Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah dan Melangkah
Seminggu setelah kepergian Lao Hui, Lin Tian selalu berlatih sendirian di halaman belakang sekte. Ia mengulang teknik Pedang Seribu Cahaya berulang kali.
Namun entah mengapa sejak kepergian Lao Hui, ia merasa sangat sedih. Perasaan hampa yang tidak bisa ia jelaskan menyelimuti dadanya, seperti ada sesuatu dari dirinya yang benar-benar meninggalkannya untuk selamanya. Perasaan ini sama seperti saat ia kehilangan Kakek Han dulu, bedanya kini ia sudah lebih dewasa dan tentu tidak akan menangis seperti anak kecil. Tapi tetap saja rasa sakit itu menyesakkan dadanya, membuat setiap tarikan napas terasa lebih berat dari biasanya.
Lin Tian menurunkan tangannya lalu membubarkan pedang-pedang cahaya yang masih tersisa. Ia menatap langit yang cerah tanpa awan, lalu menghela napas panjang. Tidak ada gunanya meratapi kepergian seseorang yang memang sudah berniat pergi sejak awal. Lao Hui telah memberinya bekal yang cukup, dan kini saatnya ia menggunakan bekal itu untuk melangkah lebih jauh.
Ia berjalan menuju ruang tetua. Tetua Chen sedang duduk di beranda belakang, terlihat sedang merapikan jenggotnya yang panjang. Beberapa lembar surat berserakan di meja di sampingnya, menandakan bahwa beliau baru selesai berkorespondensi dengan sekte-sekte lain.
"Tetua Chen, saya ingin bicara," ucap Lin Tian sambil menangkupkan tangan.
Tetua Chen menoleh, matanya yang tajam langsung membaca ekspresi Lin Tian. "Ada apa, Nak? Wajahmu serius sekali."
Lin Tian mengambil napas dalam-dalam lalu berkata, "Saya ingin mencari peluang di tempat lain, Tetua. Saya mohon izin untuk meninggalkan Sekte Ombak Biru. Dan saya tidak akan kembali lagi."
Tetua Chen tidak terlihat terkejut. Beliau justru mengangguk pelan seolah sudah menduga hal ini sejak lama.
"Lao Hui memang meninggalkan bekas yang dalam padamu, dan aku sudah tahu sejak pertama kali ia memilihmu, bahwa suatu hari kau akan mengikuti jejaknya pergi. Sekte Ombak Biru terlalu kecil untuk seseorang dengan potensi sepertimu."
"Maaf jika saya mengecewakan sekte," ucap Lin Tian dengan hormat.
"Kau tidak mengecewakan siapa pun, Nak. Setiap kultivator berhak mencari jalannya sendiri. Yang penting jangan lupa dari mana kau berasal. Sekte ini akan selalu terbuka untukmu jika suatu hari kau ingin kembali."
Lin Tian membungkuk dalam-dalam lalu keluar dari ruang tetua. Langkah kakinya kemudian membawanya ke asrama, tempat Bai Feng sedang duduk di dipan sambil memakan kacang goreng dari kantong kertas.
"Bai Feng, aku mau bicara."
Bai Feng mengangkat alis lalu meletakkan kantong kacangnya. "Kau serius sekali hari ini. Ada apa?"
"Aku akan pergi dari sekte, meninggalkan Kota Naga Patah, dan mungkin meninggalkan wilayah selatan ini selamanya."
Bai Feng terdiam, tangannya berhenti di tengah jalan menuju kantong kacang.
"Kau serius?"
"Sangat serius."
"Aku tahu ini pasti terjadi cepat atau lambat. Sejak Pak Tua pergi, kau jadi sering melamun dan tidak fokus. Tapi secepat ini?" Bai Feng menggelengkan kepala.
Lin Tian duduk di samping Bai Feng. "Aku ingin mengajakmu pergi bersama. Kita sudah bersahabat selama ini, dan aku tidak ingin kehilangan sahabat satu-satunya yang aku miliki di dunia ini."
Bai Feng tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku tidak bisa meninggalkan ayahku, Lin Tian. Keluarga Bai hanya tinggal aku dan ayah yang mengurus bisnis. Bisnis pil keluarga juga butuh aku untuk membantu. Aku tahu kau pasti kecewa, tapi..."
"Tidak, aku tidak kecewa, aku mengerti," potong Lin Tian cepat. "Ayahmu adalah segalanya bagimu, sama seperti ibuku adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan memaksamu."
Bai Feng menepuk pundak Lin Tian. "Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti, aku yakin itu. Kau mau pergi ke mana?"
