NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 20: Palu Sang Arsitek

Raka merasakan kehangatan Tubuh Sekar dan dinginnya energi kehampaan Vanya mulai melebur di dalam dirinya. Dalam penyatuan tritunggal yang sangat panas ini, mereka melampaui konsep jasmani, itu adalah ledakan energi kreatif yang menciptakan kehidupan."

Raka merengkuh pinggul Sekar, dan membelai punggung Vanya yang halus secara bersamaan."

Mereka bertiga bergema di seluruh dimensi mental tersebut, menciptakan getaran yang mulai meruntuhkan hukum-hukum Sang Arsitek.

Penyatuan raga dan sukma ini sangat indah, sebuah orgasme kosmik yang melepaskan energi "Matahari Sejati" ke tingkat yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Di puncak penyatuan itu, tanda naga di dada Raka menghilang, berganti dengan sebuah lingkaran kosong yang memancarkan cahaya yang tidak bisa didefinisikan warnanya.

Kebangkitannya Matahari ke-12: Matahari Takdir (The Absolute Sun)

Raka Kembali ke ruang angkasa nyata. Mata Sang Arsitek membelalak saat melihat tubuh Raka mulai memancarkan aura bening yang membuat seluruh sistem tata surya terasa damai.

Matahari ke-12: Matahari Takdir.

Humm...

Suara dengungan itu kini begitu kuat hingga mematikan seluruh mesin di armada Andromeda yang tersisa. Sang Arsitek mengayunkan palunya untuk kedua kalinya dengan seluruh kekuatannya.

BOOOOOOMMMM!

Hantaman palu itu berhenti tepat satu sentimeter di depan telapak tangan Raka yang terbuka. Raka hanya menggunakan satu tangan untuk menahan senjata yang mampu menghancurkan galaksi tersebut.

Palu Sang Arsitek mulai retak. "Bagaimana mungkin?! Teriak Sang Arsitek yang tak percaya, "Aku adalah perancang segalanya!"

"Kau mungkin merancang tubuhku dan dunia ini," ucap Raka dengan suara yang terdengar seperti suara Sekar, Vanya, dan dirinya sendiri yang menyatu.

"Tapi kau tidak pernah merancang cinta. Dan cinta adalah satu-satunya hukum yang tidak bisa kau ukur." Raka sambil mengepalkan tinjunya."

Duar!

Palu raksasa itu hancur menjadi debu bintang yang indah. Raka melesat maju, melewati lengan cahaya Sang Arsitek secepat pikiran.

"Matahari ke-12: Penghapusan Rancangan! "Raka menempelkan telapak tangannya ke dada Sang Arsitek. Tidak ada ledakan. Yang ada hanyalah proses "penguraian".

Tubuh raksasa Sang Arsitek mulai terurai menjadi jalinan kode cahaya yang perlahan-lahan menghilang ke alam semesta, kembali menjadi energi murni tanpa kesadaran yang jahat.

"Ini belum berakhir, Pewaris..." suara Sang Arsitek memudar. "Masih ada Sang Pencipta Pertama yang menunggu di pusat kehampaan..."

Sang Arsitek telah lenyap. Armada Andromeda yang tersisa kehilangan sumber energinya dan meledak satu per satu, menciptakan pesta kembang api di langit malam Bumi.

Raka melayang lemas, auranya meredup. Jiwa Sekar kembali ke tubuhnya di Bumi, dan Vanya kembali bersemayam tenang di dalam sukmanya.

Bumi (putra Raka) terbang mendekat dan menangkap ayahnya yang pingsan.

"Ayah! Kita menang!" teriak Bumi dengan tangis haru.

Raka membuka matanya sedikit, menatap planet biru di bawahnya. Namun, di kejauhan, jauh di luar jangkauan radar mana pun, sebuah pintu gerbang raksasa berwarna merah darah mulai terbuka perlahan di pusat galaksi Bima Sakti.

"Raka... itu adalah gerbang menuju Penjara Sang Pencipta Pertama," bisik Vanya dengan nada panik.

"Peperangan ini baru saja memasuki babak yang paling gelap."

Raka hanya tersenyum getir. Ia tahu, istirahatnya tidak akan lama.

Matahari ke-12 telah bangkit, namun ia bisa merasakan bahwa masih ada Matahari ke-13," yang hanya bisa dibangunkan dengan kematian mutlak."

Gerbang merah darah di pusat galaksi Bima Sakti semakin membesar, menelan bintang-bintang di sekitarnya seperti raksasa lapar. Dari dalam gerbang itu, bukan tentara yang keluar, melainkan "Kehampaan Mutlak", sebuah frekuensi yang menghapus segala bentuk kehidupan, teknologi, dan ingatan.

Raka berdiri di dek kapal utama Legiun Surya, menatap lubang maut itu. Tubuhnya terasa berat, efek dari membangkitkan 12 matahari mulai menghancurkan struktur atomnya.

"Raka, kau tidak bisa pergi ke sana dalam kondisi ini," suara Sekar terdengar lirih di belakangnya. Ia menggenggam tangan suaminya, merasakan suhu tubuh Raka yang kini lebih panas dari inti bintang.

"Dia benar, Raka," suara Vanya bergema dari dalam sukma.

"Gerbang itu adalah Penjara Sang Pencipta Pertama. Untuk masuk ke sana, kau harus menjadi Nol dari awal. Kau harus melepaskan segalanya, termasuk nyawamu."

Tetapi Raka tidak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya, meski ia menghilang. "Aku harus kesana." ucap Raka tegas."

