"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBELAS
"Aku minta maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud menyakiti kamu kaya gitu. Mungkin aku,.... Mungkin karena sebelumnya aku sempet kepikiran sama Naya, makanya aku malah,... Aku malah sebut nama dia. Aku minta maaf. Aku bener-bener minta maaf,..." Andra berbicara sambil terbata dan ragu.
"Kamu emang cuma memikirkan dia, Mas! Kamu nggak pernah memikirkan aku sedikit pun. Aku emang nggak lebih penting dari Mbak Kanaya di hati kamu, iya kan? Udah lah, aku juga tau itu." Nisrin memainkan kartu kesedihan, bertingkah seolah dirinya adalah korban.
"Nggak, sayang. Bukan begitu. Kamu juga penting di hati aku, sama pentingnya seperti Kanaya. Kanaya istri aku, kamu juga istriku. Kalian punya posisi dan kedudukan yang sama di hatiku. Aku minta maaf, kamu jangan merasa rendah diri apalagi sampe berpikir kalau kamu nggak penting. Kamu penting, Sayang. Aku yang salah, aku minta maaf."
Andra berusaha untuk menenangkan dan membujuk Nisrin, meski jujur saja perkataannya itu tidak sepenuhnya benar.
Jauh di dalam hati Andra, dia tau kalau Kanaya memiliki posisi yang jauh lebih tinggi dan spesial di bandingkan dengan Nisrin.
Wanita itu adalah istri pertamanya, perempuan yang Andra nikahi dengan dasar cinta dan sampai kapan pun ia tidak akan pernah mau melepaskan Kanaya dari pelukannya.
Di sisi lain, Nisrin adalah wanita yang ia nikahi sebagai pelengkap hidup saja.
"Kalau aku penting, kamu nggak mungkin menyebut nama perempuan lain ketika jelas-jelas kamu lagi menyentuhku, Mas! Apa jangan-jangan selama ini kamu memang selalu membayangkan Mbak Naya setiap kali kamu menggauli aku?!"
Kembali dua mata Andra membelalak terkejut. Bukan karena marah, tapi karena apa yang dikatakan Nisirn memang benar adanya.
Ia sering dan bahkan hampir setiap saat membayangkan wajah Kanaya saat menyentuh wanita itu.
Entah lah, Andra hanya tidak bisa benar-benar melupakan wajah cantik istri pertamanya meski sedang bersama perempuan lain.
"Nggak, Sayang. Aku nggak begitu. Tadi itu,... Tadi itu karena aku lagi kepikiran Naya aja karena kamu juga tau kan dia nggak angkat telfon dari aku sejak kita sampe di sini. Jangan salah paham, Sayang." Andra berucap dusta.
"Kamu jahat, Mas! Meskipun dia masih istri kamu juga, tapi tetep aja hatiku sakit! Kamu jahat, jahat banget!" Nisrin menangis terisak, ia menunduk memeluk dirinya yang sudah hampir telanjang.
"Sayang,.... Aku minta maaf, jangan nangis. Aku salah, aku minta maaf." Andra memeluk Nisrin, mencium puncak kepala istri keduanya itu berkali-kali.
Tapi tangis Nisrin tak mereda, justru wanita itu semakin terisak menangis sehingga Andra tak punya pilihan lain selain membawa sang istri ke dalam pelukan dan berusaha menenangkannya.
Stay cation yang diniatkan untuk memadu kasih berdua tanpa gangguan siapa pun bahkan sudah berantakan sejak hari pertama mereka sampai.
"Maaf, Sayang. Jangan nangis, aku janji nggak akan kaya begitu lagi. Maaf, maafin aku. Aku cinta kamu, kamu sama istimewanya di hati aku."
Ucap Andra meski apa yang keluar dari mulutnya tak selaras dengan apa yang ia pikiran dan hatinya akui.
***
"Ini, tanda tangan dulu."
Kanaya menyodorkan satu map dengan beberapa lembar kertas, isinya adalah perjanjian dan kesepakatan tentang kerja sama yang mereka lakukan.
"Sip, oke. Aku tanda tangan di sebelah sini ya,..."
Tanpa ragu sedikit pun, jari lentik Esmeralda
bergerak elegan membubuhkan tanda tangannya tepat di
atas materai dengan senyum penuh kepuasan di wajahnya.
