Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh
Pukul 10 malam Reina terbangun dari tidurnya. Perlahan ia bangun dan duduk di pinggiran ranjang,ia mengingat tadi ia menangis. Dia keluar dari kamar neneknya dan kembali menuju dapur.
Ia membasuh mukanya di kamar mandi, setelah itu ia mengambil piring dan mengisinya nasi dan SOP ayam tadi. Reina merasakan lapar sehabis menangis tadi.
Lalu dia makan sendirian dengan lahap. Meskipun ia merasa kesepian ia berusaha untuk kuat demi neneknya. Pasti neneknya akan sembuh dan kembali lagi berkumpul dengannya.
Dering ponsel Reina membuatnya harus menghentikan makannya. Nomer baru,Reina yang penasaran pun langsung mengangkatnya.
' Hallo assalamualaikum.' Ucap Reina setelah mengangkat panggilan telepon.
' Wa alaikum salam...ya Allah sayang kamu dari mana aja nak ? Tante telpon kamu berkali-kali nggak kamu angkat.' Tanya Rita yang ternyata yang menelponnya.
' Maaf Tante,tadi aku ketiduran ponselnya di meja dapur tadi jadi nggak denger.' Jawab Reina.
' Tapi kamu nggak papa kan nak ?' Tanya Rita khawatir.
' Reina nggak papa kok tante,hanya merasa kesepian aja.' Jawap Reina lirih.
' Makanya kamu tinggal sama tante aja nak.' Ucap Rita lembut.
' Tapi Reina lebih nyaman tinggal di rumah tan.' Ucap Reina yang tidak mau meninggalkan rumahnya meskipun kesepian.
' Ya udah kalau kamu nggak mau Tante nggak maksa kok.' Rita menghembuskan nafasnya di seberang sana.
' Maaf ya tante.' Lirih Reina tidak enak.
' Nggak apa-apa nak,kamu kalau ada waktu main ya,tapi tante udah nggak tinggal di rumah kemarin.' Ucap Rita memberi tau.
' Terus tante tinggal di mana sekarang ?' Tanya Reina.
' Di apartemen Bram,kalau pingin ke sini bareng sama Bram biar di jemput.' Ucap Rita.
' Iya Tante... kalau gitu aku makan malem dulu ya Tan...Tante jaga kesehatan... assalamualaikum.' Ucap Reina pamit.
' Iya sayang...wa alaikum salam.' Ucap Rita lalu memutuskan panggilan teleponnya.
--------
Rita tersenyum setelah panggilan mati. Ia senang karena Reina perhatian dengannya. Bramasta yang kebetulan ingin mengajak mamanya makan malam pun berhenti di depan pintu sambil memperhatikan mamanya yang senyum-senyum sendiri.
" Mama kenapa ?" Tanya Bramasta membuat Rita kaget.
" Astagfirullah...bikin kaget saja sih nak." Ucap Rita sambil mengusap-usap dadanya.
" Habis dari tadi Bram lihat mama senyum-senyum sendiri kenapa ?" Tanya Bramasta sekali lagi sambil berjalan menghampiri mamanya.
" Nggak tadi mama habis telfon Reina mau tau kabarnya aja...dia perhatian banget,mama jadi nggak sabar jadiin mantu...hihi." Ucap Rita sambil cekikikan.
" Iya-iya...udah yuk makan malam." Ajak Bramasta yang tidak mau menanggapi ibunya karena tidak ada habisnya.
-------
Di tempat lain, Yoga sudah beberapa hari ini merasa jengkel karena sudah merasa di bohongi Reina. Ia begitu geram karena semua vidio,foto yang bersama Reina hilang.
Dia juga meniduri wanita yang entah datangnya dari mana, karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun ia tidak mempedulikan itu Reina atau bukan saat melihat wanita yang memakai baju seksi.
Meskipun puas tapi tetap saja hatinya merasa dongkol dengan Reina. Ia harus bisa mendapatkan Reina kembali karena hanya dia yang bisa menuruti permintaannya. Namun ia bingung kare nomer Reina sudah tidak aktif. Sepertinya dia mengganti nomernya.
" Aku pasti akan mendapatkan kamu kembali." Ucap Yoga sambil meremas minuman kaleng yang ia pegang.
