Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 – Malam yang Tenang, Janji yang Tak Terucap
Malam semakin larut.
Restoran yang sebelumnya penuh ketegangan kini tenggelam dalam keheningan. Suara-suara gaduh telah lama menghilang, digantikan oleh desiran angin malam yang lembut menyelinap dari celah-celah jendela kayu.
Langit di luar gelap, namun tenang.
Seakan dunia memilih untuk beristirahat… meski bayangan ancaman masih menggantung di tempat yang jauh.
Di salah satu kamar sederhana di lantai atas—
Zhao terbaring di atas kasur.
Matanya terbuka.
Menatap langit-langit yang redup.
Namun pikirannya… tidak pernah benar-benar diam.
12 pilar iblis…
Kata-kata itu terus berulang di kepalanya.
Suara Lu Qiang, ekspresi seriusnya, bahkan ketakutan yang sempat ia coba sembunyikan—semuanya terasa nyata.
Bawahan langsung raja iblis…
Zhao menghela napas pelan.
Kalau itu benar…
Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh—
Sebuah gerakan kecil di pelukannya menarik perhatiannya.
Yueling.
Wanita itu menggeliat pelan, lalu perlahan membuka matanya. Sorot matanya masih setengah tertutup, lembut, dipenuhi rasa kantuk yang belum sepenuhnya hilang.
“Sayang…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan, “kau belum tidur?”
Zhao langsung menoleh.
Ekspresi serius di wajahnya memudar seketika, digantikan oleh kelembutan yang jarang ia tunjukkan.
“Ah… maaf,” katanya pelan. “Aku membangunkanmu ya?”
Yueling menggeleng sedikit, lalu perlahan bangkit dan duduk di sampingnya. Rambut panjangnya jatuh ke bahu, sedikit berantakan, namun justru menambah kesan hangat.
“Apa yang membuatmu gelisah sampai tidak bisa tidur?” tanyanya lembut. “Apakah… tentang pembicaraanmu dengan Lu Qiang?”
Zhao tersenyum tipis.
Tidak menjawab langsung.
Ia menatap Yueling beberapa detik, seolah menimbang apakah ia harus membicarakan ini… atau tidak.
Namun akhirnya—
“Ling’er,” ucapnya pelan, “apakah kau tahu tentang 12 pilar iblis?”
Yueling terdiam.
Ekspresinya berubah.
Lembut yang tadi ada di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin… dan dalam.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
Nada suaranya tidak lagi ringan.
“Mereka adalah… orang-orang pembuat onar.”
Ia menunduk sedikit.
“Dan aku sangat membenci mereka.”
Zhao memperhatikan perubahan itu.
Tanpa berkata apa-apa.
Yueling menarik napas pelan.
“Dulu…” suaranya mengecil, “saat pertama kali aku bertemu denganmu dengan kondisi terluka parah…”
Ia menggenggam ujung pakaiannya.
“…aku terluka karena mereka.”
Zhao terdiam.
Tatapannya melembut.
“Mereka adalah kelompok kultus,” lanjut Yueling. “Yang mencoba mengejar ku dan… menjadikanku sebagai pengorbanan.”
Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi.
Bukan karena tidak ada suara—
Melainkan karena kenangan itu sendiri membawa kesunyian.
Zhao tidak langsung berbicara.
Ia hanya menatap Yueling, lalu perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh rambutnya dengan lembut.
“Begitu ya…” gumamnya pelan.
Ada sesuatu yang berat di dadanya.
Meski ia tidak menunjukkannya.
“Maaf…” lanjutnya, suaranya lebih lembut dari biasanya, “aku membuatmu mengingat hal menyakitkan seperti itu.”
Yueling menggeleng pelan.
Tidak berkata apa-apa.
Sebaliknya—
Ia kembali mendekat.
Memeluk Zhao.
Pelukan itu hangat.
Tidak kuat, tidak pula lemah.
Namun cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Aku tidak tahu apa yang tengah kau pikirkan, sayang…” bisiknya pelan di dada Zhao. “Tapi… aku harap kau tidak pernah berurusan dengan mereka.”
Zhao menatap ke depan.
Diam.
“Aku tahu mereka jahat,” lanjut Yueling. “Tapi… apa yang bisa kita lakukan?”
Ia menggenggam pakaian Zhao sedikit lebih erat.
“Bahkan klan-klan ternama saja tidak mampu melakukannya…”
Nada suaranya semakin kecil.
Hampir tak terdengar.
Namun justru itu yang membuatnya terasa nyata.
“Aku…”
Ia berhenti.
Seolah ragu untuk melanjutkan.
Namun akhirnya—
“Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi…”
Kalimat itu jatuh pelan.
Namun dampaknya—
Dalam.
Zhao tidak bergerak.
Namun matanya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan tentang 12 pilar dimulai—
Ia tidak memikirkan ancaman.
Tidak memikirkan kekuatan.
Tidak memikirkan dunia atas atau bawah.
Yang ada di pikirannya sekarang…
Hanya satu hal.