"Deal. Kerja sama ini cuma kita aja yang boleh tau, bahkan setelah nanti kerja sama ini selesai. Kamu nggak bisa bocorin tentang perjanjian ini ke siapa pun, tanpa terkecuali. Kalau sampai kamu melanggar perjanjian, aku tarik kembali semua uang yang kamu terima dan siap-siap masuk penjara."
Ujar Kanaya sambil merapikan lembaran kertas di atas meja kemudian merapikiannya ke dalam map.
"Santai, semuanya aman kalau sama aku. Tapi,... Aku punya beberapa pertanyaan tentang kerja sama ini, kita bahas sekarang aja bisa?"
Kanaya menganggukan kepalanya singkat menjawab
pertanyaan Esmeralda.
"Ya, silahkan. Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Di surat perjanjian dan kesepakatan kita itu kan cuma terlampir kalau pekerjaanku selesai setelah aku berhasil bikin ayah mertua Miss menikahi aku, aku mungkin cuma perlu bertahan beberapa bulan setelah pernikahan,..."
Kanaya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa kata sambil mendengarkan Esmeralda, ia masih mencerna apa yang kiranya wanita itu ingin sampaikan.
"Nah,.... Kalau seandainya setelah nikah nanti mertua Miss nggak mau cerein saya gimana? Apa saya harus tetep bertahan jadi istrinya?"
"Well, terserah kamu. Setelah kerja sama kita selesai, kamu bebas ambil keputusan apapun. Aku nggak punya hak lagi buat nyuruh-nyuruh kamu ngelakuin sesuatu. Mau kamu porotin sambil habis harta benda dia lalu setelah itu pergi, silahkan. Mau kamu bertahan dan melanjutkan pernikahan, ya silahkan juga."
Jelas Kanaya tenang, ia menyesap minumannya sambil memperhatikan wajah Esmeralda yang tampak sedang berpikir.
"Ayah mertua Miss ini kaya nggak? Kalau dia kaya banget dan aku berhasil bikin dia nikahin aku, ya udah aku nggak perlu cerai. Aku bisa hidup mewah sambil pake duit dia semauku selamanya. Tapi kalau duit dia nggak banyak-banyak banget, ya aku cerai aja setelah puas kuras hartanya."
Kanaya hampir saja tertawa saat mendengar kejujuan Esmeralda yang begitu terus terang. Jujur saja, Kanaya tak mau menghakimi wanita itu karena memang seperti itu lah kehidupan wanita dengah pekerjaan sepertinya.
Ia tak bisa mengharapkan niat dan tujuan yang suci dari seseorang yang menanggalkan harga diri juga kehormatannya hanya demi uang dan kehidupan yang mewah.
"Hmm, dibilang kaya banget sampe duitnya ratusan triliun sih nggak, tapi ya dia nggak bisa juga dibilang pas-pasan apalagi miskin. Duitnya pasti udah nyampe miliaran karena memang dia punya bisnis sendiri dan bisnisnya akhir-akhir ini cukup maju. Apalagi anaknya- alias suamiku, dia juga kasih duit rutin buat orangtuanya termasuk si ayah ini. So,.... Kayanya ayah mertuaku ini lumayan banyak duit."
Esmeralda mengangguk-angguk puas, ia menggigit bibir bawahnya seolah mendapat ide dan terpikirkan sesuatu.
"Okey deh, Miss. Gampang kalau gitu mah. Sekarang, kerjaanku tinggal deketin dia dulu. Dia biasa nongkrong di Jakarta Golf Club, kan?" Kanaya kembali menganggukkan kepala mengiyakan.
"Makin enteh deh. Aku punya koneksi di sana. Bisa deketin dia tanpa bikin curiga, aku jamin ini pertemuan bakal kerasa natural banget. Aku jamin dia pasti bakal tergila-gila sama aku, lebih dari yang Miss minta. Miss pasti puas sama hasil kerjaku." Esmeralda berucap penuh keyakinan.
"Bagus lah, good luck! Sekarang, kamu boleh pergi."
Esmeralda mengangguk semangat, ia bangun dan keluar dari restaurant dengan langkah kaki yang melenggak-lenggok penuh godaan.