Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 5: "Satu Ranjang, Dua Dunia, dan Hafalan yang Menggetarkan"
Mobil SUV hitam itu melaju membelah kegelapan jalanan menuju Pondok Pesantren Al-Muammar. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan terasa begitu mencekam. Shania menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat seperti harapan kebebasannya yang baru saja sirna. Di sampingnya, Zain fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang tenang namun pekat terpancar dari pria itu.
"Mas..." suara Shania mencicit pelan, memecah kesunyian.
Zain tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan.
"Mas Zain, soal taksi tadi... aku cuma mau ngetes kamu aja kok. Beneran," dusta Shania, mencoba mencari pembelaan.
"Simpan bicaramu untuk setoran hafalan nanti malam, Shania," jawab Zain dingin tanpa menoleh.
Shania mendengus kesal. Ia tahu kali ini ia benar-benar dalam masalah besar. Tidur satu ranjang? Dengan pria kaku yang hobi ceramah ini? Dan harus membaca satu juz Al-Qur'an? Membayangkannya saja sudah membuat kepala Shania berdenyut. Ia bahkan ragu apakah ia masih ingat bentuk huruf lam dan kaf.
Sesampainya di kompleks rumah mungil mereka, Zain turun dan membukakan pintu untuk Shania. Ia tidak menggandeng tangan Shania seperti biasanya, melainkan hanya memberi isyarat agar istrinya segera masuk. Di ruang tamu, Zain meletakkan kantong belanjaan berisi gamis emerald green tadi ke atas meja.
"Bersihkan dirimu. Shalat Isya, lalu temui saya di kamar. Saya akan menyiapkan kitab dan daftar tugas tambahanmu," perintah Zain.
Shania berjalan gontai menuju kamar mandi. Sambil membasuh wajahnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Ayo Shania, berpikir! Kamu harus bisa bikin dia luluh. Kalau tidur satu kasur, berarti peluangmu buat godain dia makin besar, kan? Anggap aja ini strategi perang," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Tiga puluh menit kemudian, Shania keluar dengan mengenakan piyama panjang berbahan sutra tipis berwarna merah marun. Meskipun menutup aurat, potongan kainnya tetap mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Ia memoleskan parfum vanilla yang sama, berharap atmosfer kamar bisa sedikit mencair.
Zain sudah duduk bersandar di kepala ranjang yang luas. Ia mengenakan sarung putih dan kaos dalam putih yang dilapisi baju koko tipis yang kancing atasnya terbuka. Di tangannya terdapat sebuah mushaf Al-Qur'an dan sebuah buku catatan kecil.
"Duduk di sini!"
Zain menepuk sisi kosong di sebelah kanannya.
Shania menelan ludah, lalu duduk perlahan. Jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, tapi karena intimidasi fisik yang diberikan Zain. Untuk pertama kalinya, ranjang ini terasa sangat sempit.
"Kita, mulai dengan tugas tambahanmu," ujar Zain, membuka buku catatannya.
"Umi, ingin kamu segera berbaur dengan keluarga besar pesantren. Sebagai istri saya, minimal kamu harus tahu dasar-dasar sejarah nabi. Hafalkan 25 Nabi dan Rasul sesuai urutan, beserta mukjizat utama mereka. Besok sore, saya akan tes sebelum kita berangkat ke Jombang."
"Dua puluh lima?! Mas, aku ini anak IPS, bukan anak sejarah peradaban kuno!" protes Shania.
"Ini bukan sejarah kuno, ini akar imanmu," potong Zain tegas.
Ia lalu menyodorkan mushaf Al-Qur'an yang terbuka pada Juz 1, Surah Al-Baqarah.
"Sekarang, baca. Saya tidak menuntut kelancaran, tapi saya menuntut kemauan."
Shania menerima kitab suci itu dengan tangan bergetar. Ia mulai mengeja.
"A... Alif... laam... miiim..."
Suaranya terbata-bata. Setiap kali ia salah—yang mana terjadi hampir di setiap baris—Zain akan membetulkannya dengan sabar namun tegas.
"Bukan Dzallika, tapi Dzaalikal kitaabu laa raiba fiih. Tekan di bagian mad-nya," bisik Zain, suaranya kini tepat di samping telinga Shania.
