"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. TOPENG EMAS & DARAH
Mansion Dragunov malam ini tidak lagi terasa seperti penjara yang sunyi, ia telah berubah menjadi panggung sandiwara yang megah. Karpet merah dibentangkan di atas salju yang membeku, dan deretan mobil mewah mulai mengular di sepanjang jalan masuk. The Winter Masquerade bukan sekadar pesta, ini adalah momen di mana Alexei Dragunov memamerkan taringnya kepada seluruh sindikat Eurasia.
Di dalam kamar utama, Alana berdiri terpaku di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun sutra hitam midnight yang melekat sempurna di tubuhnya, dengan belahan setinggi paha yang menyingkap kaki jenjangnya. Bahunya yang terbuka dihiasi oleh kalung berlian yang terasa seperti kerah besi yang sangat mahal. Di tangannya, ia memegang sebuah topeng emas berbentuk wajah serigala yang elegan.
"Kau tampak seperti seorang ratu yang sedang bersiap untuk eksekusi," suara rendah Alexei terdengar dari arah pintu.
Alana menoleh. Alexei tampak sangat mengintimidasi dalam tuksedo hitam pekat, kemeja putihnya yang kaku kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia mengenakan topeng perak yang hanya menutupi separuh wajahnya, menonjolkan rahangnya yang keras dan mata birunya yang tajam.
"Bukankah itu yang kau inginkan, Alexei? Sebuah piala untuk kau pamerkan?" balas Alana dingin.
Alexei mendekat, langkahnya tidak terdengar di atas karpet tebal. Ia berdiri di belakang Alana, menatap pantulan mereka di cermin. Tangannya yang besar melingkar di pinggang Alana, menarik tubuh gadis itu hingga punggungnya menempel di dada bidang Alexei.
"Malam ini, semua mata akan tertuju padamu," bisik Alexei di telinga Alana. "Mereka akan mencari celah. Mereka akan mencari ketakutan. Jika kau melakukan satu kesalahan saja dan jika kau menunjukkan bahwa kau hanya tawanan di rumah ini, maka besok pagi, mereka akan menyerbu kita seperti kawanan hiu yang mencium darah."
"Aku tidak peduli dengan duniamu," desis Alana, meski ia tidak bisa menyangkal getaran aneh yang menjalar di tubuhnya akibat kedekatan mereka.
"Kau harus peduli. Karena hidup nenekmu bergantung pada seberapa baik kau memainkan peran sebagai istriku malam ini," Alexei melepaskan pelukannya dan menyodorkan sebuah sarung tangan renda hitam. "Jangan pernah menjauh dariku lebih dari tiga langkah. Dan jangan bicara pada siapa pun tanpa izinku."
Alana menerima sarung tangan itu dengan kemarahan yang dipendam. Alexei tidak tahu bahwa di balik korset gaunnya, Alana telah menyembunyikan foto lama yang ia temukan di kotak besi ibunya. Ia memiliki misinya sendiri yaitu, menemukan siapa pria di foto itu di antara ratusan tamu yang hadir.
Ballroom mansion itu telah disulap menjadi hutan musim dingin yang ajaib. Pohon-pohon pinus perak menghiasi sudut ruangan, dan lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke topeng-topeng emas dan perak para tamu. Musik orkestra yang melankolis mengisi udara, bercampur dengan aroma sampanye mahal dan cerutu.
Saat Alexei dan Alana menuruni tangga besar, keheningan sesaat menyapu ruangan. Semua mata tertuju pada mereka. Alana merasa seperti sedang berjalan menuju kandang singa, namun ia menegakkan punggungnya, dagunya terangkat dengan keanggunan yang ia pelajari dari bertahun-tahun hidup sebagai putri Naratama.
"Tersenyumlah, Moya printsessa," Alexei berbisik sambil menuntunnya menuju kerumunan. "Dunia ingin melihat kebahagiaan kita yang palsu."
Alana memasang senyum tipis yang dingin. Selama dua jam pertama, ia terpaksa berdiri di samping Alexei saat pria itu menerima penghormatan dari para tetua Bratva dan pengusaha hitam dari seluruh penjuru Rusia. Ia mendengar percakapan tentang pengapalan senjata, jalur distribusi minyak, dan "pembersihan" wilayah Barat, semuanya dibicarakan seolah-olah mereka sedang membahas hasil pertandingan bola.
Kesempatan Alana datang ketika seorang menteri Rusia yang mabuk menarik perhatian Alexei untuk diskusi pribadi di sudut ruangan. Alexei memberikan tatapan peringatan pada Ivan Petrov untuk terus mengawasi Alana, namun kerumunan tamu yang padat memberikan celah.
Alana melihat seorang pria tua dengan seragam militer kuno yang duduk di kursi pojok, jauh dari kebisingan. Pria itu mengenakan medali yang sama dengan yang dipakai pria di dalam fotonya. Dengan gerakan cepat, Alana menyelinap di antara sekelompok penari, menggunakan gaun hitamnya untuk menyatu dengan bayangan.
"Jenderal Orlov?" Alana menyapa pria tua itu dengan bahasa Rusia yang ia latih di dalam kepalanya ribuan kali.
Pria tua itu menoleh, matanya yang mulai kabur menatap Alana dari balik topeng burung hantu. Ia tampak terkejut, namun kemudian senyum sedih muncul di bibirnya. "Elena? Tidak... kau terlalu muda untuk menjadi Elena."
