Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Orang Hilang
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta, Aris Wicaksana berjalan mondar-mandir seperti binatang buas yang terperangkap dalam kandang emas. Puntung rokok berserakan di asbak kristal. Televisi di depannya menayangkan berita singkat tentang penemuan mayat di Sumedang.
"Sial! Sial! Kenapa cepat sekali ketahuan!" teriak Aris sambil melempar gelas scotch-nya ke dinding hingga hancur berantakan.
Napasnya memburu. Ia tahu, jika polisi mulai menelusuri riwayat telepon Salsa, namanya akan muncul sebagai orang terakhir yang dihubungi. Dan jika polisi tahu bahwa mereka adalah suami istri, motif pembunuhan itu akan menjadi seterang lampu sorot.
Aris mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor yang disimpan dengan nama "Cleaner".
"Halo," suara di seberang sana terdengar dingin.
"Aku butuh kamu mengurus sesuatu di Sumedang," ucap Aris, suaranya bergetar namun penuh tekad jahat. "Ubah narasi mayat itu. Siapkan surat wasiat palsu. Bayar orang di sana untuk membuat laporan bahwa Salsabila Tamimi mengalami depresi berat karena suaminya selingkuh, lalu dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
Aris menyeringai licik. "Dia harus mati sebagai korban bunuh diri yang tragis karena sakit hati. Dengan begitu, orang-orang akan kasihan padaku karena memiliki istri yang 'tidak stabil'. Dan yang terpenting... jejak tanganku di pundaknya harus hilang dari catatan manapun."
Ia mematikan ponselnya dan menatap foto Devina yang ada di majalah kuliner di atas meja. "Devina... aku akan kembali padamu sebagai pria yang berduka. Dan kamu, dengan segala kelembutan hatimu, pasti akan menerimaku kembali untuk menghiburku."
****
Kembali ke kantor Gavin, suasana terasa jauh lebih optimis. Gavin baru saja menunjukkan prototipe pisau terbaru yang akan diluncurkan dengan grafir nama "Devina Maharani" di bilahnya.
"Ini indah sekali, Gavin," gumam Devina, jarinya menyentuh permukaan baja yang dingin namun berkilau.
"Seperti pemilik namanya," jawab Gavin spontan, lalu ia berdehem pelan, sedikit salah tingkah karena pujiannya sendiri. "Maksud saya, secara estetika fungsional."
Rian, sang asisten, menahan senyum melihat bosnya yang biasanya sangat formal kini tampak sedikit gugup.
"Saya terima tawaran ini," tegas Devina. "Bukan karena nilai kontraknya, tapi karena Anda percaya pada saya saat dunia meragukan saya."
Gavin berdiri, mengulurkan tangannya yang hangat. "Mari kita buat sejarah di dapur Indonesia, Chef Devina."
Saat tangan mereka bertautan, Devina merasakan getaran aneh—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Keamanan. Namun, di balik pintu kantor yang megah itu, badai besar sedang bersiap menerjang. Aris Wicaksana sedang merajut jaring kebohongan baru yang lebih mematikan, dan mayat Salsabila di ruang autopsi seolah sedang menunggu waktu untuk "berbicara" melalui kebenaran yang berusaha dikubur dalam-dalam.
****
Gerimis tipis mengguyur tanah merah di sebuah pemakaman umum di pinggiran Sukabumi, seolah langit turut berduka atas kepulangan paksa seorang jiwa yang malang. Di bawah tenda duka yang sederhana, suara isak tangis yang menyayat hati memecah kesunyian desa.
Bu Imroh bersimpuh di samping peti jenazah yang masih tertutup rapat. Kerudung panjangnya yang berwarna hitam sudah basah oleh air mata dan peluh. Tangannya yang keriput mencengkeram kayu jati peti itu dengan kuku-kuku yang memutih, seolah-olah dengan kekuatan cintanya, ia bisa menarik kembali putrinya dari alam baka.
"Salsa... Ya Allah, anakku... Kenapa kamu tinggalkan Emak dengan cara begini, Nak?" raung Bu Imroh, suaranya parau dan bergetar hebat. "Kamu janji mau pulang bawa baju baru buat Azam, bukan pulang dalam peti begini!"
