NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pukul tujuh malam ,Maya baru tiba di rumah dan rasa sunyi dan kesepian kembali ia rasakan,Dion pergi liburan bersama ibu mertuanya,Bi Minah sedang cuti karena anak nya melahirkan,dan Arlan... suaminya pun masih di luar negeri itu pikirannya.Tanpa ia sadari Arlan sudah menunggu nya di kamar mereka.

" Ternyata kesepian itu menyesakkan." Lirih Maya sembari berjalan menuju pintu.

Maya membuka pintu depan dengan gerakan lesu. Ia sengaja tidak menyalakan lampu ruang tamu, membiarkan kegelapan menyelimuti rumah besar itu, seolah ingin menyelaraskan suasana hatinya yang suram. Setiap langkahnya menggema di lorong yang sunyi, melewati deretan foto keluarga yang kini terasa seperti potongan memori dari kehidupan orang lain.

Kehidupan orang lain.

"Aku merindukanmu, Mas. Tapi aku juga membencimu karena meninggalkan ku sendirian di rumah" bisiknya pelan, nyaris tenggelam dalam keheningan malam.

Ia menaiki tangga menuju kamar utama dengan bahu yang merosot. Maya tidak siap menghadapi ruang tidur itu tempat yang biasanya penuh dengan aroma maskulin Arlan dan pelukan hangat pria yang sangat ia rindukan kini.

Dengan napas berat, Maya memutar knop pintu kamar.

Cklek.

Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu nakas yang menyala redup. Maya membeku di ambang pintu. Aroma yang sangat ia kenali campuran antara parfum sandalwood dan sisa perjalanan jauh menyeruak masuk ke indra penciumannya.

Di sana, di tepi ranjang, seorang pria duduk dengan punggung membungkuk, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangan. Penampilannya sangat jauh dari kata rapi kemejanya berkerut, dan aura keputusasaan terpancar kuat dari sosoknya.

Keputusasaan terpancar kuat dari sosoknya.

Mendengar suara pintu terbuka, pria itu mendongak. Arlan.

" Sayang..." Suaranya pecah, parau, dan penuh dengan kepedihan yang mendalam.

Maya tidak bergerak. Jantungnya berdegup kencang Ia lalu berlari memeluk suaminya, Arlan yang berdiri dari duduknya merentangkan tangannya untuk menyambut wanita yang begitu ia rindukan selama beberapa hari ini. Keduanya pun saling berpelukan melepaskan segala kerinduan yang begitu membuncah,namun bayangan wajah wanita asing itu tiba-tiba terbersit dalam fikiran Arlan dan membuat nya seketika merasa bersalah pada wanita yang kini berada dalam pelukannya.

" Kamu di sini,mas..? Kapan kamu datang... kenapa tidak mengabariku?" Cerocos Maya sembari melepas pelukan nya.

Arlan menatap wajah Maya yang berseri karena bahagia, sangat kontras dengan kepedihan yang menyayat hatinya. Melihat mata Maya yang berbinar tulus justru membuat Arlan merasa seperti seorang pengecut. Setiap inci tubuhnya terasa kaku, seolah ia sedang menyembunyikan sebuah bom yang siap meledak dan menghancurkan senyum wanita di depannya.

"Baru saja, sayang. Mas langsung ke sini dari bandara," jawab Arlan dengan suara yang masih terdengar berat. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

Arlan menyentuh pipi Maya dengan jemarinya yang sedikit gemetar. Pikirannya melayang kembali ke kamar hotel di Tokyo, ke kartu yang ia lemparkan ke wajah wanita itu, dan ke rasa jijik yang menyelimuti dirinya saat terbangun tadi pagi.

"Kenapa wajahmu pucat sekali, Mas? Kamu sakit?" Maya bertanya dengan nada cemas, tangannya kini beralih menyentuh dahi Arlan. "Dan kemejamu... sangat kusut. Kamu tidak seperti biasanya."

Arlan menarik napas panjang, mencoba menghirup aroma rambut Maya yang menenangkan untuk menguatkan dirinya. Ia tahu, setiap detik yang ia lewatkan tanpa bicara adalah waktu yang dipinjam dari badai yang akan datang.

"Mas hanya sangat lelah, Sayang. Perjalanan dari Tokyo terasa jauh lebih lama dari biasanya," Arlan berbohong demi menunda kehancuran, meski ia tahu Dafa dan timnya sedang berpacu dengan waktu untuk membungkam berita.

Arlan menarik Maya kembali ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Maya akan terbang terbawa angin. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maya, memejamkan mata dengan rapat.

