Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Romantis yang Gagal Total
Setelah ketegangan dengan Don Lorenzo dan jatuhnya nilai saham Sujatmiko Corp, Vittorio merasa ada satu hutang yang belum ia bayar: ketenangan batin Karin. Gadis semprul itu telah mempertaruhkan nyawanya di rumah Hadi dan bekerja lembur memantau pergerakan bursa saham hingga matanya menghitam. Vittorio, dengan sisa-sisa etiket bangsawan Sisilia yang masih mengendap di jiwanya, memutuskan bahwa sudah saatnya memberikan apresiasi yang layak.
Namun, definisi "apresiasi layak" bagi seorang mantan bos mafia sering kali tidak sejalan dengan realitas mahasiswa di Jakarta.
"Karin, pakai pakaian terbaikmu malam ini. Kita akan keluar," ucap Vittorio singkat pada sore hari itu, sambil membersihkan laras senjatanya—kebiasaan yang sulit hilang meski ia sedang merencanakan kencan.
"Hah? Keluar ke mana? Mau gerebek gudang lagi? Atau mau nyolong data di kantor gubernur?" tanya Karin curiga, mulutnya masih penuh dengan keripik pedas.
"Bukan. Kita akan makan malam. Dan kali ini, tidak akan ada ledakan, tidak ada penyadapan, dan tidak ada pengawal bertato serigala."
Karin tersedak. "Lu... lu ngajakin gue kencan, Jun? Beneran? Ini bukan jebakan Batman, kan?"
Vittorio hanya menaikkan alisnya, sebuah isyarat yang berarti 'Jangan banyak tanya atau aku berubah pikiran'.
Vittorio memilih sebuah restoran fine dining di lantai 56 sebuah gedung pencakar langit. Tempat itu memiliki reputasi sebagai restoran paling romantis di Jakarta, dengan pemandangan 360 derajat ke arah kerlap-kerlip lampu kota. Ia telah memesan meja paling pojok yang privat, dengan harapan tidak akan ada gangguan.
Namun, kekacauan dimulai sejak mereka turun dari motor sport Vittorio di lobi gedung.
Vittorio tampil sempurna dengan kemeja hitam satin dan celana bahan yang pas di tubuhnya. Sementara itu, Karin... tampil dengan usaha maksimal yang berakhir tragis. Ia mengenakan gaun payet berwarna emas yang terlalu ketat, membuat langkahnya terlihat seperti penguin yang sedang menahan buang air kecil. Ditambah lagi, ia memakai bulu mata palsu yang begitu panjang hingga ia terus-menerus berkedip karena keberatan beban.
"Juna, ini gaun pinjem dari sepupu gue yang biduan dangdut. Keren, kan? Mengkilap kayak masa depan kita," bisik Karin sambil mencoba menjaga keseimbangan di atas sepatu hak tinggi dua belas senti.
"Kau terlihat seperti... piala berjalan, Karin. Tapi ya, kau terlihat menarik," jawab Vittorio, mencoba bersikap diplomatik meskipun batin mafianya menjerit melihat selera fashion asistennya itu.
Saat mereka memasuki lift, seorang pria asing dengan koper besar masuk bersama mereka. Secara naluriah, Vittorio langsung berdiri di depan Karin, tangannya meraba pinggang belakang tempat ia menyembunyikan pisau lipat taktis. Matanya menatap tajam ke arah koper pria itu.
"Juna, santai! Itu orang cuma mau bawa sampel kain, bukan bom!" bisik Karin sambil menarik kemeja Vittorio. "Jangan bikin orang takut, muka lu udah kayak malaikat maut tau nggak!"
Vittorio menghela napas, mencoba menurunkan tensi adrenalinnya. Sulit sekali menjadi orang normal, batinnya.
Sampai di restoran, suasana sangat tenang. Musik jazz lembut mengalun, dan aroma mawar mahal memenuhi ruangan. Pelayan membimbing mereka ke meja.
"Selamat malam, Bapak Arjuna dan Ibu...?" pelayan itu menggantung kalimatnya.
"Karin. Karin si Pendekar Saham," jawab Karin dengan suara yang terlalu keras, membuat beberapa pasangan elit di meja sebelah menoleh dengan pandangan menghina.
Vittorio menarikkan kursi untuk Karin. Saat Karin duduk, terdengar bunyi KREK yang cukup nyaring. Karin membeku.
"Juna... gue rasa jahitan di belakang gue lepas," bisik Karin dengan wajah pucat.
Vittorio segera melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Karin. "Gunakan ini. Dan tolong, jangan bergerak terlalu banyak."
"Duh, romantis banget sih pake jas-jasan segala. Makasih ya, Bos!" Karin nyengir, mencoba menutupi rasa malunya dengan meminum air putih di gelas kristal dalam satu tegukan besar.
Kekacauan berlanjut saat menu dibagikan. Menu tersebut sepenuhnya menggunakan bahasa Prancis tanpa terjemahan. Karin menatap daftar itu seolah-olah sedang membaca mantra pemanggil setan.
"Juna, ini bacanya gimana? Escargot? Ini makanan apa? Eskul Pramuka?"
"Itu siput, Karin," jawab Vittorio tenang.
"Siput?! Yang jalannya lambat itu?! Dih, di sawah belakang rumah gue banyak, Jun! Ngapain kita bayar jutaan buat makan hama?" suara Karin kembali meninggi. Seorang wanita di meja sebelah mendesis "Ssst!" ke arah mereka.
Vittorio menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu dingin hingga wanita itu langsung menunduk dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Pesan saja apa yang kau mau, Karin. Aku yang akan menjelaskannya pada pelayan," ucap Vittorio.
Makanan pembuka datang. Sebuah porsi kecil berisi daging tartar premium. Karin menatap daging mentah itu dengan dahi berkerut.
"Ini belum matang, Jun. Kompor mereka mati ya? Sini gue bawa ke dapur, gue suruh mereka goreng pake margarin biar gurih."
"Karin, itu memang dimakan mentah. Itu daging kualitas terbaik."
Karin mencoba satu suap kecil. Wajahnya langsung berubah drastis. "Rasanya kayak... kayak jilat besi basah. Nggak enak! Gue mau nasi goreng aja ada nggak?"
Vittorio menghela napas untuk yang kesekian kalinya malam itu. Rencana "Makan Malam Romantis" ini secara teknis sudah hancur dalam sepuluh menit pertama. Namun, ia tidak menyerah. Ia mencoba membuka percakapan yang lebih pribadi.
"Karin, setelah semua kekacauan ini selesai... apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Vittorio, suaranya melembut.
Karin berhenti mengutak-atik piringnya. Ia menatap Vittorio, bulu mata palsunya yang panjang sedikit miring. "Gue cuma pengen lu tetep jadi Juna. Gue tau lu itu Vittorio, atau siapa punlah bos besar di Italia sana. Tapi buat gue, lu itu Juna yang selalu dengerin ocehan gue, yang nemenin gue ngerjain tugas, dan yang jagain gue di pelabuhan."
Vittorio terdiam. Kata-kata sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada peluru Lorenzo. Di dunia mafia, semua orang menginginkan kekuasaannya, uangnya, atau kepalanya. Hanya Karin yang menginginkan keberadaannya sebagai "Juna".
"Aku akan selalu di sini, Karin. Dengan satu atau lain cara," jawab Vittorio.
Tepat saat suasana mulai terasa sedikit romantis, tiba-tiba sensor di jam tangan Vittorio bergetar hebat. Ini adalah sensor frekuensi yang ia pasang untuk mendeteksi penyadap atau sinyal radio asing dalam jarak dekat.
Vittorio segera memindai ruangan. Matanya tertuju pada sebuah vas bunga besar di tengah restoran yang berjarak tiga meja dari mereka. Di sela-sela kelopak mawar, ada kilatan merah kecil.
"Kamera tersembunyi," desis Vittorio.
"Hah? Ada kamera? Gue masuk TV?!" Karin langsung merapikan rambutnya dan bergaya di depan meja.
"Bukan, Karin! Itu dari Hadi atau Lorenzo. Kita sedang dipantau."
Vittorio berdiri, namun baru saja ia hendak menarik Karin pergi, pintu masuk restoran terbuka dengan kasar. Lima orang pria mengenakan jaket bomber masuk dengan langkah cepat. Mereka bukan mafia Italia, tapi preman bayaran lokal yang disewa untuk menciptakan kekacauan publik.
"Mana yang namanya Arjuna?!" teriak salah satu dari mereka sambil membalikkan meja di dekat pintu.
Para tamu elit berteriak histeris. Suasana romantis itu berubah menjadi medan perang dalam sekejap.
"Juna! Makan malam kita!" teriak Karin sambil memeluk piring daging mentahnya (ia baru sadar kalau piring itu mahal).
Vittorio menarik Karin ke belakang punggungnya. "Tetap di belakangku, asisten."
Preman pertama menerjang dengan botol anggur yang pecah. Vittorio menangkis serangan itu dengan serbet makan yang dililitkan di tangannya, memutar pergelangan tangan lawan hingga botol itu jatuh, lalu memberikan serangan siku tepat ke ulu hati.
Preman kedua mencoba memukul Vittorio dari samping. Vittorio merunduk, mengambil sebotol air mineral kaca dari meja, dan menghantamkannya ke lutut lawan. KRAK!
"Karin, cari jalan keluar lewat dapur!" perintah Vittorio sambil menghalau dua preman lainnya dengan gerakan bela diri yang efisien dan mematikan.
