NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur Hangat Keluarga Wijaya dan Ketegasan Sang Pewaris

Pagi menyambut Kinanti dengan kecerahan. Di lingkungan dan keluarga yang baru ini, ia beranjak dari ranjang untuk mandi. Ia menoleh sejenak melihat Aditya yang masih terlelap pulas. Kinanti memilih keluar kamar dan menuruni tangga menuju dapur di lantai bawah. Di sana, sudah ada tiga wanita paruh baya yang sibuk berkutat dengan bahan masakan.

"Selamat pagi semua," sapa Kinanti dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, Nak. Bagaimana tidurnya, nyaman tidak?" sambut Bu Sarasvati dengan lembut.

"Nyaman sekali, Bu," jawab Kinanti.

"Aditya tidak membuatmu kelelahan, kan, Nduk?" tanya Bu Sarasvati memastikan.

"Tidak, Bu. Semalam Kinanti dan Mas Aditya langsung tidur karena sudah sangat lelah," jawab Kinanti dengan jujur.

"Syukurlah kalau begitu. Kalau Aditya sampai membuatmu kelelahan, lapor saja ke Ibu, biar Ibu jewer telinganya," kata Bu Sarasvati setengah mengancam.

"Hehehe, tidak, kok, Bu," Kinanti terkekeh.

"Oh, ya, kenalan ya. Ini Bulek Winda, adik Ayahmu, Nak. Dia datang sebelum acara ngunduh mantu bersama Fara, putrinya. Kamu sudah tahu, kan, Nak?"

"Iya, Bu, Kinan tahu. Kemarin sempat dikenalkan oleh Abyan. Salam kenal, Bulek," ucap Kinanti sambil tersenyum lembut.

"Salam kenal, Sayang. Ya ampun, cantik sekali menantu mu ini mbak. Pintar sekali Aditya mencari pasangan," puji Bu Winda.

"Bulek bisa saja. Tidak, kok, Bulek malah lebih cantik dari Kinanti," balas Kinanti tersipu malu.

"Iya, memang pintar. Saking pintarnya sampai menculik anak orang, haduh. Darah tinggi Ibu langsung naik saat tahu dari Bapaknya," ujar Bu Sarasvati dengan nada geli.

"Masa sih, Mbak? Hahaha, sampai sebegitunya tidak mau jauh dari Kinanti," sahut Bu Winda terkekeh.

"Sangat! Apalagi ia merengek meminta dipercepat pernikahannya setelah lamaran, katanya takut Kinanti berubah pikiran," ucap Bu Sarasvati sambil menggelengkan kepala.

"Hahaha, bongkahan es itu ternyata sudah mencair karena bertemu gadis cantik ini," goda Bu Winda pada istri keponakannya.

"Sekarang sudah tenang ya, Mbak, Aditya akhirnya menikah. Aku ikut senang," lanjut Bu Winda.

"Mbak memang senang, Win, melihat Aditya akhirnya mau menikah. Walaupun setelah menikah, ia menempel pada menantuku ini seperti anak ayam takut ditinggal induknya," ucap Bu Sarasvati, tertawa bersama yang lain. Kinanti yang berada dalam pelukan Bu Sarasvati hanya bisa menunduk malu.

"Ini Ibu sedang memasak apa?" tanya Kinanti.

"Ibu sedang masak nasi goreng dan telur, Nak," jawab Bu Sarasvati.

"Kinanti bantu, ya, Bu," tawar Kinanti.

"Tidak usah. Kamu pasti masih capek. Biarkan Ibu dibantu Simbok dan Bulek Winda, Nak," larang Bu Sarasvati.

"Kinanti sudah tidak capek, kok, Bu. Kinanti kan langsung istirahat semalam. Kinanti bantu, ya, Bu," pinta Kinanti dengan lembut.

"Baiklah kalau begitu. Tolong buatkan telur saja, Nak. Di dadar, ya," ucap Bu Sarasvati.

"Iya, Bu," jawab Kinanti.

"Aditya belum bangun, Nduk?" tanya Bu Sarasvati.

"Belum, Bu, masih tidur pulas. Kinanti tidak tega membangunkannya," kata Kinanti lembut.

"Ya sudah, biarkan saja. Nanti kalau bangun, dia pasti akan mencarimu sampai ke bawah," ujar Bu Sarasvati, dibalas anggukan dan senyum manis dari Kinanti.

"Bulek Winda, Fara sudah bangun?" tanya Kinanti.

