Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Toko
"Enggak, Nyak. Udah sepi."
"Ya, elu ke tokonya aja. Kali, masih sempet bantu-bantu."
"Di mana, Nyak?"
"Jalan Mawar. Deket kok dari sini."
Collins melongo. 'Jalan Mawar? Bukankah rumah Ustadzah itu di jalan Mawar? Ternyata deket dari sini ya.'
Melihat Collins terdiam, Enyak menepuk kedua tangannya di depan wajah Collins. "Hei! Die malah bengong ...."
Tentu saja pria itu tersadar seketika. "Eh, iya, Nyak. Ntar dulu. Bara bersihin motor Babe dulu." Ia menarik kursi dan mencoba meneguk minuman yang dibuat enyak. "Eh, ini jamu?"
"Ya ... bisa dibilang begitu. Ngak suka?"
"Ngak. Enak, Nyak!" Collins terlihat bersemangat dan mengambil sendok, tapi ia melihat lauk dengan kecewa. "Gak ada semur jengkol lagi, ya Nyak?"
****
Hujan telah berhenti. Collins akhirnya menemukan toko yang diterangkan Enyak padanya. Sebuah toko sembako yang tidak besar. Ia menghentikan motornya di depan ketika melihat Babe sedang melayani pembeli.
"Oh, lu dah pulang, Bara?" sahut babe ketika pembeli pergi.
"Udah, Be. Kalo hujan, sepertinya pembeli gak banyak jadi cepet tutup." Collins turun dan menyambangi pria paruh baya itu.
"Kalo gitu, lu bantu babe bentar. Agak sorean kita ke padepokan. Lu apalin dulu dah, harga-harga barang di marih." Babe melihat Collins memakai sendal jepit miliknya yang kekecilan karena kaki Collins yang besar. "Eh, sepatu lu basah ye?" Ia menengok ke atas mencari sesuatu dan menariknya. Sebuah sendal yang masih dibungkus plastik. "Coba dah! Ini ukuran lu, kali."
Collins membuka bungkusnya dan mencoba. Ternyata pas. "Berapa, Be? Aku beli." Ia merogoh kantong celana.
"Udah, gak usah! Babe kasih."
"Tapi, Be ... Bara punya uang." Collins mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya.
"Udah, simpen aja. Mulai sekarang lu kerja pakai sendal aje. Jangan pake sepatu, emang lu kerja kantoran?"
"Iya, Be."
"Mungkin untuk traktir pacar lu."
"Pacar?" Terlintas wajah wanita cantik itu kembali di benaknya. Bukankah wanita itu tinggal di daerah ini? "Be, deket sini katanya ada ustadzah ya."
"Ustadzah? Untuk ape?" Babe melirik penuh curiga. "Oh, lu pasti ada yang lu incer nih ...." Pria itu menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Collins. "Siape?" Dagunya terangkat.
Ditanya begitu, Collins langsung panik dan menghindar. "Oh, hanya tanya aja ...," gumamnya pelan, salah tingkah. Ia mengusap belakang kepalanya sambil melengos ke samping.
"Gue tau ape yang ada dipikiran lu!" Babe menunjuk wajah Collins dengan senyum nakal. "Ustadzah Aida, pan?"
'Ustadzah Aida? Apa itu namanya?'
"Yang pake tongkat dan paling cantik di marih cuma die. Iye, pan?" Pria paruh baya itu menunjuk wajah Collins dengan senyum lebar sambil kepala condong ke depan.
Collins kembali mengusap belakang kepala dengan kaku. Ia bingung bagaimana Babe bisa menebak dengan benar, tapi ia tetap menyangkalnya. "Eh, enggak, Be. Aku lihat di pasar ada perempuan pakai tongkat, orang-orang manggil dia 'Ustadzah'."
"Iya! Satu-satunya orang yang pakai tongkat di marih ya ... ustadzah Aida."
"Oh, begitu."
"Iya. Yang naksir die juga banyak. Die sendiri juga suka digodain ama anak muridnye. Cantik sih. Die juga ngajar di MTS depan entuh." Babe menunjukkan arah.
"Hah? MTS ..!?"
"Setingkat SMP. Udeh lama."
"Dia ngajar sekolah biasa?" Collins tercengang. "Bukannya dia buta?"
"Babe denger die ngajar untuk yang hafizh qur'an."
"Hafizh qur'an?" Collins menelan ludah.
"Iya. Untuk yang ingin hapal Alquran. Die cukup dihormati di marih walaupun udah gak punya orang tua."
"Yatim piatu?"
"Iye. Die sempat dibesarin ama paman dan bibinye yang kemudian almarhum. Sekarang die tinggal ama sepupunye, bedua."
