Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, suara musik masih terdengar. pesta sudah selesai namun beberapa tamu undangan masih menikmati alunan musik, tak ada keributan, tak ada minuman keras. Mereka benar benar menikmati pesta.
Dalam rumah, dua keluarga yang baru saja menjadi satu sedang duduk berhadapan, Gavin dengan wajah yang murung, Elfa bersandar di tubuh Steven yang sekarang telah resmi menjadi suamimu.
"Aku ingin sekali memukul wajah laki laki brengsek itu.." tiba-tiba Gavin bicara.
"Untuk apa Jagoan ? Biarkan saja dia seperti itu...dia sudah sangat terpukul. Ayah rasa itu sudah cukup.."
"Tapi ayah, aku tidak suka melihat dia, tanpa dosa dia datang ke tempat ini dan memperkenalkan dirinya sebagai ayah kandung...ha....gila "
Elfa menarik nafas panjang, ia tidak bisa lagi marah, dia merasa tubuhnya lemas. Dia mengingat bagaimana terkejutnya dia saat melihat Aditya, duduk tersungkur di bawah kaki Gavin.
Elfa tidak menyangka Aditya akan melakukan hal senekat ini, Elfa lupa satu hal... dia tidak memeriksa ponselnya. Dia tidak membuka pesan dari Hendra. Elfa sibuk dengan persiapan pernikahannya.
Elfa ingat dengan jelas kejadian beberapa jam yang lalu..
Suara MC terus menerus menggema di pesta yang hampir selesai, satu persatu tamu tamu maju memberikan ucapan selamat, Steven dan Elfa sangat bahagia..
Tidak lama kemudian, Gavin berjalan mendekati Steven.. "Aku pengen ucapkan terima kasih untuk ayah, terimakasih telah menemani aku dari dalam kandungan, menemani langkah pertama ku dan menjadi ayahku.. sekarang, aku benar benar jadi anak ayah..Tuhan mendengar doa ku, Ayah.... mulai hari ini, aku berjanji..aku akan menemani ayah hingga hari tua ayah, dan pastinya di samping ayah ada ibu juga.. Terimakasih sudah menjadi ayah dan ibuku..."
Steven, Elfa dan ibu mereka tak kuasa menahan air mata. Bahkan di belakang kursi tamu Undangan, Hendra berkali kali mengusap air matanya.
Bagaimana Aditya..? Setiap kata kata yang keluar dari mulut Gavin, bagaimana kan, pisau yang merobek sedikit demi sedikit daging di tubuhnya. Aditya menatap lekat foto copy dirinya di atas sana.
Suara Gavin yang sopan dan jernih, kata kata yang ia ucapkan. Kata ayah yang keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhnya bergetar.. Aditya tidak kuat, ia ingin berlari mendekat dan memeluk Gavin. Tapi..kakinya, lagi lagi tak bisa di gerakan.
"Tuan....."bisik Hendra memanggil Aditya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Aku tidak apa-apa.."
_____
Gavin masih berdiri di antara Steven dan Elfa, ia berdiri memeluk pria yang ia sebut ayah..
Aditya melihat satu persatu tamu tamu mulai meninggalkan pesta pernikahan. Dengan langkah kaki yang berat, Aditya berjalan ke depan.
"Tuan... apakah anda yakin ?"
Aditya mengangguk...
Jarak mereka semakin dekat, jantung Aditya juga berdetak semakin kencang. Aditya merasakan lututnya gemetar. Beberapa pasang mata melihat dan mereka berbisik.
"Lihat wajah pria itu, mirip sekali dengan Gavin.."
"Apakah dia ayah kandung Gavin..."
"Ya Tuhan... mereka seperti dua orang yang sedang bercermin, melihat diri mereka yang sama..."
"Hei lihat, Gavin menatap dingin pada pria itu...ada apa..."
Aditya tidak perduli dengan kata kata semua tamu undangan. Tatapannya tidak lepas sama sekali dari wajah Gavin. Dua sosok beda usia sama sama saling menatap, Gavin menatap tajam pada Aditya sedangkan Aditya menatap dengan tatapan memohon.
Tiba-tiba air mata yang sejak tadi ia tahan, tanpa ia inginkan, jatuh di pipinya. di belakang Aditya, Hendra tetap siaga mengikuti Aditya.
Steven menggenggam tangan Elfa "Biarkan jagoan kita menyelesaikan ini.." Bisik Steven---
Elfa hanya tersenyum, namun dia merasakan tubuhnya menegang.
"Nak...."
"Tidak apa-apa Bu... Gavin tahu apa yang harus aku lakukan "
Aditya mendekat dan tiba-tiba saja, dia jatuh tersungkur di depan kaki Gavin..
"Nak....ak...aku ayah mu, ayah kandungmu.."
Seluruh tubuh Elfa gemetar, Gavin mengepalkan tangan, Steven terkejut. Kedua ibu mereka menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
Hendra sampai merasa tubuhnya lemas.
Di sana, Aditya sedang duduk bersimpuh di bawah kaki Gavin. Merapatkan kedua tangannya di dada. Menatap, memohon.. Air matanya mengalir begitu deras tanpa lagi bisa di tahan.
"Tuan... Apa yang anda lakukan..?" Suara Hendra yang serak tidak berarti apa-apa.