"Sudah, Nak. Mungkin sedang mandi, sebentar lagi pasti ke dapur," jawab Bu Winda.

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

🌸 Manja Sang Suami

Di lantai atas, tepatnya di kamar pribadi Aditya, pria itu membalikkan badannya, merasakan sesuatu yang aneh. Tangan kekarnya meraba-raba ke samping, dan ternyata tidak ada istrinya di sana. Aditya membuka mata, celingukan mencari sang istri.

"Sayang..." panggilnya.

Hening.

Dengan malas, Aditya turun dari tempat tidurnya. Ia mencari ke dalam kamar mandi, namun tidak ada tanda-tanda Kinanti.

Aditya keluar kamar, menuruni anak tangga.

"Sayang..." panggil Aditya sambil berjalan menuju dapur.

"Iya, Mas, sudah bangun?" sahut Kinanti sambil menyiapkan sarapan.

"Mas carimu di dalam, tidak ada. Makanya Mas ke sini," kata Aditya manja, langsung memeluk sang istri dari belakang.

Bu Sarasvati yang melihat itu langsung membelalakkan matanya.

"Hmm, kan apa kubilang, Win, tadi! Lihat, manja sekali, tidak ingat sudah tua," ucap Bu Sarasvati. Aditya berdecak, melirik ibunya.

"Pagi-pagi begini Aditya tidak usah bermanja-manja," tegur Bu Sarasvati.

"Ini istri Aditya, jadi suka-suka Aditya. Ibu sirik saja," ucap Aditya sinis.

"Iyalah, ini istri kamu, masa istrinya Pak RT, kan tidak mungkin. Aneh-aneh saja kamu ini!" ujar Bu Sarasvati kesal. Simbok dan Bu Winda tertawa melihat pemandangan di depan mereka.

"Lihat tempat dan lihat waktu kalau mau bermesraan, Aditya," lanjut Bu Sarasvati.

Dari meja makan, Pak Wijaya hanya bisa menggelengkan kepala melihat perdebatan antara istri dan putranya. Di sana juga sudah ada Abyan yang sedang sibuk dengan bukunya. Tak lama, Fara datang dan duduk di sebelah sepupunya. Setelah masakan siap, mereka sarapan bersama. Kinanti menyendokkan nasi goreng untuk Aditya, dan Bu Sarasvati menyendokkan untuk Pak Wijaya dan Abyan.

"Mbak Kinanti, minta tolong ambilkan telur," ucap Abyan.

Kinanti segera mengambilkan telur dadar untuk adik iparnya.

"Sudah cukup, Dek?" tanya Kinanti.

"Sudah, terima kasih, Mbak," jawab Abyan, dibalas senyuman manis oleh Kinanti.

"Fara mau nambah telur juga?" tawar Kinanti.

"Tidak, Mbak Kinanti, terima kasih," ucap Fara.

Mereka menyantap sarapan dengan tenang.

"Adi, setelah ini susul Ayah ke kamar. Ayah mau bicara denganmu," ujar Pak Wijaya. Setelah itu, Pak Wijaya bangkit, pergi menuju kamarnya.

Aditya menatap sang ayah sejenak sebelum melanjutkan sarapannya.

*Kira-kira apa yang akan Ayah bicarakan? Sepertinya penting sekali,* batin Aditya.

Setelah sarapan, Bu Sarasvati membereskan piring-piring kotor dibantu sang menantu. Abyan telah berangkat sekolah bersama temannya.

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

🕊️ Ketegasan Sang Pewaris

Kini, di kamar pribadi Bapak Wijaya, ia ditemani putra sulungnya, Aditya, untuk membahas suatu hal penting. Mereka duduk di kursi dekat ranjang, ditemani teh hangat.

"Nak," panggil Pak Wijaya.

"Ada apa, Yah?" tanya Aditya.

Pak Wijaya tersenyum tipis memandang putra sulungnya.

"Apa kamu membicarakan utang Tyo sebagai ancaman di rumahnya?" tanya Pak Wijaya, membuat Aditya terdiam.

"Nak, Ayah..." ucap Pak Wijaya yang terpotong.

"Itu sudah setimpal dengan perbuatannya, Yah," ucap Aditya datar. Pak Wijaya menghela napas panjang.

"Nak, uang dua ratus juta yang dulu itu tidak sama nilainya dengan zaman sekarang," ucap Pak Wijaya.

