NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Li Zhen mengusap dagunya dengan puas, merasa bahwa pekerjaannya sebagai mandor penindas sore ini berjalan dengan sangat lancar dan menguntungkan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman yang kini terlihat jauh lebih bersih, meskipun masih ada beberapa titik yang tidak sesuai dengan standar kemewahannya.

Pemuda itu kemudian menoleh ke arah gubuk reyotnya, menatap dinding kayu yang sudah berlubang di sana-sini dan atap rumbia yang miring parah. Dia mendecakkan lidahnya dengan ekspresi wajah yang sangat muak, merasa bahwa tempat tinggal ini sangat tidak pantas untuk dihuni oleh seseorang dengan saldo ratusan ribu Poin Sampah.

"Halaman ini sudah lumayan bersih, tapi mataku masih terasa sakit setiap kali melihat tumpukan kayu busuk yang kalian sebut sebagai gubuk ini," teriak Li Zhen dengan suara lantang. Dia berjalan kembali ke tengah halaman, berkacak pinggang sambil menatap puluhan kultivator elit yang kini sudah berhenti bekerja dan menatapnya ketakutan.

Tetua Lin yang sedang mengepel lantai beranda langsung menghentikan gerakannya, wajah keriputnya memucat mendengar ketidakpuasan dari sang alkemis dewa. "A-apa yang kurang berkenan di hati Senior? Kami akan segera memperbaikinya sesuai dengan keinginan Senior," tawar Tetua Lin dengan nada bergetar.

Li Zhen tersenyum licik, matanya berkilat memancarkan rencana pemerasan yang sudah dia susun dengan sangat rapi di dalam otaknya. "Aku ingin gubuk sampah ini dirobohkan rata dengan tanah sekarang juga, dan kalian harus membangun sebuah paviliun mewah untukku sebelum matahari benar-benar tenggelam."

Mendengar perintah yang sangat tidak masuk akal itu, semua kultivator elit di halaman tersebut membelalakkan mata mereka lebar-lebar karena syok berat. Membangun sebuah paviliun mewah hanya dalam waktu kurang dari dua jam adalah sebuah misi yang nyaris mustahil, bahkan bagi para kultivator tingkat tinggi sekalipun.

"S-Senior Agung, matahari akan segera terbenam sebentar lagi, waktu yang tersisa sangat tidak cukup untuk mengumpulkan bahan bangunan berkualitas," bantah Kepala Sekte Zhao Wuji dengan hati-hati. Dia merangkak maju beberapa langkah, wajahnya penuh lumpur dan air mata yang membuatnya terlihat sangat menyedihkan di bawah cahaya sore.

Li Zhen mendengus keras, melipat lengannya di dada dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak menerima alasan penolakan apa pun. "Kalian semua memiliki cincin spasial yang berisi harta karun dari ratusan tahun kultivasi, jangan berani membohongiku tentang kekurangan bahan material," bentaknya tajam.

Pemuda bermulut sampah itu menunjuk ke arah cincin batu giok yang melingkar di jari manis Kepala Sekte dengan pandangan yang sangat rakus. "Gunakan Kayu Besi Seribu Tahun milikmu, Giok Putih Kutub Utara milik Tetua Lin, dan Emas Spiritual dari brankas pribadi Penatua Mo Jian untuk membangun rumahku."

Para tetua sekte itu langsung terkesiap ngeri, tangan mereka secara refleks menutupi cincin spasial masing-masing dengan gerakan panik. Material-material yang baru saja disebutkan oleh Li Zhen adalah harta karun tingkat dewa yang sangat langka dan biasanya hanya digunakan untuk menempa senjata pusaka tingkat kaisar.

Menggunakan bahan-bahan suci itu hanya untuk membangun sebuah rumah tempat tinggal biasa adalah sebuah pemborosan tingkat ekstrim yang bisa membuat leluhur sekte bangkit dari kuburnya. Tetua Lin menggelengkan kepalanya dengan kuat, air mata kembali mengalir deras dari matanya yang sudah merah membengkak.

"S-Senior, Giok Putih Kutub Utara itu adalah warisan turun-temurun dari guru saya, benda itu tidak bisa digunakan untuk membuat lantai paviliun," ratap Tetua Lin dengan suara serak. Pria tua berjubah putih itu bersujud di atas tanah, memohon belas kasihan agar harta kesayangannya tidak dirampas begitu saja.

Li Zhen melangkah mendekati Tetua Lin, menundukkan pandangannya dengan raut wajah yang sangat dingin dan tidak memancarkan empati sedikit pun. Kemampuan pasif dari sistemnya langsung bekerja, menampilkan kelemahan mental tambahan dari pria tua yang sedang menangis tersedu-sedu di depannya ini.

"Kau lebih menyayangi bongkahan batu giok putih itu daripada harga dirimu sendiri, ya?" bisik Li Zhen dengan nada yang sangat mematikan. "Bagaimana jika aku mengumumkan kepada seluruh sekte bahwa Tetua Lin yang terhormat ini sering mengompol di celana setiap kali mendengar suara petir menyambar?"

