"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Melihat interaksi intim yang tiba-tiba tercipta di antara sepasang suami istri itu, dokter spesialis jantung yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang segera berdeham keras.
Wajah paruh bayanya tampak dipenuhi guratan cemas sekaligus tidak setuju dengan keputusan nekat sang pasien.
"Tuan Besar Mahendra, mohon maaf sekali. Secara medis, saya benar-benar masih melarang Anda untuk keluar dari rumah sakit hari ini," sela dokter itu dengan nada tegas, mencoba mengingatkan.
"Kondisi jantung Anda baru saja melewati masa kritis (infark\ miokard). Anda masih membutuhkan observasi ketat setidaknya selama tiga hari ke depan di ruang VIP ini agar tidak terjadi serangan susulan."
Namun, Mahendra Dirgantara bukanlah tipe pria yang suka dibantah, apalagi diperintah oleh orang lain.
Sifat keras kepalanya yang legendaris seketika mengambil alih.
Dengan gerakan tenang namun penuh intimidasi, ia mencopot sendiri selang oksigen yang bertengger di hidungnya, lalu menatap tajam sang dokter dengan sepasang netra yang memancarkan aura otoritas mutlak.
"Urusan bisnis dan keselamatan keluargaku tidak bisa menunggu selama tiga hari, Dokter. Siapkan seluruh surat kepulangan saya sekarang juga. Segala risiko fisik menjadi tanggung jawab saya pribadi," titah Mahendra dengan suara baritonnya yang berat, dingin, dan tak terbantahkan.
Dokter tersebut akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, tidak berani melawan titah sang penguasa Dirgantara Holdings.
Setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi darurat secara tertutup, Mahendra dan Luna segera keluar melalui jalur evakuasi khusus VIP agar tidak tercium oleh awak media.
Didampingi oleh tim pengawal bersenjata lengkap, mereka langsung meluncur membelah jalanan kota Bandung menuju ke sebuah apartemen mewah milik Mahendra yang terletak di lantai teratas kompleks apartemen elit pusat kota.
Sesampainya di dalam apartemen, atmosfer mewah yang sunyi langsung menyambut mereka.
Pintu jati ganda ditutup rapat dan dikunci otomatis dari dalam oleh sistem keamanan digital.
Luna yang masih merasa cemas, menuntun suaminya berjalan menuju sofa beludru panjang di ruang tengah. Namun, sebelum Luna sempat melangkah mundur untuk mengambilkan segelas air hangat, Mahendra justru menarik lembut pergelangan tangannya.
Dengan gerakan yang sangat jantan dan penuh takzim, pria berusia setengah abad itu merundukkan kepalanya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat dalam dan hangat di atas punggung tangan lentik Luna.
Sentuhan bibir tegas Mahendra di kulitnya seketika menyalurkan getaran aneh yang membuat bulu kuduk Luna meremang indah.
Mahendra mendongak, menatap lekat-lekat manik mata bening istri kecilnya dengan seulas seringai serigala yang begitu seksi, penuh kemenangan, sekaligus menyimpan rencana pembalasan yang mematikan untuk Emma dan Mila di Jakarta.
"Lekas ganti pakaianmu dan pakai gaun tidur hitam dari butik semalam, Sayang. Kita mulai sandiwara ini sekarang juga," bisik Mahendra dengan suara bariton yang mendadak berubah serak dan berat karena gairah yang kembali meletup hebat.
"Buat rekaman video seolah-olah kamu sedang terangsang hebat di bawah pengaruh obat mereka, dan biarkan suamimu ini yang mengambil alih sisanya."
Luna akhirnya mengalah, tidak kuasa membantah tatapan mendominasi suaminya.
Di dalam kamar utama penthouse Bandung yang berukuran luas, ia melangkah masuk ke ruang ganti dengan jantung yang berdegup kencang.
Dengan jemari yang gemetar halus, Luna menanggalkan pakaian kerjanya dan kembali mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis dan transparan pilihan Mahendra semalam.
Begitu kain premium itu jatuh membungkus tubuhnya, warna hitam yang kontras dengan kulit putih bersihnya serta potongan punggung terbuka yang ekstrem seketika menciptakan atmosfer yang begitu intim, pekat, dan mendebarkan di dalam ruangan.
Luna keluar dengan langkah ragu, meremas ujung gaun tipisnya yang terasa seringan kapas.
Di depannya, Mahendra sudah duduk mengawasi di tepi ranjang king size.
Kemeja golfnya sudah ditanggalkan, menyisakan kaos dalam hitam yang mencetak jelas dada bidang dan otot lengannya yang kokoh.
Luna yang polos terpaksa memulai aksi menari striptis darurat di hadapan sang Titan Bisnis.
Dengan gerakan yang awalnya kaku, canggung, dan dipenuhi rona merah padam di seluruh wajah hingga lehernya, Luna mencoba mengikuti instruksi sandiwara.
Ia mengurai rambut panjangnya, memejamkan mata, dan menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, berlagak seolah-olah dirinya sedang tersiksa dan kepanasan di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi kiriman Emma dan Mila.