Jika saat ini Aditya sadar, dia tidak akan menyangka bahwa saat ini. Dia duduk bersimpuh di bawah kaki Gavin.
Gavin mengangkat kepalanya, melihat semua tamu undangan yang melihat ke arahnya. Tak ada tatapan meremehkan, tak ada tatapan menghina. semua melihat Gavin dengan tatapan sendu. Gavin tersenyum pada tamu tamu yang masih ada.
Kemudian ia melihat Aditya, matanya menyipit..." Ayah..? Ayah kandungku..?" Aditya mengangguk perlahan.
"Siapa yang mengatakan, bahwa anda ayah kandung ku..?" pertanyaan itu seperti sembilu yang menyayat hati.
Gavin menggeleng " aku tidak punya dua ayah.. Siapapun anda, sebaiknya anda pergi dari sini. Anda sudah merusak pernikahan ibuku.."
Aditya melirik Elfa yang menatap tanpa kedip padanya.
"Kamu akan merangkak di bawah kakiku, memohon ampunan saat kau sadar bahwa hanya darah daging dari rahimku ini yang pernah kau miliki"
Aditya mengingat sumpah itu, kata kata itu..kini dia yang duduk di bawah kaki Gavin, dia yang memohon.
"Tuan... Bangun lah tuan, Jangan lakukan ini.." Hendra iba melihat Aditya seperti ini. Dia tidak pernah menyangka Aditya akan menjatuhkan harga dirinya di tempat ramai seperti ini, Aditya benar benar melakukan apa yang di katakan nya
"Maaf kan ayah nak... ampuni ayah.."
"Kau bukan ayah ku....aku tidak memiliki ayah yang bajingan seperti mu... aku membencimu. Bahkan jika Tuhan memberikan aku hati yang bisa memaafkan tapi untukmu dan semua keturunan mu, akan ku benci seumur hidupku. Aku tidak mau tahu siapa kamu.. Pergi dari sini, sebelum aku menyeret mu keluar dari sini.."
Elfa sangat terkejut, Ia melihat Gavin.. seperti bukan Gavin dengan usia yang masih terlalu muda. Elfa melihat tatapan dendam dan benci di mata Gavin.
"Steven.....suruh dia pergi, aku tidak ingin Gavin melakukan hal yang membahayakan dia "
"Maaf pak, sebaiknya anda pergi dari sini... di sini bukan tempat anda.." Steven memanggil beberapa pemuda, mereka mendekati Aditya.
"Silahkan anda pergi, tuan" Kata salah satu pemuda tadi.
Sebelum Aditya bangun berdiri. Gavin mendekat sedikit lagi, cukup dekat untuk membuat Aditya melihat sorot mata Gavin.
"Kau menolak ku, membuang ku dan ingin melenyapkan aku..! kau tidak pantas di sebut Ayah, Haram bagimu memiliki seorang anak.. panggilan ayah tidak akan pernah kau dengar, ingat itu dan itu sumpah ku" Kata Gavin lirih, tenang tanpa emosi, terlihat cukup jelas sebuah seringai di sudut bibir Gavin. Bahkan Hendra bisa melihat..
Ini tempat pesta dengan suara musik, suara tamu undangan yang tadinya berbisik, tiba tiba hening, Aditya merasa seperti tercekik, Air matanya semangat deras, dia tidak malu. Dia merasa, semesta benar benar telah mengutuk nya.
"Silahkan anda pergi, pak..."
"Tuan, ayo kita pergi..aku mohon jangan seperti ini.."
Menyedihkan, seperti itulah penampilan Aditya saat ini.
Aditya melangkah meninggalkan tempat itu, penampilannya berantakan. Dia bagaikan tubuh yang tak bernyawa. Hendra berjalan beringin, mengikuti langkah kaki Aditya yang sangat lemah menuju mobil mereka.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?"
Hendra menghela nafas...
"Tuan, aku tidak tahu apakah tuan.. Mau.mendengar kata kata ini. tapi, tuan... lakukan cara ini saja "
"Apa maksud kamu Hendra...?"
"Permintaan maaf tuan, tidak berarti apapun untuk Gavin.. A..anak tuan itu. Semakin tuan meminta maaf, kebenciannya terhadap anda semakin besar. Dia masih anak anak, bagaimana pun..dia akan luluh suatu saat nanti..Tuan hanya perlu waktu dan dekati Gavin sedikit demi sedikit.." Hendra merasa kasihan melihat Aditya. Seperti apapun perlakuan Aditya dulu, tapi saat melihat Aditya yang tersungkur di bawah kaki Gavin, ia tidak tega melihat.
Aditya diam bersandar pada kursi mobil, Ia merenungkan kata kata Hendra.
"Walaupun Gavin, terus menolak. Tuan jangan menyerah. Anda sudah minta maaf, entah bagaimana Tuhan mengembalikan semua nya, tunjukkan lah pada Gavin.. Bahwa tuan, adalah Ayah nya "
.
.
.
Next....
Chelsea kl km ingin anak cerai lah ma Aditya 🤣😁. tp km kn bucin pingin anak biar jd pewaris semua harta.
tp kn orang kaya hrse bisa dong cerai dng Aditya 🤣🤭.