"Aditya tahu, Yah," jawab Aditya, sembari meletakkan secangkir teh jasmine hangat buatan ibunya ke atas meja. Auranya terlihat sangat berwibawa. Pak Wijaya yakin putranya ini akan disegani jika terus bersikap seperti ini.

"Uang itu sudah Ayah ikhlaskan untuk mereka," ucap Pak Wijaya dengan nada berwibawa.

"Tapi mereka tidak tahu terima kasih, Yah. Mereka lupa dengan apa yang mereka perbuat pada kalian di rumah ini kemarin?" ucap Aditya menahan amarah.

"Bukan cuma Ibu, Ayah juga kena. Aditya tidak terima ada yang bertindak kurang ajar kepada keluarga Aditya, Yah," tambah Aditya.

DEG!

Pak Wijaya semakin terdiam.

"Jadi, kalau mereka masih mau berselisih dengan Ayah, mereka harus melunasi utang mereka dulu dengan harga sekarang," ucap Aditya tegas.

Pak Wijaya menatap wajah tegas putranya. Tak ada rasa iba sama sekali. Aditya memang tidak sedikit pun menuruni sifatnya yang lembut, pria tampan itu nampak lebih tegas dan kejam jika ada yang berniat tidak baik untuk keluarganya.

"Lunas tanpa ada tempo," ujar Aditya datar.

DEG!

"Nak, uang sebanyak itu dulu sudah banyak sekali, sekarang malah jauh lebih tinggi harganya," ucap Pak Wijaya.

"Aditya tidak peduli. Kalau mereka sanggup melunasi dan mau menantang Ayah, bagaimana pun caranya, Aditya akan melayani. Tapi kalau mereka saja tidak sanggup membayar utang itu, jangan pernah berpikir jauh untuk berselisih dengan keluarga Wijaya," ucap Aditya, tidak main-main.

Pak Wijaya dibuat bungkam oleh ketegasan sang putra.

"Ayah tenang saja, masalah Om Tyo dan Tante Effi, insyaallah sudah beres. Ayah tidak usah cemas mereka akan kembali mengacau," ucap Aditya.

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

🌿 Godaan di Tepi Pondok

Setelah berbincang dengan sang ayah, Aditya turun ke lantai satu. Ia sempat berpapasan dengan ibunya dan sekalian menanyakan keberadaan sang istri tercinta. Halaman belakang, itulah tujuannya. Kaki panjangnya melangkah ke sana. Dari jarak cukup dekat, ia sudah melihat sang istri tengah sendirian, duduk di pondok buatan sambil sibuk mengulek bumbu di sebuah cobek berukuran sedang.

Sepasang mata tajam Aditya menatap lekat kaki mulus Kinanti yang sedikit terekspos. Kinanti masih tak menyadari suaminya datang. Ia ditinggal sendiri oleh ibu mertuanya, makanya ia sendirian di taman luas ini. Fokusnya tetap ke bawah, sibuk menguleni adonan. Tangannya sudah lengket dan berwarna putih, namun gadis cantik itu masih setia menekuni kegiatannya tanpa mengeluh capek, padahal peluh sudah nampak di sekitar pelipisnya. Aditya terkekeh geli melihat istrinya yang begitu fokus hingga tak menyadari kehadirannya.

Aditya mencoba semakin mendekat. Perhatian Kinanti teralihkan, gadis itu mendongak, memandang sang suami yang datang. Aditya berjongkok di depannya sambil tersenyum menawan.

"Mas Adi?" ucap Kinanti.

"Fokus sekali sampai tidak sadar Mas di sini?" goda Aditya, membuat Kinanti terkekeh.

Keduanya saling pandang. Tangan Aditya terulur membersihkan sedikit adonan putih di hidung dan pipi istrinya. Kinanti tersenyum malu saat Aditya sedikit menarik hidungnya dengan usil.

"Capek, Sayang?" tanya Aditya.

"Tidak, kok, Mas. Aku malah senang belajar memasak dengan Ibu," jawab Kinanti sambil menggeleng kecil.

"Terus sekarang Ibu ke mana? Kok kamu sendirian?" tanya Aditya.

"Ke dalam, mencuci sayuran dan ikan," jawab Kinanti, dibalas anggukan oleh Aditya.

"Lagi mengulek apa, Sayang?" tanya Aditya.

"Hehehe, aku lagi mengulek bumbu, Mas," ucap Kinanti.

Pria tampan itu bangkit dari posisi jongkoknya dan beralih duduk tepat di belakang sang istri, ikut duduk menyerong.

"Mas, jangan duduk di situ. Malu nanti kalau Ibu ke sini," ucap Kinanti, berusaha menghindar. Namun, apa daya, Aditya tak memedulikan yang lain.

"Mana? Cuma kita berdua saja, kok, Sayangku," ucap Aditya santai sambil memeluk Kinanti dari belakang.

"Kalau begitu, geser sedikit, nanti kena bumbunya," kata Kinanti.

"Tidak akan, Sayang," ucap Aditya santai.

"Cih!" decak Kinanti, menatap sinis Aditya.

"Seharusnya pakai celana panjang saja, Sayang. Lihat, kakinya terlihat sampai ke paha," bisik Aditya pelan. Wajahnya sudah ia taruh di pundak istrinya. Mendengar itu, Kinanti melihat ke arah kakinya.

"Hehehe, maaf, tidak sadar, Mas," balas Kinanti, ikut berbisik.

Namun, fokus tuan muda tampan ini bukannya tertuju pada tangan sang istri yang sedang melanjutkan kegiatannya, melainkan malah pada belahan aset depan istrinya yang bergerak, tampak begitu menggugah. Apalagi Kinanti sekarang membuka kancing di bagian dadanya. Pelan tapi pasti, tangan berurat Aditya mulai merambat, menggerayangi area perut sang istri, lalu naik. Kinanti, meskipun menunduk, sesekali melirik tingkah suaminya. Kini, tangan lebar Aditya melingkupi tangan mungil sang istri sambil menciumi kecil-kecil di sekitar rahang Kinanti. Kinanti dibuat geli dan samar-samar menaikkan bahunya.

"Mas," panggil Kinanti.

"Hm?" sahut Aditya dengan suara berat.

"Geli," ucap istrinya, tampak mengulum senyum.

Tak berhenti sampai di situ, Aditya justru semakin gencar mengendus rahang, lalu turun ke leher Kinanti. Sang istri sampai dibuat terpejam oleh aksi nakalnya itu. Hidung bangirnya mulai menjalar lagi, turun ke area pundak sang istri yang kini terekspos, sedangkan kedua telapak tangannya sudah meremas aset depan istrinya. Kinanti membuka mulutnya dan terasa lah napas hangat sang suami. Kinanti dibuat merinding.

"Hmmhh, Mas Adi," Kinanti mendesah lirih.

"Enak, hm?" bisik Aditya, sepasang matanya mulai memandang istrinya dengan buas.

Aditya jadi teringat aksinya saat malam pertama setelah akad di rumah mertuanya, terasa sangat kenyal dan pas di tangannya. Jika sang istri tidak datang bulan, mungkin sekarang Kinanti sudah jebol keperawanannya. Dirasa deru napas suaminya sudah mulai mendekati area pinggiran dada, Kinanti menolehkan wajahnya.

CUP!!

Aditya menyambar bibir manis istrinya. Keduanya saling berciuman mesra, membuat kegiatan Kinanti terhenti.

Desahan tertahan Kinanti begitu menggoda Aditya yang sudah mulai bergairah. Kepala keduanya bergerak ke kanan-kiri, menikmati cumbuan masing-masing. Tak berselang lama, Bu Sarasvati datang membawa tempat untuk bumbu merah yang diulek sang menantu.

"Aditya..." ucap Bu Sarasvati. Betapa terkejutnya, bola matanya sampai membelalak lebar. Ia mendapati adegan live di depannya putranya sedang bermesraan dengan sang istri. Sepasang pengantin baru itu sontak melihat ke arah Bu Sarasvati. Kinanti tertunduk malu, sedangkan Aditya nampak biasa saja dengan ekspresi datarnya.

"Ibu sudah selesai mencuci sayurnya?" ucap Aditya santai, seolah tak terjadi apa-apa.

"Aduh, aduh, pagi-pagi sudah mengganggu istrimu, Nak! Kamu sudah mandi apa belum? Wajahmu kucel seperti cucian belum dikucek," tegur Bu Sarasvati.

"Namanya juga pengantin baru," ucap Aditya santai.

"Sudah, sana! Jangan mengganggu istrimu. Biarkan dia bersama Ibu," ucap Bu Sarasvati.

"Lalu Aditya harus bagaimana?" tanya Aditya.

"Mandiii! Bau badanmu menyebar serumah," ucap Bu Sarasvati.

"Aditya tidak bau, ya, Bu. Sayang, aku bau tidak?" tanya Aditya.

"Bau asam," ejek Kinanti, terkekeh.

"Sayangggg," rengek Aditya.

