Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Neraka Pelatihan
Raka melangkah cepat menuju bangunan barak yang ditunjuk Komandan Hendra. Di sepanjang jalan, matanya tak henti mengamati sekeliling. Ia melihat puluhan orang dengan berbagai ras dan wajah, semuanya mengenakan seragam tempur berwarna hijau kelabu yang sama, bergerak serempak dengan disiplin tinggi. Ada yang berlari mengelilingi lapangan dengan membawa beban berat di punggung, ada yang berlatih perang tangan kosong hingga saling memukul dan jatuh bangun, ada pula yang berbaris kaku di bawah terik matahari yang mulai meninggi.
Udara di sini terasa berat, bercampur bau keringat, debu, dan aroma logam senjata. Tidak ada suara tawa, tidak ada obrolan santai. Semuanya berjalan dengan aturan yang kaku, seolah setiap detik dihitung dan setiap gerakan diawasi oleh mata-mata tak terlihat.
Sesampainya di gedung administrasi barak, seorang petugas berwajah dingin menyerahkan satu set seragam baru, perlengkapan pribadi, dan sebuah tanda pengenal logam berbentuk persegi panjang kecil. Tidak ada nama, tidak ada pangkat, hanya satu deretan angka yang terukir rapi: 3-A-117.
“Dari detik ini, kau bukan lagi Raka Pratama. Kau adalah 117 dari Kelompok A, Skuadron 3. Nama lamamu, identitasmu, kewarganegaraanmu… semuanya sudah mati dan dikubur di luar pagar ini. Di sini, kau hanya angka. Dan ingat, angka yang lemah akan dihapus dari daftar,” ucap petugas itu datar, tanpa menatap mata Raka.
Raka menerima benda-benda itu dengan diam. Ia mengganti pakaiannya dengan cepat, menyimpan pakaian lamanya ke dalam tas—yang kini menjadi satu-satunya sisa dari kehidupan lamanya. Pisau tempur pemberian komandannya dulu, ia selipkan tetap di pinggang, tersembunyi di balik seragam baru itu. Pisau itu tidak akan ia serahkan pada siapapun, bahkan jika harus mati sekalipun.
Tepat saat detik kelima menitnya berakhir, Raka berlari menuju lapangan utama. Di sana, sudah berkumpul sekitar lima puluh orang lain, sama-sama pendatang baru, sama-sama berwajah tegang dan penuh ketidakpastian. Mereka berdiri berbaris rapi dalam lima barisan panjang, menunggu perintah selanjutnya. Di depan mereka, berdiri beberapa instruktur dengan wajah yang sama mengerikannya dengan Komandan Hendra, tangan mereka bersilang di dada, menatap tajam ke arah setiap orang yang ada di sana.
Raka berdiri di barisan paling belakang, posisi yang biasa diisi oleh pendatang baru yang belum membuktikan apapun. Ia berdiri tegak, dada membusung, pandangan lurus ke depan, menahan rasa lelah akibat perjalanan panjang semalam dan kurang tidur.
Tak lama kemudian, langkah berat dan gemuruh terdengar mendekat. Komandan Hendra kembali muncul, berjalan di tengah-tengah barisan dengan langkahnya yang menggetarkan tanah. Ia berhenti tepat di depan, memandangi lima puluh orang calon prajurit bayaran itu dengan tatapan merendahkan, seolah sedang menatap sekumpulan anak kecil yang lemah.
“DENGARKAN BAIK-BAIK, DAN INGAT SETIAP KATA YANG AKU UCAPKAN INI!” suaranya menggelegar, memantul ke seluruh penjuru lapangan, membuat banyak orang menahan napas. “Kalian ada di sini karena kalian mengira kalian hebat. Kalian ada di sini karena kalian berpikir kalian adalah yang terbaik dari tempat asal kalian masing-masing. Mantan tentara, mantan pasukan khusus, mantan polisi, atau mungkin hanya penjahat jalanan yang kebetulan punya nyali besar… Kalian semua merasa kalian pantas dibayar mahal, kalian merasa kalian layak disebut prajurit elit!”