Collins takjub. Ia tak menyangka wanita itu punya banyak kepandaian walaupun buta. Ia bahkan merasa tak sebanding dengan kemandirian Aida. "Oh." Collins menunduk malu.
"Tapi die gak langganan di warung enih. Die langganan di warung sono, dekat rumahnye." Babe bisa melihat Collins tertarik dengan Aida, walau tampak ragu-ragu. "Hei!" Ia menyenggol lengan Collins. "Lu naksir die pan?"
Collins hanya tersenyum lebar. Ia tak berani berandai-andai karena yakin kalah ilmu.
"Jangan pacaran. Kalo serius, lamar!"
"Aku cuma tanya doang, Be." Collins tak berani terus terang karena melihat wajah Babe yang berubah galak.
Babe menahan senyum. Collins memang terlihat lugu. Karena itulah babe berani membawanya ke rumah. Sikap sopan Collins dan hanya bicara kalau ditanya, membuat ia terlihat seperti anak hilang dibanding anak yang kabur dari rumah. "Sesuatu yang diperuntukkan Allah untuk lu, die gak akan ke mane. Lu gak usah pusing mikirinnye. Die pasti akan datang untuk lu."
Collins mengerut dahi dan berpikir. "M—maksudnya bagaimana, Be?" Ia tak mengerti perkataan Babe.
Babe menepuk-nepuk bahu Collins dengan senyum di kulum. "Udeh, kerja aje. Lelaki tuh harga dirinye karena bisa cari napkah. Tapi kalo sore gini, die biasanye ngajar ngaji anak-anak tuna rungu di sono." Babe menunjuk arah berbeda.
Collins terdiam. Dibanding dirinya yang hanya hidup mendompleng nama orang tua, baginya wanita ini luar biasa. Apakah orang seperti itu mau dengan dirinya, pria cengeng yang hidup dari belas kasihan orang tuanya? Tanpa orang tua, dia bukanlah siapa-siapa.
'Aida. Namanya mirip nama ibuku, Aiko. Dia begitu tinggi, tapi ... aku begitu ingin mengenalnya.' Collins tak bisa menepis perasaan pedulinya.
****
Collins terkejut ketika masuk ke padepokan. Ia baru mengerti apa yang dimaksud padepokan oleh Babe. Sebuah tempat perguruan pencak silat. Collins baru sadar kenapa para pemabuk yang tempo hari menahannya itu takut melihat Babe. Babe adalah guru silat di perguruan itu.
"Ayo, Bara. Ikut!" ajak Babe.
Collins tentu saja terkejut. "Ah, enggak, Be. Aku nonton aja."
"Eh, enggak pake!" Pria paruh baya itu menarik lengan Collins. "Ayo, ikut! Laki-laki harus bisa ini. Gimana mau lindungi orang yang lu sayang, kalo begini aja lu kagak bisa!"
"Tapi, Be. Aku gak suka kekerasan ...." Collins berdalih.
"Ngak bisa!" Babe tetap menarik kerah baju Collins di belakang agar ikut.
****
Enyak langsung mengintip keluar ketika mendengar suara motor di halaman. Terlihat babe dan Collins masuk ke dalam rumah. Collins tampak mengaduh-aduh sambil berjalan sedikit pelan.
"Nape lu?" Kedua alis Enyak terangkat.
Babe hanya tertawa cekikikan. "Masa, baru belajar beberapa jurus aje langsung sakit pinggang, Nyak!" ledeknya.
"Babe ... aku 'kan udah kena banting beberapa kali," keluh Collins dengan wajah meringis.
Terdengar tawa Ipah. Wanita itu menghampiri Collins dan menyentil dahinya.
"Aduh!" sekejap, kedua mata Collins terpejam.
"Lu jangan malu-maluin jadi adek gua!" Ipah bertelak pinggang.
"Siapa yang malu-maluin, sih? Kamu 'kan gak lihat, mereka pada jago banting orang!" Terang pria bermata sipit itu kesal.
"Ipah mah udah sering jadi lawan mereka kalo mau ikut pertandingan," imbuh Enyak.
Kalimat ini makin membuat Collins tak punya muka di hadapan ketiganya. Dengan dongkol ia bergegas ke kamar. Makin takut saja pria itu pada Ipah.
"Bara! Jangan lupa mandi. Bentar lagi ke mesjid bareng Babe, sholat magrib," teriak Enyak.
Collins berbalik dengan wajah memelas. "Nyak ...." Ia ingin istirahat di kamar karena badannya terasa remuk.
"Ntar Enyak bikinin air anget buat mandi, ye?" bujuk enyak.
Collins tak bisa menghindar. Ia hanya bisa menghela napas panjang.
Bersambung ....