"Aku putrinya," bisik Alana. Ia sedikit menyingkap foto dari balik korsetnya. "Siapa pria ini, Jenderal? Siapa pria yang berfoto dengan ibuku ini?"
Tangan Jenderal Orlov yang gemetar menyentuh pinggiran foto itu. "Dmitri... Dmitri Volkov. Dia adalah komandan pasukan khusus yang seharusnya melindungi keluarga Volskaya." Pria tua itu menelan ludah, wajahnya memucat. "Gadis malang, kau tidak seharusnya mencari tahu tentang ini. Dmitri tidak meninggal dalam perang. Dia dieksekusi oleh Wira Naratama karena mencintai ibumu."
Jantung Alana seakan berhenti berdetak. "Jadi... Wira membunuhnya karena cemburu?"
"Bukan hanya cemburu," Jenderal Orlov berbisik lebih rendah, matanya melirik ke arah Alexei yang mulai mencari-cari di kerumunan. "Wira membutuhkannya mati agar tidak ada yang tahu bahwa Elena mengandung anak Dmitri sebelum mereka menikah. Kau bukan darah Naratama, Alana. Kau adalah musuh terbesar bagi legitimasi Wira di Asia."
Tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat mencengkeram lengan Alana dengan keras. Alana tersentak dan hampir menjatuhkan fotonya.
"Sudah kubilang jangan menjauh dariku," suara Alexei terdengar seperti guntur yang tertahan. Matanya berkilat marah saat ia menatap Jenderal Orlov. "Jenderal, kuharap kau tidak sedang menceritakan dongeng masa lalu yang membosankan pada istriku."
"Hanya... hanya memuji kecantikannya, Pakhan," ucap Orlov dengan suara gemetar sebelum segera berdiri dan pergi menjauh.
Alexei menarik Alana menuju koridor yang sepi di balik tirai beludru. Ia menyudutkan Alana ke dinding batu yang dingin, napasnya yang panas menerpa wajah Alana.
"Apa yang dia katakan padamu?" tuntut Alexei. Ia merogoh korset Alana dan merampas foto itu sebelum Alana sempat mencegahnya.
Alexei menatap foto Dmitri Volkov selama beberapa detik. Ekspresinya yang tadinya marah perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang menyerupai... pengertian.
"Jadi kau sudah tahu," ucap Alexei pelan.
"Kau tahu? Kau tahu bahwa Wira bukan ayahku?" Alana berteriak tertahan, air mata amarah mulai menggenang. "Kau tahu dia membunuh ayah kandungku dan kau tetap bekerja sama dengannya?"
Alexei menatap Alana dengan tatapan yang nyaris menyerupai rasa kasihan. "Aku tahu karena ayahku yang membantu Wira menutupi eksekusi itu. Dunia ini tidak dibangun di atas keadilan, Alana. Ia dibangun di atas rahasia yang saling mengunci."
Alexei meremas foto itu di tangannya hingga hancur. "Wira tidak pernah mencintaimu. Baginya, kau adalah bukti dari pengkhianatan Elena. Dia membesarkanmu hanya untuk 'menjualmu' padaku sebagai bentuk penebusan dosa masa lalu. Dan sekarang, kau tahu kebenarannya. Kau tahu bahwa kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain aku."
"Aku tidak akan pernah memilihmu!" Alana memukul dada Alexei, namun pria itu tidak bergeming.
"Pilihanmu sudah habis, Alana," Alexei menangkap kedua pergelangan tangan Alana dan menekannya ke dinding. "Sergei Volsky tahu siapa ayahmu sebenarnya. Jika dia mendapatkanmu, dia akan membedahmu untuk membuktikan bahwa kau bukan pewaris Volskaya yang sah. Hanya namaku yang menjagamu tetap hidup sekarang."
Di tengah kemarahan dan keputusasaan itu, Alexei mendadak mencium Alana, bukan ciuman kepemilikan seperti di gereja, melainkan ciuman yang penuh dengan intensitas gelap, seolah ia ingin menyerap seluruh kesedihan Alana ke dalam dirinya.
Alana mencoba melawan, namun ia merasa lemas. Kebenaran bahwa seluruh hidupnya adalah kebohongan membuatnya hancur. Di balik topeng emas yang masih dipakainya, ia menyadari bahwa ia baru saja kehilangan ayahnya, identitasnya, dan dunianya dalam satu malam.
Alexei melepaskan ciumannya, matanya menatap Alana yang terengah-engah.
"Pesta belum berakhir, Nyonya Dragunov," ucap Alexei dingin sambil memperbaiki tatanan rambut Alana yang berantakan. "Hapus air matamu. Pakai topengmu kembali. Kita harus kembali ke sana dan menunjukkan pada mereka bahwa kita adalah penguasa Eurasia yang paling bahagia."
Saat mereka kembali ke ballroom, Alana merasa seperti berjalan dalam mimpi buruk yang paling indah. Ia menggandeng lengan Alexei, namun di kepalanya, ia hanya memikirkan satu hal.
Jika Wira bukan ayahku, dan dia membunuh ayah kandungku... maka perjalananku ke Indonesia belum berakhir. Aku akan kembali, bukan sebagai putrinya, tapi sebagai algojonya.
Namun, saat ia melangkah di samping Alexei, ia melihat Sergei Volsky berdiri di seberang ruangan, sedang berbicara dengan seorang pria yang sangat Alana kenali. Pria yang seharusnya berada di Jakarta.
Pria itu menoleh, dan senyum predatornya terlihat di balik topeng hitamnya.
Itu adalah Wira Naratama.