NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Jangan Percaya Siapa Pun

Gelap.

Total.

Seluruh penthouse tiba-tiba tenggelam dalam kegelapan pekat.

Nadira refleks menahan napas.

Jantungnya langsung berdetak kacau setelah telepon misterius tadi.

“Permainan baru dimulai, Nadira.”

Suara pria itu masih terasa hidup di telinganya.

“Arsen…”

Suaranya kecil.

Nyaris gemetar.

“Aku di sini.”

Suara rendah itu muncul dekat sekali.

Lalu beberapa detik kemudian,

Nadira merasakan seseorang menggenggam tangannya.

Hangat.

Kuat.

Entah kenapa itu sedikit menenangkan.

“Jangan lepas tanganku,” kata Arsen tenang.

“Ada apa sama listriknya?”

“Aku nggak tahu.”

Nada suaranya tetap stabil, tapi Nadira bisa merasakan pria itu sedang waspada.

Sangat waspada.

Di tengah gelap, terdengar suara notifikasi ponsel Arsen.

Cahaya layar samar menerangi wajah dinginnya.

“Security bilang listrik cuma mati di lantai penthouse.”

Deg.

“Artinya?”

“Artinya ini disengaja.”

Napas Nadira langsung tercekat.

Arsen segera menarik Nadira berdiri di belakang tubuhnya.

“Masuk ke kamar.”

“Kamu mau ke mana?”

“Periksa ruangan.”

“Jangan tinggalin aku!”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Terlalu jujur.

Arsen menoleh sebentar.

Tatapannya sedikit melunak.

“Aku nggak akan jauh.”

Namun sebelum mereka bergerak—

BRAK!

Suara keras terdengar dari arah dapur.

Nadira langsung menjerit kecil dan memegang lengan Arsen erat.

Pria itu cepat mengambil sesuatu dari laci meja dekatnya.

Pistol.

Mata Nadira langsung membesar.

“K-kamu punya pistol?!”

“Aku hidup di dunia yang nggak aman.”

Jawaban singkat itu malah membuat bulu kuduk Nadira makin berdiri.

Arsen berjalan perlahan menuju dapur.

Nadira mengikutinya rapat-rapat.

Cahaya ponsel jadi satu-satunya penerangan.

Suasana terasa mencekam.

Sunyi.

Lalu—

Miawww!

Seekor kucing hitam tiba-tiba melompat keluar dari meja dapur.

Nadira refleks memukul dada

Arsen.

“Ya Tuhan!”

Arsen malah tertawa kecil.

“Kamu takut sama kucing?”

“Aku kira ada orang!”

“Kucingnya lebih takut sama kamu.”

Nadira memegang dadanya kesal.

“Tadi serem banget…”

Namun tawanya perlahan hilang saat ia melihat jendela dapur terbuka sedikit.

Padahal tadi tertutup.

Arsen langsung menyadarinya juga.

Wajahnya kembali serius.

Pria itu berjalan mendekat lalu memeriksa balkon luar.

Kosong.

Tapi di lantai dekat jendela…

Ada sesuatu.

Sepucuk amplop hitam.

Nadira langsung merinding.

“Jangan dibuka,” katanya cepat.

Namun Arsen sudah mengambil amplop itu.

Di bagian depan tertulis satu nama.

NADIRA.

Tulisan merah.

Berantakan.

Seperti darah.

Arsen membuka amplop perlahan.

Di dalamnya hanya ada satu foto.

Foto Nadira waktu SMA.

Sedang duduk sendirian di halte hujan-hujan.

Dan di belakang foto tertulis:

AKU SELALU MELIHATMU.

Tubuh Nadira langsung dingin.

“Apa-apaan ini…”

Tangannya mulai gemetar hebat.

Karena foto itu diambil bertahun-tahun lalu.

Artinya…

Seseorang sudah mengawasinya sejak lama.

Listrik akhirnya menyala lagi lima menit kemudian.

Namun suasana sudah berubah total.

Nadira duduk diam di sofa sambil memeluk lutut.

Sedangkan Arsen menelepon seseorang lagi.

“Tingkatkan keamanan.”

“…”

“Aku nggak peduli berapa orang yang harus dibayar.”

“…”

“Cari siapa yang masuk ke gedung malam ini.”

Nada suaranya dingin sekali.

Berbahaya.

Setelah telepon selesai, Arsen berjalan mendekat.

“Kamu harus tidur.”

Nadira tertawa kecil tak percaya.

“Gimana caranya?”

Arsen duduk di depannya.

“Kita cari pelakunya.”