Wajah Tetua Lin seketika membeku kaku, seluruh aliran darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir saat rahasia tergelapnya itu dibongkar tanpa ampun. Rahangnya jatuh terbuka, matanya membelalak lebar memancarkan teror gaib yang langsung meruntuhkan sisa-sisa kewarasan yang dia miliki.

"T-tidak, Senior! Jangan katakan apa pun lagi, saya mohon!" jerit Tetua Lin histeris, tangannya gemetar hebat saat dia langsung melepas cincin spasialnya sendiri. Dia melemparkan cincin berharga itu ke tanah di depan kaki Li Zhen, menyerahkan seluruh harta kekayaannya demi menutupi aib memalukan tersebut.

Melihat rekannya menyerah dengan cara yang sangat tragis, para tetua lainnya langsung menelan ludah dengan perasaan ngeri yang merayap di tengkuk mereka. Mereka sadar bahwa pemuda fana di depan mereka ini adalah iblis inkarnasi yang mengetahui segala dosa dan rahasia kotor yang mereka sembunyikan selama hidup.

Kepala Sekte Zhao Wuji memejamkan matanya dengan pasrah, air mata keputusasaan mengalir deras saat dia menyadari bahwa sektenya kini benar-benar berada di bawah telapak kaki seorang tiran. Tanpa berani membantah lagi, dia melepaskan cincin emas spasialnya dan mulai mengeluarkan balok-balok Kayu Besi Seribu Tahun yang memancarkan aura mistis kebiruan.

"Mulai bekerja sekarang, atau aku akan mengadakan sesi mendongeng rahasia aib kalian secara terbuka di aula utama sekte besok pagi," ancam Li Zhen sambil tersenyum lebar. Ancaman itu bekerja jauh lebih efektif daripada cambukan api, membuat puluhan kultivator elit itu langsung melompat berdiri dengan gerakan super cepat.

Mereka mulai memancarkan energi spiritual mereka secara maksimal, bukan untuk bertarung, melainkan untuk mempercepat proses pembongkaran gubuk reyot tersebut. Gelombang energi angin dan tanah berbenturan di udara, menghancurkan dinding kayu lapuk dan atap rumbia itu menjadi debu halus dalam hitungan detik.

Li Zhen berdiri agak jauh dari lokasi pembangunan, memastikan kasur bulu angsanya dan set teh porselennya sudah dia pindahkan dengan aman ke bawah pohon rindang. Dia duduk santai di atas kasur mewahnya, menyeruput sisa teh melati yang sudah mulai mendingin sambil menikmati tontonan spektakuler di depannya.

Balok-balok Kayu Besi Seribu Tahun mulai disusun dengan kecepatan kilat oleh Kepala Sekte, setiap pukulannya dipenuhi oleh rasa sakit dan penyesalan yang mendalam. Penatua Mo Jian menggunakan energi petirnya untuk melelehkan Emas Spiritual, membentuk ukiran-ukiran naga yang sangat detail untuk menghiasi pilar-pilar paviliun.

Sementara itu, Tetua Lin menangis meraung-raung saat dia terpaksa memotong Giok Putih Kutub Utara warisan gurunya untuk dijadikan ubin lantai. Serpihan giok mahal itu berserakan di tanah, memancarkan hawa dingin yang sangat menyejukkan namun membawa penderitaan emosional yang luar biasa bagi pemiliknya.

Bahkan Anjing Petir Ekor Tiga pun dipaksa ikut bekerja, hewan buas itu harus menggunakan punggungnya yang lebar untuk mengangkut material berat dari satu sisi ke sisi lain. Ketiga ekornya disembunyikan rapat-rapat di bawah perutnya, wajahnya terlihat sangat tertekan saat harus mematuhi perintah para tetua yang sedang histeris.

[Ding! Target massal Jajaran Tetua Sekte mengalami pemerasan emosional dan kehancuran finansial. Mendapatkan +45.000 Poin Sampah total.]

Rentetan notifikasi itu terus berdenting tanpa henti, membuat saldo poin Li Zhen semakin meroket menembus angka yang sangat tidak masuk akal untuk seorang pemula. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak, menyilangkan kakinya dengan santai sambil mengkritik setiap hasil kerja yang dilakukan oleh para dewa persilatan tersebut.

"Hei, Kepala Sekte, pilar kayu itu miring dua milimeter ke kanan, apakah korset bajamu membuat matamu ikut menjadi juling?!" teriak Li Zhen dari kejauhan. Zhao Wuji langsung memuntahkan darah segar akibat tekanan mental, namun dia tetap memaksakan dirinya untuk meluruskan pilar kayu tersebut dengan tangan gemetar.

Pemandangan di lereng gunung sore itu benar-benar menjadi monumen kejatuhan harga diri dunia kultivasi Timur secara keseluruhan. Sekelompok elit sakti mandraguna menangis darah sambil membangun istana mewah untuk seorang pemuda fana, hanya karena mereka terlalu takut aib konyol mereka dibongkar ke publik.

Matahari kembar akhirnya perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat cahaya keemasan terakhir yang menyinari sebuah paviliun baru yang sangat megah dan menyilaukan mata. Li Zhen tersenyum puas, bersiap untuk menikmati rumah barunya yang dibangun di atas penderitaan, air mata, dan rahasia gelap para dewa yang kini menjadi budaknya.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!