[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Pertemuan Membawa Luka
Gerimis tipis mengguyur Jakarta malam ini, membuat suasana kamar Elleta terasa jauh lebih dingin dan menyesakkan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih lembap. Jubah mandi putihnya membalut tubuh yang gemetar bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang mulai menjalar.
Di atas ranjang, sebuah dress putih minimalis namun elegan sudah menanti. Di sampingnya, sepasang heels hitam dengan hak runcing tampak angkuh, seolah siap menyiksa langkah Elleta sepanjang malam ini.
Ting!
Ponselnya bergetar. Elleta meraih benda itu dengan gerakan malas, setengah berharap itu bukan pesan dari Papa. Ternyata, dari Daniel.
Daniel :
Aku lagi di kafe biasa kita nongkrong, El. Aku berharap kamu bisa cepat pulang ke California. Kita nonton konser Coachella bareng lagi, ya?
Dada Elleta terasa dihimpit sesuatu yang berat. Jemarinya gemetar hebat di atas layar. Ia ingin sekali membalas, "Aku mau pulang sekarang, Kak. Tolong jemput aku." Namun, ia tahu ia tidak bisa. Ia membiarkan ponsel itu tergeletak begitu saja hingga layarnya meredup, lalu mematikan diri.
Dengan napas yang tercekat, ia mengenakan pakaian pilihan orang tuanya. Ia memoles wajahnya dengan riasan flawless, menyemprotkan parfum vanilla musk favoritnya, lalu menatap bayangannya di cermin. Gadis di cermin itu terlihat cantik, tapi matanya... matanya sudah kehilangan binar kehidupan.
“Elleta! Cepat turun! Sudah setengah tujuh!” teriak Mamanya dari lantai bawah.
Elleta menyambar tasnya, mencengkeram ponselnya erat seolah itu satu-satunya pelampung di tengah laut, lalu menuruni tangga dengan langkah yang terasa seberat timah. Di ruang tamu, Papanya sudah menunggu dengan setelan jas rapi dan wajah yang kaku seperti batu.
“Ingat, Elleta,” Yuda memulai tanpa basa-basi.
“Jaga sikap. Ini pertemuan krusial buat masa depan perusahaan. Jangan pasang muka masam. Jangan bikin Papa malu.”
Elleta memilih untuk diam. Ia mengikuti orang tuanya masuk ke mobil. Perjalanan menuju restoran mewah di pusat kota itu terasa seperti iringan menuju tempat eksekusi.
Restoran itu sangat eksklusif. Saat melangkah masuk, seorang pelayan menyambut dengan sopan. “Selamat malam. Reservasi atas nama siapa, Pak?"
“Jeff Danendra,” jawab Yuda dengan nada bangga yang kentara.
Mereka diarahkan ke ruang privat di sudut paling tenang. Ruangan itu kedap suara, dindingnya berlapis kayu mahal tanpa jendela. Kesan klaustrofobik langsung menyerang dada Elleta. Ia merasa seperti burung yang baru saja dimasukkan ke dalam sangkar emas.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, hingga akhirnya pintu jati besar itu terbuka.
Jantung Elleta seolah berhenti berdetak. Pria yang melangkah masuk paling depan adalah pria yang ia tabrak di lorong kantor kemarin. Steve Athariz Danendra. Aura dominannya seolah menyedot oksigen di ruangan itu. Di sampingnya, seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah, Jeff Danendra tersenyum lebar.
“Maaf kami terlambat. Jalanan Jakarta memang tidak pernah bersahabat,” ucap Jeff sambil menjabat tangan Papa Elleta.
Steve duduk tepat di depan Elleta. Tatapannya dingin, namun tajam, seolah sedang membedah setiap inchi ekspresi wajah Elleta. Pertemuan ini terasa jauh lebih mengintimidasi daripada saat mereka bertemu secara tidak sengaja sebelumnya.
Makan malam dimulai. Percakapan awalnya mengalir soal bisnis dan saham, sampai akhirnya Jeff Danendra meletakkan alat makannya secara perlahan.
“Jadi, Yuda... kapan kita bisa meresmikan perjodohan ini? Elleta dan Steve adalah kombinasi yang sempurna untuk masa depan kedua perusahaan kita,” ucap Jeff santai, seperti sedang bicara soal cuaca.
