NovelToon NovelToon
Ascending The Goddess Peak

Ascending The Goddess Peak

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: nona cacha

[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]

----------

Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.

Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...

----------

[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel #01

^^^Morning, at the Heavenly Fire Phoenix Sect Residence, the 10th day of the tenth month of the year one thousand and thirteen. Timeskip^^^

Sebuah kediaman utama yang menjulang dengan atap tumpuk berlapis emas yang berkilau di bawah cahaya mentari. Detail ukirannya sangat rumit, khas arsitektur kekaisaran. Di depannya, pelataran luas beralaskan marmer putih bersih menyambut siapa pun yang cukup beruntung untuk mendaki ribuan anak tangga menuju gerbang sekte ini.

Di sepanjang jalan menuju aula utama, berdiri kokoh pilar-pilar totem yang dikelilingi ukiran naga emas yang melingkar. Di puncak setiap pilar, terdapat permata giok hijau yang memancarkan pendaran cahaya lembut yang merupakan sumber energi Qi yang menjaga keharmonisan seluruh gunung suci yang menghimpit wilayah tersebut.

Di balik bangunan utama, siluet pegunungan tinggi menembus awan, menciptakan kesan kedalaman yang tak terbatas. Sekelompok burung terbang melintasi langit, simbol umur panjang dan kebebasan para kultivator yang telah mencapai pencerahan. Warna-warna hangat seperti emas, merah bata, dan putih gading mendominasi. Memberikan kesan berwibawa.

Kediaman Sekte Phoenix Api Surgawi telah siap keluar dari sangkar yang sudah lama mengikat takdir selama puluhan tahun. Kemunculan Sekte legendaris ini bukan tanpa alasan, melainkan adanya perjanjian antara Pemimpin Sekte—Huo Yi dan Pemimpin Sekte dari Sekte Giok—Yu Longxuan.

Pada pagi hari itu, seperti hari-hari biasa, para murid Sekte Phoenix Api Surgawi tengah menyibukkan diri bermeditasi, ada yang pergi menuju arena beladiri, serta ke perpustakaan untuk mengintropeksi diri.

"Oi, Gadis Gendut!" panggil salah seorang pemuda dengan suara khas baritonnya.

Gadis dengan bibir semerah ceri mencibir. "Hmph, sebelum mengejek Lingxi, alangkah baiknya berkaca di depan cermin, Laki-Laki Kampung!" ketus Lingxi sembari menatap sinis ke arah laki-laki yang kini berjalan mendekatinya.

Wajahnya memiliki pahatan sempurna dengan rona kulit seputih pualam yang lembut dan mulus, layaknya batu permata jade putih yang jernih dan berharga. Fitur wajahnya tajam dan anggun, dengan hidung yang mancung dan bibir merah muda yang lembut dengan sedikit rona kemerahan yang sehat. Tatapannya sangat intens dan dingin, didukung oleh sepasang mata berwarna madu keemasan yang berkilau di balik bulu mata hitam yang lebat. Di antara kedua alisnya terdapat tanda kehitaman yang melambangkan posisinya sebagai Putra Jenderal Perang II dari Sekte Phoenix Api Surgawi.

Rambutnya yang tebal dan hitam legam dibiarkan terurai dengan gaya shaggy di bagian depan, dengan beberapa helai menutupi sebagian dahi. Di bagian samping, rambutnya dikepang tipis dan panjang, dihiasi dengan perhiasan rambut yang sangat rumit. Di puncak kepalanya, ia mengenakan ornament hitam yang runcing dan melengkung menyerupai tanduk ornamen dengan detail emas yang halus. Perhiasan gantung berwarna emas dengan manik-manik hijau zamrud dan hitam menjuntai di kedua sisi wajahnya, membingkai wajahnya dengan elegan.

Laki-laki itu adalah Huo Tianxin. Di Sekte Phoenix Api Surgawi ia dikenal sebagai jenius termuda dengan pencapaian menyaingi para kultivator dari sekte terdahulu. Bagaimana tidak? Di saat ia masih menginjak usia enam tahun, Huo Tianxin diduga berhasil menerobos ke Ranah Inti Emas Tahap Awal Level 3 dan berhasil menggemparkan dunia persilatan. Sementara itu, Lingxi saja perlu bertahun-tahun lamanya melakukan kultivasi dan saat beranjak usia sepuluh tahun, ia hanya mencapai Ranah Inti Emas Tahap Puncak Level 2. Entah di umurnya yang sudah beranjak delapan belas tahun ini sudah mencapai ranah apa.

