Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: MANAJEMEN RISIKO DAN JADWAL KUNJUNGAN
Suasana di dalam Aula Agung mendadak mencekam, sedingin es yang membekukan udara, meski badai angin dan akar berduri milik Elysia Whisperwind telah sirna. Axel masih terduduk lemas di atas lantai marmer yang retak seraya mengatur napasnya yang menderu. Di pangkuannya, sang Archmage dari ras peri itu masih mendekap pinggangnya erat, menyembunyikan wajah lelah di perut Axel seolah tengah mencari ketenangan yang selama ini absen dari hidupnya.
Sementara itu, hanya terpaut dua meter di hadapan mereka, Reynarda Vance berdiri mematung dengan sisa-sisa amarah. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan besi masih menggenggam kuat hulu pedang raksasanya. Tatapan matanya yang biru menusuk tajam ke arah lengan Elysia yang melingkar posesif di tubuh Axel. Seandainya tatapan bisa membunuh, tubuh Elysia mungkin sudah terpotong menjadi ratusan bagian saat itu juga.
[Peringatan! Kadar Cemburu Reynarda Vance melampaui batas aman.]
[Sanity Reynarda Vance: 40% -> 38% and dropping!]
[Sanity Elysia Whisperwind: 38% -> 35% (Mulai terganggu oleh hawa membunuh di sekitar).]
Axel menelan ludah dengan susah payah, merasakan jantungnya berdegup kencang di balik rusuk. Panel sistem di depan matanya terus berkedip, memberikan sinyal bahaya bahwa satu langkah salah saja bisa membuat kedua wanita terkuat di akademi ini mengubah Aula Agung menjadi ladang pembantaian.
"Lady Reynarda... maksudku, Rey," Axel mencoba mencairkan suasana. Suaranya diatur selembut mungkin, berharap efek penenang pasifnya bekerja. "Tolong, turunkan pedangmu. Lady Elysia baru saja pulih dari mana overload. Jika kau melepaskan energi suci sekarang, jiwanya bisa terancam rusak."
Reynarda mengerutkan dahi, sudut bibirnya bergetar menahan luapan emosi. "Kau membelanya, Axel? Kau bahkan belum mengenalnya selama lima menit, tapi sudah berani memintaku mundur demi dia?"
"Ini demi keselamatan akademi, Rey, bukan semata-mata demi dia," Axel menyahut cepat. Ia menatap lurus ke dalam netra biru Reynarda tanpa keraguan—sebuah langkah psikologis untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang bersandiwara. "Kau adalah Ksatria Suci pelindung tempat ini. Aku hanya tidak ingin kau melakukan tindakan yang akan kau sesali saat kesadaranmu kembali stabil nanti."
Ucapan Axel layaknya siraman air dingin di tengah kobaran api. Logika Reynarda yang sempat tumpul akibat rasa cemburu perlahan mulai merayap naik. Bar Sanity-nya berhenti merosot dan tertahan di angka 39%.
Namun, ketenangan singkat itu hancur seketika saat suara dingin Elysia terdengar dari bawah.
"Manusia lancang," Elysia mendongak, menatap Reynarda dengan keangkuhan khas ras peri kuno melalui mata hijau zamrudnya. "Kau mengganggu keheninganku. Singkirkan potongan besi berkarat itu dari hadapan penyelamatku, atau aku akan melenyapkan seluruh oksigen di ruangan ini."
"Mencoba menantangku, telinga runcing?" aura emas di sekujur tubuh Reynarda kembali meledak.
"Hentikan! Kalian berdua!" Axel berteriak lantang, sebuah tindakan nekat yang membuat para profesor yang bersembunyi di kejauhan menahan napas ngeri. Berani-beraninya seorang staf kebersihan membentak dua pahlawan kelas atas?
Anehnya, bentakan itu justru efektif. Elysia sedikit mengerucutkan bibirnya, sementara Reynarda mendengus kesal meski akhirnya menurunkan ujung pedangnya ke lantai.
[Ding! Krisis perang dua faksi berhasil diredam sementara.]
[Membuka Fitur Baru Sistem: 'Dashboard Manajemen Waktu & Jadwal Kunjungan Sanity'.]
