NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Suasana di rumah sakit malam itu terasa sangat mencekam dan penuh ketegangan. Setelah berhasil menenangkan Aluna dan mendapatkan janji tegas dari Arka bahwa tidak akan ada pernikahan dengan Nanda dan anaknya tidak akan diambil alih, semangat hidup gadis itu perlahan kembali muncul.

Dokter segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan operasi caesar darurat. Nyawa dua jiwa sedang bergantung di ujung tanduk dan detik demi detik terasa sangat berharga.

Aluna sudah didorong masuk ke ruang operasi. Arka dan keluarga menunggu dengan cemas di luar. Tangan pria itu saling mencengkeram kuat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia berdoa sekuat tenaga, memohon pada Tuhan agar diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahannya.

Namun, takdir berkata lain. Belum sempat pintu ruang operasi tertutup rapat, tiba-tiba ponsel Arka berdering nyaring memecah keheningan.

Nomor yang tertera adalah nomor dari tim dokter yang sedang menangani ibu Aluna di luar negeri yang sudah berangkat beberapa hari lalu.

Jantung Arka berdegup kencang tidak beraturan. Ada firasat buruk yang sangat kuat menghantam dadanya. Ia segera mengangkat telepon itu dengan tangan yang gemetar hebat.

"Halo... ada apa Dok?" tanya Arka berusaha menahan getar suaranya.

Suara di seberang sana terdengar berat dan penuh penyesalan. "Maaf Tuan Arka... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami melakukan segala cara untuk menyelamatkan pasien namun kondisi organ dalamnya sudah terlalu lemah dan gagal total."

"Dokter spesialis terbaik pun tidak bisa berbuat banyak lagi. Tepat sepuluh menit yang lalu... Nyonya (Ibu Aluna) menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya Tuan."

BRAKK!!

Seolah ada palu godam besar yang menghantam kepala Arka. Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menimpa lantai keramik.

Wajah pria itu pucat pasi, kakinya lemas seketika hingga ia harus bersandar kuat pada dinding agar tidak ambruk.

"Ka... Kak Arka? Kenapa Ka? Ada apa?!" tanya Raka panik melihat perubahan drastis pada wajah kakaknya.

Arka menatap adiknya dengan mata yang kosong dan berkaca-kaca. "Ibu Aluna... Ibu Aluna sudah tiada Ka... Dia pergi..."

"Apa?! Tapi kan sudah dioperasi? Kan sudah dibawa ke luar negeri?" Raka ternganga kaget tak percaya

"Kondisinya sudah terlalu parah... Tuhan memanggilnya lebih cepat..." jawab Arka parau.

Dunia seakan berhenti berputar seketika. Berita itu sangat menyakitkan dan sangat tidak tepat waktu. Bagaimana mereka akan memberitahukan hal ini pada Aluna?

Padahal saat ini Aluna sedang berjuang mati-matian untuk melahirkan anak mereka dalam kondisi mental yang baru saja pulih dari kehancuran.

Jika Aluna tahu ibunya sudah meninggal saat ini juga, bisa-bisa gadis itu akan hancur lagi, menyerah, dan membahayakan proses persalinan ini.

"Kita... kita harus sembunyikan dulu berita ini, Kak. Kasihan Aluna Ka. Dia belum kuat. Fokuskan dulu dia melahirkan. Nanti saja setelah anaknya lahir dan kondisinya stabil baru kita kasih tahu pelan-pelan," saran Raka dengan mata berkaca-kaca

Arka mengangguk lemas menyetujui saran itu.

Beberapa jam berlalu. Suara tangis bayi yang sangat keras dan nyaring akhirnya memecah keheningan koridor rumah sakit itu.

Waaaaaa... waaaaaa...!!!

Pintu ruang operasi terbuka. Dokter dan perawat keluar dengan wajah lelah dan tersenyum lega.

"Alhamdulillah... Selamat Tuan! Ibu dan anak selamat! Bayinya laki-laki, sangat sehat, berat badan ideal, dan wajahnya sangat tampan!" seru dokter itu dengan gembira.

Arka langsung berlari mendekati ranjang dorong tempat Aluna terbaring lemah. Gadis itu masih sadar. Wajah gadis itu pucat, namun ada senyum tipis di bibirnya.

"Tuan... anak kita..." bisik Aluna lemah.

"Ya... anak kita lahir dengan selamat. Terima kasih... terima kasih sudah bertahan," ucap Arka memegang tangan Aluna erat-erat, mencium keningnya berkali-kali dengan air mata bahagia yang bercampur pilu.

"Sangat mirip dengan Aira," gumam Arka sambil menatap anaknya.