"Seperti biasa, Adik Lingxi. Gaya bicaramu tidaklah berubah, tetap sama, yaitu menyakitkan namun tertata indah seperti alunan kecapi dari Kota Douzhen," sanjung Huo Tianxin yang kini sudah berdiri tepat di samping Lingxi seraya membawakan satu potongan Kue Camellia Kembar yang dibaluti extra madu yang lumer di atasnya.

Lingxi memutar bola mata malas. "Laki-laki gila," celetuknya sebelum akhirnya mengambil langkah cepat tanpa menoleh sedikit pun.

Langkah kaki gadis itu terasa berat namun penuh tekad saat ia melintasi jalan setapak berbatu menuju Arena Beladiri Sekte Phoenix Api Surgawi. Angin pegunungan yang membawa aroma belerang dan api khas sekte tersebut menyapu hanfu dengan gerakan anggun. Namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal—melampiaskan kegelisahan lewat pertarungan.

Namun, ketenangannya terusik oleh bayangan jangkung yang mengekor di sampingnya. Huo Tianxin melangkah dengan santai. Di tangannya, sebuah kotak kayu kecil berukir motif awan merah mengeluarkan aroma manis yang sangat spesifik—aroma yang begitu menggiurkan sampai membuat perut berbunyi.

Udara di sekitar mereka terasa canggung. Lingxi mempercepat langkahnya, jemarinya terkepal kuat di balik lengan baju. Ia ingin menyibukkan diri, ingin membenamkan pikirannya dalam sorakan murid sekte dan debu arena agar rasa sesak di dadanya menghilang.

Huo Tianxin, menyadari penolakan halus itu, tidak menyerah. Ia membuka tutup kotak kayu tersebut, membiarkan uap hangat dari Kue Camellia Kembar menguar ke udara. Di atas dua butir kue berwarna merah muda lembut itu, lapisan keju lumer yang kental berkilauan terkena cahaya matahari, memberikan asensi rasa gurih dan manis yang menggoda walau belum Lingxi rasakan sebelumnya.

"Berhenti mengabaikan ku, Adik Lingxi! Lagi pula, kau tahu sendiri Arena Sekte hari ini akan sangat bising," suara Huo Tianxin memecah keheningan, terdengar begitu gigih. Ia melangkah sedikit lebih cepat agar bisa menyejajarkan posisinya.

"Mengapa terburu-buru? Setidaknya, biarkan perutmu terisi sedikit oleh manisan sebelum kau memutuskan untuk menghajar murid-murid di sana," bujuknya seraya mengangkat satu butir kue dengan sumpit perak, menunjukkan lelehan keju yang masih molor sempurna.

Lingxi tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, ke arah gerbang arena yang sudah terlihat di kejauhan. "Lingxi tidak butuh camilan, Kakak Senior Huo. Lingxi hanya butuh ketenangan melalui latihan."

"Ketenangan tidak datang dari pedang yang diayunkan saat hati sedang kalut. Setidaknya, cobalah satu gigitan kue yang ku bawakan untukmu," bantah Huo Tianxin dengan nada jenaka.

"Ini Camellia Kembar. Aku meminta koki khusus untuk menambahkan keju lumer di atasnya, persis seperti yang pernah kau ceritakan tempo hari," jelasnya dengan sorot mata berbinar-binar bak anak anjing yang menggemaskan.

Lingxi menghentikan langkahnya sejenak. Aroma keju yang gurih itu benar-benar menguji pertahanannya. Ia melirik kue tersebut, lalu beralih pada wajah Huo Tianxin yang tampak begitu penuh harap—sekaligus keras kepala.

"Aku akan terus mengikutimu sampai ke pinggir gunung jika kau tidak memakannya," tambah Huo Tianxin lagi, kali ini dengan senyum tipis yang menunjukkan ia tidak main-main.

Lingxi menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. Ia tahu persis watak laki-laki di hadapannya ini. Menolak Huo Tianxin sama saja dengan memperlama durasi gangguan ini. Mau ia menolak atau tidak, Tianxin akan tetap menemukan celah untuk membujuknya.

