Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Dia Datang
Gadis yang memimpin rombongan itu bernama Kaila Tanujaya—atau lebih dikenal dengan panggilan Kaila, putri dari Keluarga Tanujaya yang cukup terpandang di Jakarta.
Di usianya yang baru awal dua puluhan, riasan wajahnya tampak sangat mencolok. Dagunya terangkat sedikit, matanya dipenuhi dengan keangkuhan dan sikap pemilih yang kentara. Tania mendongak dan merasa wajah gadis itu cukup familier. Sepertinya mereka satu jurusan di kampus. Meski tidak akrab, Tania ingat betul tatapan Kaila yang selalu dipenuhi rasa iri dan sinisme, meninggalkan kesan yang mendalam.
Rombongan gadis yang baru masuk itu juga langsung menyadari keberadaan Tania dan Ghina yang duduk di area VIP dengan paras yang luar biasa menonjol. Kaila melirik sosok yang terlalu menyilaukan itu. Tania lagi, dia lagi.
Di kampus, Kaila selalu merasa dengki karena Tania jauh lebih cantik dan populer darinya. Meskipun latar belakang keluarganya sendiri luar biasa, ia selalu kalah saing dalam hal penampilan oleh Tania yang ia anggap "tidak jelas" asal-usulnya. Bahkan gelar primadona jurusan yang ia sandang terasa tidak ada artinya dibanding gelar primadona kampus milik Tania.
Kaila berpikir sinis; penampilan Tania memang glamor, tapi siapa tahu itu hanya polesan luar? Tidak ada nama Tania dalam lingkaran sosialita Jakarta yang sesungguhnya. Paling-paling, dia hanya dari keluarga kaya tanggung yang mencoba memanfaatkan wajah cantiknya untuk panjat sosial.
Melihat Tania duduk begitu santai di area VIP 'Only Jewelry', asyik memilih perhiasan yang bagi Kaila sendiri harganya sangat fantastis, api cemburu di hatinya langsung berkobar. Apa dia sanggup beli? Yang paling murah saja harganya lima digit. Mungkin dia hanya ke sini untuk cuci mata dan berfoto demi konten di media sosial.
Kaila sengaja mengeraskan suaranya. Sambil memimpin teman-temannya, ia berjalan mendekat ke posisi Tania dan menyindir manajer yang datang menyambut mereka.
"Manajer Sherly, sejak kapan 'Only Jewelry' jadi ramah kantong? Siapa saja sekarang boleh masuk cuma untuk 'memperluas wawasan'? Kalau beritanya tersebar, bisa-bisa standar kami sebagai pelanggan tetap jadi turun."
Suaranya tidak berteriak, namun cukup untuk terdengar jelas oleh semua orang di area VIP. Butiran keringat tipis muncul di dahi Sherly. Nona Tanujaya ini memang terkenal manja dan sombong, tapi dia juga pelanggan penting yang tidak boleh mereka singgung.
Sherly tetap memasang senyum profesionalnya dan membungkuk sedikit. "Nona Kaila, Anda pasti bercanda. Toko kami memperlakukan semua pelanggan dengan setara, dan kedua nona ini juga tamu terhormat kami."
Ia diam-diam memberikan tatapan penuh maaf kepada Tania dan Ghina, jantungnya berdegup kencang takut konflik benar-benar pecah.
Suasana hati Tania yang tadinya bagus saat memilih perhiasan seketika terganggu. Ia mengerutkan alisnya yang indah. Kebencian Kaila terhadapnya sangat terang-terangan, kata-katanya menyiratkan bahwa Tania tidak punya hak berada di sini.
Sejak kecil, baik sang ayah maupun kakaknya selalu memanjakan Tania seperti permata. Kapan ia pernah mendapat ejekan langsung seperti ini? Padahal, satu saja kartu Black Card di tasnya bisa membeli seluruh isi toko ini.
Ghina yang memiliki temperamen lebih meledak-ledak sudah hampir berdiri untuk beradu argumen: "Jaga bicara—"
"Ghina." Tania dengan lembut menahan tangan sahabatnya dan menggeleng kecil. Berdebat dengan orang seperti itu hanya akan menurunkan kelas mereka sendiri.
Tepat saat itu, cahaya di pintu masuk toko tiba-tiba meredup, seolah tertutup oleh bayangan besar yang dominan. Beberapa sosok pria jangkung berjalan masuk satu demi satu.
Pria yang memimpin rombongan mengenakan setelan jas gelap yang dijahit dengan sempurna. Wajahnya dingin dan kaku, fitur wajahnya seperti karya seni yang dipahat dengan teliti, namun aura yang ia pancarkan terlalu mengintimidasi. Tatapannya cukup tajam untuk menembus segalanya.
Itu adalah Hans Lesmana, dengan Yohan yang mengikuti tepat di belakangnya sambil memasang senyum khas "penonton setia".