Tak lama kemudian, bayi mungil itu dibungkus selimut dan diletakkan di samping wajah Aluna. Gadis itu menatap wajah kecil itu dengan penuh kasih sayang dan air mata kebahagiaan.

"Dia tampan sekali Tuan... matanya persis sama seperti Tuan..." isak Aluna bahagia.

Tiba-tiba Aluna teringat sesuatu yang penting. Ia menatap Arka dengan wajah berbinar penuh harap.

"Tuan... bagaimana kabar Ibu Aluna? Apakah operasinya berhasil? Ibu sudah sadar belum? Aluna kangen sekali sama Ibu... Aluna mau cerita kalau Aluna sudah berhasil lahiran."

Pertanyaan polos dan penuh harap itu bagai pisau yang mengiris-iris hati Arka. Dadanya sesak sekali ingin menangis sekeras-kerasnya,tapi harus menahan demi Aluna.

Wajah Arka berubah pucat, ia terdiam tak bisa menjawab sepatah kata pun.

"Kenapa diam Tuan? Ibu kenapa? Kenapa wajah Tuan jadi begitu?" tanya Aluna mulai merasa cemas dan gelisah.

"Jangan bilang... jangan bilang Ibu kenapa-napa ya Tuan?!"

Nyonya Soraya yang berdiri di belakang pun tidak kuasa menahan air matanya. Ia memalingkan wajah menyembunyikan kesedihannya.

"Aluna... sayang..." Arka menarik napas panjang sekuat tenaga menahan isaknya. Ia menggenggam tangan Aluna dengan sangat erat seolah ingin mentransfer kekuatan.

"Ibu kamu... Ibu kamu sudah tenang dan damai di atas sana."

Deg!

Wajah Aluna seketika berubah putih bersih seperti kertas. Matanya terbelalak tak percaya.

"Apa... apa yang Tuan bilang?" suara Aluna bergetar hebat.

"Tidak... tidak mungkin! Tadi kan katanya mau dioperasi! Katanya ada harapan! Kenapa bisa pergi?!"

"Ibu berjanji mau sembuh! Kenapa Tuan biarkan Ibu pergi sendirian?!" teriak Aluna histeris, meski tubuhnya masih sangat lemah pasca operasi.

Air mata gadis itu mengalir deras tak terbendung. Rasa sakit yang luar biasa menyayat hati menyergap seluruh raganya.

"Ibuuuuu...!!! Jangan tinggalkan Aluna Buuu...!!! Aluna belum sempat berterima kasih! Aluna belum sempat membahagiakan Ibuuu!!" rintih Aluna keras hingga suaranya serak dan parau.

Hatinya hancur berkeping-keping.

Kehilangan sosok yang paling ia sayangi, yang menjadi alasan ia bertahan hidup, yang menjadi alasan ia rela menjual rahimnya... kini pergi meninggalkannya selamanya.

Arka langsung memeluk tubuh gemetar itu erat-erat, membiarkan gadis itu meluapkan semua kesedihannya di dadanya.

"Maafkan aku Aluna... maafkan aku... Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan lebih menyayangi Ibu kamu..." bisik Arka di telinga gadis itu dengan air mata yang juga menetes membasahi rambut Aluna.

"Ibu kamu orang baik sayang... Dia pasti bahagia di sana. Dia pasti melihat kamu dan melihat cucunya lahir dengan selamat hari ini."

"Aluna sendirian sekarang Tuan... Aluna tidak punya siapa-siapa lagi..." isak Aluna lemah dan putus asa.

"Tidak! Kamu tidak sendirian! Selama aku masih ada, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi!" Arka memegang kedua pipi gadis itu menatap matanya dalam-dalam dengan penuh ketegasan dan cinta.

"Ibu kamu sudah tiada, tapi sekarang kamu punya aku... kamu punya anak kita... dan kita semua adalah keluarga kamu sekarang. Kita yang akan menggantikan posisi Ibu kamu, kita yang akan mencintai kamu sepenuh hati."

"Menangis saja sayang... keluarkan semua rasa sedihmu... Aku ada di sini... Aku janji tidak akan pernah pergi meninggalkanmu selamanya."

Malam itu, di ruang perawatan rumah sakit, bercampur tangis bahagia kelahiran seorang pangeran kecil, juga diselingi tangis pilu karena kepergian seorang ibu yang hebat.

Aluna merasa dunianya telah gelap. Namun, di tengah kegelapan itu, ia melihat secercah cahaya dari tangan Arka yang menggenggamnya begitu kuat, dan suara tangis bayi mungilnya yang menjadi alasan baru baginya untuk tetap berusaha tegar.

1
Xiao Juan
ni orang tua mulutnya pen gua tampar, nyolot bet anying, manaa ada dimana-mana lagii, ikut campur bangett
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!