"Maafkan Mas, sayang... Maafkan Mas," bisik Arlan pelan, nyaris seperti gumaman.

Maya sedikit mengernyit, merasa ada yang aneh dengan nada bicara suaminya. "Minta maaf untuk apa? Karena pulang tanpa kabar? Atau karena membiarkanku kesepian beberapa hari ini?"

Arlan terdiam. Ia ingin berteriak bahwa ia telah dijebak, bahwa ada foto yang mungkin akan menghancurkan hidup mereka, dan bahwa ia merasa kotor meskipun ia yakin tidak melakukan apa pun. Namun, melihat kedamaian di wajah Maya saat ini, lidahnya kelu.

"Untuk semuanya. Untuk waktu yang terbuang tanpa kamu di sisi Mas," ucap Arlan akhirnya, memilih kalimat yang aman meski hatinya berteriak lain.

Maya tertawa kecil, menganggap Arlan hanya sedang bersikap melankolis karena kelelahan. "Kamu ini bicara apa sih, Mas. Sudah, sekarang kamu mandi dulu. Aku akan siapkan air hangat dan baju ganti. Kamu terlihat seperti baru saja melewati perang."

Memang, Maya. Mas baru saja melewati perang, dan Mas tidak tahu apakah Mas akan keluar sebagai pemenang atau pecundang,batin Arlan getir saat melihat Maya berjalan menuju kamar mandi dengan langkah ringan.

Arlan terpaku menatap punggung Maya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Suara gemericik air yang mulai mengisi bathtub terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung mundur sisa kebahagiaan mereka.

Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang sejak tadi terus bergetar tanpa henti.

Dafa: "Bos, tim IT berhasil menghapus unggahan awal di forum Jepang, tapi seseorang sudah mengirimkan salinan digitalnya ke beberapa media di Jakarta. Saya sedang mencoba melakukan penawaran agar berita itu ditahan. Bagaimana kondisi nyonya?"

Arlan memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya mengetik balasan dengan cepat, namun tangannya gemetar hebat.

Arlan: "Lakukan apa saja. Berapa pun biayanya. Jangan sampai satu pun berita di Tokyo di ketahui istriku. Putus semua akses berita ke akun pribadinya jika perlu."

Ia melempar ponsel itu ke atas kasur, merasa jijik pada dirinya sendiri karena harus bermain di belakang punggung wanita yang begitu mencintainya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya yang kaku.

"Mas? Airnya sudah siap."

Suara lembut Maya dari arah pintu kamar mandi mengejutkannya. Arlan berbalik, melihat istrinya berdiri di sana dengan senyum kecil sambil memegang handuk bersih. Cahaya lampu kamar yang kuning temaram membuat wajah Maya terlihat begitu tenang dan murni.

"Mas... kok bengong?" Maya mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Arlan. Ia mendongak, menatap mata suaminya yang nampak kosong. "Ada masalah di Tokyo? Pekerjaannya tidak lancar? Tidak biasanya kamu sekacau ini hanya karena urusan kantor."

Arlan memaksakan diri untuk membalas pelukan itu, meski hatinya menjerit ketakutan. "Hanya... sedikit rumit, sayang. Tapi Mas sudah menyelesaikannya. Semuanya."

Maya menyandarkan kepalanya di dada Arlan, tepat di atas jantung suaminya yang berdegup tidak keruan. "Syukurlah. Jangan terlalu dipikirkan, ya. Kamu sudah di rumah sekarang. Masih ada aku, ada Dion juga meski dia sedang pergi. Kita akan baik-baik saja."

Kalimat "Kita akan baik-baik saja" terasa seperti sembilu yang menyayat dada Arlan. Ia mengecup puncak kepala Maya lama sekali, menghirup aroma yang selama ini menjadi tempatnya pulang. Di dalam benaknya, Arlan bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang merencanakan skandal ini ia tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor itu merenggut kedamaian yang baru saja ia rasakan kembali.

"Mas mandi dulu, ya?" bisik Arlan parau.

"Iya, cepat ya. Aku akan buatkan teh hangat untukmu," jawab Maya riang sebelum melepaskan pelukannya.

Saat Arlan melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, ia bersandar di balik daun pintu, mengatur napasnya yang sesak.

1
cinta semu
MC ny Cemen ...lagian Dion bukan anak kandung ...yg paling berhak itu Sarah ....payah....😂😂
cinta semu
tak kasih semangat Maya ..buat Arlan menyesal ....
putmelyana
maya lebih cocok dengan devan
Thewie
maya bodoh
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!