Di sampingnya, seorang balita berusia dua tahun bernama Azam duduk di atas tikar pandan. Matanya yang bulat dan bening menatap sekeliling dengan bingung. Ia memegang sebuah mainan mobil-mobilan plastik yang roda satunya sudah lepas. Azam sesekali menatap neneknya yang meraung, lalu menatap peti besar di depannya tanpa tahu bahwa di dalam kotak kayu itulah ibunya—satu-satunya tempat ia mengadu saat lapar dan takut—kini tertidur selamanya dalam kedinginan.
"Nek... Ibu mana?" bisik Azam kecil, suara polosnya justru lebih tajam dari sembilu bagi siapa pun yang mendengarnya.
Bu Imroh semakin terisak. Ia memeluk cucunya itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di bahu mungil si anak. "Ibumu sudah di surga, Sayang... Ibumu orang baik."
Namun, di balik duka itu, ada bara kecurigaan yang menyala di mata Bu Imroh. Ia teringat percakapan telepon terakhir dengan Salsa. Putrinya itu menangis, mengatakan akan menyusul Aris ke Jakarta untuk meminta pertanggungjawaban, bukan mengeluh soal hutang.
"Bunuh diri karena hutang? Mustahil!" bisik Bu Imroh pada kerabat yang mencoba menenangkannya. "Salsa itu pejuang. Dia tidak akan meninggalkan Azam hanya karena uang. Ada yang tidak beres... Aris... laki-laki itu pasti tahu sesuatu!"
****
Ratusan kilometer dari duka di Sukabumi, sebuah mobil sport mewah meluncur mulus memasuki pelataran rumah megah di kawasan elit Jakarta. Gavin Wirya Aryaga keluar dari mobil dengan langkah ringan. Ia bahkan bersiul kecil, sebuah melodi riang yang jarang sekali keluar dari bibirnya yang biasanya terkunci rapat oleh urusan bisnis.
Wina, mamanya yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah fashion, menurunkan kacamatanya. Ia menatap putranya dengan dahi berkerut.
"Gavin? Kamu bersiul?" tanya Wina dengan nada sangsi. "Ada tender besar yang baru gol? Atau perusahaan kompetitor kita bangkrut?"
Gavin berhenti melangkah, menoleh ke arah mamanya dengan senyum yang masih tersisa di sudut bibir. Mata sipitnya nampak berbinar. "Lebih dari sekadar bisnis, Ma. Hari ini... udaranya terasa sangat segar saja."
"Sejak kapan udara Jakarta terasa segar jam tujuh malam?" selidik Wina, mencoba membaca ekspresi putranya. "Apa ini ada hubungannya dengan koki cantik yang fotonya kamu simpan di berkas BA baru itu? Siapa namanya... Devina?"
Gavin hanya terkekeh pelan, tidak membantah namun juga tidak memberi detail. "Aku mandi dulu, Ma. Badanku lengket."
Gavin gegas menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu masuk ke dalam kamar yang luas dan minimalis itu, ia langsung melepaskan kemeja putihnya, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang Gavin yang perfeksionis.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang berdinding marmer. Sambil menyalakan shower, ia berdiri di bawah guyuran air hangat, memejamkan mata. Bayangan wajah Devina saat memegang pisau prototipe tadi siang kembali melintas. Cara wanita itu berbicara, ketegarannya, dan binar matanya yang terluka namun tetap profesional benar-benar mengusik ketenangan Gavin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Gavin merasa dunianya tidak lagi hanya berisi angka dan baja, melainkan rasa.
****
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah dengan pemandangan lampu kota yang gemerlap, Devina Maharani duduk meringkuk di sofa velvet-nya. Televisi di depannya menyala tanpa suara, menampilkan berita terkini tentang penemuan mayat di Cadas Pangeran yang kini sudah teridentifikasi sebagai Salsabila Tamimi.
Layar ponselnya berkedip-kedip. Berbagai portal berita online menulis narasi yang hampir seragam: "Tragedi Cinta Segitiga: Istri Sah Celebrity Chef Diduga Bunuh Diri Akibat Depresi dan Hutang Menumpuk."