King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Di ruang istirahat staf IGD yang sepi, Olivier duduk di depan komputer, menatap layar yang menampilkan rekam medis pasien atas nama King Stone.
Jari-jarinya diam di atas papan tik. Di layar monitor, tertera grafik tanda-tanda vital King yang terus membaik.
Luka sayatan di perutnya memang dalam, namun tidak ada komplikasi internal yang perlu dikhawatirkan. Secara medis, tugas Olivier sudah selesai.
Besok pagi, kendali atas pasien VIP ini akan dialihkan kepada dokter spesialis bedah senior yang menjadi penanggung jawab utama.
Namun, di dalam kepalanya, bayangan wajah King yang pucat namun tetap memancarkan keangkuhan yang familier itu menolak untuk pergi.
Tenunan tato di lengan King yang sempat ia sentuh saat membersihkan darah tadi terasa begitu asing.
King yang ia kenal dulu tidak memiliki tato itu. King yang ia kenal dulu memiliki binar mata yang hangat, bukan tatapan dingin yang dipenuhi rahasia-rahasia gelap seperti yang ia lihat beberapa jam lalu.
Pria itu telah berubah menjadi monster yang sepenuhnya berbeda, monster yang diciptakan oleh dunia kekuasaan klan Stone.
“Kau bekerja di sini?”
Pertanyaan King kembali terngiang di telinganya. Suara berat pria itu, yang sempat bergetar saat menyebut namanya, memicu gelombang emosi yang sudah Olivier kubur dalam-dalam selama satu dekade.
Olivier menutup layar rekam medis itu dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
Selama sepuluh tahun ini, dia berjuang mati-matian untuk membangun kariernya dari bawah.
Dia belajar siang dan malam, menghadapi jam kerja yang tidak manusiawi di sekolah kedokteran, semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan: membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa sukses tanpa bayang-bayang patah hati yang disebabkan oleh seorang King Stone.
Dan sekarang, saat dia merasa telah berhasil menata hidupnya kembali, pria itu muncul kembali seperti sebuah kutukan, merusak seluruh ketenangan yang telah ia bangun dengan susah payah.
Pintu ruang istirahat terbuka, dan seorang perawat senior masuk membawa dua gelas kopi instan yang masih mengepul.
"Kau terlihat seperti baru saja menghadapi medan perang, dr. Martinez," ujar perawat bernama Elena itu sambil menyodorkan satu gelas kopi kepada Olivier.
Olivier menerima gelas itu, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya. "Memang. Pasien IGD malam ini benar-benar menguras energi."
"Maksudmu pasien VIP di kamar nomor satu?" Elena berbisik, matanya berbinar penuh gosip. "Seluruh rumah sakit sedang membicarakannya. Pangeran pertama klan Stone dilarikan ke sini dengan luka tusuk sayatan, dan kau yang menanganinya sendirian. Kau tahu, dr. Martinez, kau adalah pahlawan malam ini. Jika terjadi sesuatu pada pria itu, direktur utama kita pasti sudah mengalami serangan jantung."
"Aku hanya melakukan tugas rutin, Elena," jawab Olivier datar, menyesap kopinya yang terasa pahit. "Siapa pun pasiennya, penanganannya tetap sama."
"Ya, tapi tidak semua pasien memiliki kekuasaan yang bisa membeli rumah sakit ini hanya untuk menjadikannya tempat parkir pribadi," gurau Elena, merujuk pada Kendrick.
"Klan Stone... mereka adalah penguasa Chicago yang sesungguhnya. Berhati-hatilah saat melakukan visit besok, Dokter. Mereka bilang King Stone adalah pria yang sangat tidak suka dibantah."
Olivier hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang tidak bisa diartikan oleh Elena. Dia memang tidak suka dibantah, batin Olivier. Tapi dia harus belajar bahwa di dalam rumah sakit ini, akulah yang memegang kendali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, sinar matahari musim dingin yang pucat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar VIP nomor satu.
King Stone terbangun dengan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Obat bius yang mengalir di tubuhnya semalaman kini telah habis sepenuhnya, menyisakan rasa perih yang luar biasa di bagian perut bawahnya.
Seorang perawat muda masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa nampan berisi peralatan medis baru dan perban steril. Wajah perawat itu tampak tegang, tahu betul siapa pasien yang sedang dia hadapi.
"M-Selamat pagi, Tuan Stone," sapa perawat itu dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku di sini untuk mengganti perban Anda sesuai instruksi dokter."
King melirik perawat itu dengan tatapan dingin, membuat nyali gadis muda itu semakin menciut. "Di mana dr. Martinez?" tanya King langsung tanpa basa-basi.
"Ah... dr. Martinez adalah residen IGD yang bertugas shift malam, Tuan. Shift-nya sudah selesai jam tujuh pagi tadi. Untuk penanganan Anda selanjutnya, dr. Richard, spesialis bedah senior, yang akan mengambil alih," jelas perawat itu sambil dengan cekatan namun hati-hati mulai membuka plester perban di perut King.
Rasa kecewa yang amat sangat mendadak menyelimuti hati King. Ia berharap bisa melihat wajah wanita itu lagi pagi ini, bahkan jika itu berarti dia harus menerima makian atau tatapan dingin lagi.
Mengetahui bahwa Olivier sengaja menghindarinya atau memang sudah pulang membuat King merasa frustrasi.
"Panggil dr. Martinez kembali ke sini," perintah King, suaranya terdengar mutlak dan tidak menerima penolakan.