“Kalau dia nemuin aku duluan?”

“Kamu nggak akan kenapa-kenapa.”

“Kenapa kamu yakin banget?”

Tatapan Arsen lurus ke matanya.

“Karena aku nggak akan biarin.”

Deg.

Sial.

Kenapa pria ini selalu bicara seperti itu dengan wajah setenang itu?

Nadira cepat mengalihkan pandangan.

Bahaya.

Sangat bahaya.

Karena makin lama bersama

Arsen, makin sulit baginya mengingat satu hal penting—

Pria itu tunangan Nayla.

Bukan miliknya.

Pukul dua pagi.

Nadira masih belum bisa tidur.

Ia berdiri di depan jendela besar kamar tamu sambil memandang kota yang masih ramai.

Pikirannya kacau.

Tentang Nayla.

Tentang teror misterius.

Tentang Arsen.

Dan itu justru yang paling membuatnya takut.

“Aku mulai gila…”

“Belum.”

Nadira langsung menoleh kaget.

Arsen berdiri di ambang pintu sambil membawa dua gelas hangat.

“Kamu muncul tanpa suara ya?”

“Aku udah ketuk pintu.”

“Oh.”

Arsen menyerahkan cokelat panas padanya.

“Aku nggak bisa tidur,” gumam Nadira.

“Aku juga.”

Mereka berdiri berdampingan memandangi kota.

Sunyi.

Namun anehnya tidak canggung.

“Aku penasaran sesuatu,” kata Arsen tiba-tiba.

“Apa?”

“Kenapa kamu tinggal sendiri?”

Nadira mengangkat bahu kecil.

“Lebih tenang.”

“Keluargamu ngebolehin?”

“Mereka terlalu sibuk sama Nayla.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tapi Arsen tahu itu bukan candaan.

“Kamu benci keluargamu?”

Nadira diam cukup lama sebelum menjawab.

“Nggak.”

“Cuma kecewa?”

Ia tersenyum kecil pahit.

“Kadang aku ngerasa… kalau aku nggak lahir pun mungkin semuanya tetap baik-baik aja.”

Arsen langsung menoleh.

Tatapannya tajam.

“Jangan ngomong kayak gitu.”

“Kenapa?”

“Karena itu bodoh.”

Nadira tertawa pelan.

“Kasar banget.”

“Aku serius.”

Pria itu meletakkan gelasnya lalu berdiri tepat di depan Nadira.

“Dengerin aku.”

Tatapan mereka bertemu.

Dan lagi-lagi Nadira lupa cara bernapas.

“Orang yang bikin kamu merasa nggak berharga itu yang salah,” kata Arsen pelan. “Bukan kamu.”

Dadanya langsung terasa hangat sekaligus sakit.

Karena tak ada yang pernah mengatakan itu padanya sebelumnya.

Tak pernah.

Bahkan keluarganya sendiri.

“Kenapa kamu baik sama aku?” bisiknya pelan.

Arsen diam beberapa detik.

Lalu berkata rendah,

“Karena aku tahu rasanya jadi orang yang selalu dituntut.”

Nadira menatapnya.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat lelah.

Sangat lelah.

“Ayahku,” lanjut Arsen pelan, “nggak pernah peduli aku mau apa.”

“…”

“Aku cuma pewaris.”

Nadira tiba-tiba merasa mereka mirip.

Sama-sama hidup untuk memenuhi harapan orang lain.

Sama-sama kehilangan kebebasan.

Dan mungkin karena itu…

Ia merasa nyaman di dekat Arsen.

Terlalu nyaman.

Keesokan paginya Nadira bangun karena suara ribut di luar kamar.

Ia keluar dengan rambut berantakan dan langsung melihat Nayla berdiri di ruang tengah penthouse.

Wajah saudara kembarnya masih pucat, tapi matanya sudah kembali tajam seperti biasa.

“Aku bilang aku mau bicara sama Nadira berdua.”

“Aku nggak percaya sama kamu.”

Suara dingin Arsen terdengar jelas.

Nadira langsung menegang.

“Ada apa?”

Nayla menoleh cepat.

“Kita pulang.”

“Hah?”

“Kamu nggak boleh tinggal di sini.”

Arsen tertawa kecil tanpa humor.

“Lucu.”

Nayla melotot.

“Apa maksudmu?”

“Kamu tahu ada orang yang ngincer dia.”

“Makanya aku mau bawa dia.”

“Kamu nggak bisa lindungi siapa pun dalam kondisi kayak sekarang.”

Suasana langsung panas.

Nadira berdiri di tengah-tengah mereka sambil bingung.