Sebuah grafik baru muncul di sudut pandang Axel, memperlihatkan fluktuasi Sanity kedua gadis tersebut, lengkap dengan durasi minimum kontak fisik yang mereka butuhkan setiap hari agar tetap terkendali.
"Profesor Leo!" panggil Axel setengah berteriak ke arah kepala divisi medis yang masih gemetar di balik pilar bersama Kepala Sekolah.
Profesor Leo berlari kecil menghampiri dengan peluh yang membanjiri kening. "Y-Ya, Axel?"
"Mulai hari ini, Lady Elysia juga memerlukan penanganan khusus dariku. Tolong siapkan ruangan terisolasi yang terhubung langsung dengan paviliun Lady Reynarda. Dan..." Axel melirik kedua wanita yang masih saling melempar pandangan benci itu. "...tolong buatkan jadwal resmi yang bersifat mutlak bagi siapa pun."
Reynarda langsung menyambar, "Aku tidak sudi membagi asisten pribadiku dengan siapa pun."
"Ini bukan tawaran, Rey," Axel menatapnya dengan tegas, tatapan seorang pawang yang tak bisa dibantah. "Kecuali kau ingin aku mati terjepit di antara sihir elemen dan pedang sucimu."
Melihat kesungguhan di wajah Axel, Reynarda akhirnya membuang muka dan mendengus pelan sebagai tanda menyerah. Di sisi lain, Elysia yang masih mendekap Axel berbisik lirih, "Selama aku mendapatkan keheninganku setiap hari, aku tidak peduli dengan urusan manusia terbelakang lainnya."
Malam pun tiba. Di dalam kantor khusus barunya yang terletak strategis di tengah-tengah paviliun Reynarda dan kamar khusus Elysia, Axel menyandarkan tubuh di kursi kerja yang empuk. Di hadapannya, selembar kertas jadwal yang telah disahkan oleh Kepala Sekolah dan Profesor Leo tergeletak di meja.
JADWAL TERAPI SANITY HAREM (RAHASIA NEGARA)
* 08.00 - 12.00: Sesi Pengawasan Reynarda Vance (Menemani latihan pagi & sarapan).
13.00 - 17.00: Sesi Pemulihan Elysia Whisperwind (Kontak fisik ringan/Grounding* harian di perpustakaan khusus).
* 19.00 - Selesai: Sesi Evaluasi Bersama (Wajib didampingi Axel di ruang tengah untuk mencegah kecemburuan apokaliptik).
Axel menatap jadwal itu sembari tertawa getir. "Ini bukan jadwal kerja asisten pribadi. Ini jadwal untuk bertahan hidup."
Kreeek.
Pintu geser di sisi kanan ruangannya terbuka tanpa suara. Elysia melangkah masuk dengan anggun. Ia hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih yang tampak kontras dengan rambut peraknya yang terurai. Tanpa ragu, ia mendekati Axel, menggeser kursi pemuda itu, lalu duduk dengan santai di pangkuannya.
"E-Elysia? Jadwalmu kan baru besok siang," Axel panik, tubuhnya menegang seketika.
"Suara angin di luar terlalu bising, Axel," bisik Elysia sembari melingkarkan lengan di leher Axel. Ia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu, memejamkan mata dengan damai seiring detak jantung Axel yang stabil tanpa gangguan mana. "Biarkan aku di sini sampai pagi..."
[Sanity Elysia Whisperwind meningkat perlahan: 40%]
Belum sempat Axel mencerna keadaan, pintu geser di sisi kiri ruangannya terbuka dengan dentuman keras.
Reynarda berdiri di sana dengan kemeja putih kasual. Matanya membelalak melihat Elysia yang sudah meringkuk nyaman di dada asisten pribadinya. Aura emas kemerahan mendadak menyelimuti tubuh sang Ksatria Suci, menandakan emosi yang kembali meluap.
"Penyihir licik... kau berani mencuri start di luar jadwal," geram Reynarda dengan suara bergetar karena amarah dan cemburu yang membakar.
Axel hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, meratapi nasibnya yang malang. Babak baru kehidupannya di akademi ini dipastikan tidak akan pernah tenang, karena malam ini, perang memperebutkan dirinya telah resmi dimulai.