Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Lorong di Bawah Kota
Bab 3 — Lorong di Bawah Kota
Udara di sini jauh lebih dingin dan lembap.
Ren harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pipa-pipa raksasa yang melintang rendah di atas kepala mereka. Lorong yang mereka masuki sempit, gelap, dan berbau karat serta air sisa yang menggenang di celah-celah lantai beton. Ini adalah jaringan terowongan tua yang tertanam jauh di bawah struktur utama Elarion — tempat yang sudah lama dilupakan oleh penduduk kota, dan tidak tercatat di peta resmi mana pun di dalam sistem Archive.
Di depan, Kai berjalan paling depan dengan lincah, menerangi jalan menggunakan layar kecil di pergelangan tangannya. Cahaya biru pucat dari alat itu memantul ke dinding-dinding yang tertutup lumut dan kabel-kabel tua yang menjuntai seperti akar pohon mati.
"Jangan bertanya apa-apa dulu, cukup ikuti saja langkahku," kata Kai tanpa menoleh, suaranya bergema pelan di lorong sempit itu. "Jalur ini dulunya saluran pembuangan dan kabel komunikasi zaman dulu. Sekarang jadi jalan rahasia terbaik buat orang-orang yang tidak ingin 'dilihat' oleh sistem."
Ren berjalan di tengah, sementara Anya bergerak diam-diam di belakang. Setiap kali langkah kakinya menyentuh lantai, bekas jejak kaki berwarna putih samar akan muncul sejenak sebelum hilang. Aura dingin yang ia bawa masih terasa jelas, membuat napas mereka bertiga berubah menjadi uap putih tipis.
Ren melirik ke belakang sesekali. Ia masih tidak percaya pada kedua orang ini sepenuhnya, tapi di sisi lain, mereka adalah satu-satunya kunci jawaban atas segala hal aneh yang menimpanya.
"Kai..." Ren memecah keheningan dengan suara pelan. "Kau bilang tadi... kalau aku ditangkap Menara Zenith, aku akan mati. Dan ada sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Apa maksudmu?"
Kai berhenti sebentar, lalu berbalik menghadap Ren. Di bawah cahaya layar di tangannya, wajah pemuda berambut hijau neon itu tidak lagi terlihat ceria atau cerewet. Matanya yang di balik kacamata tebal itu terlihat serius, bahkan sedikit takut.
"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya kembali sambil berbicara lebih lirih. "Dengar, Ren. Sistem Archive bukan sekadar database penyimpan data. Bagi Elarion, Archive adalah hukum, adalah kebenaran, adalah hidup dan mati. Segala sesuatu yang ada di kota ini, dari cahaya lampu sampai aliran makanan, semuanya diatur olehnya."
Kai menunjuk ke arah langit-langit terowongan yang tebal, seolah menunjuk ke atas menuju kota di permukaan sana.
"Dan aturan pertama, yang paling mutlak... adalah semua hal yang ada harus tercatat. Kalau tidak ada datanya, berarti hal itu tidak seharusnya ada. Berarti hal itu adalah kesalahan. Berarti hal itu adalah ancaman yang harus dihapus."
Ia menoleh ke arah tangan kiri Ren — tangan tempat simbol ungu itu bersinar tadi malam.
"Kau adalah kesalahan terbesar yang pernah ditemukan sistem ini dalam ratusan tahun. Kau ada, kau bernapas, kau hidup... tapi tidak ada catatanmu. Kau adalah lubang hitam dalam data mereka. Dan keberadaanmu membuat seluruh struktur kebenaran yang mereka bangun mulai retak."
Ren mengepal tangannya erat. Rasa dingin menjalar bukan lagi dari udara sekitar, tapi dari dalam dirinya sendiri.
"Terus... apa hubungannya dengan sesuatu yang 'lebih buruk' itu?" tanyanya lagi.
Kai belum sempat menjawab, saat suara lembut Anya terdengar dari belakang.
"Karena kau bukan sekadar kesalahan, Ren."
Ren berbalik. Gadis berambut abu itu menatapnya dengan mata merah yang tenang namun tajam.
"Legenda lama mengatakan... bahwa Archive tidak muncul begitu saja. Ia dibangun untuk mengunci sesuatu. Sesuatu yang sangat besar, sangat berbahaya, dan sangat kuno. Dan konon, kunci dari penguncian itu... terbagi menjadi dua. Satu dipegang oleh para penguasa di Menara Zenith. Satu lagi... hilang, atau tersembunyi, menunggu waktu untuk bangkit."
Anya melangkah mendekat, suhunya di sekitar mereka makin turun.
"Mereka menyebutmu Archive Zero bukan hanya karena kau tidak punya data. Tapi karena angka nol itu bukan berarti kosong... tapi berarti awal dari segalanya."
Jantung Ren berdebar kencang. Kata-kata itu masuk jauh ke dalam benaknya, beresonansi dengan suara bisikan yang tadi terdengar di kepalanya.
"Pintu pertama terbuka... pintu kedua menanti..."
"Tadi di layar-layar kota..." kata Ren pelan, mengingat kembali tulisan yang berkedip di mana-mana. "Ada hitungan mundur. Sembilan puluh sembilan jam. Apa itu artinya?"
Wajah Kai menegang. Ia mengangguk pelan.
"Itu tanda bahwa sistem sudah mendeteksi ada kunci yang mulai aktif. Hitungan mundur itu adalah waktu yang tersisa sampai mereka menemukan cara untuk menghancurkanmu... atau sampai kau sendiri yang tanpa sadar membuka gerbang yang sudah dikunci selama ratusan tahun itu."
Suara Kai bergetar sedikit.
