NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

***

Waktu telah merayap hingga ke titik nadir bagi Mayang Puspita Sari. Usia kandungannya kini telah menginjak 38 minggu sebuah beban fisik yang nyaris mustahil dipikul oleh tubuh yang setiap harinya diperas oleh pekerjaan rumah tangga dan tekanan mental tanpa henti. Di luar sana, angin Jakarta berhembus kencang, menghantam kaca jendela penthouse yang dingin, seolah meratapi nasib wanita yang kini tengah meringkuk di atas karpet ruang tengah.

Aira, yang kini sudah hampir berusia satu tahun, sedang dalam fase sangat rewel. Mungkin sang bayi bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh ibunya. Sejak sore, Mayang sudah merasakan gelombang kontraksi yang berbeda. Bukan lagi kontraksi palsu yang biasa ia rasakan, melainkan remasan kuat yang menjalar dari pinggang hingga ke perut bawahnya, membuat napasnya tersengat perih.

"Nghhh... sabar ya, Sayang... Mamah di sini," bisik Mayang parau.

Aira menangis kencang, tangannya yang mungil menarik-narik daster Mayang yang sudah basah oleh keringat dingin. Bayi itu haus dan ingin menyusu. Dengan sisa tenaga yang ada, Mayang duduk bersandar pada kaki sofa, memangku Aira dan membiarkan putrinya menyusu.

Rasa sakit itu menghantam lagi. Satu menit. Kontraksinya bertahan selama satu menit penuh. Mayang memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram kain sofa hingga buku-bukunya memutih. Ia menyusui Aira sambil menahan erangan agar tidak menakuti putrinya, meskipun rahimnya terasa seperti sedang diperas oleh tangan besi.

Pintu penthouse terbuka dengan kasar. Baskara melangkah masuk, aroma wiski dan cerutu mahal segera memenuhi ruangan. Ia melihat Mayang yang pucat pasi sedang menyusui Aira di lantai, namun tak ada sedikit pun rasa iba di matanya.

"Kau belum menyiapkan air hangat untukku?" tanya Baskara dingin, melempar jasnya ke sembarang arah.

Mayang mendongak, napasnya pendek-pendek. "Baskara... aku rasa waktunya sudah tiba. Kontraksinya sangat kuat. Aira juga sedang tidak tenang..."

Baskara berjalan mendekat, berlutut di depan Mayang. Alih-alih membantu, ia justru mengamati keringat yang membanjiri wajah Mayang dengan tatapan yang ganjil. "Waktunya sudah tiba? Bagus. Tapi kau tahu aturannya, Mayang. Sebelum bayi ini keluar, kau tetap milikku sepenuhnya."

"Baskara, kumohon... aku sakit sekali. Aira juga belum pulas tidurnya," rintih Mayang.

"Tidurkan dia sekarang," perintah Baskara mutlak. "Lalu layani aku. Aku ingin merayakan kedatangan putraku dengan cara yang biasa kita lakukan. Anggap saja ini ritual pembuka sebelum kau melahirkan."

Mayang terpaksa membawa Aira yang sudah mulai mengantuk ke dalam boks bayinya. Dengan perut yang kaku dan jalan lahir yang mulai terasa tertekan, Mayang kembali ke ruang tengah. Di bawah cahaya lampu redup, ia harus melayani kegilaan Baskara. Ia menahan kontraksi yang datang setiap lima menit, menahan beban tubuh suaminya, sambil telinganya tetap waspada jika Aira terbangun.

Dunia terasa sangat tidak adil. Di saat wanita lain dikelilingi perawat dan kasih sayang, Mayang justru dijadikan alat pemuas nafsu tepat di ambang persalinannya.

**

Dua jam kemudian, ketuban Mayang pecah di atas lantai marmer. Baskara tidak panik. Ia justru tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan fetish gelapnya terhadap proses penciptaan nyawa yang menyakitkan. Ia mengunci pintu kamar utama, mematikan semua akses komunikasi, dan membiarkan Mayang berjuang sendirian di bawah pengawasannya.

"Tidak ada dokter, Mayang. Kau sudah berpengalaman," bisik Baskara sembari duduk di kursi jati tepat di depan Mayang yang kini tengah terduduk lemas di lantai, bersandar pada ranjang.

"Nghhh... HHHHNNNGGGHHH! AHHHH!" Mayang mengejan. Suaranya pecah, memenuhi ruangan yang dingin itu dengan aroma perjuangan yang mentah.

Baskara menonton setiap detiknya. Ia menikmati bagaimana otot-otot perut Mayang menegang, bagaimana rintihan kepedihan keluar dari bibir istrinya. Baginya, ini adalah seni. Ia membiarkan Mayang melakukan semuanya sendiri, hanya memberikan instruksi kasar agar Mayang tetap terjaga.

