Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 PARA SANTRIWATI
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳
Singkat cerita...
Tibalah waktu pagi...
Aku, mengajak Ayu untuk berkenalan sebentar dengan Bunga. Dan Alhamdulillah mereka berdua bisa dengan luwes mengenal satu sama lain.
Dan akhirnya, hari ini adalah hari para santriwati yang akan masuk ke pondok putri Ustadz Furqon ini tiba.
Ustadz Furqon dan tiga orang pengurus pondok putra mengantar para santriwati itu menggunakan dua buah mobil.
Satu mobil membawa para santriwati, dan satu mobil lainnya membawa segala perlengkapan mereka.
Aku, Ayu, dan Bunga, sudah bersiap menyambut kedatangan mereka semua di depan gerbang pondok.
"Nis, itu mereka dateng!" kata Ayu sambil menunjuk dua buah mobil yang akhirnya tiba.
"Alhamdulillah... Wah, gak sabar banget aku!" kataku dengan ekspresi bahagia.
Sedangkan Bunga tak bersuara, hanya tersenyum dan ikut melihat dua mobil yang semakin mendekat ke pondok.
Dan...
Kami bertiga langsung menyambut Ustadz Furqon yang duluan turun dari mobil, di susul oleh dua orang rekan pengurus pondok putra yang segera turun dan membantu para santriwati menurunkan barang-barang mereka.
"Assalamu'alaikum, Ustadz... Alhamdulillah akhirnya sampe juga..." sambutku dengan perasaan yang bahagia.
"Wa'alaikumsalam... Alhamdulillah, akhirnya tugas kalian bertiga segera dimulai ya... Hehehe..." jawab Ustadz Furqon, juga dengan ekspresi yang bahagia.
"Oh iya, boleh minta tolong? Ayu, Bunga, bantu bawakan barang-barang santri ya..." tambahnya.
"Oh, iya, siap Ustadz." jawab Ayu.
Segera ia bersama Bunga membantu menurunkan dan langsung membawa barang-barang para santri menuju ke masjid terlebih dahulu. Dibantu juga oleh dua rekan pengurus dari pondok putra.
"Nisa..." Ustadz Furqon memanggilku.
"Iya Ustadz?"
"Maaf ya, saya semalam gak angkat telepon dari kamu. Terus saya juga gak telepon balik. Soalnya para santriwati juga baru sampai di pondok putra habis Isya. Jadi saya bantu-bantu sekaligus kasih beberapa arahan buat mereka." jelas Ustadz Furqon.
"Oh, iya, gak apa-apa kok Ustadz." jawabku.
Dari penjelasan singkat beliau itu, aku bisa memahami bahwa para santriwati ini tidak langsung ke pondok putri. Melainkan ke pondok putra terlebih dahulu untuk diberikan sambutan, pengarahan, bahkan mungkin juga diberi tahu tentang aturan-aturan dan lain sebagainya. Dan mereka istirahat dulu di sana.
"Oh ya Ustadz, maaf, saya boleh tanya?" kataku.
"Boleh Nis, mau tanya apa?"
"Emm... Beberapa waktu lalu, Ustadz bilang santriwati yang mendaftar sudah ada lima orang. Tapi, kok yang diantar ke sini cuma empat? Satu lagi kemana?" tanyaku.
"Oh itu, iya Nis, yang daftar memang ada lima orang. Dan empat orang santriwati yang hari ini saya antar, mereka jarak rumahnya gak terlalu jauh dari sini. Ya cuma beda desa dan kecamatan saja sih. Dan yang satu lagi... Emm..."
Ustadz Furqon berhenti sejenak, dengan gestur ia sedang mengingat sesuatu.
"Satu lagi kemana Ustadz? Apakah mengundurkan diri? Maaf kalau saya salah bertanya..." tanyaku sedikit penasaran.
"Ah, gak apa-apa kamu tanya itu, wajar kok Nis. Emm... Oh iya, saya ingat. Santriwati yang satu lagi berasal dari daerah Cirebon Nis. Jadi dia gak bisa datang bersamaan di hari ini." jelas Ustadz Furqon.