Shania mencoba mengikuti. Namun, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Dua jam berlalu, dan mereka baru sampai di pertengahan juz pertama. Shania mulai sering salah ucap, matanya pun mulai terpejam-pejam.
"Mas... capek..." gumam Shania.
Tanpa sadar, kepalanya terkulai dan jatuh tepat di bahu kokoh Zain.
Zain terdiam. Ia menghentikan bacaannya. Aroma vanilla dari rambut Shania menyeruak, menggoda pertahanan yang selama ini ia bangun dengan dzikir. Ia menoleh sedikit, melihat wajah Shania yang tampak polos saat tidur—sangat berbeda dengan wajah pemberontaknya di siang hari.
Zain menghela napas panjang. Ia menutup mushaf itu, meletakkannya di nakas, lalu dengan perlahan membaringkan tubuh Shania di bantal. Ia menyelimuti istrinya hingga sebatas dada.
"Kamu, adalah ujian terberat sekaligus amanah tercantik yang Allah kirimkan untuk saya, Shania," bisik Zain pelan.
Ia mengusap dahi Shania sebentar sebelum mematikan lampu tidur dan merebahkan diri di sisi lain ranjang, memberikan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
Namun, ketenangan malam itu tak berlangsung lama. Zain, yang baru saja mencoba memejamkan mata sambil merapalkan zikir untuk menenangkan gejolak di dadanya, tiba-tiba tersentak.
Shania, yang dalam keadaan sadar adalah pemberontak yang lincah, ternyata dalam keadaan tidur adalah sosok yang "tidak bisa diam". Ia mulai berbalik ke arah Zain. Awalnya hanya pergerakan kecil, namun lama-kelamaan kakinya mulai menindih kaki Zain.
Zain menahan napas, mencoba tetap mematung. Namun, Shania justru semakin merapat mencari sumber kehangatan. Tangan mungilnya mulai meraba-raba, bergerak tak beraturan di atas dada bidang Zain yang terbalut baju koko tipis.
"Astagfirullah..." desis Zain pelan, tubuhnya menegang kaku seperti papan selancar.
Jari-jemari Shania tidak berhenti di situ. Dalam igauan tidurnya yang nyenyak, tangannya terus bergerak turun, meraba pinggang hingga menyentuh area-area sensitif yang membuat pertahanan batin Zain serasa diguncang gempa tektonik.
Sentuhan itu polos, tanpa maksud, namun efeknya luar biasa dahsyat bagi pria dewasa seperti Zain.
Zain segera menangkap pergelangan tangan Shania sebelum jemari itu bergerak lebih jauh. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia bisa merasakan deru napas Shania yang teratur di lehernya, sementara tangannya harus berjuang menahan tangan istrinya agar tidak "menjelajah" lebih jauh ke daerah terlarang.
"Shania... bangun... atau setidaknya diamlah," bisik Zain dengan suara serak, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Shania yang sudah terlelap ke alam mimpi.
Zain akhirnya terpaksa memposisikan dirinya membelakangi Shania, sambil tetap memegang tangan istrinya agar terkunci di balik punggungnya sendiri. Malam itu, bagi Zain, terasa lebih lama dari malam-malam iktikaf di masjid. Menghadapi godaan wanita yang sedang sadar mungkin mudah baginya, tapi menghadapi "serangan" bawah sadar dari istri yang tidurnya sangat berantakan ini benar-benar ujian nyali yang menggetarkan iman.
“Keesokan Harinya: Ujian di Depan Singa Pesantren”
Pagi hari di pesantren dimulai dengan kegaduhan yang teratur. Suara ribuan santri yang mengaji setelah subuh terdengar seperti dengungan lebah yang menenangkan. Shania terbangun dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan rapi. Hanya ada secarik kertas di atas bantal Zain:
"Hafalkan 25 Nabi. Saya tunggu di perpustakaan jam 4 sore. Jangan mencoba ke gerbang lagi, atau hukuman berikutnya adalah menghafal satu kitab Aqidatul Awam."
Shania mendengus, namun ia mulai membaca catatan yang ditinggalkan Zain.
Nabi Adam AS: Manusia pertama, diciptakan dari tanah.
Nabi Idris AS: Manusia pertama yang menulis dengan kalam (pena).
Nabi Nuh AS: Membuat bahtera raksasa saat banjir besar.
Nabi Hud AS: Selamat dari badai angin topan yang menghancurkan kaum 'Ad.
