NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Brant mendengus kasar melihat ponselnya yang baru kembali menyala setelah seharian terkena black screen. Di antara ratusan notifikasi yang masuk, hanya deretan pesan dari Luca yang membuat dadanya seketika bergemuruh cemas. Namun, membalasnya saat ini juga terasa percuma. Pesan itu dikirim Luca sejak tadi siang, dan keterlambatannya pasti sudah sukses menorehkan kekecewaan besar di hati kekasihnya itu.

​Hari itu Brant benar-benar sibuk. Dia baru saja kembali ke kampus setelah mengambil pesanan jersey baru dan mengurus beberapa keperluan tim lainnya. Dan tentu saja, Vania mengekorinya dengan alasan ingin menemani.

Melihat brant di ruangan dengan tumpukan jersey dan berbagai perlengkapan lain.Jack ikut masuk untuk mengecek tumpukan pakaian itu yang kini berganti warna dan memiliki logo tim yang baru. Di sela kesibukan, matanya melirik Vania yang masih duduk santai di sana.

​"Belum pulang, Van? Perasaan tugas lo udah beres dari sore," tanya Jack to the point.

​Vania tersenyum tipis, merapikan rambutnya. "Gue cuma mau pastiin kostum yang bakal gue pakai pas dan bagus, Jack."

​Bertepatan dengan itu, Clay muncul membawa buku catatan tugas yang ingin dipinjam Brant. "Nih bukunya, kalian masih lama?" tanya Clay dengan wajah yang sudah kelihatan lelah dan mengantuk. "Kalau belum selesai, gue mau cabut duluan."

​Brant mengambil buku panduan itu, lalu memasukkannya ke dalam tas olahraganya. "Duluan aja. Ini masih harus beres-beres sama ngecek ulang barang."

​Sementara itu, Jack yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Vania langsung mengambil kesempatan. Karena ingin cewek itu cepat pergi, ia menoleh ke arah Clay.

"Clay, lo bisa sekalian kasih tumpangan buat Vania enggak? Dia udah kemalaman di sini."

​Mendengar itu, kantuk Clay seketika sirna. Dengan senang hati ia langsung menatap Vania dan menawarkan bantuan. "Oh, mau pulang? Yuk, bareng gue aja. Gue antar sampai depan pagar rumah lo nanti."

​Namanya yang tiba-tiba disebut membuat Vania mendongak, menghentikan jemarinya yang sejak tadi pura-pura sibuk mengetik di layar ponsel. Dengan raut ragu, ia melirik ke arah Brant sebelum akhirnya menyahut pelan, "Eh, enggak usah, Clay. Kayanya gue bareng Brant aja nanti," tolak halus vania

​Jack yang paham gelagat Vania langsung memotong cepat. "Brant belum bisa balik sekarang. Masih banyak urusan logistik yang harus gue selesain bareng dia. Mending lo bareng Clay aja duluan."

​Vania tidak punya pilihan lain. Dengan wajah agak kecewa, dia akhirnya bangkit. "Ya udah, gue duluan," ketus Vania.

​Sambil menyambar tasnya kasar, ia akhirnya melangkah lebar-lebar, terpaksa mengekor di belakang Clay yang sudah berjalan keluar duluan.

​Setelah bayangan Clay dan Vania menghilang dari parkiran, jack langsung menyambar jaketnya. "Ayo cabut, Brant."

​"Katanya masih ada urusan?" Tanya Brant bingung.

​"Gak ada. Ayo ,gerah gue mau pulang mandi," jawab jack santai sambil melangkah cepat keluar ruangan menuju motornya.

Brant tidak langsung pergi begitu sampai di parkiran. Di dalam mobilnya, ia justru sibuk dengan ponselnya. mengabaikan sekitar sampai-sampai Jack bosan menunggu dan memutuskan untuk pulang duluan. Brant mencoba menelpon Luca. Satu kali, dua kali, tetap saja tidak tersambung. Sial, masih dimatiin, batinnya gelisah.

Diliputi rasa cemas dan bersalah, Brant segera melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kalut, dan satu-satunya tujuan di kepalanya saat ini hanyalah sampai ke rumah Luca secepat mungkin.

​Begitu sampai di depan rumah Luca, Brant hanya terdiam bersandar di kursi kemudi. pandanganya terarah ke atas jendela Kamar Luca yang sudah gelap pekat, padahal jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. "Tidak mungkin Luca tidur seawal ini" gumannya pelan . Ia menunggu beberapa saat, menatap jendela itu dengan tatapan kosong sebelum akhirnya memacu mobilnya pergi dari sana.

​Sementara...

Di dalam kamar yang gelap itu, Luca meringkuk di bawah selimut tebal. Matanya sembab dan napasnya sesenggukan. Dia sengaja mematikan ponselnya karna rasa kecewa yang sudah meluap.

​"Kak Brant pasti udah bosen sama aku," isaknya pelan.

​Luca berpikir Brant mulai lelah menunggunya memberikan "bukti cinta" yang selama ini ia jaga. Rasa kecewa dan takut kehilangan Brant bercampur aduk, hingga akhirnya Luca tertidur dalam keadaan hati yang hancur, tanpa tahu kalau pria yang dia tangisi tadi berdiam cukup lama di depan rumahnya.

Dua hari sudah Luca menghilang dari kampus. Dia bersikeras menggantikan Lea menemani Mamanya yang harus kembali pergi berobat luar kota, meski mamanya sudah melarang berkali-kali. Bagi Luca, kesehatan mamanya adalah segalanya, dan menjauh dari kampus juga menjadi cara terbaik untuk melarikan diri dari rasa sesaknya. Beruntung Lea cukup berani menjaga rumah sendirian. Namun yang lebih parah, Luca benar-benar menutup akses; nomor Brant sudah resmi ia blokir.

