Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Pagi itu suasana rumah masih diselimuti ketenangan. Cahaya matahari bahkan belum benar-benar muncul di ufuk timur, namun kehidupan kecil di dalam rumah itu sudah mulai bergerak. Kirana, dengan energi yang seolah tidak pernah habis, membuka matanya lebih dulu. Seperti biasanya, ia akan mencari ibunya untuk dibangunkan. Namun hari ini berbeda.
Dengan langkah kecil yang masih sedikit goyah, Kirana menaiki tempat tidur dan langsung naik ke atas tubuh ayahnya.
“Papa… bangun…” ucapnya pelan sambil menepuk pipi Erlan.
Erlan mengerang pelan. Tubuhnya masih terasa berat. Semalam ia pulang lebih awal, sesuatu yang jarang terjadi, demi bisa makan malam bersama Linda dan Kirana. Namun tetap saja, pekerjaan yang menumpuk membuat tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
“Kirana…” gumamnya dengan suara serak.
Alih-alih kembali tidur, Erlan justru membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada wajah kecil yang tersenyum cerah di atasnya. Seketika rasa lelah itu seperti dipaksa mundur.
“Kamu sudah bangun sepagi ini?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
Kirana mengangguk cepat. “Mau jalan-jalan.”
Erlan menghela napas pendek, lalu tanpa ragu mengangkat tubuh kecil putrinya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggendong Kirana dengan penuh kehangatan.
“Baiklah, jalan-jalan pagi ya,” ucapnya lembut.
Gerakan mereka membuat Linda terbangun. Ia mengusap matanya, lalu melihat Erlan yang sudah duduk sambil menggendong Kirana.
“Kamu sudah bangun?” tanya Linda, masih dengan suara yang sedikit mengantuk.
Erlan menoleh dan tersenyum. “Putri kita yang membangunkan.”
Kirana terkekeh kecil, seolah bangga dengan perannya pagi itu.
Linda bangkit dari tempat tidur, lalu mendekat. “Ayo, kita ke kamar mandi dulu. Cuci muka.”
“Papa ikut,” sela Erlan sambil berdiri.
Linda menatapnya sekilas. Wajah Erlan masih terlihat lelah, jelas sekali bahwa ia belum benar-benar beristirahat.
“Kamu lanjut tidur saja,” kata Linda pelan. “Aku bisa menemani Kirana.”
Erlan menggeleng tanpa ragu. “Tidak perlu.”
“Kamu capek,” lanjut Linda.
Erlan menatap Kirana yang memeluk lehernya erat. “Tidak masalah. Waktu seperti ini yang paling aku suka.”
Nada suaranya sederhana, namun tulus.
Linda terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kamu tidak boleh terlalu memanjakan dia.”
Erlan terkekeh pelan. “Aku akan memberikan apa pun yang dia butuhkan.”
Linda mengangkat alis. “Dan kalau dia nakal?”
Erlan berpikir sejenak, lalu menjawab, “Aku akan menegurnya dengan tegas.”
Namun sebelum Linda sempat menanggapi, Erlan menatap Kirana lagi, lalu tersenyum lembut.
“Tapi untuk sekarang…” lanjutnya, “aku rasa aku belum bisa tegas pada anak usia tiga tahun.”
Kirana yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya. “Kirana tidak nakal.”
Erlan tertawa kecil. “Ya, tentu saja tidak.”
Linda hanya menggeleng pelan, namun senyumnya tidak hilang.
Mereka bertiga kemudian menuju kamar mandi. Erlan membantu Kirana mencuci wajahnya, sementara Linda menyiapkan handuk kecil. Suasana pagi itu terasa hangat, sederhana, namun penuh makna.
Setelah semuanya selesai, Kirana sudah tampak segar dan penuh semangat.
“Jalan-jalan sekarang?” tanyanya tidak sabar.
Erlan mengangguk. “Sekarang.”
Mereka pun keluar rumah. Udara pagi masih terasa sejuk, dengan embun yang belum sepenuhnya menghilang. Lingkungan perumahan itu cukup tenang, hanya beberapa orang yang sudah mulai beraktivitas.
Kirana berjalan di antara kedua orang tuanya, sesekali menggandeng tangan Erlan, lalu berpindah ke Linda.
Tidak butuh waktu lama hingga mereka bertemu dengan tetangga.
“Wah, akhirnya ketemu juga,” suara Bu Rani terdengar ceria.
Erlan langsung menghentikan langkahnya, lalu tersenyum sopan. “Selamat pagi, Bu.”
Ia menyalami Bu Rani dengan hormat.
“Saya sering dengar tentang Anda,” lanjut Bu Rani. “Tapi baru sekarang bisa bertemu.”
Erlan tersenyum ringan. “Saya memang cukup sibuk akhir-akhir ini.”