"Masya Alloh... Dari Cirebon Ustadz?"
"Iya Nis, dari Cirebon."
"Ya Alloh, jaraknya kan jauh banget loh Ustadz. Cirebon ke Kediri, itu jauh banget."
"Ya walau pun jauh, tapi kalau orang tua dari santriwati itu ternyata cocok dengan pondok putri ini, kan malah harus bersyukur kita. Berarti nanti ke depannya, bisa semakin banyak orang tau dan kenal sama pondok ini."
"Iya ya Ustadz... Alhamdulillah... Semoga nama baik pondok putra dan putri semakin luas dikenal orang. Dan makin banyak santri-santrinya..." kataku.
"Aamiin..." respon Ustadz Furqon.
"Terus, kira-kira kapan satu santriwati itu datang ke sini Ustadz? Apakah sudah ada kabar dari orang tuanya?" tanyaku lagi ingin memastikan kapan kedatangan satu santriwati itu.
"Sudah ada kabar Nis, Insya Alloh, tiga hari lagi dia datang ke sini, di antar langsung sama orang tuanya juga ke sini."
"Tiga hari lagi ya? Sekarang hari Senin, berarti hari Kamis Ustadz?"
"Iya, kemungkinan Kamis atau Jum'at lah mereka dateng. Ya semoga perjalanannya lancar dan gak ada kendala apapun."
"Aamiin..."
"Ayok Nis, kita ke masjid. Mau saya terima dulu secara resmi, habis itu langsung saya serahkan semuanya ke kamu, Ayu, dan Bunga."
"Baik Ustadz..."
Dan kami berdua segera menuju masjid. Tampak di sana empat orang satriwati sudah saling mengobrol dengan luwes bersama Ayu dan Bunga.
Ustadz Furqon langsung membuka dengan sedikit sambutan, kemudian meminta para santriwati itu untuk saling mengenalkan diri mereka. Bergantian dengan aku, Ayu, dan Bunga, juga saling memperkenalkan diri. Sedangkan dua rekan pengurus pondok putra kembali ke mobil untuk menunggu.
Dari perkenalan ini, aku bisa tahu dan hafal nama-nama dan usia mereka...
Pertama, Hana Haruna, 14 tahun, SMP kelas 2.
Kedua, Larasati Arum, 14 tahun, SMP kelas 2.
Ketiga, Indah Pratiwi, 13 tahun, SMP kelas 1.
Dan keempat, Intan Putri, 14 tahun, SMP kelas 2.
Usia mereka masih sangat belia, dan masih SMP kelas 2. Hanya Indah seorang yang masih SMP kelas 1. Dan juga, ternyata sekolah mereka tak terlalu jauh dari pondok putri ini. Rata-rata hanya membutuhkan waktu 30 menit dari pondok untuk sampai di sekolah. Meskipun sekolah mereka berempat berbeda-beda.
Mereka tampak ceria dan menyenangkan. Saling bercanda riang selama perkenalan. Begitu juga denganku, Ayu, dan Bunga. Kami bertiga pun merasa senang dan bahagia menyambut kedatangan mereka semua.
Kemudian setelah sesi perkenalan, Ustadz Furqon memberikan pengarahan dan juga memintaku untuk memberikan penjelasan tentang segala tata aturan selama mereka mondok di sini.
Dan tak lupa, aku juga memberikan penjelasan ke mereka semua, tentang bagian-bagian tugas antara diriku, Ayu, dan juga Bunga.
Setelahnya, Ustadz Furqon meminta Ayu dan Bunga untuk mengajak para santriwati berkeliling. Agar mereka semua mengenal setiap bangunan dan ruangan yang ada. Juga mengenal fungsi dari masing-masing ruangan itu.
Sedangkan aku menemani sebentar Ustadz Furqon di dalam masjid sebelum ia kembali ke pondok putra.
"Emm, Ustadz..."
"Ya Nis?"
"Ustadz makan dulu ya... Kebetulan tadi pagi Ayu dan Bunga udah masak juga. Sekalian diajak rekan pengurusnya ya Ustadz." tawaranku pada beliau agar makan terlebih dahulu sebelum kembali.
"Rekan pengurus di mobil itu udah makan semua Nis tadi pagi, sebelum kesini. Kalo saya sedang puasa sunnah Nis." jawabnya.
"Eh, Astaghfirulloh, maaf Ustadz, saya kira lagi gak puasa sunnah. Aduh, jadi gak enak saya... Maaf ya Ustadz, maaf..." responku.
Pantas saja, sedari tadi eh teh yang disediakan Ayu untuk Ustadz Furqon tak kunjung di minum. Hanya di diamkan saja di depannya. Sedangan dua gelas lainnya sudah habis di minum dua orang rekan pengurus yang kini sedang menunggu di mobil.
"Ah, gak apa-apa Nis... Kamu kayak baru kenal aja sama saya... Gak usah gugup gitu dong..." responnya sambil cengar-cengir.
"Emang kamu gak puasa sunnah hari ini?" tambahnya bertanya padaku.
"Emm... Ehehehehe..." aku malah cengengesan ringan.
"Hemmm... Dasar kamu tuh... Sesekali lah puasa sunnah Senin Kamis..." kata Ustadz Furqon sedikit menasihatiku.
"I-iya Ustadz... Hehehe..." jawabku.
"Jangan cuma puasa tirakat terus, biar semakin kuat juga ibadah sunnahmu Nis." tambahnya lagi, dengan suara yang agak lebih pelan.
"Hehehe... Iya Ustadz..." jawabku sambil mengangguk pelan.
"Ya udah Nis, saya mau pamit dulu ya."
"Mau kembali ke pondok putra sekarang Ustadz? Gak lebih lama dulu di sini?"
"Enggak Nis, soalnya di pondok putra siang ini mau ada kajian buat santri. Saya yang mengisi materinya."
"Oh begitu... Iya Ustadz..."
Ustadz Furqon pun beranjak dari duduknya, begitupun denganku. Segera beliau berjalan menuju ke mobil. Dan aku temani. Sedangkan terlihat para santriwati masih di ajak berkeliling oleh Ayu dan Bunga.
Ketika mobil sudah di nyalakan, Ustadz Furqon sedikit berpesan padaku.
"Nisa, tolong kalian bertiga laksanakan tugas dengan baik, penuh tanggung jawab ya."
"Iya Ustadz, siap."
"Dan juga, kalo ada kebutuhan atau hal lainnya yang perlu dilaporin ke saya, bisa langsung telepon saya ya."
"Iya Ustadz, paham..."
"Soalnya... Kita jagain anak orang di sini, dan mereka jauh dari orang tua. Nah, tugasmu, Ayu dan Bunga, jadi orang tua ke dua buat mereka ya."
"Siap Ustadz..."
"Oh iya, satu lagi. Bunga itu alumni dari pondok pesantren Gontor Putri, jadi dia saya tugaskan dalam hal mengajar ilmu agama lebih banyak di sini. Walau umurnya jauh lebih muda dari kamu dan Ayu, kalian juga bisa banyak diskusi ilmu agama sama Bunga."
"Oh gitu, Masya Alloh. Siap Ustadz, siap."
"Ya udah, saya pamit ya, Assalamu'alaiku..."
"Iya Ustadz, Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan."
"Iya Nis... Makasih..."
Akhirnya, Ustadz Furqon bersama dua rekan pengurus pondok putra itu meninggalkan pondok putri ini.
Ketika aku kembali menutup gerbang dan menguncinya, aku jadi mengetahui sesuatu dari Bunga.
Ternyata benar apa yang dirasakan oleh batin ghoibku...
Bunga... Tampak memang sholihah, tampak tenang, karena ia salah satu alumni pondok pesantren Gontor Putri...
Mungkin juga karena keilmuannya, ia juga tak takut berjalan kaki sendirian saat malam tadi...
Dan aku juga bersyukur, bisa mendapatkan rekan bekerja di sini yang punya kapasitas ilmu yang lebih banyak dariku. Sehingga aku bisa banyak belajar juga darinya.