Pusat. Laporannya bilang ada 'rongga tak dikenal' di dekat pilar penyangga utama. Dan tebak kontraktor yang melakukan renovasi tahun lalu?"

"Triad Industries?" tebak Vero.

"Anak perusahaannya. 'Nusantara Konstruksi'. Tapi aliran dananya mengarah ke Triad."

Vero duduk, memijat pelipisnya.

Situasinya semakin mustahil.

 * Bomber 1 (Gerbong 4): Pemicu manual & Timer 08:00.

 * Bomber 2 (Kereta Kargo): Timer Otomatis 08:00 & Sensor Biometrik.

 * Bomber 3 (Fondasi Stasiun): Timer 08:01. Ditanam di beton. Tidak bisa diakses.

Dia harus menghentikan ketiganya dalam waktu kurang dari 60 menit.

Dan Bom ke-3 tampaknya mustahil dijangkau secara fisik.

"Bagaimana cara mematikan bom yang ditanam di beton?" tanya Vero pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa menggali."

Sarah menatapnya. "Vero, kau bicara tentang apa? Bom di beton?"

"Mereka akan meruntuhkan stasiun, Sarah. Tepat setelah kereta kita sampai. Mereka menanam peledak di pilar utama."

"Itu gila," Sarah menggeleng. "Itu butuh detonator nirkabel jarak jauh. Sinyal radio tidak bisa menembus beton dan tanah setebal itu dengan baik kecuali..."

"...kecuali ada repeater (penguat sinyal)," sambung Vero. "Atau kabel fisik yang terhubung ke permukaan."

Mata Vero berbinar.

"Pemicunya!"

Dia ingat ucapan Pria Jaket Hitam di loop sebelumnya. "Operasi ini stereo. Kiri dan Kanan."

Tapi dia juga bilang, "Sistemnya otomatis. Sinkronisasi jam stasiun."

Untuk Bom ke-3 (Fondasi), pasti ada pusat kendalinya. Tidak mungkin mereka membiarkan bom di fondasi meledak otomatis tanpa kontrol, karena itu bisa membahayakan aset mereka sendiri jika kereta kargo terlambat masuk.

Pemicu Bom Fondasi pasti dikendalikan oleh seseorang.

Seseorang yang bisa melihat situasi.

Seseorang yang memastikan target sudah masuk perangkap.

"Siapa?" batin Vero. "Siapa yang punya pandangan visual ke peron stasiun tapi aman dari ledakan?"

Dia menatap Pria Jaket Hitam di Gerbong 4. Pria itu hanyalah pion lapangan.

Prajurit di Kereta Kargo juga pion.

Ada pemain ketiga. The Overseer. Pengawas.

Orang yang menekan tombol keruntuhan stasiun pada pukul 08:01.

Vero melihat jam tangannya.

07:55.

"Kita akan mati lima menit lagi," kata Vero tenang pada Sarah.

"Apa?!" Sarah panik. "Kau bilang kita punya rencana!"

"Rencananya adalah mati dan belajar," kata Vero. Dia memegang bahu Sarah. "Dengar, di kehidupan selanjutnya, aku butuh kau mencari satu hal spesifik: Siapa yang mengawasi CCTV Stasiun Pusat? Siapa yang punya akses ke Ruang Kontrol Stasiun?"

"Kenapa?"

"Karena bom di fondasi itu pasti dikendalikan dari Ruang Kontrol. Aku harus menemukan bajingan yang duduk di kursi nyaman sambil minum kopi dan menekan tombol kiamat itu."

Kereta mulai melambat. Stasiun Pusat terlihat.

07:59:50.

Vero menatap Pria Jaket Hitam yang mulai berdoa komat-kamit memegang pemicunya.

Vero tidak menghentikannya.

Dia membiarkan skenario berjalan.

08:00:00.

Pria Jaket Hitam menekan tombol.

Tas hijau meledak.

Di saat yang sama, Kereta Kargo di sebelah meledak dahsyat.

Api oranye dan gas hijau bercampur menjadi awan kematian.

Vero tidak menutup mata. Dia menatap api itu datang, merekam setiap detail kehancuran, mengubah rasa takut menjadi bahan bakar dendam.

"Tunggu aku, Pengawas," batin Vero saat kulitnya terbakar. "Giliranmu berikutnya."

Sentakan kasar.

Vero membuka mata.

Napasnya stabil. Jantungnya dingin.

"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir..."

Vero melihat jam tangannya.

07:18:05.

Waktu semakin sempit.

Tapi targetnya sudah terkunci.

Bukan Bom 1. Bukan Bom 2.

Tapi Ruang Kontrol Stasiun.

Dia harus sampai di Stasiun Pusat sebelum jam 08:00.

Tapi dia ada di kereta. Kereta ini baru sampai jam 08:00 kurang sedikit.

Bagaimana caranya dia bisa sampai di Ruang Kontrol dan menghentikan si Pengawas sebelum bom-bom itu meledak?

Dia tidak bisa.

Kecuali... dia tidak naik kereta ini sampai tujuan.

Kecuali dia turun di tengah jalan dan mencari moda transportasi yang lebih cepat.

Vero berdiri.

"Sarah. Kita turun di Manggarai."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!