“Sekarang sudah tidak terlalu sibuk?” tanya Bu Rani.
Erlan melirik Linda dan Kirana sejenak, lalu kembali menatap Bu Rani. “Saya akan berusaha meluangkan waktu untuk keluarga.”
Tak lama kemudian, Pak Baskoro juga mendekat.
“Pagi,” sapanya ramah.
“Pagi, Pak,” balas Erlan.
Pak Baskoro memperhatikan mereka bertiga, lalu tersenyum. “Anda beruntung punya istri dan anak yang cantik.”
Kalimat itu membuat Linda sedikit canggung. Ia menunduk pelan.
Namun Erlan justru menjawab dengan tenang, “Kami belum menikah.”
Suasana seketika berubah.
Bu Rani dan Pak Baskoro saling berpandangan, jelas terkejut.
“Belum menikah?” ulang Bu Rani.
“Padahal sudah punya anak?” tambah Pak Baskoro.
Erlan mengangguk pelan. Ia tidak terlihat terganggu oleh pertanyaan itu.
“Dulu kami sempat berpisah,” jelasnya. “Kami terlalu sibuk dengan ego masing-masing.”
Linda menatap Erlan sekilas. Ia tidak menyangka Erlan akan membicarakan hal itu dengan begitu terbuka.
Erlan melanjutkan, “Dan saya… baru mengetahui tentang Kirana belakangan.”
Bu Rani tampak terkejut. “Begitu?”
Erlan mengangguk. “Sekarang kami sudah membicarakan semuanya. Kami memahami kesalahan kami.”
Pak Baskoro menyilangkan tangan di dada. “Jadi sekarang…?”
“Kami akan menikah,” jawab Erlan mantap. “Setelah semuanya selesai dibicarakan dengan keluarga saya.”
Bu Rani terlihat sedikit khawatir. “Semoga saja semuanya berjalan lancar. Kadang hal seperti ini tidak mudah.”
Erlan tersenyum tipis, namun ada ketegasan di matanya. “Saya akan berusaha. Saya tidak ingin terpisah lagi dari mereka.”
Pak Baskoro mengangguk pelan. “Bagus. Kesalahan di masa muda bukan untuk dihakimi terus-menerus. Yang penting adalah bagaimana kita memperbaikinya.”
Linda yang sejak tadi diam, perlahan mengangkat wajahnya. Ucapan itu membuat hatinya terasa lebih ringan. Kekhawatiran yang sejak tadi mengendap perlahan mulai menghilang.
Erlan menatap Linda sekilas, lalu berkata, “Kami sudah memikirkannya dengan matang.”
Percakapan itu seharusnya bisa berlanjut lebih lama, namun tiba-tiba Kirana menarik tangan Erlan.
“Papa…”
Erlan menunduk. “Kenapa?”
“Kirana mau donat,” katanya polos.
Erlan mengerjap. “Donat?”
“Kemarin… dari Bu Eka,” jelas Kirana dengan semangat.
Linda tersenyum kecil. “Sepertinya dia ingat betul.”
Kirana mengangguk cepat. “Mau lagi.”
Erlan tertawa kecil. “Baiklah, kita ke sana.”
Linda menoleh ke Bu Rani dan Pak Baskoro. “Kami pamit dulu.”
Bu Rani tersenyum. “Silakan. Hati-hati.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Kirana kini menggandeng tangan Erlan dengan penuh semangat, seolah menjadi pemandu kecil.
“Ke sana, Papa,” katanya sambil menunjuk.
Erlan mengikuti arah yang ditunjuk, meski sesekali ia melirik Linda.
“Dia sudah hafal jalan,” ujar Erlan pelan.
Linda tersenyum. “Dia cepat belajar.”
Langkah mereka terasa ringan. Suasana pagi yang sederhana itu berubah menjadi momen yang tidak tergantikan.
Kirana berjalan di depan, sesekali menoleh memastikan kedua orang tuanya masih mengikutinya.
“Cepat, Papa,” katanya.
Erlan tersenyum. “Iya, kita tidak akan ketinggalan donatnya.”
Linda terkekeh pelan.
Di dalam hati, ia merasa bersyukur. Hal-hal kecil seperti ini, yang dulu terasa mustahil, kini menjadi kenyataan.
Dan Erlan… pria yang dulu terasa begitu jauh, kini berjalan di sampingnya, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.
Langkah mereka akhirnya mendekati rumah Bu Eka di blok sebelah.
Kirana semakin bersemangat. “Sudah dekat!”
Erlan mengangguk. “Iya, kita sudah sampai.”
Pagi itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Hanya sebuah keluarga kecil yang berjalan santai, membeli donat, dan berbincang ringan.
Namun bagi mereka, itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Sebuah kesempatan kedua.
Dan kali ini, tidak ada yang ingin menyia-nyiakannya.