Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Muda Keren yang Tidak Tahu Malu
Tanpa ragu sedikit pun, Li Fan melompat menerobos jendela kayu kedai yang tertutup rapat. Bunyi kayu hancur berkeping-keping terdengar keras. Jin Tianyu mengikuti di belakangnya tanpa rasa takut, masih memegang sepotong paha ayam panggang di tangan kanannya sebagai bekal. Mereka berdua melayang turun dan mendarat dengan mulus di halaman batu luas yang berada tepat di bawah kedai.
Wang Hu yang akhirnya berhasil membersihkan sisa daging panas lengket dari wajahnya meraung dengan kemarahan yang bisa membakar hutan.
“Kejar bangsat itu! Jangan biarkan mereka lolos hidup-hidup!”
Rombongan preman itu berbondong-bondong melompat dari jendela yang hancur, berlari menuruni tangga luar dan langsung mengepung Li Fan dan Jin Tianyu di tengah halaman luas. Keributan besar itu segera memancing ratusan calon murid lainnya untuk keluar dari asrama. Mereka berkumpul membentuk lingkaran besar, menonton dari balkon, tangga, atau bersandar di jendela, termasuk Lin Xueyan yang kini menatap tajam dari ambang jendela kedai di lantai dua.
“Tamat riwayatmu sekarang, Tuan Muda Ma!” geram Wang Hu sambil melompat ke depan dan mengayunkan golok besarnya ke arah leher Li Fan dengan niat membunuh yang nyata.
Bukannya panik atau mundur berlindung, Li Fan justru tersenyum miring. Ia sama sekali tidak mengeluarkan sehelai pun benang Qi spiritual dari Sembilan Nadi Surgawinya. Menggunakan kultivasi melawan manusia fana rendahan seperti ini adalah sebuah penghinaan bagi gelar Anak Dewa miliknya di masa lalu. Ia murni menggunakan kelenturan dan kekuatan otot fana yang telah ia sempurnakan tadi malam.
Saat mata pisau golok berkarat itu hampir menebas lehernya, tubuh Li Fan merunduk dengan gerakan yang sangat licin bagaikan ikan meliuk di dalam air. Tangan kanannya meluncur ke depan dengan kecepatan kilat dan menampar punggung tangan Wang Hu dengan teknik akurat yang memukul titik saraf mati.
Sebuah bunyi plak yang nyaring terdengar. Wang Hu berteriak kesakitan hingga goloknya terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di atas batu. Sebelum preman besar itu menyadari apa yang terjadi, kaki kiri Li Fan sudah menyapu pergelangan kakinya dari bawah, membuat Wang Hu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang memakan debu tanah.
“Kuda-kudamu terlalu lebar, dasar idiot! Kau sedang bertarung atau sedang bersiap buang air besar?” ejek Li Fan dengan nada suara yang sangat menjengkelkan. Ia lalu melompat mundur dengan elegan untuk menghindari sabetan tongkat kayu panjang dari dua preman lainnya.
Di sisi lain, Jin Tianyu bertarung dengan gaya yang jauh lebih brutal dan liar. Ia menggunakan tenaga kasarnya yang baru saja mengalami peningkatan drastis setelah berhasil membuka gerbang nadi pertama. Saat seorang preman berbadan kekar meninju wajahnya, Jin Tianyu sama sekali tidak menghindar. Ia menyambut pukulan itu dengan dahi kerasnya.
Bocah preman itu langsung menjerit melengking sambil memegangi buku jari kanannya yang terasa seperti baru saja meninju balok baja murni. Memanfaatkan celah itu, Jin Tianyu membalas dengan ayunan paha ayam panggangnya yang masih bertulang keras, menghantamkannya tepat ke pangkal hidung preman tersebut hingga darah segar muncrat keluar.
Pertarungan itu seharusnya menjadi sebuah insiden pengeroyokan tragis yang mematikan. Namun, di bawah kendali dan ritme Li Fan, peristiwa itu berubah menjadi pertunjukan komedi bela diri yang sangat memalukan bagi pihak penyerang.
Li Fan bergerak menari di antara sepuluh orang bertubuh besar itu bagaikan seorang guru bela diri dewasa yang sedang mendisiplinkan sekelompok anak balita yang sedang rewel dan tantrum. Setiap kali ada senjata yang mengayun ke arahnya, ia hanya menghindar dengan langkah santai seolah sedang berjalan-jalan di taman bunga. Lalu ia membalas serangan mereka dengan tamparan keras di pipi, tendangan telak di pantat, atau jeweran telinga yang sangat menyakitkan hingga membuat musuhnya menangis.