Perawat itu menghentikan gerakannya, wajahnya memucat. "Tapi... Tuan Stone, dr. Martinez sedang tidak bertugas. Sesuai regulasi rumah sakit, kami tidak bisa—"
"Aku tidak peduli dengan regulasi sialan rumah sakit ini," potong King dingin, matanya menatap tajam perawat tersebut. "Katakan pada direktur utama rumah sakit ini, aku ingin dr. Olivier Martinez yang menjadi dokter residen penanggung jawabku selama aku dirawat di sini. Jika dalam waktu satu jam dia tidak muncul di kamar ini, aku akan memastikan seluruh anggaran dana untuk penelitian departemen bedah tahun ini dipotong habis."
Perawat itu menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu ancaman dari seorang Stone bukanlah gertakan sambal.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia buru-buru menyelesaikan penggantian perban King, lalu membungkuk hormat sebelum setengah berlari keluar dari kamar untuk melaporkan tuntutan gila dari sang pasien VIP kepada pihak manajemen.
Di luar kamar, Kendrick yang baru saja kembali dari lantai bawah setelah mengurus beberapa dokumen pengamanan, melihat perawat itu keluar dengan wajah panik. Ia menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kau benar-benar tidak bisa menahan dirimu, king?" ujar Kendrick sambil melangkah masuk ke dalam kamar, membawa sebuah map dokumen hitam di tangannya.
King melirik adiknya dengan malas. "Apa yang kau bawa?"
Kendrick melemparkan map tersebut ke atas ranjang King, tepat di samping kaki kakaknya yang tidak terluka. "Informasi yang kau minta semalam. Orang-orang kita bekerja cepat jika menyangkut perintahmu."
King dengan cepat meraih map tersebut, mengabaikan rasa nyeri di perutnya yang kembali berdenyut saat dia bergerak. Ia membuka lembaran pertama dokumen itu. Di sana, terpampang foto formal Olivier Martinez dengan rambut yang disanggul rapi, mengenakan jas dokter.
King membaca baris demi baris informasi yang tertera di sana dengan sangat teliti, seolah dia sedang mempelajari dokumen kontrak bisnis bernilai miliaran dolar.
"Olivier Martinez. Lulus dengan predikat summa cum laude dari Johns Hopkins School of Medicine," Kendrick membacakan poin-poin penting dengan suara santai.
"Dia menghilang dari Chicago setelah lulus high school, pindah ke Baltimore untuk kuliah kedokteran, dan baru kembali ke Chicago sekitar satu setengah tahun yang lalu untuk mengambil program residensi bedah trauma di Stone Hospital. Dan untuk pertanyaan sensitifmu semalam..." Kendrick sengaja menggantung kalimatnya, membuat King mendongak menatapnya dengan tatapan tajam.
"Katakan," desak King.
"Dia bersih. Tidak ada catatan pernikahan, tidak ada catatan pertunangan, bahkan tidak ada nama pria yang dekat dengannya selama lima tahun terakhir. Wanita itu hidup seperti seorang biarawati medis, King. Waktunya habis di dalam ruang operasi dan perpustakaan," jelas Kendrick.
Mendengar informasi itu, ada secercah rasa lega yang luar biasa yang merayap di dada King.
Olivier belum milik siapa pun. Dia masih sendiri. Namun, rasa lega itu segera diikuti oleh rasa bersalah yang semakin pekat. Olivier menutup dirinya dari dunia asmara, dan King tahu betul bahwa dialah penyebab utama di balik dinginnya hati wanita itu saat ini.
"Tapi ada satu hal lagi yang menarik, King," lanjut Kendrick, wajahnya berubah menjadi agak serius. "Kau tahu siapa yang merekomendasikannya untuk masuk ke rumah sakit ini?"
King mengernyitkan dahi. "Siapa?"
"Dokter Richard. Kepala departemen bedah kita, yang juga merupakan salah satu sahabat lama Mommy. Tampaknya, dr. Richard sangat melindungi Olivier. Dia menganggap Olivier sebagai aset terbesar yang dimiliki oleh generasi muda kedokteran di kota ini. Jadi, jika kau berniat memainkan permainan playboy-mu lagi dengannya, aku sarankan kau berpikir dua kali. Kau tidak hanya akan berhadapan dengan Olivier yang galak itu, tapi juga dengan dr. Richard."
King menutup map dokumen tersebut dengan perlahan, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. Tatapan matanya kini beralih ke jendela besar, menembus kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Chicago.
"Aku tidak sedang bermain-main, Kendrick," ucap King, suaranya terdengar begitu dalam dan penuh keseriusan yang membuat Kendrick terdiam.
"Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku sepuluh tahun lalu ketika aku melepaskannya. Dan sekarang, saat takdir membawanya kembali tepat di hadapanku, aku tidak akan membiarkannya pergi untuk kedua kalinya—bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh Chicago untuk membuatnya tetap berada di sisiku."
Kendrick menatap kakak kembarnya dengan tatapan campur aduk. Ia tahu betul watak King.
Jika King Stone sudah menginginkan sesuatu, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikannya. Namun, melihat ekspresi Olivier semalam, Kendrick juga tahu bahwa wanita itu bukanlah tipe orang yang bisa ditundukkan hanya dengan kekuasaan atau uang milik klan Stone.
"Ini akan menjadi perang yang sangat panjang dan berdarah, Kak," gumam Kendrick lirih, bersandar kembali di sofanya. "Dan untuk pertama kalinya dalam hidupmu, aku tidak yakin kau yang akan keluar sebagai pemenang."
King tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya yang penuh tato, merasakan detak jantungnya sendiri yang kini kembali memiliki tujuan yang jelas setelah sepuluh tahun berlalu dalam kekosongan yang dingin.
Pertempuran sesungguhnya antara sang penguasa Chicago dan dokter residen yang keras kepala itu baru saja dimulai di dalam dinding-dinding mewah Stone Hospital.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