Nabi Shaleh AS: Memunculkan unta betina dari dalam batu besar.
...
Nabi Muhammad SAW: Al-Qur'anul Karim, membelah bulan, dan peristiwa Isra Mi'raj.
Sepanjang hari, sambil membantu Umi Zainab di dapur ndalem—yang sebenarnya lebih banyak Shania hanya memperhatikan—ia komat-kamit menghafal. Umi Zainab yang melihat menantunya begitu serius hanya tersenyum simpul.
"Nak Shania, Zain itu memang keras kalau soal ilmu. Tapi itu karena dia sayang. Dia ingin kamu punya bekal yang kuat," ujar Umi sambil mengaduk opor ayam.
"Sayang atau emang hobi nyiksa orang, Mi?" gerutu Shania pelan, yang disambut tawa kecil oleh Umi.
Pukul 4 sore tepat, Shania melangkah menuju perpustakaan. Ia mengenakan gamis pemberian Umi yang berwarna biru langit. Di dalam, Zain sudah menunggu, duduk di antara tumpukan kitab kuning.
"Siap?" tanya Zain tanpa basa-basi.
Shania duduk bersila di depan Zain.
"Siap. Tapi kalau aku berhasil, ada imbalannya nggak?"
"Apa yang kamu mau?"
"Boleh pegang HP selama di perjalanan ke Jombang besok tanpa diawasi," tawar Shania nakal.
Zain berpikir sejenak.
"Deal. Mulai dari urutan pertama."
Shania menarik napas dalam-dalam.
"Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman..."
Shania menjeda, dahinya berkerut mengingat urutan setelah Sulaiman.
"Siapa yang bisa bicara dengan burung dan menguasai jin?" pancing Zain.
"Itu Sulaiman! Terus... Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, dan... terakhir Nabi Muhammad SAW!"
Shania berseru girang.
"Mukjizatnya?"
Shania menjelaskan satu per satu dengan bahasanya sendiri yang sedikit "gaul", namun inti pesannya tersampaikan. Zain mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan koreksi pada detail mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak hangus dibakar api atau mukjizat Nabi Musa yang membelah lautan.
"Bagus. Kamu punya daya ingat yang kuat, Shania. Sayang jika hanya digunakan untuk menghafal plat nomor motor balap atau lirik lagu galau," puji Zain tulus.
Shania tersipu. Pujian Zain selalu terasa lebih berharga daripada likes di Instagram-nya.
"Jadi, HP-ku mana?"
Zain mengeluarkan ponsel Shania dari sakunya.
"Hanya selama di mobil. Dan ingat, satu saja unggahan yang memperlihatkan auratmu atau lokasi pesantren ini, kesepakatan batal."
“Malam Sebelum Keberangkatan: Kejutan di Kamar”
Malam itu, sesuai hukuman, Shania kembali tidur satu ranjang dengan Zain. Tugas hafalan juz 1 berlanjut. Namun kali ini, suasana tidak setegang malam sebelumnya. Shania merasa sedikit lebih rileks karena berhasil memenangkan tantangan hafalan nabi.
"Mas," panggil Shania saat mereka sudah bersiap tidur.
"Hmm?" Zain sedang membaca buku dalam cahaya redup.
"Kenapa Mas mau nikah sama aku? Maksudku... Mas kan ustadz besar di sini, bisa dapet santriwati yang cantik, shalihah, pinter ngaji. Kenapa milih anak nakal kayak aku?"
Zain menutup bukunya perlahan. Ia menoleh ke arah Shania yang sedang menatap langit-langit kamar.
"Karena pernikahan bukan cuma soal mencari yang sudah jadi, Shania. Tapi tentang siapa yang mau berproses bersama menuju Jannah."
Zain menjeda, suaranya melembut.
"Abah dan Papamu punya janji. Tapi di atas itu, saya melihat ada kejujuran di matamu saat pertama kali kita bertemu. Kamu memberontak karena kamu belum tahu manisnya iman. Saya hanya ingin menjadi orang yang mengenalkan rasa manis itu padamu."
Shania terdiam. Kalimat Zain menghujam jauh ke lubuk hatinya yang terdalam. Tanpa sadar, ia memiringkan tubuhnya menghadap Zain. Jarak mereka kini hanya beberapa puluh sentimeter.