“Pukulanmu terlalu lambat dan lemah! Apakah ibumu lupa memberimu sarapan pagi ini?” ucap Li Fan sambil mendaratkan tamparan keras.
Plak!
“Ayunannya terlalu tinggi ke atas! Kau ingin memotong awan atau membunuh burung gagak?” komentarnya sambil menyandung kaki lawannya.
Buagh!
“Ah, wajahmu terlalu jelek saat marah, aku jadi salah fokus dan tidak sengaja memukul hidungmu.” Li Fan tertawa sambil meninju perut preman lainnya.
Beagh!
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, debu yang mengepul di halaman luas itu perlahan mereda. Pemandangan yang tersisa adalah tubuh-tubuh preman berbadan besar yang terkapar mengerang kesakitan di atas tanah berlumpur. Wang Hu pingsan dengan posisi memalukan menungging ke langit, sementara Zhu Da menangis tersedu-sedu tanpa henti sambil memeluk erat sebuah tiang kayu di pinggir lapangan.
Li Fan berdiri tegak di tengah-tengah kekacauan tersebut. Napasnya teratur, tanpa ada setetes keringat pun yang membasahi dahinya. Jubah sutra putihnya masih terlihat sangat bersih tanpa noda debu atau bercak darah sedikit pun. Ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya dengan ekspresi puas, lalu mendongakkan kepalanya ke atas.
Matanya yang tajam langsung menemukan sosok Lin Xueyan yang sedang berdiri terpaku di bingkai jendela lantai dua kedai. Gadis berelemen es itu menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Ada keterkejutan yang nyata di wajahnya. Ia tidak percaya dengan adegan pembantaian sepihak dan konyol yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Pria pengecut itu baru saja menumbangkan sepuluh preman tanpa terluka sedikit pun.
Melihat wajah terkejut tunangannya yang selalu bersikap dingin, sisi jahil dan arogan dari dalam jiwa Li Fan langsung bangkit. Ia menyeringai lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih. Dengan gaya sok tampan yang sangat meyakinkan, ia merapikan rambutnya yang sedikit tertiup angin.
Kemudian, Li Fan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke arah Lin Xueyan. Ia menyilangkan ibu jari dan jari telunjuknya, membentuk sebuah tanda hati kecil yang melambangkan rasa cinta dan kasih sayang.
🫰🏻
Sambil menyodorkan simbol menggelikan itu ke arah atas, Li Fan sengaja mengedipkan sebelah matanya dengan sangat genit.
Di lantai dua, wajah putih pucat Lin Xueyan seketika memerah padam. Itu sama sekali bukan rona merah karena tersipu malu atau jatuh cinta, melainkan karena rasa muak, jijik, dan malu yang luar biasa hingga mendidih ke ubun-ubunnya. Ditambah lagi, tatapan ratusan calon murid kini beralih menatap bergantian antara Li Fan dan dirinya. Gadis itu mendengus kasar, langsung berbalik badan, dan menutup jendela kayu itu dengan bantingan yang sangat keras hingga bingkainya nyaris retak.
Sementara itu, jauh di sudut bayangan halaman, seorang pemuda berpakaian linen kasar yang sedang bertugas menyapu guguran daun menatap seluruh kejadian itu dengan rahang terkatup sangat rapat.
Xiao Chen mengepalkan kedua tangannya pada gagang sapu bambu hingga urat-urat di lengannya menonjol keluar. Dengan sebuah tekanan pelan namun dipenuhi tenaga dalam yang padat, gagang sapu itu patah menjadi dua bagian dengan suara retakan yang tajam. Matanya memancarkan niat membunuh yang pekat saat menatap Li Fan yang sedang tertawa bangga di tengah pelataran. Tanda hati yang dilemparkan pada gadis yang diam-diam sangat ia cintai itu terasa seperti siraman cairan asam beracun yang membakar relung hatinya.
“Teruslah tertawa, Ma Liang,” desis Xiao Chen dengan suara rendah dan serak yang menggetarkan udara di sekitarnya. “Di arena ujian sekte nanti, aku akan memastikan untuk mengakhiri komedi murahanmu ini dengan pedangku sendiri.”
Cerdas...
Lucu...