Karin, dengan gaun emasnya yang sempit, mencoba berlari. Tapi masalahnya, sepatu hak tingginya membuatnya sangat lambat. "Juna! Gaun gue nyangkut di kaki meja!"
Vittorio menoleh dan melihat seorang preman besar bersiap mengayunkan kursi ke arah Karin. Tanpa pikir panjang, Vittorio melompat, menendang kursi itu di udara hingga hancur, dan mendaratkan pukulan telak ke wajah sang preman.
"Buka sepatumu, Karin! Lari!"
Karin melepas sepatunya, menentengnya di tangan kiri, dan piring daging di tangan kanan. Ia berlari bertelanjang kaki menuju pintu dapur sambil terus berteriak, "Sori ya semuanya! Maaf banget keganggu kencannya! Pacar gue emang agak sensitif!"
Vittorio menyelesaikan preman terakhir dengan membantingnya ke atas meja hidangan penutup yang penuh dengan kue cokelat. Wajah preman itu tenggelam dalam lava cake.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di gang sempit di samping gedung, terengah-engah. Penampilan mereka benar-benar hancur. Jas Vittorio sobek di bagian bahu, kemeja hitamnya terkena noda saus merah. Karin lebih parah: gaun emasnya sobek di bagian paha, rambutnya acak-acakan, dan ia hanya memakai satu kaos kaki karena yang satunya hilang saat berlari.
"Gagal total," gumam Vittorio sambil menyandarkan kepalanya di tembok kusam. "Aku ingin memberimu malam yang indah, tapi malah berakhir dengan perkelahian massal."
Karin menatap Vittorio, lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras hingga bergema di gang itu.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Vittorio bingung.
"Lu liat muka lu, Jun! Ada bekas lipstik ibu-ibu yang tadi lu selametin di pipi lu, terus rambut lu kena remahan roti!" Karin memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. "Ini kencan paling seru yang pernah gue alamin! Daripada duduk kaku makan siput, mendingan olahraga jantung kayak tadi!"
Vittorio melihat ke arah pipinya melalui pantulan layar ponsel. Benar saja, ada noda merah. Ia tersenyum tipis, lalu tertawa kecil juga. "Kau benar-benar tidak normal, Karin."
"Dunia ini emang nggak normal, Juna. Jadi buat apa kita maksain diri jadi normal?" Karin mendekat, memberikan piring daging mentah yang masih ia bawa. "Nih, buat kenang-kenangan. Mahal nih piringnya."
Vittorio mengambil piring itu dan meletakkannya di atas tempat sampah. "Kita tidak butuh piring itu. Ayo, aku tahu tempat makan yang jauh lebih baik dan tidak akan ada preman yang berani masuk ke sana."
Satu jam kemudian, mereka duduk di emperan depan kost-an Bang Mamat. Di depan mereka tersedia dua bungkus nasi goreng gila dengan ekstra kerupuk dan dua plastik es teh manis.
Vittorio duduk di trotoar dengan jas sobeknya, sementara Karin duduk di sampingnya sambil mengangkat kaki, menikmati angin malam Jakarta yang gerah.
"Nah, ini baru kencan!" ucap Karin sambil menyuap nasi goreng dengan lahap. "Rasanya jauh lebih enak daripada besi basah di gedung tinggi tadi."
Vittorio menyuap nasi gorengnya juga. Aroma bawang putih dan cabai yang kuat terasa jauh lebih jujur di lidahnya. Di tempat ini, ia tidak perlu menjadi Vittorio sang predator atau Arjuna sang pewaris. Ia hanya seorang pria yang sedang makan malam dengan gadis yang paling berisik di dunia.
"Karin," panggil Vittorio.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah menyelamatkan kencan yang gagal ini."
Karin menyenggol bahu Vittorio. "Lain kali kalau mau romantis, cukup bawa martabak ke atas genteng kost-an aja, Jun. Nggak usah pake bahasa Prancis segala. Gue pusing denger eskul pramuka dimakan."
Vittorio tersenyum lebar—senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Malam itu, di pinggir jalan yang berdebu, di bawah lampu merkuri yang berkedip, Vittorio Genovese menyadari bahwa kemewahan sejati bukanlah tentang restoran bintang lima atau pemandangan dari lantai 56. Kemewahan sejati adalah memiliki seseorang yang tetap tertawa bersamamu saat duniamu sedang berantakan.
"Setuju," ucap Vittorio. "Lain kali, cukup martabak."
Mereka berdua menghabiskan nasi goreng itu dalam keheningan yang nyaman, sementara di kejauhan, sirine polisi dan ambulan menuju gedung pencakar langit tadi. Di tengah badai yang siap menerjang esok hari, malam ini mereka memenangkan satu momen kedamaian di atas trotoar Jakarta yang keras.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