Dan entah kenapa…

Rasanya seperti melihat dua orang saling berebut sesuatu.

“Udah…” Nadira mencoba menenangkan. “Aku bisa pulang sendiri.”

“Tidak.”

Kali ini Arsen dan Nayla menjawab bersamaan.

Mereka langsung saling tatap tajam.

Nadira hampir pusing sendiri.

Akhirnya mereka bertiga pergi ke rumah keluarga Maheswara.

Namun sepanjang perjalanan suasana mobil sangat canggung.

Nayla duduk di depan.

Nadira dan Arsen di belakang.

Tidak ada yang bicara.

Sampai Nayla tiba-tiba berkata,

“Dia suka stroberi.”

Nadira langsung menegang.

“Apa?”

“Arsen.” Nayla menatap lurus ke depan. “Kalau kamu benar-benar bisa bedain kami, kamu harusnya tahu itu dari awal.”

Arsen bersandar santai.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa nggak bilang?”

“Karena aku lebih tertarik lihat Nadira panik.”

Nadira langsung melotot kesal.

“Jahat banget sih kamu.”

Arsen tersenyum tipis.

Dan Nayla melihat semua itu lewat kaca depan.

Tatapannya perlahan berubah.

Sedikit rumit.

Sedikit… terluka.

Sesampainya di rumah, suasana langsung tidak nyaman.

Papanya panik melihat Nayla datang.

“Kamu harusnya masih di rumah sakit!”

“Aku nggak mau di sana.”

Mamanya buru-buru memeluk Nayla.

“Syukurlah kamu udah sadar…”

Namun Nayla langsung bertanya dingin,

“Kenapa kalian nyuruh Nadira gantiin aku?”

Ruangan langsung sunyi.

Papanya menghela napas kasar.

“Kita sudah bahas ini.”

“Aku hampir mati, Pa.”

“Kamu pikir Papa nggak stres?!”

“Jawab pertanyaanku.”

Papanya mulai emosi.

“Karena keluarga kita bisa hancur!”

“Hancur karena bisnis?”

“Hancur karena pengkhianatan!”

Semua langsung diam.

Nadira mengernyit bingung.

“Pengkhianatan?”

Papanya sadar keceplosan.

Namun terlambat.

Tatapan Nayla langsung berubah.

“Kamu belum bilang ke mereka?”

“Diam.”

“Pa…”

“PAPA BILANG DIAM!”

Bentakan itu membuat Nadira kaget.

Arsen yang sejak tadi diam mulai memperhatikan serius.

Ada sesuatu yang disembunyikan.

Dan itu besar.

Malam harinya Nadira akhirnya berhasil menarik Nayla ke balkon kamar mereka.

Dulu mereka sering duduk di sana waktu kecil.

Bercerita sampai malam.

Namun sekarang semuanya terasa asing.

“Apa yang Papa maksud tadi?” tanya Nadira pelan.

Nayla diam.

“Nay…”

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari jujur.”

Angin malam berhembus pelan.

Lalu Nayla berkata lirih,

“Perusahaan Papa hampir bangkrut bukan karena bisnis gagal.”

Nadira langsung menatapnya.

“Tapi karena seseorang nyolong uang perusahaan.”

Deg.

“Siapa?”

Nayla menggigit bibir.

“Aku.”

Dunia Nadira langsung terasa berhenti.

“Apa?”

Air mata Nayla mulai jatuh.

“Aku nggak sengaja…”

“Apa maksudnya nggak sengaja?!”

“Aku ditipu!”

Nadira benar-benar tidak percaya.

“Berapa banyak uangnya?”

Nayla menunduk.

“Banyak.”

“BANYAK TUH BERAPA?!”

Nayla menangis.

“Dua ratus miliar.”

Tubuh Nadira langsung lemas.

Ia bahkan tak bisa membayangkan jumlah uang sebesar itu.

“Gimana bisa?!”

“Aku investasi ke seseorang…”

“Siapa?”

Nayla terdiam.

Dan diamnya membuat Nadira makin takut.

“Nayla.”

Saudara kembarnya mengangkat wajah perlahan.

Matanya merah.

Penuh penyesalan.

“Aku pacaran sama dia.”

Deg.

“Apa?”

“Dia bilang cinta sama aku.”

Nadira mulai merasa firasat buruk.

“Terus?”

“Dia bohong.”

“Siapa namanya?”

Nayla menatap lurus ke mata Nadira.

Lalu berkata pelan—

“Rafael.”

Dan entah kenapa…

Nama itu terdengar seperti awal dari bencana yang lebih besar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!