Bagaimana jika Cinta pertama yang kamu pendam selama ini, Tiba-tiba menjadi saudara tirimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.
Pagi ini Senja sudah duduk di meja makan untuk sarapan, hari hari yang sebelumnya dia berusaha menghindari Biru, kali ini dia memberanikan dirinya untuk tidak menghindari Biru, untuk memastikan apakah Biru benar-benar kembali acuh kepadanya seperti saat dulu waktu kedua orang tuanya baru menikah.
“Den sarapan nya udah siap,” ucap Asih saat melihat Biru turun dari tangga.
“Makasih Bik,” ucap Biru yang duduk di bangku nya tanpa memperdulikan keberadaan Senja sama sekali.
Senja yang pura-pura makan sesekali ngelirik ke arah Biru yang terlihat tenang. Saat Biru mau mengambil paha goreng kesukaan nya, Senja mengambil nya duluan.
“Kalian masih aja seperti ipin upin,” celetuk Asih yang selalu jadi saksi mereka rebutan paha goreng pas masih kecil, dan Biru tidak pernah mau mengalah lalu membuat Senja menangis. Begitu juga waktu mereka sudah musuhan dengan tatapan dinginnya Biru akan merebut paha tersebut.
Senja dan Asih mulai mengernyitkan alisnya saat melihat Biru tenang tanpa menghiraukan apapun, dia tetap melanjutkan makannya dengan tenang tanpa menoleh ke makanan kesukaannya dari kecil.
Dengan perlahan tangan Asih mengambil paha yang tersisa ke piring Biru, “apakah aden ada masalah?” Tanya Asih perlahan.
”Nggak kok Bik, hanya saja aku sudah nggak menyukainya lagi,” jawab Biru ambigu tanpa menyentuh paha goreng pemberian Asih. Biru menaruh sendok dan garpu nya, sebagai simbol dia sudah selesai makan, dia meminum air lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
“Aku berangkat bik,” pamitnya lalu bergegas pergi.
“Iya den hati-hati, terus Non Senja bagaimana?” tanya Asih.
“Ada pak Agus,” ucap Biru yang berlengang pergi.
“Anehh…!!” Gumam Asih yang masih kebingungan.
“Masak iya gara-gara gue tampar otaknya langsung geser,” batin Senja. “Tapi gapapa kan, malah bagus, otaknya nggak mesum lagi,” batinnya lagi sambil mengunyah makanannya.
“Non, di jemput temannya,” ucap Agus yang saat ini datang menghampiri Senja.
“Siapa pak?” tanya Senja.
“Mas Brandon,” jawab Agus lalu mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan oleh Asih.
“Sarapan dulu gus,” tawar Asih.
“Nanti aja, sesudah antar Non Senja,” jawab Agus sambil menyeruput kopinya.
“Kayaknya aku berangkat sama temenku deh pak, Pak Agus sarapan aja dulu,” ucap Senja yang sudah selesai makan dan bersiap-siap untuk berangkat. “Bik aku berangkat,” pamitnya ke Asih.
“Iya Non, hati-hati.” Teriak Asih yang sibuk membersihkan meja makan.
“Padahal mereka dulu sedekat nadi lo yaa sih,” ucap Pak Agus sambil menatap kepergian Senja.
“Iya Gus, Sekarang kayak orang asing, meskipun serumah, rindu suasana hangat dulu Gus,” keluh Asih.
“Yoo kan gara gara wanita itu Sih,” jawab Agus.
“Tapi imbasnya ke anak-anak, kasian mereka, kalau Tuan dan Nyonya mah tetap enak, bisa menikah dan bersenang senang, laa anak anak, apalagi Mas Biru jadi dingin dan cuek, seperti nggak ada gairah hidup,” cerocos Asih panjang lebar.
“Tapi heranku itu, kok ya mulus percintaan mereka Sih, padahal yaa hasil mengkhianati istrinya dan sahabatnya sendiri itu,” gerutu Pak Agus yang saat ini flasback ke masa lalu.
“Kata siapa mulus, kalau di rumah tiap malam kerjaannya berantem terus, dengar dengar Tuan ada main sama sekretaris barunya, makanya sekarang si Mirra selalu ikut kalau ada perjalanan bisnis ke luar kota,” jelas Asih dengan muka julidnya.
“Namanya juga hasil nyolong Sih, pasti dia takut juga kecolongan, seperti yang dia lakukan dulu,” ucap Agus sambil terkekeh puas.
“Biarlah karma yang membayar perbuatan mereka berdua,” ucap Asih dengan wajah sendu karena mengingat majikannya dulu.
...----------------...
..."Semoga Suka Ya☺"...
semangat 🙏😍