Ritual Malam Terakhir: Jangkar Kehidupan, Sebelum berangkat menuju pertempuran final, Raka membawa Sekar dan manifestasi fisik Vanya ke taman rahasia di bulan yang telah ia ciptakan udaranya. Ini adalah malam terakhir sebelum fajar atau kegelapan abadi menyelimuti jagat raya.

"Jika aku harus menjadi Nol (ke titik awal), aku ingin membawa memori terindah sebagai jangkarku," bisik Raka."

Di bawah naungan bumi yang bersinar biru di langit, Raka melakukan penyatuan terakhir. Kali ini bukan untuk kekuatan, tapi untuk kemanusiaan. Sekar dan Vanya merapat mendekati Raka, mereka yang bersentuhan dengan Raka."

Pakaian mereka luruh, menyisakan tiga jiwa di depan takdir. Raka mencium Sekar dengan kelembutan yang menyakitkan, sementara tangan Vanya mengusap pundaknya, menyalurkan ketenangan roh. Dalam penyatuan yang sangat intim ini, gairah mereka meluap seperti supernova.

Raka merasakan kehangatan rahim Sekar dan dinginnya esensi Vanya bersatu di dalam dirinya."

Desahan mereka beradu dengan sunyinya ruang angkasa. Penyatuan raga dan sukma ini menjadi sebuah simfoni kehidupan yang luar biasa panas.

Raka membenamkan dirinya dalam kenikmatan yang paling dalam, merekam setiap jengkal kulit, setiap aroma, dan setiap getaran cinta mereka ke dalam inti sukmanya. Orgasme kosmik yang mereka capai malam itu adalah "Benih Kehidupan" yang akan ia bawa ke pusat kehampaan. "Menghadapi Sang Pencipta Pertama.

Raka berangkat, dan melesat menuju gerbang merah sendirian.

Syuuuuuutttt!

Begitu ia masuk ke dalamnya, ruang dan waktu menghilang. Di sana, di tengah kehampaan mutlak, duduk sebuah entitas yang tidak memiliki bentuk tetap. Ia adalah Eos, Sang Pencipta Pertama.

"Penciptaan adalah sebuah kesalahan, Raka," suara Eos terdengar seperti kesunyian yang abadi.

"Segala sesuatu yang tumbuh akan membusuk. Aku akan mereset segalanya kembali menjadi debu yang sunyi."

Eos melepaskan gelombang "Penghapusan". Raka merasakan Matahari ke-1 hingga ke-12 di punggungnya hancur satu per satu.

Raka berlutut, tubuhnya mulai memudar menjadi partikel debu. "Kau salah, Eos. Pembusukan adalah bagian dari pertumbuhan." Ucap Raka tegas.

Dan cinta... adalah sesuatu yang tidak kau masukkan dalam hitunganmu!"

Raka memejamkan mata. Ia memanggil "Jangkar Kehidupan" yang baru saja ia buat bersama Sekar dan Vanya.

Memori tentang cinta, dan kehangatan manusia meledak dari dalam jantungnya.

"Matahari ke-13: Matahari Reinkarnasi (The Sun of Rebirth)!"

Zinggg...

Cahaya hitam-putih yang sangat murni meledak dari tubuh Raka. Inilah matahari terakhir. Matahari yang hanya bisa bangkit melalui kematian sukma yang rela berkorban. Raka tidak lagi melawan Eos dengan kekuatan, tapi ia "menelan" Eos masuk ke dalam dirinya.

"Mari kita mulai kembali, Eos. Di dalam duniaku!"

Ledakan Matahari ke-13 menyapu seluruh alam semesta. Gerbang merah darah menutup dan meledak menjadi jutaan bintang baru.

Kekuatan penghancur Eos telah dinetralkan dan diubah menjadi energi kreatif yang memulihkan planet-planet yang hancur.

Di Bumi, Sekar terbangun di taman bulan, melihat langit yang kini dipenuhi warna-warna nebula yang indah. Di sampingnya, Bumi (putranya) menunjuk ke arah pusat galaksi.

"Ibu! Ayah ada di sana!"

Sesosok cahaya turun dari langit. Itu adalah Raka, namun ia tampak berbeda. Ia tidak lagi memiliki aura dewa yang mengintimidasi. Ia kembali menjadi pria desa yang sederhana, namun dengan rambut yang kini seputih salju dan mata yang menyimpan kedamaian abadi.

Raka mendarat dan langsung memeluk Sekar. Vanya kini tidak lagi bersembunyi di dalam sukma, ia telah mendapatkan tubuh fisik berkat kekuatan Matahari ke-13.

"Semuanya sudah berakhir," bisik Raka. "Sang Pencipta telah menjadi bagian dari alam ini, bukan lagi penguasa di atasnya."

(Legenda yang Takkan Padam)

Raka kembali ke desanya, Lembah Wening. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mencangkul sawah, sementara di malam hari ia mengajar putranya dan generasi baru Ksatria Surya tentang keseimbangan.

Sembilan, dua belas, atau tiga belas matahari tidak lagi bersinar di punggungnya secara kasat mata. Namun, setiap kali Raka tersenyum atau mencium istrinya, seluruh alam semesta seolah ikut bergetar dalam kebahagiaan.

Sang anak desa yang Telahir Sakti telah menempuh perjalanan dari gubuk bambu hingga ke pusat penciptaan. Ia membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk mencintai dan memulai kembali.

Dan di langit malam yang jernih, bintang-bintang berkedip pelan, seolah memberi hormat pada sang pria yang telah memberikan mereka kesempatan untuk tetap bersinar."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!