"Dorong, Mayang! Tunjukkan padaku bagaimana kau melahirkan penguasa baru Jakarta!" seru Baskara.

Mayang merasa jiwanya hampir terlepas. Rasa panas membakar di area intinya. Setiap kali ia mengejan, ia merasa seolah tubuhnya sedang dibelah. Namun, di tengah siksaan itu, Mayang tetap terjaga dalam sebuah rencana dingin. Ia sengaja membiarkan Baskara menikmati momen ini, membiarkannya terlena dalam kekuasaan palsunya.

Setelah perjuangan berjam-jam yang menguras seluruh air mata dan darahnya, kepala bayi akhirnya memahkotai jalan lahir. Baskara memajukan kursinya, matanya melotot penuh takjub dan gairah.

"Lagi! Sedikit lagi, Mayang!"

"AAAAHHHHHH!" dengan satu dorongan terakhir yang memecah kesunyian malam, bayi itu meluncur keluar.

Tangisan bayi pecah. Baskara segera meraih bayi itu. Ia membersihkannya dengan handuk sutra, namun saat ia melihat di antara celah kaki bayi tersebut, wajahnya mendadak kaku. Tangannya gemetar, bukan karena haru, melainkan karena amarah yang tertahan.

"Perempuan..." desis Baskara. "Lagi?"

Ia menatap bayi perempuan yang baru lahir itu dengan jijik, seolah-olah bayi itu adalah barang cacat produksi. Ia meletakkan bayi itu secara kasar di dada Mayang yang masih terengah-engah.

"Kau gagal lagi, Mayang," ucap Baskara dengan nada dingin yang mematikan. "Kau memberikan aku satu lagi beban yang tidak berguna."

Mayang memeluk bayi perempuannya dengan erat. Meskipun tubuhnya hancur dan nyawanya terasa di ujung tanduk, ia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tak terlihat oleh Baskara.

"Kau kecewa, Tuan Baskara?" bisik Mayang parau, napasnya masih tersengal-sengal.

Baskara berdiri, merapikan kemejanya. "Tentu aku kecewa. Tapi tidak apa-apa. Melihatmu berjuang melahirkan tadi memberikan kepuasan tersendiri bagiku. Itu artinya rahimmu masih sangat kuat. Kita akan mulai lagi setelah kau pulih. Aku tidak akan berhenti sampai kau memberikan aku laki-laki."

Baskara tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan kegilaan dan dominasi. Ia merasa masih memiliki kendali penuh. Ia merasa Mayang adalah miliknya selamanya untuk disiksa dengan kehamilan demi kehamilan.

**

Namun, Baskara tidak tahu bahwa saat ia sedang asyik menonton persalinan tadi, Mayang telah membiarkan sistem keamanan pintar penthouse merekam semuanya. Setiap kata-kata kasar Baskara, setiap momen di mana ia menolak memanggil bantuan medis, dan setiap pengakuannya tentang sabotase bisnis tersimpan dalam server yang sudah diatur Mayang untuk dikirim ke pihak otoritas jika Mayang memberikan kode tertentu.

Mayang menatap suaminya yang sedang menuangkan wiski untuk merayakan "kesenangannya".

"Kau benar, Baskara," ucap Mayang, suaranya kini terdengar lebih stabil, penuh dengan nada dingin yang dulu dimiliki Nyonya M. "Aku memang dewi kelahiran. Dan bayi perempuan ini... dia adalah saksi terakhir atas kejatuhanmu."

Baskara menoleh, mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Nikmatilah kemenanganmu malam ini, Suamiku," Mayang mencium kening bayi perempuannya yang kini mulai tenang di pelukannya. "Karena persalinan ini adalah hal terakhir yang akan kau lihat dariku. Besok pagi, dunia tidak akan melihat investor hebat, mereka akan melihat monster yang menyiksa istrinya yang sedang bertaruh nyawa."

Suasana di kamar itu mendadak membeku. Mayang tidak lagi tampak seperti budak yang kalah. Di tengah darah dan keringat, ia tampak seperti seorang pemenang yang baru saja menarik langkah catur terakhirnya. Ia telah memberikan Baskara apa yang ia mau—sebuah persalinan alami yang traumatis—namun ia juga telah menggali liang lahat untuk ambisi suaminya.

Mayang Puspita Sari siap untuk babak akhir. Jika ia harus melahirkan lagi, itu bukan untuk Baskara, melainkan untuk membangun dunianya sendiri bersama putri-putrinya, di atas puing-puing kekuasaan pria yang telah mencoba menghancurkannya.

****

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!