Wanita yang sedang memeluknya.
Perlahan—
Zhao mengangkat tangannya.
Lalu menarik Yueling sedikit lebih dekat.
Ia menundukkan kepalanya.
Dan—
Mencium keningnya dengan lembut.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” ucapnya pelan.
Suaranya tidak keras.
Tidak juga penuh emosi yang meledak-ledak.
Namun—
Ada sesuatu dalam nada itu.
Keteguhan.
Janji.
“Apapun yang terjadi.”
Yueling terdiam.
Lalu—
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
Senyum yang sederhana.
Namun tulus.
“Mm…” ia mengangguk kecil, lalu kembali memeluk Zhao.
Beberapa saat kemudian—
Napasnya mulai teratur.
Ia tertidur.
Dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya.
Zhao tetap diam.
Tidak bergerak.
Ia hanya menatap langit-langit sekali lagi.
Namun kali ini—
Pikirannya tidak lagi seberat sebelumnya.
Perlahan, ia menghela napas.
Selama mereka tidak menyentuh keluarga kecil kita…
Matanya menyipit sedikit.
Ada kilatan samar di dalamnya.
…semuanya akan baik-baik saja.
Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari perlahan menyelinap dari sela-sela jendela, menimpa meja-meja kayu yang kini telah tertata rapi.
Restoran itu—yang semalam dipenuhi aura mencekam—kini ramai seperti biasa.
Bahkan… lebih ramai.
“Dua ramen lagi di meja tiga!”
“Siap!”
“Tambahkan nasi goreng satu, jangan lupa sup panas!”
“Baik!”
Suara-suara itu saling bersahutan, hidup, penuh energi.
Lu Qiang dan para mantan bandit yang kini menjadi pelayan tampak sibuk mondar-mandir. Gerakan mereka cepat, namun tidak lagi kasar seperti dulu. Ada kecanggungan di awal, tapi semangat mereka jelas terlihat.
Mereka belajar.
Dan mereka berusaha.
Di antara mereka—
Shen Ning berlari kecil sambil membawa nampan berisi dua mangkuk ramen panas. Wajahnya sedikit berkeringat, namun matanya bersinar cerah.
“Silakan pesanan Anda!”
Senyumnya tulus.
Pelanggan yang menerima pun mengangguk puas.
Di dapur—
Zhao berdiri dengan santai, tangannya bergerak cekatan menyiapkan hidangan. Gerakannya efisien, tidak ada yang terbuang.
Di sampingnya, Yueling membantu dengan lembut, sesekali melirik ke luar.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Sepertinya… Ning’er tidak akan kelelahan lagi,” katanya pelan.
Zhao melirik sekilas ke arah luar, melihat Shen Ning yang kini ditemani Lu Qiang saat mengantar pesanan.
Ia mengangguk.
“Dengan banyaknya pegawai baru, pekerjaan jadi lebih mudah.”
Yueling tersenyum kecil.
“Dan lebih hidup.”
Zhao terkekeh pelan.
“Tentu saja. Seiring berkembangnya restoran kita… kita akan membutuhkan lebih banyak bantuan di masa depan.”
Nada suaranya santai.
Namun ada sesuatu di balik kata-kata itu.
Ambisi kecil.
Yueling mengangguk setuju.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu—
CREAK…
Pintu restoran terbuka.
Suara itu tidak keras.
Namun entah kenapa—
Beberapa orang langsung menoleh.
Tiga sosok masuk.
Mereka mengenakan topi jerami lebar dan jubah panjang yang menutupi tubuh mereka. Langkah mereka tenang, namun… memiliki ritme yang aneh.
Bukan seperti pelanggan biasa.
Zhao yang berada di dapur langsung mengangkat pandangannya.
Matanya menyipit sedikit.
Hm…
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun perhatiannya tertuju pada mereka.
Di sisi lain—
Shen Ning, yang tidak menyadari apa pun, segera berlari kecil mendekat.
“Selamat datang! Mari saya antar ke meja anda!” sapanya ceria.
Ia membungkuk sopan.
Salah satu dari mereka—seorang pria dengan janggut putih panjang—tersenyum lembut.
“Apakah benar…” suaranya tenang, “…ini kedai yang memiliki menu spesial yang lezat itu?”
Shen Ning langsung mengangguk penuh semangat.
“Iya! Ramen adalah menu favorit di sini!”
Matanya berbinar.
Tanpa ragu.
Pria berjanggut itu tertawa kecil.
“Begitu ya… semangat sekali.”
Namun—
Sebelum suasana bisa tetap ringan—
Buk!
Seseorang di sampingnya tiba-tiba berlutut.
Cepat.
Tanpa peringatan.
Shen Ning terkejut.
“A—apa?”
Wanita itu—yang mengenakan jubah biru gelap—menatap Shen Ning dengan ekspresi penuh keprihatinan.
“Astaga…” suaranya dalam, dramatis. “Siapa yang memaksa gadis kecil seperti dirimu untuk bekerja kasar seperti ini!?”