Komandan Hendra berjalan perlahan menyusuri barisan, matanya menatap satu per satu wajah mereka dengan pandangan yang menghakimi.
“Tapi dengar baik-baik… Sampai detik ini, bagi saya, kalian semua hanyalah sampah! Kalian hanyalah sekumpulan daging yang belum ada gunanya, sekumpulan tulang yang belum ditempa! Apa yang kalian pelajari, apa yang kalian lakukan di negara asal kalian, semuanya TIDAK BERGUNA di sini! Aturan perang kami berbeda. Cara kami bertahan hidup jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah kalian bayangkan!”
Ia berhenti tepat di depan seorang pemuda berbadan besar di barisan depan, menatapnya dengan tajam.
“Di sini, kami tidak peduli siapa ayahmu, apa gelarmu, atau seberapa banyak medali yang pernah kau gantung di dadamu. Di sini, yang kami pedulikan hanyalah satu hal: APAKAH KAU BERTUAH HIDUP? Dan bertahan hidup di bawah tekanan, di bawah rasa sakit, di bawah ketakutan yang luar biasa!”
Komandan Hendra kembali berbalik menghadap ke depan, mengangkat suaranya lebih tinggi lagi.
“Mulai hari ini, selama enam bulan ke depan, kalian akan menjalani pelatihan yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh manusia biasa. Enam bulan ini akan menjadi masa terberat, tersakit, dan terkelam dalam seluruh hidup kalian. Kami akan mendorong tubuh dan pikiran kalian hingga ke batas terakhir kemampuan manusia, lalu kami akan mendorongnya lagi melewati batas itu!”
Ia menunjuk ke arah jalur rintangan panjang yang tampak mengerikan di kejauhan, penuh kawat berduri, dinding tinggi, lubang lumpur, dan benda-benda berbahaya lainnya.
“Kalian akan berlari sampai kaki kalian tak lagi bisa melangkah. Kalian akan berenang sampai paru-paru kalian terasa terbakar. Kalian akan berlatih bertarung sampai tulang kalian patah atau musuh kalian tumbang. Kalian akan belajar menembak, strategi, penyamaran, bertahan hidup di hutan belantara, di gurun pasir, di gunung bersalju, dan di tempat paling menjijikkan sekalipun. Kalian akan diajarkan cara membunuh dengan senjata, dengan pisau, dengan tangan kosong, atau bahkan dengan sepotong kayu atau batu!”
Suasana menjadi hening total. Tidak ada satu pun yang berani bergerak atau bernapas terlalu keras. Keringat dingin mulai menetes di dahi banyak orang, membayangkan apa yang akan mereka alami.
“Dan ingatlah ini baik-baik,” lanjut Komandan Hendra dengan nada rendah yang mengancam. “Siapa pun yang jatuh, siapa pun yang menyerah, siapa pun yang tidak mampu mengikuti ritme kami… mereka akan dikeluarkan. Dan percayalah, dikeluarkan dari sini bukan berarti dikembalikan ke rumah dengan selamat. Mereka yang gagal akan dibuang di tengah hutan belantara ini, tanpa senjata, tanpa makanan, tanpa peta. Mereka harus berjuang keluar sendiri, menghadapi binatang buas, jebakan alam, atau mati kelaparan dan dimakan tanah. Tidak ada yang akan mencari mereka. Tidak ada yang akan menolong mereka.”
Ia berhenti bicara sejenak, membiarkan ancaman itu meresap ke dalam hati setiap orang.
“Apakah ada di antara kalian yang ingin mundur sekarang? Kalian punya satu kesempatan ini saja. Sekali kalian melangkah masuk ke pelatihan ini, tidak ada jalan kembali. Kalian akan selesai hanya jika kalian mati atau lulus menjadi prajurit elit Garuda Security. Pilih sekarang!”
Hening. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang angkat tangan. Meskipun ketakutan menyelimuti hati banyak orang, tekad mereka—sama seperti Raka—lebih kuat daripada rasa takut itu. Mereka datang ke sini karena mereka tidak punya tempat lain untuk kembali. Mereka datang karena mereka butuh uang, butuh kekuatan, atau butuh harga diri yang hilang.
“BAGUS! TIDAK ADA YANG MUNDUR!” teriak Komandan Hendra puas. “Kalau begitu, mari kita mulai babak penyisihan ini. Instruktur! Berikan perintah!”
Seorang instruktur berbadan kekar dengan bekas luka memanjang di pipi melangkah maju, bersiap memberikan komando.
“SEMUA BERGERAK KE JALUR RINTANGAN!” teriak instruktur itu. “Seragam lengkap, membawa beban besi 20 kilogram di punggung! Kalian harus melewati jalur itu dan kembali ke sini sebanyak sepuluh kali berturut-turut. Siapa yang sampai terakhir, tidak makan seharian. Siapa yang berhenti sebelum selesai, langsung dikeluarkan!”
Raka merasakan beban berat diletakkan di punggungnya. Beban itu terasa sangat berat, menekan bahunya seolah ingin merobohkannya ke tanah. Namun Raka menegakkan punggungnya sekuat tenaga. Ia pernah melewati pelatihan berat saat masih di militer dulu, tapi ia sadar, apa yang akan ia hadapi sekarang akan jauh, jauh lebih berat dan lebih kejam.
Mereka berlari serentak, lima puluh orang itu melesat masuk ke jalur rintangan yang berbahaya. Kawat berduri yang rendah memaksa mereka merangkak di tanah berlumpur yang bau dan menjijikkan. Dinding kayu setinggi tiga meter harus didaki dengan kecepatan penuh. Lubang air yang dalam dan dingin harus diselami tanpa peduli seberapa kotor air itu.
Sudah putaran ketiga, napas banyak orang mulai terengah-engah berat. Keringat mengucur deras, bercampur dengan lumpur yang menempel di seluruh tubuh. Ada yang terjatuh, ada yang tersangkut kawat hingga kulitnya tergores dan berdarah, ada yang kakinya terkilir namun dipaksa bangkit kembali oleh teriakan para instruktur yang mengikuti mereka dari belakang sambil memukul-mukul punggung mereka dengan tongkat kayu.
“CEPAT! KAU PENGELAKAR ATAU PRAJURIT?! GERAKLAH!”
“Kau kira ini piknik?! LARI!”
Raka terus berlari, napasnya teratur, mengatur irama langkah kakinya. Ia tidak berada di barisan paling depan, tapi ia juga tidak membiarkan dirinya jatuh ke posisi paling belakang. Ia mengamati rekan-rekannya, menilai kekuatan fisik mereka. Di sebelahnya, ada seorang pemuda berbadan tegap, berkulit sawo matang, dengan wajah yang terlihat akrab. Pria itu bernapas berat namun tetap berusaha menjaga posisinya di dekat Raka.
Saat mereka sama-sama merangkak keluar dari bawah kawat berduri di putaran kelima, pria itu melirik sekilas ke arah Raka, lalu berbisik pelan di sela napasnya yang berat, “Kau cukup kuat, kawan. Nama panggilanku Bara, dari kesatuan pasukan khusus Indonesia juga. Aku melihatmu saat tiba kemarin.”
Raka sedikit terkejut, namun tidak menghentikan gerakannya. Ia menjawab singkat sambil terus berlari menuju dinding berikutnya, “Raka. Senang bertemu orang sebangsa di neraka ini.”
Bara tersenyum tipis, senyum pertama yang dilihat Raka di tempat ini. “Kita butuh kawan di sini, Raka. Sendirian, kita mungkin tidak akan bertahan lama. Tapi bersama… kita bisa jadi yang terbaik.”
Raka mengangguk setuju. Ia sadar, untuk bertahan hidup di tempat yang kejam dan penuh persaingan ini, ia tidak hanya butuh kekuatan sendiri, tapi juga sekutu yang bisa dipercaya. Dan Bara, dengan fisik yang tangguh dan tatapan mata yang jujur, sepertinya adalah orang yang tepat.
Jam berganti menjadi berjam-jam. Matahari bergerak ke tengah langit, menyinari mereka dengan panas yang menyengat kulit. Beban di punggung terasa semakin berat, seolah bertambah berat setiap kali mereka melangkah. Otot-otot kaki terasa kaku dan nyeri, napas terasa seperti api yang membakar tenggorokan.
Di putaran kesembilan, dua orang di barisan belakang akhirnya ambruk ke tanah, tak sanggup lagi melangkah. Mereka terkapar, tubuhnya bergetar hebat, mulutnya menganga lebar berusaha menghirup udara yang seolah enggan masuk. Instruktur segera datang, menarik tubuh mereka dengan kasar menjauh dari jalur, lalu melemparkan mereka begitu saja ke pinggiran lapangan.
“MEREKA GAGAL! BUANG SAMPAH INI!” teriak instruktur itu dingin. Tidak ada pertolongan medis, tidak ada rasa iba.
Pemandangan itu membuat nyali banyak orang menciut, tapi juga memicu semangat bertahan hidup yang lebih kuat lagi. Raka mengertakkan gigi, mengumpulkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya. Ia tidak akan berakhir seperti itu. Ia tidak akan dibuang seperti sampah. Ia harus bertahan, ia harus kuat, demi ibunya, demi masa depannya, dan demi harga dirinya yang ingin ia bangun kembali.
Dengan sisa tenaga terakhir, Raka, Bara, dan dua puluh orang lainnya yang masih tersisa berpacu masuk ke garis finis untuk putaran kesepuluh. Mereka jatuh berantakan ke tanah, terengah-engah hebat, tubuhnya bergetar karena kelelahan luar biasa. Beberapa orang menangis diam-diam karena rasa sakit dan ketakutan, ada yang memaki dalam hati, ada yang hanya diam menatap langit dengan pandangan kosong.
Dari lima puluh orang yang berangkat pagi tadi, kini hanya tersisa dua puluh delapan orang yang mampu menyelesaikan ujian pertama ini.
Komandan Hendra berjalan kembali ke tengah lapangan, menatap tubuh-tubuh yang terkapar itu dengan wajah yang masih sama dinginnya.
“Selamat… Kalian berhasil melewati hari pertama,” ucapnya pelan namun tegas. “Tapi ingat, ini baru permulaan. Besok akan lebih berat. Lusa akan jauh lebih kejam. Dan setiap hari sampai enam bulan ke depan, kalian akan didorong ke batas kematian, berulang kali, sampai kalian berubah menjadi mesin pembunuh yang tidak mengenal rasa sakit, takut, atau belas kasihan.”
Ia berhenti sejenak, menatap Raka dan Bara yang sedang berusaha bangkit meski tubuh mereka gemetar.
“Makanan ada di barak dalam lima belas menit. Setelah itu, tidur. Jam dua pagi, kalian akan bangun lagi untuk latihan bertahan hidup di hutan selama tiga hari tanpa makanan. Siapa yang tidak siap, langsung gugur.”
Komandan Hendra berbalik berjalan pergi, meninggalkan mereka dengan kata-kata terakhir yang menggema di udara:
“Selamat datang di neraka, anak-anak. Semoga kalian beruntung masih hidup sampai besok pagi.”
Raka duduk di tanah yang berdebu, menatap langit yang mulai kemerahan terkena sinar matahari terbenam. Tubuhnya sakit luar biasa, namun hatinya justru terasa hidup kembali. Di tengah rasa sakit, keringat, dan darah ini, ia merasakan sesuatu yang hilang kembali: semangat juang. Ia melirik ke arah Bara yang tersenyum lelah namun penuh tekad ke arahnya.
Perjalanan panjang dan berdarah ini baru saja benar-benar dimulai, dan Raka tahu betul, ia harus bertahan melewati setiap detiknya, seberat apa pun rintangannya.