Di sisi lain, Brant mencapai titik gelisah yang parah. Karena tidak bisa lagi menghubungi Luca, dia nekat mendatangi lagi ruangan itu. Namun, yang ia temui di sana justru Vin yang sedang membereskan buku dengan wajah tidak bersahabat.

​"Luca mana? nggak masuk lagi ?" tanya Brant langsung tanpa basa-basi.

​Vin menoleh, menatap Brant dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Nggak tahu. Tanya aja langsung ke orangnya," jawab Vin ketus.

​"Nggak bisa dihubungi," balas Brant singkat.

​Vin mendengus sinis, dia melangkah mendekati Brant. "Udah diblokir ya? Syukur deh kalau gitu. Lu kira enak jadi Luca? Dia nungguin lu di depan sampai kehujanan, terus malah lihat lu sama cewek itu dengan santainya jalan pakai mobil."

​Brant terdiam, dia ingin membela diri tapi Vin belum selesai bicara.

​"Tampang doang yang oke, tapi nggak punya pendirian!" semprot Vin tajam tepat di depan wajah Brant, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Brant yang mematung di koridor.

​Brant menuju ke kantin dengan aura suram yang sangat pekat. Dia duduk di depan Clay, di sampingnya ada Rey, dan Jack. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sangat kusut.

​"Muka lo kusut amat. Kenapa lagi?" tanya Clay, sadar kalau sohibnya ini lagi nggak baik-baik saja.

Brant menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya. "Luca... dia ngilang. Nomor gue diblokir," ucap Brant lirih

"Kenapa?!" Rey dan Clay kompak menuntut jawaban. Selama ini, Brant dan Luca adalah pasangan paling bucin tanpa celah. Rasanya mustahil jika Luca yang super polos dan penurut itu tiba-tiba nekat memblokir kontak Brant.

Brant akhirnya cerita soal ponselnya yang rusak dan Luca yang salah paham sama dia dan vania. Namun di akhir kalimat suaranya berubah dingin dengan penekanan yang kuat, buat menutupi kekalutan hatinya.

"Gue nggak habis pikir, kenapa dia harus main blokir begini? Harusnya dia tanya dulu, jangan tiba-tiba ilang nggak jelas ."

Rey langsung mendengus, menatap Brant dengan heran. "Ya lo juga, nyet! Biasanya kalian berkabar tiap hari, ini tiba-tiba lo ilang nggak jelas. Kalau nggak bisa nelpon karena HP lo rusak, ya lo cariin orangnya! Samperin langsung!"

​"Bener," sambung Clay. "Biasanya kan lo bisa samperin ke ruangannya, atau minimal nyusul dia ke kantin pas istirahat kayak biasanya."

​Brant membuang muka, jari-jarinya mengetuk meja dengan cepat—tanda dia lagi beneran gelisah. "Gue beneran sibuk saat itu. Urusan tim numpuk banget, gue nggak kepikiran kalau dia bakal se-emosi ini," jawabnya membela diri, meski hatinya mencelos ingat kata-kata Vin tadi.

Jack yang dari tadi menyimak ikut menyambar, "Siapa yang nggak curiga, Brant? Akhir-akhir ini lo kelihatan dekat banget sama Vania. Lagian lo juga, kenapa mau-mau saja nurutin maunya itu cewek?"

Bukannya mendapat pencerahan, Brant malah merasa semakin tersudut. Dia berdiri dengan perasaan kacau. "Gue keluar bentar, mau makan bakso di tempat mas kumis. laper," ucapnya singkat. Tanpa pamit, ia berjalan pergi meninggalkan ketiga temannya yang hanya bisa geleng-geleng kepala heran—kesal karena niat baik mereka untuk memberi masukan justru dikacangi begitu saja.

Brant melajukan mobilnya pergi dengan pikiran yang kian semrawut. Di balik kemudi, hatinya terus menjeritkan satu keinginan: ia hanya ingin Luca kembali dan mendengarkan penjelasannya. Namun, logika dan ego tingginya masih menahan cowok itu untuk benar-benar merendahkan diri dan memohon maaf.

Kantin gerobak Mas Kumis ternyata cukup ramai siang itu. Namun, Brant yang sedang tidak bersemangat memilih tidak peduli dan langsung mengambil tempat di salah satu bangku kosong.

​Tak jauh dari mejanya, sekumpulan mahasiswi tampak asyik berkerumun sambil menatap layar ponsel dengan antusias. Mereka rupanya sedang mengomentari foto yang baru saja diunggah oleh Vania—foto saat perempuan itu duduk santai berdua dengan Brant di teras penginapan waktu lomba kemarin. Foto itu sengaja diambil dari sudut yang pas, terlihat semakin provokatif dengan kutipan singkat "The Best" yang disematkan di bawahnya.

​Sesekali mata mereka melirik ke arah Brant yang sedang sibuk dengan makanannya. Hingga salah satu dari mereka berbisik pelan, "Perasaan si Brant pacaran sama Luca, kan? Apa mereka udah putus, ya?"

Brant sendiri tetap diam dengan wajah datarnya, sama sekali tidak menyadari kalau dia sedang jadi pusat perhatian dan bahan gibah di tempat itu.

Sementara itu di koridor kampus, suasana memanas. Rose, Elena, dan Vin menatap layar ponsel dengan raut emosi; unggahan foto Vania bersama Brant benar-benar sudah menyebar luas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!