Uhuk!
Elleta tersedak. Ia menatap Papanya dengan mata membelalak, lalu beralih ke Steve yang masih tenang memotong daging steak-nya.
“Perjodohan?” suara Elleta bergetar. “Apa maksudnya? Dijodohkan dengan orang yang bahkan enggak aku kenal?”
“Elleta, jaga bicaramu!” desis Papanya tajam.
“Enggak! Ini enggak masuk akal! Aku enggak mau!” Elleta membanting garpu ke piring porselen. Bunyi denting nyaring itu menghentikan semua percakapan di meja.
“Umurku baru 26 tahun, Pa! Aku baru pulang dan Papa menjemputku cuma untuk dijadikan alat transaksi bisnis? Aku punya pilihan sendiri!”
Elleta berdiri dengan napas memburu. Tanpa peduli wajah Papanya yang mulai memerah padam, Elleta berbalik dan lari keluar.
“Elleta! Kembali!” teriak Yuda.
Steve meletakkan pisau dengan elegan, lalu berdiri. “Biar saya yang menyusul, Tuan Crassia,” ucapnya singkat sebelum melangkah lebar mengejar gadis itu.
Elleta berlari menembus lobi restoran, mengabaikan tatapan heran orang-orang. Di luar, hujan turun makin deras. Tanpa peduli gaun mahalnya basah kuyup, ia menyetop taksi dan langsung masuk ke dalamnya.
Steve tiba di teras tepat saat taksi itu melaju. Ia berdiri di bawah kanopi, menatap lampu belakang taksi yang perlahan menghilang. Alih-alih marah, sebuah senyum tipis.hampir tak terbaca, terukir di bibirnya. Perlawanan Elleta justru membuat permainannya terasa semakin menarik.
“Menarik, Elleta. Aku tunggu saatnya kamu menyerah,” gumam Steve, matanya menggelap menatap jalanan yang basah.
...***...
Begitu sampai di rumah, Elleta mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia jatuh ke atas ranjang dan membiarkan isak tangisnya pecah. Tak lama, deru mesin mobil Papanya terdengar.
BRAK! BRAK! BRAK!
Pintu kamarnya digedor brutal. “Elleta! Buka! Dasar anak enggak tahu diuntung!” suara Yuda menggelegar dari balik pintu.
“Kamu tahu betapa malunya Papa di depan keluarga Danendra tadi? Kamu menghancurkan negosiasi miliaran rupiah cuma karena egomu!”
“Aku bukan barang dagangan yang bisa Papa jual!” teriak Elleta, suaranya parau.
“Kamu itu bagian dari keluarga ini! Berani-beraninya kamu lari dan bikin keluarga kita kelihatan rendah! Di California kamu mungkin bebas, tapi di sini kamu milik Papa!”
Elleta berdiri di balik pintu, air matanya terus mengalir. “Papa yang enggak punya malu! Papa jemput aku pulang cuma untuk dijadikan tumbal perusahaan Papa, kan? Aku benci Papa! Aku benci rumah ini!”
Suara Yuda mendadak merendah, namun ancamannya jauh lebih menusuk.
“Kalau bukan karena urusan perusahaan, Papa juga tidak sudi menjemputmu kembali, Elleta. Ingat ini baik-baik. Di pertemuan berikutnya, Papa mau kamu minta maaf secara tulus pada Steve. Kalau tidak... Papa pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat Danielmu itu lagi. Selamanya.”
Elleta membeku. Lidahnya kelu. Ancaman itu selalu berhasil mengunci dunianya. Ia merosot di balik pintu, memeluk lututnya sendiri dalam kegelapan kamar yang terasa seperti sel penjara.
Di kediamannya, Steve duduk di balkon, menyesap wiski sambil menatap hujan. Di tangannya, ia memutar ponsel, menunggu laporan dari Theo.
Baginya, drama malam ini hanyalah babak pembukaan. Ia tahu, sekeras apa pun Elleta memberontak, pada akhirnya gadis itu tidak akan punya tempat untuk lari selain jatuh ke dalam dekapannya.