******
Ke esokan harinya di rumah Reina sudah bersiap-siap untuk sekolah. Ia memilih sarapan roti dengan selai coklat kesukaannya di temani 1 gelas susu coklat yang hangat.
Reina hari ini tidak memasak karena bangun kesiangan. Sarapan Roti dengan terburu-buru. Setelah selesai sarapan Reina pun mengenakan sepatu dan mengambil tas dan kunci motornya.
Kring
Kring
Saat berjalan menuju teras dan menutup pintu ponsel Reina berbunyi. Dia pun mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Shasa.
' Mana aja Re ??? Udah jam berapa ini ntar telat...' Cerocos Shasa setelah panggilan di angkat.
' Iya ni gue mau berangkat. Kalau loe ngomel sekarang kita bakal telat ntar.' Ucap Reina lalu menutup panggilan teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dan berangkat menuju rumah Shasa.
" Lah tumben bener dia kesiangan ya,apa ada sesuatu yang terjadi tadi malam karena dia sendirian" Gumam Shasa saat panggilan telepon di matikan Reina begitu saja.
Tak lama terlihat Reina dari kejauhan.
" Sorry ya..." Ucap Reina setelah sampai di depan Shasa berdiri.
" Sampai karatan gue nungguin loe...gue kira loe nggak masuk sekolah." Ucap Shasa sambil naik ke jok belakang dan memakai helmnya.
" Udah deh ntar aja nerocosnya kalau udah sampai sekolah. Dah ya berangkaaaattttt..." Ucap Reina sambil tancap gas.
Dengan kecepatan tidak seperti biasanya Reina membawa motor,Shasa pun merasa takut dan berpegangan dengan erat sambil terus melafalkan doa-doa.
" Reeee jangan kencang-kencang !!" Teriak Shasa.
" Apaan nggak denger gue !!" Teriak Reina yang juga tidak bisa mendengar suara Shasa dengan jelas.
Shasa tidak meneruskan perkataannya lagi karena percuma Reina pasti tidak mendengarnya. Shasa hanya bisa pasrah kalau sampai jatuh, tapi semoga saja nggak.
Saat di tikungan ada motor yang juga menikung dengan kecepatan tinggi.
Braaaakkkk
" Aduh...gila orang ini ya naik motor nggak kira-kira." Keluh Reina yang tertimpa sepeda motornya. Shasa entah bagaimana iya bisa berdiri tanpa lecet suatu apapun.
" Re Lo nggak papa ?" Tanya Shasa yang membantu Reina berdiri.
" Cuma lecet-lecet aja sih kayaknya ni tangan sama kaki." Jawab Reina sambil menunjuk ke tangan dan kakinya.
Ia beralih melihat ke motor yang sudah menabraknya. Yang ternyata sudah kabur sebelum Dia meminta pertanggung jawaban.
" Gila ya tu orang main pergi gitu aja,nolongin nggak minta maaf juga nggak." Cerocos Reina karena merasa jengkel.
" Udah jangan marah-marah terus ini gimana kita ke sekolahnya kamu masih bisa nyetir nggak sekolah kita kan masih jauh." Ucap Shasa yang bingung sekaligus khawatir dengan keadaan Reina.
" Gue masih bisa kok,ayo bantuin dirikan motornya." Ucap Reina berusaha mendirikan motornya kembali.
Belum sampai motornya berdiri ada mobil yang berhenti di depan Reina dan Shasa berada.
" Reina,Shasa kalian kenapa ?" Tanya Ryan menghampiri Reina dan Shasa.
" Jatuh kak." Jawab Reina.
" Abis di serempet motor kak." Jawab Shasa.
Ryan beralih menatap Reina dan melihat tangannya yang lecet-lecet dan mengeluarkan darah.
" Ya ampun tangan kamu berdarah Re,ayo aku antar aja ke sekolah terus di obati lukanya. Motor kamu tinggal sini aja ntar biar orang suruhanku yang urus." Ucap Ryan dengan nada khawatir.
" Tapi Aku nggak papa kok kak masih bisa nyetir sendiri." Ucap Reina menolak.
" Nggak papa gimana orang berdarah gitu Lo, udah Kak ayo aja anterin." Ucap Shasa.
Reina pun melirik Shasa malas karena temannya tidak mau di ajak kerjasama. Mau tidak mau dia pun mengikuti Ryan dan Shasa memasuki mobil.
--->>>