Pandangan Sherly sempat memudar sesaat karena terpana. Begitu ia sadar siapa yang datang, senyum profesionalnya seketika berubah menjadi rasa hormat dan kegembiraan yang hampir memuja, bahkan membawa jejak keterkejutan yang luar biasa. Ia langsung meninggalkan Kaila dan berlari kecil menyambutnya, suaranya bahkan sedikit gemetar.
"Tu—Tuan Hans! Anda... kenapa Anda datang langsung ke sini? Mari, silakan masuk, lewat sini!" Sikapnya yang sangat perhatian benar-benar berbeda jauh dari sekadar kesopanan biasa yang ia tunjukkan pada Kaila.
Keangkuhan di wajah Kaila seketika membeku. Ia menatap tidak percaya pada pria yang disambut oleh staf bagaikan bintang yang dikelilingi rembulan. Ternyata itu benar-benar Hans Lesmana!
Hans hanya memberikan respons "Mm" singkat terhadap antusiasme sang manajer. Mata dalamnya dengan cepat memindai isi toko dan secara akurat mengunci sosok Tania yang duduk tenang di pojok. Gadisnya terlihat sangat cantik dan lembut hari ini, membuat jantungnya berdesir.
Namun saat melihat alis gadis itu sedikit berkerut dan melihat sosok Kaila yang tampak penuh dengki di sampingnya, tatapan Hans seketika berubah semakin dingin.
Yohan yang mengikuti di belakang, melirik bolak-balik antara Hans, Tania, dan Kaila yang wajahnya berubah dari merah ke putih lalu pucat. Seringai jahil di wajahnya semakin lebar.
Sudah kuduga! Mana mungkin si Gunung Es Hans sedang dalam suasana hati untuk 'inspeksi' toko perhiasan? Ternyata dia datang untuk menjadi pahlawan bagi sang jelita—eh, maksudnya 'kebetulan lewat' untuk menyelamatkan sang jelita! Bakal ada tontonan seru; datang main golf hari ini benar-benar pilihan tepat!
Kaila tidak pernah menyangka akan bertemu Hans Lesmana di sini. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, separuh karena rasa kagum dan separuh lagi karena panik yang tak terjelaskan. Ia secara tidak sadar merapikan rambut dan pakaiannya, berusaha menunjukkan sisi terbaiknya. Suaranya pun berubah delapan tingkat lebih lembut dibanding saat bicara pada Tania, membawa nada kejutan yang dipaksakan.
"Tu—Tuan Hans, kenapa Anda juga ada di sini?"
Namun, Hans bersikap seolah tidak mendengarnya sama sekali, bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Ia berjalan melewati Kaila begitu saja, seolah gadis itu hanyalah pajangan transparan.
Senyum di wajah Kaila membeku, dan warna wajahnya memudar perlahan. Merasa malu dan terhina, ia berharap ada lubang di lantai untuk tempat bersembunyi. Tatapan orang-orang di sekitar yang tadinya hanya menonton, kini berubah menjadi penuh arti.
Hans melangkah lebar dengan kaki jenjangnya, berjalan lurus menuju Tania. Tatapan dalamnya jatuh pada alis Tania yang sedikit berkerut, dan matanya yang tadinya dingin melunak tanpa sadar. Suaranya berat, membawa jejak perhatian yang tersamar: "Ada apa? Siapa yang membuatmu kesal?"
Saat ia bicara, sosok tingginya hampir sepenuhnya menyelimuti Tania, melindunginya dari tatapan ingin tahu dan tidak bersahabat di sekitar mereka.
Tania juga tidak menyangka Hans akan muncul tiba-tiba. Aroma maskulin yang familier dan sangat dominan pada pria itu membuat jantungnya berdebar. Ia mendongak dan menatap mata Hans yang fokus, di mana bayangan dirinya terpantul jelas, seolah ia adalah satu-satunya orang di dunia pria itu. Ketidaksenangan yang disebabkan oleh gangguan Kaila tadi entah kenapa menguap begitu saja.
Ia menggeleng, suaranya lembut dan manis: "Tidak ada apa-apa, hanya sedang melihat-lihat."
"Mm," sahut Hans. Tatapannya menyapu sekilas perhiasan berkilau di lemari pajang sebelum kembali menatap wajah Tania.
"Mana yang kamu suka? Akan aku ambilkan untukmu." Nadanya datar, namun mengandung dominasi yang tak terbantahkan.
Berdiri di samping mereka, mata Ghina hampir melompat keluar. Ia melihat ke arah Tania, lalu ke Hans dengan auranya yang luar biasa, kemudian ke arah Kaila yang wajahnya berubah merah putih bergantian karena malu. Ghina merasa sangat puas.
Pembalikan keadaan ini sungguh mendebarkan! Ia diam-diam mengedipkan mata pada Tania, wajahnya penuh dengan ekspresi "mari menonton tontonan bagus ini".