Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Aturan yang Ditulis Ulang
Ruangan itu tidak lagi terasa seperti ruang OSIS.
Lebih seperti ruang pengadilan tanpa hakim.
Anya berdiri di tengah.
Selene di kiri.
Arsen di kanan.
Dan layar besar di belakang mereka masih menyala—meski kini tidak lagi menampilkan apa pun selain garis error yang berkedip pelan.
Heningnya berat.
Seperti udara yang dipaksa berhenti bergerak.
Selene memecahnya lebih dulu.
“Jadi… kamu datang hanya untuk bilang ‘cukup’?”
Anya menatapnya datar.
“Tidak.”
Ia melangkah sedikit ke depan.
“Aku datang untuk mengakhiri cara kalian bermain.”
Arsen mengamati Anya tanpa berkedip.
Tatapannya tidak lagi ragu.
Tidak lagi sekadar curiga.
Sekarang penuh analisis.
“Apa yang kamu sembunyikan?” tanya Arsen akhirnya.
Anya tidak langsung menjawab.
Ia menoleh sedikit ke arahnya.
“Pertanyaan itu sudah tidak relevan.”
Selene tertawa pelan.
“Lihat? Dia mulai bicara seperti bos besar.”
Anya menatap Selene.
“Karena kalian sudah melewati batas sekolah.”
Selene menyeringai.
“Ini bukan lagi tentang sekolah, Anya.”
Ia melangkah maju.
“Ini tentang siapa kamu sebenarnya.”
Arsen memotong cepat.
“Dan aku ingin jawaban itu.”
Anya diam sejenak.
Lalu—
ia melepas kacamata bulatnya.
Gerakan itu kecil.
Tapi atmosfer langsung berubah.
Bukan lagi “Anya Clarissa”.
Bukan lagi siswi beasiswa.
Yang berdiri sekarang…
lebih tajam.
lebih sunyi.
lebih berat.
“Kalau aku jawab sekarang,” kata Anya pelan,
“kalian tidak akan bisa kembali ke versi kalian yang sebelumnya.”
Selene terdiam sepersekian detik.
Lalu tersenyum lagi.
“Sudah terlambat untuk itu.”
Arsen menatap Anya lebih dalam.
“Aku sudah terlalu jauh.”
Anya mengangguk pelan.
“Kalau begitu dengarkan baik-baik.”
Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Mulai sekarang, tidak ada lagi permainan diam-diam di sekolah ini.”
Selene mengangkat alis.
“Perintah?”
Anya menatapnya lurus.
“Aturan.”
Hening.
Arsen menyipitkan mata.
“Aturan dari siapa?”
Anya menjawab tanpa ragu:
“Dari aku.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air.
Tapi airnya tidak bergerak.
Seolah terlalu dalam untuk terguncang.
Selene tertawa kecil.
“Kamu serius?”
Anya tidak mengangkat suara.
“Selene. Kamu berhenti menyebarkan data.”
Selene mendekat sedikit.
“Kalau tidak?”
Anya menatapnya tanpa ekspresi.
“Semua aksesmu akan mati dalam waktu kurang dari lima menit.”
Selene terdiam.
Untuk pertama kalinya.
Bukan karena takut.
Tapi karena menghitung kemungkinan.
Arsen menatap Anya.
“Kamu tidak punya hak untuk mengontrol sekolah.”
Anya menoleh padanya.
“Sekolah bukan yang aku kontrol.”
Ia berhenti sebentar.
“Yang aku kontrol adalah apa yang terjadi di dalamnya.”
Arsen mengeras.
“Dan kalau aku tidak setuju?”
Anya menjawab pelan:
“Kamu tidak harus setuju.”
Sunyi lagi.
Selene menghela napas kecil.
“Jadi ini akhirnya?”
Anya menatapnya.
“Ini awal yang baru.”
Selene tersenyum miring.
“Aku tidak suka awal yang tidak melibatkan aku.”
Ia mengambil langkah mundur.
“Tapi aku juga tidak suka kalah.”
Arsen langsung memperhatikan.
“Apa yang kamu lakukan?”
Selene menatap layar laptopnya.
“Memberi dunia sedikit hiburan.”
Tangannya menekan satu tombol.
Dan dalam hitungan detik—
HP di seluruh sekolah menyala.
Notifikasi.
Pop-up.
Link.
Satu judul muncul di semua layar:
“PROJECT ORIGIN LEAKED”
Arsen langsung bergerak.
“Selene!”
Selene tersenyum kecil.
“Sekarang kita lihat siapa yang lebih cepat menutupnya.”
Anya tidak bergerak.
Tapi matanya berubah sedikit.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
“Selene…”
Suara itu rendah.
Tidak marah.
Tapi final.
Selene menatapnya balik.
“Sekarang semua orang ikut bermain.”
Arsen langsung menatap Anya.
“Kalau ini menyebar, kamu yang akan jadi target seluruh sistem.”
Anya menjawab tenang:
“Aku tahu.”
Ia mengangkat tangan sedikit.
“Tapi itu bukan masalah sekarang.”
Arsen mengerutkan dahi.
“Lalu apa?”
Anya menatap Selene.
“Masalahnya adalah kamu sudah tidak terkendali.”
Selene tertawa kecil.
“Baru sadar?”
Dan di saat itu—
lampu ruangan berkedip.
Layar proyektor mati.
Lalu hidup lagi.
Dan muncul satu baris baru:
ACCESS OVERRIDE: EL
Selene membeku.
“…apa?”
Arsen langsung menatap layar.
“EL…”
Anya akhirnya menutup mata sebentar.
Seperti menahan sesuatu.
Lalu membuka lagi.
“Selene.”
Suara itu tenang.
Tapi ruangan terasa berubah.
“Kamu baru saja membuat keputusan yang akan mengubah hidupmu.”
Selene menatapnya.
“…ancaman?”
Anya menggeleng.
“Konsekuensi.”
Arsen menatap keduanya.
Dan untuk pertama kalinya—
dia tidak mencoba menghentikan.
Dia hanya mengamati.
Seolah menyadari:
ini bukan lagi pertengkaran.
Ini pergeseran kekuasaan.
Selene tersenyum tipis.
“Kalau begitu, ayo lihat siapa yang bertahan paling lama.”
Anya menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Tidak.”
Selene mengerutkan dahi.
“…tidak?”
Anya melangkah satu langkah ke depan.
“Permainan ini sudah selesai.”
Hening.
Dan di detik itu—
semua sistem di sekolah tiba-tiba mati.
HP mati.
Layar mati.
Internet padam.
Seluruh SMA Wijaya seperti kehilangan suara digitalnya.
Selene langsung menoleh.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?!”
Anya menatapnya tenang.
“Memutus papan.”
Arsen menatap Anya.
“…kamu bisa melakukan itu?”
Anya menjawab tanpa ekspresi:
“Sekarang kalian tidak punya panggung lagi.”
Sunyi panjang.
Selene mengepalkan tangan.
“Ini belum selesai.”
Anya menatapnya.
“Sudah.”
Lalu ia berbalik sedikit.
Menatap Arsen.
Dan untuk pertama kalinya—
tatapan itu tidak dingin.
Tidak penuh topeng.
Hanya jujur.
“Kalian sudah melihat terlalu banyak.”
Arsen tidak menjawab.
Tapi matanya tidak berpaling.
Dan di antara mereka bertiga—
tidak ada lagi yang bisa berpura-pura tidak tahu.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