"Kalau gerbang itu terbuka... Elarion bukan satu-satunya yang akan hancur. Segala sesuatu yang kita kenal sebagai dunia ini... akan berubah total."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara langkah kaki bergema dan tetesan air dari pipa-pipa tua.
Ren menunduk menatap telapak tangannya. Di sana, samar-samar, jejak pola ungu itu masih terlihat seperti tinta yang terserap ke dalam kulit.
Aku kunci? Aku awal dari segalanya?
Selama dua puluh tahun ia hidup sederhana, bekerja mengantar barang, makan secukupnya, tidur di kamar sempit... ia pikir ia hanyalah satu dari jutaan warga biasa yang tidak berarti apa-apa. Ternyata, ia adalah pusat dari semua rahasia gelap kota ini.
"Terus sekarang kita ke mana?" tanya Ren, suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Meski bingung dan takut, rasa ingin tahu dan keinginan untuk bertahan hidup kini membara di dadanya. "Kalau Menara Zenith memburuku, kalau aku bisa membuka sesuatu yang berbahaya... di mana tempat yang aman?"
Kai tersenyum sedikit, senyum tipis yang berisi sedikit harapan. Ia menunjuk ke depan, ke arah ujung lorong yang semakin gelap dan menurun curam.
"Ke tempat di mana sistem Archive tidak bisa menjangkaunya. Tempat yang dibangun oleh orang-orang yang dulu sama sepertimu — orang-orang yang mulai mempertanyakan kebenaran dunia ini."
"Tempat itu bernama Kawasan Bayang," sela Anya. "Di situlah kita akan mencari jawaban. Siapa dirimu sebenarnya, dari mana asal kekuatan ini, dan apa rahasia sebenarnya di balik sistem yang mengatur hidup kita selama ini."
Mereka kembali berjalan. Lorong semakin sempit dan miring ke bawah, menjauh dari kota terang benderang di atas sana.
Namun, belum jauh mereka melangkah...
Tiba-tiba, suara berdengung berat terdengar dari belakang. Bukan suara mesin biasa, tapi suara logam yang bergerak dengan kekuatan besar, bercampur dengan bunyi bip-bip elektronik yang tajam.
Kai berhenti mendadak, wajahnya pucat pasi. Ia memutar layar di lengannya, matanya membelalak ngeri.
"Tidak mungkin... mereka sudah sampai ke sini? Padahal jalur ini tidak ada di peta mana pun!"
"Siapa?" tanya Ren, bersiap menghadang apa pun yang datang.
"Bukan drone biasa," jawab Kai dengan napas memburu. "Itu adalah Penjaga Arsip. Pasukan elit langsung dari Menara Zenith. Mereka tidak memindai data... mereka memindai keberadaan energi."
Suara langkah berat terdengar semakin dekat. Cahaya putih menyilaukan mulai muncul dari tikungan lorong yang baru saja mereka lewati.
Anya mengangkat kedua tangannya. Udara di sekelilingnya langsung membeku. Dinding-dinding beton di sisi kiri dan kanan lorong itu mulai tertutup lapisan es tebal dan tajam, membentuk rintangan alamiah.
"Maju terus!" perintah Anya tegas. "Aku akan menahan mereka sebentar!"
"Sendirian? Itu gila!" seru Ren.
Anya menoleh, mata merahnya menatap tajam namun ada kilat keyakinan di sana.
"Aku bisa membekukan udara, tapi aku tidak bisa memegang kunci dan memecahkan rahasia dunia ini. Itu tugasmu, Ren. Pergi! Temui pemimpin di Kawasan Bayang. Dia tahu lebih banyak tentang Archive Zero daripada siapa pun."
Suara benturan keras terdengar. Es yang baru saja dibentuk Anya retak hebat, suara logam beradu dengan es menggema mengerikan.
"CEPAT!" teriak Anya lagi.
Kai menarik lengan Ren paksa. "Ayo Ren! Kita tidak boleh sia-siakan pengorbanannya!"
Ren menatap Anya yang berdiri di ujung lorong, dikelilingi badai salju buatan yang ia ciptakan sendiri, menghadapi cahaya dan bayangan pasukan yang semakin banyak datang. Hati rasanya teriris, tapi ia tahu Anya benar. Kalau ia tertangkap sekarang, semua sia-sia.
Dengan berat hati, Ren berbalik dan berlari mengikuti Kai yang sudah berlari lebih dulu masuk ke lorong yang lebih gelap di depan.
Di belakangnya, suara benturan, suara retakan es, dan suara teriakan perintah bergema hingga jauh ke dalam terowongan.
Ren menggigit bibirnya, berlari sekuat tenaga. Simbol di tangannya kembali berdenyut hangat, seolah memberi kekuatan, atau seolah... merasakan bahaya yang sedang dihadapi gadis itu.
"Jangan mati..." batinnya.
Di depan sana, kegelapan semakin pekat. Namun jauh di ujung sana, samar-samar terlihat kilatan cahaya lain — bukan cahaya ungu atau merah milik Menara Zenith, melainkan cahaya berwarna keemasan yang redup dan berkedip-kedip.
Itulah Kawasan Bayang.
Tempat di mana rahasia dunia akan mulai terungkap.
Dan Ren sadar... setiap langkah kakinya menjauh dari kota Elarion, ia semakin dekat pada jati dirinya yang sebenarnya. Serta pada bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar dikejar pasukan penjaga.
Karena di dalam kegelapan bawah tanah itu, ia mulai menyadari satu hal:
Bahwa cerita tentang Archive Zero... bukanlah legenda lama.
Itu adalah sejarah yang sedang hidup kembali.
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"