Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh di Ambang Denja
Taman labirin di sayap barat istana Aethelgard tampak begitu tenang sore itu. Cahaya matahari yang mulai meredup memberikan rona keunguan
pada langit, menciptakan atmosfer yang seharusnya romantis bagi sepasang bangsawan yang duduk di bawah pohon rindah di taman itu. Namun bagi Aurelia, setiap embusan angin terasa seperti bisikan rahasia yang menuntut untuk diungkap.
Di hadapannya, duduk Pangeran Theo. Aurelia sempat teringat masa kecil mereka—saat Theo adalah bocah lelaki yang sombong, sering memamerkan silsilah keluarganya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Namun, waktu dan bimbingan ketat dari Raja Alaric telah menempa Theo menjadi pribadi yang berbeda.
Pangeran itu kini duduk dengan punggung tegak namun santai, memancarkan wibawa yang tenang. Tidak ada lagi pamer keahlian yang kekanak-kanakan; yang ada hanyalah seorang pria yang sadar betul bagaimana seharusnya seorang pangeran bersikap, terutama saat menghadapi situasi politik yang canggung.
"Pangeran Theo," Aurelia memulai, suaranya sengaja dibuat selembut mungkin sembari menuangkan teh ke cangkir porselen milik Theo. "Sebelum kita berbincang lebih jauh, ada sesuatu yang membebani hatiku sejak pertemuan terakhir kita dengan Ayahanda."
Theo sedikit memiringkan kepalanya, menatap Aurelia dengan tatapan yang jauh lebih dewasa daripada yang diingat gadis itu. "Apa itu, Tuan Putri?"
"Tentang permintaanku tempo hari... untuk membatalkan perjodohan kita," Aurelia menunduk, memainkan pinggiran cangkirnya sendiri. "Aku ingin meminta maaf secara pribadi. Aku tahu keputusanku mungkin melukai martabatmu dan menciptakan ketegangan diplomatik antara Aethelgard dan Valeront. Aku hanya... saat itu aku merasa sangat bingung."
Theo terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja marmer. Gerakannya sangat terukur, mencerminkan bimbingan diplomatik yang ia terima bertahun-tahun. "Tak apa, Aurelia. Aku mengerti. Seseorang dari keluarga kerajaan terkadang harus membuat keputusan sulit di tengah tekanan. Aku bukan lagi pria yang akan merasa terhina hanya karena sebuah penolakan."
"Terima kasih, Theo," bisik Aurelia, sedikit terkesima dengan perubahan sikap pria itu.
"Tapi," Theo menyambung, matanya menatap kejauhan, ke arah perbatasan pegunungan utara yang terlihat remang-remang. "Jika aku boleh jujur... sebenarnya aku sangat menyesal dengan keputusan pembatalan itu."
"Kenapa?" tanya Aurelia cepat. "Bukankah kebebasan adalah hal yang paling berharga bagi kita yang selalu diatur oleh protokol?"
Theo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak pudar di sudut bibirnya. "Bukan karena ego, Aurelia. Hanya saja... ada sesuatu yang kurasa kau butuhkan, dan aku merasa bisa menjagamu jika kau berada di sisiku. Ada hal-hal yang tidak terlihat di permukaan istana ini, hal-hal yang mungkin terlalu berbahaya jika dihadapi sendirian."
"Menjagaku? Dari apa?" desak Aurelia.
"Tidak apa-apa," jawab Theo cepat, segera memperbaiki posisi duduknya dan kembali ke sikap formalnya yang kaku. "Lupakan saja. Mari kita nikmati teh ini sebelum menjadi dingin."
Aurelia tahu Theo sedang menutup pintu informasi, tapi ia tidak akan menyerah. Ia harus memancing lebih jauh dengan sangat halus.
"Bicara tentang perlindungan," Aurelia menyesap tehnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah utara. "Aku sering mendengar bahwa Valeront adalah tempat yang indah namun menyimpan banyak misteri. Ayahku pernah bercerita bahwa di sana tumbuh tanaman-tanaman yang unik, seperti bunga perak yang konon bisa menenangkan jiwa yang paling gelisah. Benarkah itu?"
