Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sang Putri Es
Suara gesekan sepatu skate memenuhi arena es besar di pusat kota Jakarta sore itu. Lampu putih memantul indah di permukaan arena, menciptakan bayangan samar dari seorang gadis yang tengah berputar anggun di tengah lintasan.
Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu kembali mendarat sempurna setelah melakukan lompatan terakhirnya. Rambut hitam panjangnya tergerai mengikuti gerakan tubuhnya, sementara wajah dinginnya tetap tanpa ekspresi meski pelatih dan beberapa siswa lain bertepuk tangan kagum.
“Perfect!” teriak pelatihnya bangga. “Kalau kamu tampil seperti ini saat lomba antar sekolah nanti, kemenangan udah pasti di tangan Bimatara.”
Dariela hanya mengangguk kecil.
Tidak ada senyum.
Tidak ada rasa bangga berlebihan.
Karena bagi Dariela, es adalah satu-satunya tempat di mana hidup terasa tenang.
Di atas arena, ia bisa melupakan semua tatapan hina, bisikan orang-orang tentang statusnya sebagai anak haram keluarga Raespati, dan dinginnya rumah megah yang tak pernah benar-benar menganggapnya ada.
“Dariel!”
Seorang gadis berlari kecil ke arah arena sambil membawa dua botol minuman dingin. Wajahnya cerah dengan senyum lebar yang selalu berhasil menghidupkan suasana.
Amora Eliza.
Satu-satunya teman yang tetap berada di sisi Dariela sejak kecil.
Amora adalah anak dari pembantu pribadi oma keluarga Raespati. Meski berasal dari keluarga sederhana, ia berhasil masuk ke Sekolah Bimatara melalui jalur beasiswa karena kecerdasannya.
“Lo latihan dari tadi pagi, nanti tumbang lagi,” omel Amora sambil menyerahkan minuman.
Dariela menerima botol itu pelan.
“Aku nggak selemah itu.”
Amora mendengus.
“Iya, sang putri es emang nggak pernah lemah.”
Julukan itu sudah melekat pada Dariela sejak lama.
Sang Putri Es.
Karena sikapnya yang dingin, sulit ditebak, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi. Padahal sebenarnya… Dariela hanya terlalu lelah berharap pada manusia.
“Eh, by the way…” Amora menurunkan suaranya penuh semangat. “Good Boys datang.”
Dariela langsung memutar mata malas.
“Berisik.”
Di Sekolah Bimatara, semua orang mengenal delapan laki-laki itu. Mereka bukan hanya tampan dan kaya, tapi juga pewaris keluarga paling berpengaruh di Indonesia bahkan luar negeri.
Orang-orang menyebut mereka:
The Good Boys.
Sekelompok pria sempurna yang menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.
Yang pertama adalah Sebasta Galen Sadipta, anak pertama sekaligus penerus utama Sadipta Group. Sosoknya terkenal dingin, ambisius, dan hampir tidak pernah tersenyum.
Lalu ada Damar Ragnala Raespati—kakak tiri Dariela—yang dijuluki good smile karena senyumnya yang selalu berhasil membuat satu sekolah heboh. Berbeda dari Damir, Damar tumbuh menjadi laki-laki hangat dan ramah.
Kemudian Reigel Bimatara, pewaris utama keluarga pemilik Sekolah Bimatara dan berbagai yayasan elite di Indonesia.
Arutala Bagaskara, anak kedua keluarga Bagaskara Group yang menguasai bisnis otomotif terbesar di Asia Tenggara.
Dastan Kairo Sadewa, pewaris bisnis properti elite mulai dari apartemen hingga pusat perbelanjaan mewah.
Izyan Fernandes, cucu kesayangan keluarga Fernandes di Italia yang mengelola wine dan minuman alkohol terbaik di Eropa.
Rayanka Vaska Aliandra, calon penerus perusahaan penerbangan yang menguasai berbagai maskapai pesawat dan helikopter pribadi.
Dan yang terakhir, Sean Arkatama—pemilik wajah paling jahil di antara mereka—yang akan meneruskan jaringan hotel dan restoran berbintang milik keluarganya.
Delapan laki-laki itu seperti penguasa tidak resmi Sekolah Bimatara.
Dan sayangnya… hidup Dariela tidak akan pernah jauh dari mereka.
Suara langkah ramai mulai terdengar memenuhi arena.
Amora langsung panik merapikan rambutnya.
“Mampus… mereka beneran ke sini.”
Dariela menoleh malas ke arah pintu masuk arena es. Namun saat matanya bertemu dengan sosok tinggi berseragam hitam yang berjalan paling depan, tubuhnya mendadak membeku.
Sebasta Galen Sadipta.
Tatapan laki-laki itu lurus tertuju padanya tanpa berpaling sedikit pun.
Seolah sejak awal… ia memang datang untuk Dariela.