"Hanya karena Lingxi tidak ingin kau membuat keributan di depan murid lain," gumam Lingxi ketus, meski tangannya terulur juga untuk mengambil satu butir kue tersebut.

Dengan berat hati dan raut wajah yang masih ditekuk, Lingxi menggigit kue tersebut. Rasa manis dari mue bunga Camellia meledak di mulutnya, diikuti oleh sensasi gurih dan lembut dari keju yang masih hangat.

Huo Tianxin tersenyum puas melihat pipi Lingxi yang sedikit menggembung saat mengunyah. Meski gadis itu masih menolak menatap matanya, Huo Tianxin tahu bahwa setidaknya untuk beberapa saat ke depan, dinding es di antara mereka telah sedikit terkikis oleh dua butir kue sederhana.

"Bagaimana? Lebih baik daripada rasa debu di arena, bukan?" tanya Tianxin ringan sembari menutup kotak kayunya, terus berjalan di sisi Lingxi dengan langkah yang kini terasa lebih harmonis.

Melihat Huo Tianxin yang selalu mengekorinya dengan senyum konyol yang dibuat, Lingxi hanya membalas dengan anggukan kecil tanpa suara dan kembali mempercepat tempo jalannya.

...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...

Langkah kaki Lingxi terhenti tepat saat mereka memasuki kawasan Chìyán Zhànchǎng—Arena Batu Merah. Sesuai namanya, arena ini merupakan pelataran luas yang terbuat dari batuan obsidian kemerahan yang tahan terhadap suhu tinggi, simbol kekuatan api dari Sekte Phoenix Api Surgawi.

Arena ini terletak di sebuah dataran tinggi yang terbuka lebar tanpa atap, memberikan pemandangan spektakuler berupa deretan pegunungan yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Puncak-puncak gunung tersebut tampak berselimut kabut tipis, sementara cahaya matahari memantul pada permukaan lantai batu merah yang berkilau. Di setiap sudut arena, terdapat tiang-tiang tinggi dengan ukiran burung Phoenix yang menyemburkan api abadi, menciptakan aura megah sekaligus mengintimidasi.

Saat itu, suasana sudah sangat riuh. Ratusan murid berpakaian seragam merah-emas khas sekte tampak memenuhi area, sebagian sedang bertukar jurus di atas panggung utama, sementara yang lain bersorak memberi semangat.

Huo Tianxin menepuk bahu Lingxi pelan, lalu menunjuk ke arah barisan kursi kayu cendana yang terletak di tribun penonton. "Aku akan menunggu di sana. Daftarkan namamu, lalu kembalilah sebentar untuk mengatur napasmu sebelum namamu dipanggil."

Lingxi mengangguk singkat. "Tanpa kau beritahu saja, aku sudah tahu itu, Kakak Senior."

"Aku tidak akan melewatkan tontonan ini untuk apa pun di dunia ini," jawab Huo Tianxin dengan kerlingan jenaka sebelum ia melangkah menuju tempat duduknya.

Lingxi berjalan membelah kerumunan menuju meja pendaftaran di sisi arena. Petugas pendaftaran, seorang pria tua dengan jenggot panjang, mengangkat alisnya saat Lingxi menyebutkan namanya. Setelah kuas tinta menari di atas kertas perkamen, Lingxi berbalik dan kembali ke arah tribun. Ia mengambil tempat duduk tepat di samping Huo Tianxin yang sedang asyik memperhatikan dua murid yang tengah beradu pedang di bawah.

"Sudah selesai?" tanya Huo Tianxin tanpa mengalihkan pandangan.

"Sudah. Aku berada di urutan berikutnya," jawab Lingxi singkat, jemarinya sedikit bergetar karena adrenalin.

Huo Tianxin menyandarkan tubuhnya, melirik Lingxi dengan senyum tipis. "Gugup? Ingat, kau sudah memakan Kue Camellia mu tadi. Energi itu harus keluar lewat ujung pedangmu, bukan lewat rasa takutmu."

Tiba-tiba, suara gong besar bergema di seluruh penjuru arena. Petugas pendaftaran berdiri dan berteriak dengan suara yang diperkuat oleh tenaga dalam.