Raut wajah Theo sedikit berubah. Bukan curiga, melainkan sebuah kilatan kewaspadaan yang lewat begitu cepat. "Maksudmu *Silver-Dust*? Tanaman yang ekstraknya sering digunakan oleh para tabib utara?"
Aurelia mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang. "Ah, jadi itu namanya? Kedengarannya sangat indah."
Theo menggeleng pelan, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Indah di mata, namun berat bagi mereka yang memilikinya, Aurelia. Ayahku pernah bercerita padaku saat aku masih kecil. Dia bilang tanaman itu adalah berkat yang sekaligus menjadi beban bagi Valeront. Ayah sering mengatakan bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada berapa banyak pedang yang kau miliki, melainkan pada kemampuan untuk membuat lawanmu... berhenti berjuang tanpa mereka sadari."
Kalimat itu—*berhenti berjuang tanpa mereka sadari*—membuat Aurelia teringat akan ibunya yang hebat, yang tiba-tiba layu dan kehilangan kekuatannya hanya dalam semalam.
"Apakah itu artinya Valeront sering mengirimkan 'berkat' itu kepada teman-temannya?" tanya Aurelia dengan nada yang sengaja dibuat lugu.
Theo menatap Aurelia dalam-dalam, seolah sedang menimbang sejauh mana ia boleh bicara. "Ayahku adalah pria yang mencintai kerahasiaan. Namun, beliau pernah menyebut sebuah nama saat sedang bercerita tentang masa lalu... nama Ratu Seraphina."
Napas Aurelia tertahan. "Ibu? Apa yang dikatakan Raja Alaric tentang ibuku?"
"Beliau bilang," Theo merendahkan suaranya, "bahwa ibumu adalah satu-satunya orang di Aethelgard yang memiliki penciuman terlalu tajam. Beliau menyebutnya sebagai 'bunga yang terlalu harum hingga harus dipetik sebelum layu'."
Aurelia merasakan dingin yang menusuk tulang belakangnya. *Dipetik sebelum layu.* Kalimat itu adalah petunjuk pertama yang nyata. Ibunya tidak mati karena penyakit yang perlahan merusak tubuhnya; ibunya "dipetik".
"Kenapa kau menceritakan ini padaku, Theo? Jika ini adalah cerita yang seharusnya kau simpan sendiri?"
Theo meraih tangan Aurelia yang gemetar di atas meja dengan gerakan lembut, sebuah sikap yang menunjukkan betapa ia telah tumbuh menjadi pria yang peduli.
"Karena aku tidak ingin melihatmu layu dengan cara yang sama, Aurelia. Aku menyesal pernikahan itu batal bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena aku ingin memilikimu di lingkup pengawasanku, di mana aku bisa memastikan tidak ada orang lain yang menyentuh tehmu atau membawa mawar perak ke kamarmu."
Aurelia menarik tangannya perlahan. Ia menyadari satu hal: Theo memang tidak tahu apa apa, tapi dia tahu ayahnya, Raja Alaric, menyimpan rahasia tentang sejarah kedua belah pihak kerajaan dan juga misteri-misteri bunga itu, Theo baru saja memberinya petunjuk krusial: *mawar perak*.
"Terima kasih atas kejujurannya, Theo," ucap Aurelia bangkit dari kursinya saat hari mulai gelap. "Aku sangat menghargai perubahan sikapmu. Kau benar-benar seorang pangeran yang berbeda sekarang."
Aurelia berjalan meninggalkan taman dengan langkah yang mantap. Pikirannya berputar. *Mawar perak.* Ia harus mencari tahu apa hubungannya mawar itu dengan *Silver-Dust* dan mengapa ibunya dianggap "terlalu harum". Malam ini, tujuannya bukan lagi sekadar mencari buku harian, tapi mencari jejak fisik terakhir yang ditinggalkan ibunya di ruang bawah tanah yang tersembunyi.