"Wilayah barat. Guru menyebutkan bahwa di sana banyak hal baru dan akses informasi luas ke seluruh penjuru benua. Aku juga bisa mencari petunjuk tentang ayahku di sana."
"Ayahmu? Kau masih saja berkeras ingin mencari pria itu?"
"Dia bukan sembarang pria, dia adalah ayahku, dan aku ingin tahu siapa dia."
Bai Feng menghela napas panjang lalu berdiri. Ia membuka lemari kayu di sudut kamar lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau.
"Ini pil pemulihan Qi kualitas bagus, produksi terbaru keluarga Bai. Ambillah sebagai kenang-kenangan. Semoga berguna di perjalanan."
Lin Tian menerima botol itu lalu memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan. "Terima kasih, Bai Feng. Kau memang sahabat yang baik."
"Jangan cengeng, nanti aku ikut menangis."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang menghangatkan sekaligus menyayat hati, karena mereka tahu bahwa setelah hari ini, jalan mereka akan berpisah untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Keesokan harinya saat matahari baru muncul di ujung timur, Lin Tian sudah berdiri di gerbang depan sekte. Jubah putihnya rapi, rambutnya diikat ke belakang dengan sederhana, dan pedang terbang biasa melayang di sampingnya. Ia menatap sekte Ombak Biru untuk terakhir kalinya, mengingat setiap sudut tempat ia belajar dan berlatih selama beberapa bulan terakhir.
Bai Feng datang mengantarkan bersama ayahnya. Bai Kelong menyerahkan sekantong batu roh tingkat menengah sebagai bekal, sementara Bai Feng hanya tersenyum canggung karena sudah memberikan pilnya kemarin.
"Jaga dirimu baik baik, Lin Tian," ucap Bai Kelong. "Jika kau butuh bantuan, keluarga Bai selalu punya utang budi padamu karena telah menjadi sahabat anakku."
Lin Tian menangkupkan tangan kepada Bai Kelong, kemudian menatap Bai Feng. "Kita mungkin masih bisa bertemu lagi, Feng. Jangan mati sebelum aku kembali."
"Kau juga," jawab Bai Feng sambil tersenyum lebar meskipun matanya sedikit berkaca.
Lin Tian naik ke atas pedang terbang lalu melesat ke angkasa. Ia terbang ke arah barat mengikuti mata angin yang ia baca dari peta peninggalan Lao Hui. Perjalanan menuju wilayah barat Benua Lingzhou akan memakan waktu sekitar enam bulan dengan kecepatannya saat ini. Tapi ia tidak terburu buru, ia akan menikmati setiap hari perjalanan ini karena seperti kata gurunya, hidup adalah tentang proses bukan tujuan.
Seminggu berlalu. Lin Tian terbang melewati hutan lebat, melintasi sungai lebar, dan menyusuri puncak pegunungan yang tertutup salju. Ia berhenti di tempat-tempat yang menarik perhatiannya, kadang untuk makan, kadang hanya untuk duduk dan menikmati pemandangan.
Saat matahari tepat di atas kepala pada hari ketujuh, Lin Tian melihat sebuah kolam biru jernih di bawah bukit kecil. Aroma bunga liar dan air segar tercium hingga ke ketinggian, dan sesuatu yang menenangkan mengalir dari kolam itu. Ia memutuskan untuk turun.
Kolam itu berada di sebuah kediaman yang tampaknya sudah lama ditinggalkan. Rumah kayu di sampingnya berdebu dan jendelanya tertutup rapat, tapi halamannya masih hijau dengan rerumputan. Lin Tian tidak terlalu memikirkan siapa pemilik tempat ini, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sekitarnya.
Lalu dia masuk kedalam kolam kemudian duduk bersila. Tubuhnya terasa rileks seketika, dan tanpa berpikir panjang ia pun bermeditasi di tepi kolam itu, memejamkan mata dan mengatur napas.
Sialnya saat ia membuka mata setelah setengah jam bermeditasi, seorang gadis sangat cantik terlihat berdiri tidak jauh dari hadapannya. Gadis itu mengenakan pakaian berwarna lavender dengan rambut panjang tergerai. Wajahnya sempurna dan matanya seperti dua buah zamrud. Gadis itu menatap Lin Tian dengan pipi yang memerah, dan ia terlihat malu setengah mati.
Lin Tian melihat ke bawah lalu menyadari bahwa jubah putihnya basah dan menempel di tubuhnya.
Gadis itu membuang muka lalu berkata dengan suara nyaring. "Dasar kurang ajar! Ini kolam pribadi keluargaku! Siapa yang memberi izin kau mandi di sini?!"