Melihat pemandangan ranum dan sensual di depannya, Mahendra yang semula berniat fokus pada taktik sandiwara justru mulai kehilangan kendali atas egonya sendiri.
Napasnya mendadak ikut memberat. Bagaimana tidak, kepolosan Luna yang berpadu dengan usaha kerasnya menari di bawah temaram lampu kamar justru terlihat seribu kali lebih menggoda daripada penari profesional manapun.
Dengan suara baritonnya yang berat, serak, dan penuh gairah yang meletup hebat di dalam dada, Mahendra menggumam rendah, memecah keheningan kamar.
"Lebih panas, Sayang..."
Kalimat provokasi itu lolos begitu saja dari bibir tegasnya, menuntut Luna agar bergerak lebih berani, lebih sensual, dan semakin menantang demi memperkuat bukti visual yang mereka butuhkan.
Luna menggigit bibir bawahnya, setengah merajuk namun tetap mengikuti ritme permainan suaminya.
Ia memutar tubuhnya, membiarkan punggung mulusnya terekspos, lalu mengusap lengannya sendiri dengan ekspresi pasrah yang dibuat-buat namun terlihat teramat nyata.
Sembari menahan gejolak buas yang nyaris meruntuhkan akal sehatnya, Mahendra mengangkat ponsel pintarnya.
Dengan tangan yang stabil, ia mulai merekam setiap jengkal gerakan provokatif dan ekspresi pasrah Luna dari sudut tertentu yang sangat dramatis.
Rekaman video mentah berdurasi beberapa menit ini sengaja dipersiapkan dengan matang. Mahendra akan mengirimkan video ini kepada tim IT dan anak buah kepercayaannya di Jakarta untuk diedit secara digital—menciptakan sebuah bukti palsu yang sangat meyakinkan seolah-olah Luna benar-benar bertingkah murahan karena jebakan obat di Bandung.
Rekaman inilah yang nantinya akan digunakan sebagai senjata pamungkas, bom waktu yang siap diledakkan untuk menghancurkan balik Emma dan Mila tanpa ampun di hadapan seluruh keluarga besar Dirgantara.
Namun, begitu layar ponsel dimatikan dan Mahendra meletakkan benda pipih itu ke atas nakas, kilat di matanya tidak lagi menunjukkan taktik bisnis.
Pria berusia setengah abad itu berdiri, memperlihatkan tubuh tegapnya yang menjulang tinggi, siap menagih janji "minta lebih" yang sempat ia bisikkan di rumah sakit tadi.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, Sayang..." geram Mahendra rendah.
Suara baritonnya berubah sangat serak, sarat akan gairah buas yang telah membakar habis seluruh sisa pengendalian dirinya sebagai seorang pria.
Sebelum Luna sempat bereaksi, Mahendra sudah melangkah lebar dan menyergap pinggang rampingnya.
Dengan satu sentakan yang sangat dominan, pria paruh baya itu menarik tubuh ranum Luna hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya.
Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan kehangatan tubuh Mahendra seketika mengurung seluruh indra penciuman Luna.
"Mas Mahendra, ingat jantungmu!" pekik Luna panik, meremas kedua bahu kokoh suaminya.
Sepasang netra beningnya menatap cemas ke arah dada Mahendra, takut jika aktivitas ekstrem ini akan kembali memicu serangan mematikan seperti di jalan tol tadi.
"Dokter bilang Mas harus istirahat! Tolong jangan nekat, Mas!"
Mendengar kekhawatiran tulus dari istri kecilnya, Mahendra justru melempar seulas seringai serigala yang begitu seksi, penuh kemenangan, dan teramat menantang di sudut bibir tegasnya.
Ia merundukkan wajah matangnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
"Jantungku tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting adalah senjataku," bisik Mahendra penuh arti, menyuarakan kesombongan maskulinnya dengan nada suara yang begitu menggoda sekaligus mengintimidasi ego polos Luna.
Luna seketika membeku dengan wajah yang memerah padam laksana udang rebus.
Belum sempat ia melayangkan protes atas kalimat mesum suaminya, Mahendra sudah memotong seluruh jalur kata-katanya.
Dengan kekuatan fisik primanya yang luar biasa dominan, Mahendra membopong tubuh Luna dan menyentakkannya lembut ke atas ranjang king size yang luas.
Pria berusia setengah abad itu langsung merunduk, mengunci posisi Luna mutlak di bawah kungkungan tubuh tegapnya.
Tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Luna untuk menghindar, Mahendra kembali melakukan aktivitas fisik yang intens, melumat bibir istrinya dengan ciuman yang begitu panas, menuntut, dan penuh dengan gairah yang meledak-ledak.
Kain sutra hitam tipis itu perlahan tersingkir, menjadi saksi bisu bagaimana sang Titan Bisnis membuktikan secara nyata di atas ranjang bahwa keperkasaannya sama sekali belum habis, membiarkan malam di penthouse Bandung itu kembali membara dalam penyatuan intim yang tak terbantahkan.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi