NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 - Roda Takdir Mulai Berputar

Long Chen, Mo Fan, dan Ling Er berjalan kembali menyusuri jalur di antara bambu ungu, langkah mereka lebih santai setelah latihan yang melelahkan. Angin sore berhembus lembut, membawa suasana tenang yang berbeda dari ketegangan saat berlatih.

Di tengah perjalanan, Mo Fan melirik ke arah Long Chen dan berkata dengan nada santai namun penuh penilaian, “Gerakanmu tidak kaku. Kau cukup berbakat dalam teknik pedang.”

Long Chen menggaruk kepalanya sedikit, menjawab dengan jujur tanpa berusaha menyombongkan diri. “Sejak di desa… aku memang sering berlatih. Walaupun hanya dengan pedang kayu, aku hampir setiap hari bertarung dengan temanku,” ujarnya.

Mo Fan mengangguk pelan, seolah memahami asal kemampuan itu. “Oh begitu,” balasnya singkat.

Ling Er berjalan di samping mereka dengan kepala sedikit menunduk, tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Mo Fan melirik ke arahnya, lalu tersenyum tipis dengan nada sedikit menggoda. “Junior Ling Er, kenapa diam saja dari tadi? Apa yang kau pikirkan?” tanyanya santai, lalu menambahkan, “Atau… masih malu karena kejadian pelukan tadi siang?”

“Senior Mo Fan!” seru Ling Er dengan wajah langsung memerah.

Buk!

Ia langsung memukul lengan Mo Fan dengan kesal. “Jangan bahas itu lagi, aku malu!” katanya cepat, berusaha menutupi rasa canggungnya.

Mo Fan hanya tertawa kecil, tidak benar-benar kesakitan.

Di samping mereka, Long Chen ikut tertawa pelan melihat tingkah keduanya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah yang berdiri tenang di tengah Hutan Bambu Ungu, suasana sore masih terasa hangat meski perlahan mulai meredup.

Begitu sampai, Ling Er langsung bergegas menuju kamar Mei Ling, jelas ingin memastikan kondisi seniornya setelah seharian tidak menemaninya.

Mo Fan berjalan santai ke arah kamarnya, kemungkinan untuk beristirahat setelah latihan yang panjang, langkahnya tetap tenang seperti biasa.

Sementara itu, Long Chen tidak langsung menuju kamar.

Ia melangkah ke arah dapur.

Seperti biasa setelah latihan, Long Chen langsung menuju dapur tanpa banyak berpikir, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang melekat dalam dirinya. Bukan karena diminta, melainkan karena ia ingin melakukannya.

Ia menyalakan kompor, menyiapkan bahan-bahan dengan gerakan yang kini lebih rapi dibanding sebelumnya, lalu mulai memasak dengan serius. Setiap langkah ia lakukan dengan hati-hati, mengingat apa yang diajarkan Shi Hao, dari mengatur api hingga memastikan kematangan makanan.

Waktu berlalu perlahan, aroma hangat mulai memenuhi dapur, dan beberapa saat kemudian, masakan itu pun selesai.

Uap tipis mengepul dari hidangan sederhana tersebut, membawa rasa yang tidak hanya berasal dari bahan, tetapi juga dari ketulusan.

Long Chen mengangkatnya dengan hati-hati, lalu tanpa ragu melangkah menuju kamar Mei Ling.

Di kamar Mei Ling, Long Chen masuk dengan langkah perlahan agar tidak mengganggu suasana. Ia membawa mangkuk di tangannya dengan hati-hati, lalu berkata lembut, “Hei, makanannya sudah siap.”

Ling Er yang duduk di samping ranjang langsung tertawa kecil melihatnya, jelas sudah terbiasa dengan pemandangan itu.

Long Chen berdiri di sisi ranjang, menatap Mei Ling dengan perhatian. “Bagaimana kondisi Senior hari ini, apakah sudah membaik?” tanyanya.

Mei Ling tersenyum lembut, wajahnya memang terlihat sedikit lebih segar dibanding sebelumnya. “Semakin hari… semakin membaik,” jawabnya pelan.

Tatapannya kemudian tertuju pada Long Chen, ada rasa hangat yang tidak disembunyikan. “Dan itu semua… berkatmu,” lanjutnya.