“…?”
Shen Ning membeku.
Otaknya seperti berhenti sejenak.
Sementara itu, wanita itu melanjutkan tanpa memberi kesempatan.
“Mempekerjakan anak di bawah umur bisa dikenakan sanksi hukum!” katanya tegas. “Seharusnya anak seusiamu bermain, bukan bekerja!”
Ia mendekat sedikit.
Nada suaranya berubah jadi lembut… namun berlebihan.
“Apakah kau dipaksa dan dieksploitasi di sini?” tanyanya. “Katakan pada kakak ini, siapa yang berani memperlakukanmu seperti ini?”
Shen Ning benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Mulutnya terbuka.
Namun tidak ada suara yang keluar.
“Tenang saja,” lanjut wanita itu penuh keyakinan, “kakak ini akan membebaskanmu.”
Pria berjanggut di sampingnya menghela napas panjang.
Ia hendak berbicara—
Namun—
“Jaga bicaramu, pelanggan.”
Suara itu datang dari belakang.
Datar.
Namun tajam.
Semua orang menoleh.
Lu Qiang berdiri di sana.
Tatapannya dingin.
“Meremehkan tekad seseorang… adalah hal yang tercela.”
Suasana berubah.
Seketika.
Ketiga orang itu menatapnya.
Shen Ning masih kebingungan di tengah-tengah.
Wanita itu perlahan berdiri.
Matanya menyipit.
“Oh?” katanya pelan. “Aku tak menyangka… restoran terkenal ini mempekerjakan bandit sepertimu.”
Lu Qiang tertegun.
Untuk sesaat—
Kenangan lama terasa menyentuhnya.
Namun hanya sesaat.
Wanita itu melangkah maju.
Tatapannya menyapu sekeliling.
“Setelah dilihat-lihat…” katanya dingin, “kebanyakan pelayan di restoran ini… memang terlihat seperti bandit.”
Beberapa mantan bandit langsung menegang.
Udara terasa berat.
“Setelah memaksa gadis kecil…” lanjutnya tanpa ampun, “…sekarang bandit pula?”
Ia tersenyum sinis.
“Manajemen restoran ini benar-benar buruk.”
Sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan pelanggan lain mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pria berjanggut dan pria muda di sampingnya terlihat tidak nyaman.
Mereka hendak menghentikan wanita itu—
Namun sudah terlambat.
Lu Qiang…
Sudah mencapai batasnya.
Tangannya mengepal.
Urat di pelipisnya menonjol.
“Jangan menghina restoran ini…” suaranya rendah.
Namun bergetar.
“…bajingan.”
Seketika—
Aura yang tadinya terkendali mulai bocor.
Tipis.
Namun cukup untuk membuat beberapa orang merinding.
Wanita itu terdiam sejenak.
Lalu—
Senyumnya perlahan melebar.
“Oh?” katanya pelan. “Jadi kau berani melawan pelanggan sekarang?”
Langkahnya maju satu lagi.
Tanpa rasa takut.
“Bandit tetaplah bandit,” lanjutnya dingin. “Walaupun berpura-pura jadi manusia biasa.”
Kalimat itu—
Seperti percikan api di atas minyak.
BOOM.
Lu Qiang bergerak.
Cepat.
Namun—
Sebelum apa pun terjadi—
“Cukup.”
Satu kata.
Namun cukup untuk menghentikan segalanya.
Zhao.
Ia sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Tatapannya tenang.
Namun dalam.
Semua orang langsung diam.
Lu Qiang berhenti.
Napasnya masih berat.
Namun ia mundur satu langkah.
Wanita itu menoleh ke arah Zhao.
Matanya menyipit.
Zhao melangkah perlahan.
Setiap langkahnya ringan.
Namun terasa berat di udara.
Ia berdiri di depan mereka.
Tatapannya bertemu dengan wanita itu.
“Jika kalian datang untuk makan,” katanya santai, “silakan duduk.”
Ia berhenti sejenak.
Nada suaranya tidak berubah.
“Jika tidak…”
Matanya sedikit menyipit.
“…pergilah dan jangan ganggu orang-orangku.”
Sunyi.
Wanita itu menatap Zhao.
Dalam.
Mencoba membaca sesuatu.
Namun—
Ia tidak menemukan apa-apa.
Yang ada hanya ketenangan.
Dan itu…
Justru membuatnya sedikit tidak nyaman.
Pria berjanggut akhirnya menghela napas.
Ia melangkah maju.
“Maafkan kami,” katanya sopan. “Temanku… terkadang terlalu bersemangat.”
Ia menunduk sedikit.
“Kami datang untuk makan, apakah masih ada tempat kosong?”
Zhao menatapnya beberapa detik.
Lalu—
Mengangguk.
“Baiklah kalau begitu, Shen Ning antar pelanggan ini ke meja yang tersedia.”
Shen Ning seketika mengantar mereka meski masih bingung dengan apa yang telah terjadi.