"Tapi kalau aku tetep nggak bisa berubah dalam sebulan? Mas beneran bakal ceraiin aku?"
Zain menatap mata cokelat Shania dengan dalam. Ada pergulatan batin di sana.
"Tugas saya adalah berusaha. Hasilnya ada di tangan Allah. Tapi ingat satu hal, Shania... jika saya sampai jatuh cinta padamu, itu bukan karena kecantikan fisikmu yang kamu pamerkan, tapi karena keindahan jiwamu yang mulai tumbuh di sini."
Zain mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu akhirnya memberanikan diri mengusap kepala Shania dengan lembut.
"Tidurlah. Besok perjalanan jauh."
Shania menutup matanya, merasakan hangatnya tangan Zain. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan cara untuk kabur. Ia justru bertanya-tanya, apakah hukuman tidur satu ranjang ini sebenarnya adalah hukuman untuk Shania, atau justru ujian bagi keteguhan hati Zain?
Di sisi lain, Zain berulang kali merapalkan istighfar dalam hati. Jantungnya berdegup lebih kencang dari saat ia memberikan ceramah di depan ribuan orang. Ia sadar, belenggu mahar ini perlahan-lahan mulai mengikat hatinya sendiri.
“Malam yang Semakin Menguji Batas”
Lampu kamar telah dipadamkan, menyisakan keremangan dari cahaya bulan yang menyusup di celah gorden. Zain baru saja akan terhanyut ke alam mimpi setelah pergulatan batin yang melelahkan seharian. Namun, ketenangan itu kembali terus terusik.
Shania, yang sudah tertidur pulas, mulai bergerak gelisah. Seolah mencari perlindungan dari mimpi buruk atau sekadar mencari kehangatan di tengah dinginnya AC kamar, ia kembali merapat. Kali ini, gerakannya lebih intens. Kaki mungilnya sudah mengunci pergelangan kaki Zain, sementara tubuhnya meringkuk tepat di dekapan pria itu.
Zain mencoba menghela napas panjang, berulang kali melafalkan doa agar hatinya tetap tenang. Namun, tangan Shania mulai "beraksi" secara tidak sadar. Jemarinya yang lentur bergerak perlahan, merayap dari dada bidang Zain, naik ke leher, lalu turun kembali melewati kancing baju koko yang terbuka.
Sentuhan itu lembut, namun terasa seperti aliran listrik yang menyengat bagi Zain. Ia berusaha memegang tangan Shania untuk menghentikannya, tapi kali ini Shania justru menggeliat. Dalam tidurnya yang dalam, tangan Shania meluncur ke bawah, melewati batas pinggang, dan... hap.
Jari-jemari mungil itu mendarat tepat di area paling sensitif milik Zain.
Zain tersentak hebat. Matanya membelalak lebar dalam kegelapan. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya. Sentuhan itu—meski dilakukan tanpa kesadaran oleh Shania—terasa begitu nyata dan menghancurkan seluruh benteng pertahanan zikir yang ia bangun sejak tadi.
"A-astagfirullah... Shania..." desis Zain dengan suara yang tertahan di tenggorokan, serak dan penuh tekanan.
Ia segera menyambar pergelangan tangan Shania dengan gerakan cepat namun tetap berusaha lembut agar tidak mengejutkan istrinya hingga bangun. Ia menarik tangan itu menjauh, namun Shania justru meracau kecil,
"Dingin..." dan malah semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zain, membuat napas hangatnya menerpa kulit Zain secara langsung.
Zain memejamkan mata rapat-rapat, giginya bergeletuk menahan gejolak yang sangat manusiawi namun sangat menguji imannya sebagai seorang pemuka agama. Ia sadar, "belenggu" yang ia ciptakan melalui mahar ini ternyata adalah pedang bermata dua. Ia bermaksud menjinakkan keliaran Shania, namun kini, ia sendirilah yang merasa terbelenggu oleh hasratnya sendiri di bawah kuasa tidur sang istri yang "bar-bar".
Malam itu, Zain benar-benar tidak bisa tidur. Ia menghabiskan sisa malam dengan duduk di tepi ranjang setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan Shania, memandangi sang istri yang tidur dengan sangat tenang seolah tidak baru saja melakukan "kejahatan" yang menggetarkan iman suaminya.
Bersambung ....
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething