NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 20

“Apa! Cctv?” Velisa menatap panik, masih berdiri di balik punggung sang ibu mertua.

Erlan melangkah mantap, mendekati dua wanita yang saling belingsutan, tangan keduanya meremas erat ujung baju.

“Kenapa? Kau tak bersedia?” Tubuhnya sedikit mencondong, tatapannya menghujam, membuat Velisa tak berkutik.

Erlan kemudian memanggil sang asisten yang senantiasa siaga setiap kali sang tuan membutuhkan.

“Andi.” Ia memberi titah melalui gerakan tangan, sementara yang diperintah langsung paham. Andi buru-buru menekan kontak dan segera menghubungi seseorang.

“Jul, segera kirimkan rekaman cctv di titik ruang tamu. Sekitar pukul 16 : 45 PM,” ucap Andi kepada salah satu security yang bertugas menjaga keamanan.

Semua orang terlihat tegang, beberapa sangat menunggu dan begitu penasaran — siapakah pelaku yang sebenernya.

Namun beberapa mata terlihat panik, tatapannya tampak ketar-ketir.

“Mah, gimana ini? Gimana kalau Erlan tau kita yang udah rencanain semuanya buat mempermalukan si Jalang itu?” Velisa berbisik tepat di sisi daun telinga sang mertua.

“Kamu yang tenang,” sahut Zaskia, tubuhnya sedikit condong ke belakang, membalas dengan bisikan. “Erlan nggak mungkin berani menguaknya di sini, dia pasti cuma lagi pencitraan aja di depan istrinya, supaya perempuan rendahan itu merasa senang sedikit.”

“Mama yakin?” Velisa masih belum bisa tenang.

Zaskia membalas dengan anggukan yakin, lalu kembali mengangkat dagu, tatapannya masih tetap pongah.

Tak lama kemudian, Andi membuka layar ipad berukuran 11 inch, menekan sebuah file lalu menyerahkan kepada sang tuan.

“Mari kita lihat bersama, supaya semua orang tau … istri saya tidak melakukan tindakan memalukan itu!” Begitu tajam ia berucap, sama sekali tak ada nada keramahan.

Ia meletakkan ipad tersebut di atas permukaan meja berbahan kaca, agar semua tamu-tamu sosialita dapat melihat secara bersama.

Sebuah video rekaman dari kamera pengawas diputar, memperlihatkan sosok wanita muda terlihat menggerutu sambil geleng-geleng kepala. Itulah yang dilakukan Alyra saat mengamati percakapan para ibu-ibu arisan yang mulai sibuk membuka bahan berghibah.

Berikutnya, semua anggota arisan menumpukan amplop dan beberapa kotak berisi berlian ke atas meja kecil di samping sofa.

Lalu kembali sibuk berbincang, membicarakan orang, menghakimi serta mencibir.

Saat itu pula, Alyra bangkit dari sofa dan pergi ke arah belakang, ia hendak ke kamar mandi.

Tak lama kemudian, sosok lain ikut bergerak. Velisa berdiri sambil celingak-celinguk memastikan situasi aman. Dengan bantuan Zaskia, ia berpura-pura mengambil tas milik Alyra, sementara sang menantu pertama bertugas menyelipkan kotak berlian itu ke dalam tas adik iparnya.

Begitu lihai tindakan keduanya, seolah ini bukanlah hal buruk pertama yang telah mereka lakukan.

Erlan menyeringai sinis, menatap penuh benci kepada sang ibu dan istri kakaknya.

“Inikah yang kalian lakukan kepada istriku?” desisnya tajam.

“Astaga … jadi si Alyra dijebak sama kalian berdua? Ck … ck … ck ….” Lusi geleng-geleng kepala tak percaya.

“Ya ampun, Jeng. Apa salah menantumu sampai kamu tega memperlakukannya seperti itu?” Maya tampak ikut kesal, wajahnya terlihat emosi.

“Kasiannya wanita malang itu, dipertemukan sama mertua dan ipar selicik kalian berdua,” ucap salah satu anggota yang kini menatap iba ke arah Alyra.

“Ma, gimana ini? Velisa malu—”

“Bukan cuma kamu yang terpojok, Sa. Nggak lihat mata Erlan dari tadi melototi Mamah?”

Kedua perempuan bermuka dua itu saling melempar tatapan cemas.

Alyra masih diam, membiarkan sang suami yang mengambil alih, untuk menyelesaikan drama keluarga yang membosankan menurutnya.

“Lalu mau bagaimana?” Erlan menekan tombol off pada layar ipad, lalu mengambilnya, ia serahkan kepada Andi. “Mau kita bawa ke mana kasus ini?”

“Kasus?!” Zaskia memekik. “Sikapmu ini keterlaluan, Erlan! Seolah mamah telah melakukan tindak kriminal!”

“Memang benar kalian berdua telah melakukan tindak kriminal!” hardik Erlan. Ia berdiri tegap dengan sorot mata membara, urat di pelipisnya tampak menegang menahan murka. “Minta maaf pada Alyra, sekarang!”

“Apa?” Zaskia balik menatap nyalang.

Semua orang tersentak, memilih mundur dan menunduk, Lusi dan Maya saling menautkan jemari.

“Anaknya Jeng Zaskia ngeri juga kalau lagi marah,” bisik Lusi, menggenggam erat lengan Maya.

“Kamu benar, Jeng. Lebih seram daripada anakku,” sahut Maya.

“Berlutut.” Suara Erlan terdengar dingin dan penuh penekanan, membuat Zaskia serta Velisa membelalak tak percaya.

“Erlan! Kamu menyuruh Mamah dan Velisa berlutut di depan Jalang itu?” Zaskia membidik Alyra dengan telunjuk gemetar, tatapannya dipenuhi amarah. “Cih! Mamah nggak sudi!”