Ia menghela napas kecil sebelum berkata lagi, “Terima kasih banyak, junior Long Chen. Kau selalu memasakkan makanan untukku setiap hari, padahal kau sendiri pasti lelah setelah latihan.”

Long Chen menggeleng pelan, senyumnya sederhana namun tulus. “Tidak kok, Senior. Aku melakukan semua ini… karena aku memang ingin,” ujarnya.

Ia menatap Mei Ling dengan lebih serius, lalu tersenyum kecil. “Aku ingin Senior cepat sembuh.”

Nadanya sedikit berubah, lebih jujur, lebih dalam. “Karena aku punya keinginan… untuk bisa berlatih bersama Senior,” lanjutnya.

Ia menghela napas pelan sebelum menambahkan, “Jadi cepatlah sembuh, agar kita bisa berlatih bersama.”

Mei Ling terdiam, untuk sesaat tidak ada kata yang keluar darinya, lalu perlahan ia tersenyum hangat.

Di depan aula utama Sekte Pedang Langit, angin pegunungan berhembus pelan di antara pilar-pilar tinggi yang menjulang, membawa suasana tenang yang kontras dengan diskusi berat yang baru saja terjadi di dalam.

Meng Wu berdiri dengan tangan di belakang punggungnya, tatapannya mengarah ke kejauhan, seolah masih memikirkan isi pertemuan tadi. Di sampingnya, Shi Hao berdiri tegap, wajahnya lebih serius dari biasanya.

Mereka baru saja keluar dari pertemuan penting.

Ekspresi mereka tetap serius, suasana di depan aula terasa lebih berat dari biasanya. Shi Hao akhirnya membuka suara, nadanya rendah namun jelas mengandung kekhawatiran. “Pergerakan sekte aliran jahat… semakin jelas,” ujarnya.

Meng Wu tetap menatap ke kejauhan, pandangannya dalam seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat. “Diperkirakan…” katanya perlahan.

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Mereka akan mulai bergerak dalam lima tahun ke depan.”

Angin bertiup pelan di antara pilar-pilar tinggi, membawa kesejukan yang seharusnya menenangkan, namun justru menyisakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Awan bergerak perlahan di langit, menutupi sebagian cahaya, seolah bayangan masa depan mulai merayap tanpa suara.

Meng Wu tetap berdiri diam dengan tatapan jauh ke depan, sementara Shi Hao mengepalkan tangan perlahan. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan, karena keduanya mengerti bahwa sesuatu sedang mendekat.

Dan di saat yang sama, jauh dari aula dan pembicaraan para petinggi sekte, di dalam Hutan Bambu Ungu yang tenang, seorang anak kecil masih terus berlatih tanpa henti.

Long Chen berdiri di antara batang-batang bambu yang menjulang, pedang di tangannya bergerak berulang kali, menebas, menahan, lalu mengayun kembali dengan ritme yang semakin stabil. Keringat membasahi tubuhnya, napasnya berat, namun tidak ada tanda ia ingin berhenti.

Setiap gerakan kini lebih rapi, lebih terarah, dan lebih… tajam.

Ia mengingat setiap ajaran Mo Fan, setiap koreksi kecil, setiap detail tentang aliran qi yang harus ia jaga tetap stabil. Tidak ada lagi ayunan sembarangan, tidak ada lagi tenaga yang terbuang sia-sia.

Tanpa ia sadari, langkah kecil yang ia ambil hari demi hari di tengah Hutan Bambu Ungu bukan sekadar latihan biasa, melainkan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang perlahan mulai bergerak di balik bayang-bayang dunia kultivasi.

Setiap ayunan pedang yang ia lakukan, setiap tetes keringat yang jatuh, bukan hanya membentuk kekuatannya, tetapi juga mengarahkannya pada takdir yang belum ia pahami sepenuhnya.

Ia masih berdiri di titik awal, masih belajar, dan masih berkembang. Namun di balik semua itu, roda takdir telah mulai berputar, dan tanpa ia ketahui, masa depan yang lebih besar sedang menunggunya.

End Chapter 20

New Arc : Daily Life in Thunder Division Arc (Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!