Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 33
Tiga hari telah berlalu sejak malam yang mengubah hidup mereka.
Kondisi Tyo kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Warna wajahnya mulai kembali normal, napasnya juga jauh lebih stabil.
Meski demikian, dokter masih meminta agar ia menjalani perawatan beberapa hari lagi sebelum diperbolehkan pulang.
Pagi itu, suasana kamar rawat terasa jauh lebih hangat.
Alya duduk di samping ranjang sambil mengupas buah apel.
Sementara Tyo hanya bisa menggeleng-geleng melihat putrinya yang sejak tadi tidak berhenti memberikan nasihat.
"Papa harus dengar dokter."
"Iya."
"Nggak boleh telat minum obat."
"Iya."
"Nggak boleh stres."
"Iya."
"Nggak boleh kerja sampai tengah malam."
"Iya."
"Nggak boleh makan sembarangan."
"Iya."
Alya langsung menyipitkan matanya.
"Papa dengar nggak sih?"
Tyo terkekeh pelan.
"Dengar."
"Terus kenapa jawabnya kayak robot?"
Karena melihat ekspresi kesal putrinya, tawa Tyo semakin lepas.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.
"Kamu cerewet sekali sekarang." Alya langsung mendengus.
"Cerewet demi kesehatan Papa."
Gadis itu lalu meletakkan potongan apel ke piring kecil.
"Pokoknya setelah ini Papa harus lebih menjaga diri."
"Jangan terlalu banyak mikir."
"Jangan terlalu banyak kerja."
"Dan yang paling penting..." Alya menatap ayahnya serius.
"Jangan memikirkan hal-hal yang sudah berlalu."
Senyuman di wajah Tyo perlahan memudar.
Pria itu terdiam cukup lama.
Matanya menatap tangan putrinya yang masih menggenggam tangannya sejak tadi.
"Alya..."
"Hm?"
"Papa minta maaf."
Alya langsung mengangkat kepala.
Tyo menghela napas panjang.
"Papa minta maaf karena selama ini tidak bisa melihat semuanya dengan jelas."
"Papa—" Belum sempat ia melanjutkan, Alya sudah lebih dulu memotong.
"Papa." Nada suaranya lembut namun tegas.
"Alya nggak mau bahas itu lagi."
"Tapi Papa—"
"Nggak."
Alya menggeleng cepat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau Papa terus menyalahkan diri sendiri, berarti Papa nggak dengar nasihat Alya."
Tyo terdiam.
"Alya cuma mau Papa sehat."
"Itu aja."
"Tentang masa lalu..."
Alya tersenyum tipis meski matanya memerah.
"Kita nggak bisa mengubahnya."
"Jadi nggak perlu terus melihat ke belakang."
"Tugas kita sekarang cuma melangkah ke depan."
Mendengar itu, dada Tyo terasa hangat.
Putri yang selama ini ia khawatirkan ternyata tumbuh jauh lebih kuat daripada yang ia bayangkan.
Perlahan ia mengangguk.
"Baiklah."
"Itu baru Papa Alya."
Mereka berdua tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Alya melihat jam di ponselnya.
Matanya langsung membulat.
"Astaga!"
Tyo mengernyit.
"Kenapa?"
"Alya ada kelas pagi."
Tyo tertawa kecil.
"Kampus lagi?"
"Iya."
Alya buru-buru membereskan barang-barangnya.
Sebelum pergi, ia memeluk ayahnya dengan hati-hati.
"Papa istirahat yang banyak."
"Iya."
"Nggak boleh bandel."
"Iya."
"Nggak boleh bikin Alya khawatir."
"Iya."
Tyo kembali tertawa.
Melihat itu, Alya akhirnya tersenyum puas.
"Oke. Alya berangkat dulu."
"Hati-hati."
Setelah melambaikan tangan, Alya pun meninggalkan kamar perawatan.
Tak menyadari bahwa di tempat lain, seseorang sedang bergerak menjalankan rencananya.
---
Di sebuah rumah mewah yang kini terasa sunyi...
Helena berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah.
Sejak kejadian di ballroom, hidupnya benar-benar berantakan.
Nama baiknya hancur.
Rahasianya terbongkar.
Dan yang paling membuatnya takut...
Ia tidak tahu langkah apa yang akan diambil Max selanjutnya.
Karena itulah sejak pagi ia sibuk memasukkan berbagai dokumen penting ke dalam sebuah koper.
Sertifikat.
Perhiasan.
Uang tunai.
Beberapa barang berharga lainnya.
Semuanya ia kumpulkan dengan tergesa-gesa.
Setelah merasa cukup, Helena menarik napas lega.
"Aku harus pergi dari sini."
Ia menggenggam koper itu erat.
Lalu berjalan menuju pintu utama.
Namun saat pintu dibuka—
Tubuh Helena langsung membeku.
Seorang pria berdiri tepat di ambang pintu.
Jayden.
Tatapan pria itu terlihat dingin.
Membuat jantung Helena langsung berdebar tidak nyaman.
"K-kamu?"
Helena mundur selangkah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Namun Jayden tidak menjawab.
Pria itu hanya menatapnya dalam diam.
Entah mengapa, tatapan tersebut membuat Helena semakin gelisah.
Belum sempat wanita itu mengatakan apa pun lagi, situasi berubah begitu cepat.
Beberapa detik kemudian, pandangannya mulai berkunang-kunang.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Koper yang dibawanya terlepas dari genggaman.
Bruk!
Helena ambruk tak sadarkan diri.
Jayden menghela napas pelan.
Kemudian ia menoleh ke arah beberapa anak buah yang sudah menunggu tidak jauh dari sana.
"Bawa dia."
Tanpa banyak bicara, mereka segera mengangkat tubuh Helena.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam meninggalkan area rumah tersebut.
Jayden mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan singkat langsung dikirim.
"Selesai."
---
Di waktu yang sama.
Ruang rapat lantai tertinggi Wijaya Group.
Beberapa petinggi perusahaan tengah mempresentasikan laporan proyek terbaru.
Suasana berlangsung serius seperti biasa.
Max duduk di kursi utama dengan ekspresi datar.
Matanya menatap layar presentasi tanpa menunjukkan emosi apa pun.
Hingga—
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Max membaca isinya sekilas.
Dan dalam sekejap, sorot matanya berubah tajam.
Pria itu berdiri.
Seluruh peserta rapat langsung terdiam.
"Pak Max?"
Max mengambil jasnya.
"Rapat ditunda."
"Tapi, Pak—"
"Kita lanjutkan besok."
Nada suaranya dingin.
Tidak memberi ruang untuk dibantah.
Tak ada yang berani bertanya lebih jauh.
Mereka hanya menyaksikan CEO nomor satu dunia itu melangkah keluar ruangan dengan cepat.
Pintu lift tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir...
Sesuatu yang jauh lebih besar tampaknya akan segera terjadi.
Sementara di layar ponselnya, titik lokasi yang dikirim Jayden terus berkedip, menunggu kedatangannya..