“Persis seperti yang kalian lakukan pada Alyra.” Erlan melangkah maju satu langkah, sorot matanya menusuk. “Kalian memaksanya mengaku atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Kalian menyuruhnya berlutut, bahkan—”

Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras menahan emosi yang nyaris meluap. “Bahkan Mama menamparnya.”

Seketika tenggorokan Zaskia terasa tercekat. Untuk pertama kalinya, wanita itu terpaku tanpa sanggup membalas sepatah kata pun. Tatapan Erlan yang begitu dingin dan sarat amarah membuat tubuhnya mendadak kaku.

“Bila tak bersedia … saya akan membagikan rekaman tindakan kalian berdua ke media,” ancam putra kedua Dirham Pradana.

“Erlan, maaf!” Seketika Velisa menekuk lutut, berlutut di depan Erlan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. “Tolong … jangan sebarkan video itu. Aku nggak mau jadi bullyan netizen di sosial media, kamu kan tau, aku itu artis papan atas, Erlan.”

“Bukan padaku. Kau seharusnya berlutut di depan Alyra.” Ia menatap tajam kakak iparnya.

Velisa mengangkat wajah. “Apa?” Ia kemudian beralih, menatap congkak ke arah Alyra. ‘Apa?! Berlutut di depan perempuan gila itu? Oh My God! Turun sudah harga diriku!’

“Cepat, sebelum saya berubah pikiran—”

“Iya, iya. Aku akan berlutut … di depan Alyra!” sergah Velisa. Memilih menurut, sebab reputasinya sebagai aktris tengah terancam.

Istri Ervin Pradana bangkit, kemudian melangkah mendekati Alyra. Ia bersimpuh di hadapannya, disaksikan banyak pasang mata.

“Alyra … gue minta maaf.” Tak ada nada ketulusan dalam ucapan itu. Velisa melakukannya dengan terpaksa.

Alyra masih diam, menatap lawan bicaranya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sekilas ia melirik ke sekeliling, para ibu-ibu sosialita tengah menyaksikan dengan ekspresi prihatin.

‘Saatnya … aku mulai berakting, hihihi!’

Perlahan, Alyra menundukkan kepala. Raut wajahnya berubah teduh, tak tampak sedikit pun gurat amarah ataupun dendam di sorot matanya.

Ia menghela napas pelan, padahal di dalam hati, berbagai skenario telah ia susun dengan rapi sambil cekikikan.

“Kak Velisa … nggak perlu berlutut kayak gini. Ayo berdiri,” ucapnya lembut seraya meraih lengan Velisa dan membantu perempuan itu bangkit.

Velisa menatap bingung, jelas tak menyangka dengan respons tersebut. “Apa? Lo nggak marah?”

Alyra tersenyum tipis. “Tentu aku merasa kecewa. Tapi aku nggak bisa marah, Kak. Mungkin … Kak Velisa punya alasan tersendiri kenapa sampai melakukan tindakan itu.”

Nada suaranya lembut, bahkan terdengar nyaris rapuh. Beberapa ibu-ibu sosialita mulai saling pandang dengan raut tersentuh.

“Aku juga sadar … selama ini Kak Velisa memang belum terlalu menyukaiku.” Alyra menunduk pelan, memainkan jemarinya sendiri. “Jadi kalau Kakak terpancing emosi, aku bisa memahami itu.”

Velisa langsung mengernyit. “Hah? Gue—”

“Tapi nggak apa-apa.” Alyra buru-buru memotong, lalu tersenyum kecil seolah tak ingin memperpanjang masalah. “Aku cuma berharap setelah ini hubungan kita bisa jadi lebih baik, ya?”

Ucapan itu terdengar begitu tulus di telinga para tamu.

“Ya ampun … Alyra baik banget.” Lusi berubah haluan, tak lagi memandang rendah sosok istri Erlan. “Kalau aku sih pasti udah ngamuk dituduh dan dipermalukan di depan banyak orang.”

“Pantes Erlando belain mati-matian. Nggak salah dia pilih istri.” Maya menatap sambil tersenyum.

“Betul, Jeng,” sahut Lusi.

Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut ruangan. Tak hanya Lusi dan Maya, semua tamu menatap kagum pada sosok Alyra.

Alyra diam-diam menahan senyum puas saat melihat wajah Velisa mulai memerah menahan kesal. Ia kembali menatap kakak iparnya dengan sorot mata lembut penuh pengertian.

“Kak Velisa pasti lagi banyak pikiran, kan?” tanyanya lirih. “Makanya jadi khilaf.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, padahal justru makin membuat Velisa tampak buruk di depan semua orang.

Sementara Zaskia mulai mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan emosi saat melihat para sosialita kini memandang Alyra bak korban paling tersakiti di rumah itu.

Erlan masih menatap dingin sang mama. “Apa tindakan mama selanjutnya? Minta maaf, atau—”

“Alyra … maafkan mama.” Kalimat singkat itu ia ucapkan dengan nada keangkuhan.

Alyra tersenyum hangat, meski sebenarnya rasa kesal masih mendidih di pucuk ubun-ubun. “Iya, Mah. Alyra memaafkan.”

Erlan seketika menoleh, menatap heran istrinya.

Kini sang istri maju, meraih lembut lengan suaminya, tatapannya lembut berusaha meluluhkan hati Erlan.

“Sudah, Mas. Nggak enak dilihat para tamu, aku nggak apa-apa, kok. Udah ya, jangan marah lagi.”

Erlan menelan ludah, lalu kembali menatap tajam ke arah Velisa dan Zaskia. “Bila kejadian seperti ini terulang … saya nggak akan pernah tinggal diam!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!