"PESERTA BERIKUTNYA, YU LINGXI!"

Seketika, suasana Chìyán Zhànchǎng berubah drastis. Sorak-sorai yang tadinya terbagi-bagi kini memusat menjadi satu gelombang suara yang membahana. Murid-murid yang berada di pinggir arena mulai merapat ke arah panggung utama. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering.

"Lingxi? Itu dia!" seru salah seorang murid perempuan dengan rambut kepang dua dengan mata berbinar-binar dari kejauhan.

"Lihat, dia benar-benar akan turun ke arena!"

Keramaian itu meningkat dua kali lipat. Sosok Lingxi yang selama ini menjadi pembicaraan di sekte kini melangkah maju. Huo Tianxin yang melihat perubahan situasi tersebut hanya bisa terkekeh kecil, ia melipat tangannya di depan dada dengan bangga.

"Sepertinya kau punya banyak penggemar. Atau mungkin musuh yang penasaran," bisik Huo Tianxin tepat saat Lingxi berdiri dari tempat duduknya.

Lingxi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan tajam, lalu melompat ringan menuju tengah arena, membiarkan ujung hanfu berkibar ditiup angin pegunungan yang kencang. Di bawah tatapan ratusan pasang mata, ia berdiri tegak—siap menghadapi siapa pun yang berani berduel dengannya.

...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...

...…To Be Continued…...

1
T28J
banyak kali monsternya kak, gak terlalu OP apa tuh
T28J
semangat kak ✍️
Noona
Semangat berkarya thor /Curse//Curse//Curse/
Manusia Ikan 🫪
kasiaaan
Elsa Sefia
semangat kak 😊
钙Chaa: thankyouu udh mampirrr kakaa~ /Smile//Smile/ kakaaa jg semangatt yyaaa /Kiss//Rose/
total 1 replies
Dinorawr
Sejauh ini ceritanya lumayan menarik dengan nyelipin bumbu romance + action. But harapan aku kedepannya adegan fight diperbanyak ya kak/bang
钙Chaa: thank you for ur 5 stars, maniss. aku usahain ceritanya bagus yya, nantikan aja chapter selanjutnya /Smirk//Coffee/
total 1 replies
Fitri Zee
/Sob/
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
钙Chaa: thankyou udh mampirrr /Smile/
total 1 replies
zoedrazit212
mantap banget ceritanya👍, suka banget ini
钙Chaa: thankyouuu udh mampirrr~ /Smile//Rose/
total 1 replies
Chen Wuji
kak mau nanya buat art novelnya dimana yak?😁😄
Manusia Ikan 🫪: kalau mau bagus coba pake APK "PixAI" tapi harus di pelajari dulu sih makenya
total 1 replies
cloudia
aw cantik banget 😍😍
钙Chaa: tentuu ajaa hruss tampil cntiii and mempesonaa sisss biar ditaksirr /Chuckle/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bro ingin, baru bab 1 udah tragis banget ya/Hammer/
钙Chaa: wajibbbb, biar kuattt /Tongue/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
muka nya
Marie
Visualnya mantep banget!/Drool//Good/
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/
钙Chaa: hayyieee kakkk, thankyou udh mampirr and meninggalkan 5 bintang nya /Smile//Smile/
total 1 replies
Marie
Next dong kakak, minimal sehari up 5 chapter lah /Tongue/
钙Chaa: otakkk authorr nda mampuu kakaaa /Sweat/
total 1 replies
Marie
Wkwk yang sabar ya neng Lingxi /Sweat//Sweat/
Marie
MAKAN RIBUAN ORANG? ITU BANYAK LOH, JAHAD BANGET 😭
Manusia Ikan 🫪: 🧐lebih tepatnya dua ribu dua ratus empat puluh delapan
total 1 replies
Marie
Baru juga awal udah disuguhkan kematian dua karakter 😭
钙Chaa: derita jdi mc di tangankuu yya gni takdirnya /Sneer/
total 1 replies
Marie
Detail banget mendeskripsikan fisik karakternya, bakal betah banget sih bacanya 🤭🤭
钙Chaa: aww thankyouuu bebbb~ harap' ceritanya pas di kamu yyaaa /Smile/
total 1 replies
Anone
makin di panasin ma si Xingluo /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!