Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Mir, lihat noh. Gebetan elo, lagi narik narik tangan si penjual donat!" Ucap salah satu teman di geng Mirna.
Mirna hanya melirik tajam ke arah Qiandra, bahkan dia terlihat mengepal kan tangan nya. Menatap Qiandra dengan penuh kebencian.
"Mungkin Rio terpesona kali dengan kecantikan si penjual donat, soal nya gue sendiri kalau di suruh jujur. Sebelum di make over pun, wajah Qiandra memang sangat lah cantik, walau pun polosan. Apa lagi sekarang setelah diri nya berpenampilan seperti orang kaya begini! Damage nya uhh." Ucap salah satu teman geng Mirna, yang terkenal akan kejujuran nya.
Sehingga kepala nya pun mendapat kan pukulan keras, dari ke tiga teman teman nya yang lain. Tapi Mirna terlihat tidak ikut memukul kepala teman nya yang sangat jujur itu. Dia masih terus menatap gerak gerik Qiandra.
"Eh mereka seperti nya mau ke gudang kosong, yang ada di belakang kelas mereka deh!
"Eh iya, bener apa yang elo kata kan!"
"Mau ngapain Rio, mengajak Qiandra ke sana!"
"Loh Mir, buka nya kata elo. Rio udah pernah nyatakan rasa suka nya sama elo, tapi elo tolak. Apa sekarang dia sudah berubah haluan, dengan mendekati Qiandra," Ucap Ara dengan nada polos.
"Masak sih?"
"Elo serius, kok Mirna gak pernah cerita sama kita kita!" Kini wajah ke tiga teman geng Mirna, mengarah ke Ara, salah satu teman geng Mirna yang terkenal paling jujur.
Lalu semua teman teman Mirna, beralih menatap Mirna dengan tatapan penuh tanda tanya.
Mirna hanya bisa menghembus kan nafas dengan kasar.
"Udah lah gue mau ke kamar mandi dulu, kalian masuk kelas duluan. Noh lihat, guru udah akan masuk ke dalam kelas kita!" Ucap Mirna sembari menunjuk ke arah guru yang akan berjalan untuk memasuki kelas mereka.
"Gue antar ya Mir?" Tanya Ara dengan wajah tidak enak.
"Gak usah," jawab Mirna ketus.
"Kalau gitu, kita duluan ya guys! Kamu masih hutang penjelasan sama kami loh." Ucap ke tiga teman geng Mirna ke pada Mirna dan juga Ara.
"Heleh, Ara itu kan bukanya tukang ngelantur, kadang telinga dia itu memang harus di bersih kan. Agar bisa mendengarkan dengan seksama sebuah informasi yang valid. Gue gak pernah tuh curhat apa apa kok sama dia. Mungkin dia nya aja ngarang." Mirna berbohong dan malah berbalik menyalah kan Ara.
Setelah mendengar pembelaan Mirna. Ke tiga teman Mirna pun pergi ke kelas, meninggal kan Ara dan juga Mirna.
"Awas elo, dasar ember!" Ancam Mirna ke Ara, setelah ke tiga teman nya sudah benar benar masuk ke dalam kelas.
"Astaga, kenapa di sini jadi gue yang salah?" Tanya Ara pada diri nya sendiri, sembari menatap punggung Mirna yang terlihat semakin jauh.
****
Sementara di ruangan lain, di gudang sekolah yang kosong.
"akhhh," pekik Qiandra, menahan sakit di pergelangan tangan nya. Memang tubuh bagian belakang nya menghantam dinding. Tapi Qiandra begitu merasa kesakitan di pergelangan tangan nya, karena kuku Rio menggores pergelangan tangan nya.
"Jawab gue, apa hubungan elo sama si kupu kupu malam itu?" Tanya Rio yang kini mendekat ke arah Qiandra, sembari mencengkram ke dua pipi Qiandra dengan satu tangan nya.
"Ak - Akku hiks hiks hiks." Bibir Qiandra terasa begitu kelu, hanya untuk melanjut kan ucapan nya.
Bahkan air mata terus luruh dan membasahi ke dua pipi nya.
"Elo punya mulut gak sih? JAWAB BEGO!" Ucap Rio, sembari melepas kan cengkraman tangan nya dengan begitu kasar, dari pipi Qiandra.
Hanya rasa sakit, yang kini di rasa kan Qiandra. Bahkan otak nya benar benar tidak bisa buat berfikir.
"Gue itu sangat membenci si kupu kupu malam itu, karena dia telah tega menghancurkan keutuhan rumah tangga ke dua orang tua gue. Bahkan anak nya yang tidak tahu diri itu, membuat orang yang paling gue cintai di dunia ini, harus merasakan sakit bahkan nyawa nya sekarang berada di ujung tanduk!" Ucap Rio tiba tiba mengubah ekspresi wajah nya menjadi sedih. Sungguh Rio membuat Qiandra menjadi bingung.
Rasa sakit yang Qiandra rasa kan pun tiba tiba meng hilang, bahkan air mata nya tiba tiba berhenti mengalir. Kala melihat orang yang selama ini membully diri nya bahkan memperlakukan nya begitu kejam, kini limbung dan terlihat menyedihkan di depan mata nya.
"Maaf kan aku Rio, aku benar benar tidak tahu, masalah apa yang terjadi antara kamu dan juga nyonya Julia. Tapi yang pasti, aku mengenal nya sebagai partner kerja. I - ii ya ak ku bekerja di rumah nya," ucap Qiandra dengan nada begitu terbata bata dan ucapan nya tiba tiba terhenti. Kala bel masuk kelas berbunyi.
Ting
Ting
Ting
"Ya gue minta elo jauhi dia, dia itu benar benar orang yang sangat berbahaya dan juga kejam." Dari dalam hati nya, ingin rasa nya Rio melanjut kan ucapan nya dengan mengatakan 'karena gue itu peduli sama elo, gue gak mau Julia itu menyakiti elo dan membuat nyawa elo itu dalam bahaya', tapi Rio memilih mengurung kan niat nya.
Kala mata nya melirik tajam ke arah pergelangan tangan sampai siku perempuan yang berada di depan nya, yang terluka akibat ulah nya sendiri. Bukan kah tanpa sadar dia (Rio) juga menyakiti Qiandra, bahkan membuat Qiandra terluka secara fisik.
Apa lagi saat menatap wajah cantik Qiandra, yang hari ini kecantikan nya begitu terpancar. Dan kini wajah cantik Qiandra itu di penuhi dengan air mata kesedihan.
'maafin gue Qian, gue terlalu pengecut. Gue terlalu cemburu dengan para laki laki yang terpesona bahkan terang terangan memuji kecantikan elo sekarang ini di depan gue. Gue yang benar benar tidak tahan, bertambah emosi saat dari kejauhan elo bergandengan tangan dengan orang yang paling gue benci di dunia ini. Setelah ayah gue.' batin Rio lalu pergi meninggal kan Qiandra begitu saja. Dengan harapan setelah ini, Qiandra bisa segera pergi ke UKS untuk mengobati tangan nya yang terluka.