"Halah, sok manja! Sudah, sudah, sana, lebih baik kamu mandi," ucap Bu Sarasvati.

"Kenapa Ibu tidak masuk ke dalam saja?" ucap Aditya berdecak.

"Berani mengusir?" ucap Bu Sarasvati sinis, bercekak pinggang.

"Tapi Aditya mau di sini saja, menemani istri Aditya," ucap Aditya manja sambil memeluk erat sang istri.

"Ealah gusti, anak laki-laki kok bisa manja sekali," ucap Bu Sarasvati menghela napas panjang.

"Sudah, Nak, jangan pedulikan suamimu yang jelek ini," ucap Bu Sarasvati sambil mengulum senyum geli melihat putranya.

"Ini tempatnya. Nanti taruh bumbunya di sini, ya, Nak. Ibu mau masuk ke dalam, lama-lama Ibu bisa darah tinggi melihat tingkah suamimu," lanjut Bu Sarasvati.

Wanita paruh baya itu memilih pergi, meninggalkan putra sulungnya yang sedang dimabuk asmara dan bermesraan dengan sang istri.

"Astaga, anak muda," gumamnya seraya terus berjalan ke dalam rumah.

Kembali ke pasangan pengantin baru itu, Kinanti tampak memarahi sang suami dengan wajah merah karena menahan malu.

"Ihh, Mas Adi menyebalkan! Sudah dibilang ada orang yang melihat, ih!" ucap Kinanti yang kesal hingga mencubit perut Aditya.

"Aduhh, aduh, Sayang," ucap Aditya meringis.

"Mas Adi belum mandi, kenapa tadi tidak mandi malah ke sini?" tanya Kinanti yang cemberut.

"Pengantin baru, Sayang, maklum masih hangat-hangatnya. Makanya Mas ke sini, kangen kamu," ucap Aditya memeluk sang istri.

"Halah, setiap hari sama kamu terus, kok malah bilang kangen," ucap Kinanti melirik sinis.

"Kan tadi Mas tinggal ngobrol sama Ayah," ucap Aditya.

"Kan cuma sebentar, Mas, tidak lama, tidak sampai seharian juga," kata Kinanti sambil memindahkan bumbu yang sudah halus ke dalam tempat yang telah disediakan.

"Tetap saja Mas kangen kamu, Sayang," ucap Aditya, masih memeluk sang istri.

Dalam keadaan masih memeluk sang istri, tiba-tiba Aditya mengajak Kinanti ke kamar karena tak kuat menahan hasratnya yang memuncak.

"Ke kamar, ya," bisik Aditya dengan suara berat.

Kinanti paham bahwa nafsu suaminya sudah muncul ke permukaan. Ia pun tidak tega, mengingat dia telah selesai masa datang bulannya. Akhirnya, ia mengangguk saja. Aditya bangkit dari duduknya, membersihkan dulu tangan mereka yang lengket adonan di sebuah pancuran kran kecil di sekitar sana. Kinanti memandang raut serius suaminya, dan tersenyum tipis.

"Ayo," ajak Aditya, merapikan baju sang istri. Lalu, ia menggandeng istrinya untuk naik tangga menuju kamarnya.

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

❓ Misteri Pondok Kosong

Setelah urusan di dapur selesai, Bu Sarasvati akhirnya sampai di pondok yang tadi ditempati Kinanti. Bu Sarasvati diikuti oleh Bu Winda.

"Lho, ke mana mereka berdua ini?" tanya Bu Sarasvati.

Bu Winda menatap bingung pondok yang kosong, hanya ada barang-barang dapur yang berserakan.

"Ada apa, Mbak?" tanya Bu Winda.

"Tadi itu Mbak ke pondok, Win, bawa tempat untuk bumbu yang diulek Kinanti. Eh, ada Aditya mengganggu Kinanti. Sudah disuruh mandi, malah menempel pada menantuku terus, Win. Ya sudah, Mbak kembali ke dalam. Eh, sekarang malah kosong, bumbunya ditinggal," ucap Bu Sarasvati.

"Mungkin Aditya minta disiapkan bajunya saat mandi," ucap Bu Winda.

"Masa, sih?" ucap Bu Sarasvati tak percaya.

Mereka berdua tidak tahu bahwa pengantin baru itu bukan pergi karena Aditya ingin mandi, tetapi karena ada urusan lain di kamar. Setelah itu, Kinanti dibuat kelelahan oleh Aditya di kamar.

Bersambung__

____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!