Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Pertemuan bisnis dimulai dengan penjelasan draf kontrak investasi yang dibacakan oleh tim hukum. Louis mencoba fokus pada jalannya presentasi, namun pandangannya terus-menerus teralih ke arah Adiba yang duduk di seberang meja rapat, tepat di samping Raynazh.
Selama sela-sela diskusi, Adiba sesekali melirik ke arah Louis. Ketika sepasang mata mereka bertemu di udara, Adiba memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat—sebuah senyuman yang didalam hati Adiba ditujukan khusus untuk pria yang dia cintai, sebagai tanda bahwa benih cinta mereka kini telah tumbuh aman di dalam dirinya. Namun, di mata Louis, senyuman itu terasa seperti teka-teki besar yang kian mengaburkan kewarasannya.
Louis mencengkeram pena di tangannya kuat-kuat, merasakan gejolak aneh di dalam perutnya. Rutinitas gilanya selama tiga minggu terakhir yang selalu memuaskan diri dengan mengingat tubuh Adiba membuat kedekatan fisik ini terasa seperti siksaan batin yang nyata bagi Louis.
Dia merindukan kehangatan itu, dia mendambakan wanita itu, namun benteng moralitas dan status Adiba sebagai istri kakaknya terus menahannya di dalam jurang pengasingan.
Setelah dua jam diskusi yang melelahkan, kontrak kerja sama akhirnya resmi ditandatangani oleh Arthur Osborn dan perwakilan Abbey Enterprises. Pertemuan ditutup, dan para staf serta tim hukum mulai meninggalkan ruangan satu per satu untuk menuju lobi bawah.
Arthur berbalik, menatap Louis dengan pandangan dinginnya yang biasa. "Kerja bagus untuk progres proyek di sini, Louis. Pertahankan kinerja ini, dan jangan membuat skandal apa pun lagi yang bisa merugikan investasi keluarga Abbey," ucap Arthur sebelum melangkah keluar dari ruangan bersama pengawal pribadinya.
Raynazh berdiri dari kursinya, menatap Louis dengan pandangan yang dipenuhi oleh campuran antara kebencian, ketakutan, dan kehancuran batin yang mendalam.
Dia ingin sekali berteriak di depan wajah adiknya, memukul wajah tampan itu hingga hancur karena telah menanamkan benih haram di dalam rahim istrinya.
Namun, lirikan mata Adiba yang sedingin es di sampingnya membuat Raynazh hanya bisa mengepalkan tangan dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah yang terburu-buru, meninggalkan Louis dan Adiba berdua di dalam ruangan yang kini diselimuti oleh keheningan yang mencekik.
Louis berdiri di ujung meja rapat, menatap Adiba yang masih duduk tenang di kursinya sembari merapikan beberapa berkas kecil ke dalam tasnya.
"Kau tampak pucat hari ini, Kakak Ipar," ucap Louis, suaranya terdengar sangat rendah dan serak, mencoba memecah keheningan dengan topeng sinisnya yang biasa.
"Apakah kehidupan pernikahan mewah di Manhattan tidak seindah yang kau bayangkan hingga membuatmu terlihat seperti mayat berjalan?"
Adiba berdiri dari kursinya, mengancingkan gaun beludru hijaunya dengan gerakan yang sangat anggun. Dia melangkah perlahan mendekati Louis, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum mawarnya yang memabukkan kembali mengepung indra penciuman Louis, membuat napas pria berusia 25 tahun itu mendadak tercekat di tenggorokan.
Di dalam dada Adiba, debaran gila itu kembali mengamuk dengan liar. Berada sedekat ini dengan Louis, menatap sepasang mata elang abu-abu yang menjadi pusat dunianya, selalu membuat seluruh pertahanan emosionalnya bergetar hebat. Namun, dia tetap mempertahankan perannya.
Adiba menatap lurus ke dalam mata Louis, lalu dengan gerakan yang sangat halus namun sengaja, dia meletakkan telapak tangan kanannya di atas perutnya sendiri, menatap Louis dengan kilat mata yang penuh dengan intrik kegelapan yang mendalam.
"Pernikahanku berjalan dengan sangat sempurna, Louis," bisik Adiba, nadanya begitu lembut namun sarat akan teka-teki yang mematikan. "Terutama karena hari ini... aku membawa sebuah kabar bahagia dari Manhattan. Sesuatu yang baru saja tumbuh, sesuatu yang akan memastikan bahwa seluruh dinasti Osborn akan sujud di bawah kakiku dalam waktu dekat."
Louis mengernyitkan alisnya, tatapannya turun ke arah tangan Adiba yang berada di atas perutnya. Sebuah firasat buruk yang teramat besar mendadak menghantam kesadaran Louis dengan kekuatan penuh. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan.
Kabar bahagia? Sesuatu yang tumbuh? Apakah wanita ini...
Sebelum Louis sempat menyuarakan pertanyaannya, Adiba sudah mundur selangkah, memberikan sebuah senyuman misterius terakhir yang teramat manis namun membekukan darah sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang rapat, membiarkan ketukan sepatu hak tingginya menggema seperti detak jam dinding yang menghitung mundur menuju hari kehancuran total dinasti Osborn di bawah pendar langit Brooklyn yang dingin.