Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Sore itu, langit Jakarta merona jingga yang menyakitkan mata, seolah-olah cakrawala pun sedang menahan memar yang sama dengan yang dirasakan Isvara. Sedan hitam mengilap milik Adrian Kalandra Prayudha dan SUV putih yang membawa Isvara memasuki gerbang mansion megah itu hampir bersamaan. Suara deru mesin keduanya mengisi keheningan halaman depan yang tertata rapi, sebuah koreografi kebetulan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Isvara.
Isvara turun dari pintu belakang mobilnya dengan gerakan yang sangat terkendali. Ia membetulkan letak tas tangannya, menopang punggungnya agar tetap tegak meskipun otot-ototnya menjerit karena kelelahan. Di sisi lain, Adrian keluar dari kursi kemudinya, membanting pintu mobil dengan sedikit hentakan yang menunjukkan suasana hatinya yang masih keruh sejak meninggalkan ruang rapat siang tadi.
Mereka berdiri di aspal yang sama, di bawah atap yang sama, namun ada jurang tak kasat mata yang memisahkan mereka. Adrian sempat menghentikan langkahnya, matanya tertuju pada Isvara, seolah menanti istrinya itu akan menyapa atau setidaknya memberikan tatapan pengakuan. Namun, Isvara justru melangkah maju tanpa menoleh sedikit pun. Ia melewati Adrian begitu saja, membiarkan aroma parfum lili yang dingin menyapu hidung suaminya sebagai satu-satunya bentuk komunikasi.
Adrian mengepalkan tangan di samping tubuh. Wanita ini benar-benar sudah kehilangan rasa takutnya, batinnya kesal. Ia terbiasa menjadi pusat gravitasi di mana pun ia berada, namun bagi Isvara, ia seolah-olah hanyalah bagian dari dekorasi rumah yang tidak perlu disapa.
Malam harinya, ruang makan utama yang luas itu terasa seperti ruang interogasi yang beku. Cahaya lampu gantung kristal yang mewah memantul di atas meja marmer panjang, menyinari dua piring yang isinya sangat kontras.
Di hadapan Adrian, tersaji steak wagyu dengan saus mentega yang kaya dan kentang tumbuk yang gurih. Sementara di depan Isvara, hanya ada semangkuk besar salad segar tanpa saus berlebih, beberapa potong tempe panggang, dan segelas air lemon hangat. Isvara makan dengan gerakan yang sangat mekanis, seolah-olah ia hanya memenuhi kewajiban biologis agar tubuhnya tidak tumbang sebelum RUPST dimulai.
Hanya ada suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Bibik dan para pelayan lainnya berdiri jauh di sudut ruangan, tidak berani mengeluarkan suara napas yang terlalu keras. Mereka tahu, jika Tuan dan Nyonya sedang makan bersama dalam diam seperti ini, satu kata salah bisa memicu ledakan.
Adrian meletakkan pisaunya sedikit kasar, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia menyeka mulutnya dengan serbet linen, lalu menatap Isvara yang masih fokus mengunyah sayurannya.
"Mengenai RUPST dua hari lagi," Adrian membuka suara, nadanya berat dan penuh tuntutan. "Keluarga besar akan hadir semua. Aku tidak ingin ada drama apa pun darimu. Kamu tahu bagaimana Mama dan saudara-saudaraku memandangmu. Bersikaplah seperti Nyonya Kalandra yang bisa dibanggakan, jangan sampai isu tentang ayahmu itu membuat para pemegang saham meragukan integritas kita."
Isvara berhenti mengunyah. Ia meletakkan garpunya dengan pelan, lalu mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam menatap Adrian tanpa setitik pun keraguan.
"Integritas siapa yang kamu khawatirkan, Adrian? Integritas perusahaan, atau egomu yang takut tercoreng karena punya istri sepertiku?" tanya Isvara, suaranya sangat tenang namun menohok. "Aku akan hadir dan melakukan tugasku dengan profesional, seperti yang selalu kulakukan. Tapi jangan harap aku akan tersenyum manis saat keluargamu mulai melemparkan kata-kata sampah padaku. Jika kamu ingin aku menjadi pajangan yang sempurna, carilah boneka di toko mainan, bukan arsitek yang otaknya sedang kamu peras habis-habisan."
Adrian terperangah. Nafsu makannya mendadak menguap, digantikan oleh rasa panas yang menjalar di dadanya. "Kamu... kamu benar-benar sudah tidak punya rasa hormat lagi, Isvara?"
"Hormat itu didapat, Adrian, bukan dipaksakan lewat surat perjanjian," sahut Isvara dingin. Tiba-tiba, rasa mual menghantam perutnya. Bukan karena makanan sehat di depannya, melainkan karena kehadiran Adrian dan topik pembicaraan mereka. Nafsu makan Isvara hilang sepenuhnya.
Isvara berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan suara derit yang memilukan. "Aku sudah kenyang. Aku ingin istirahat."
"Duduk kembali, Isvara!" perintah Adrian, suaranya naik satu oktav. "Habiskan makananmu. Kita belum selesai bicara!"
Isvara tidak memedulikan perintah itu. Ia bahkan tidak berbalik. Dengan langkah yang anggun namun pasti, ia meninggalkan meja makan dan menaiki tangga menuju lantai dua, meninggalkan Adrian yang terpaku dengan amarah yang memuncak.
Adrian mendengus sinis, menatap piring Isvara yang masih tersisa setengah. Perhatiannya tertuju pada potongan tempe panggang dan sayuran rebus yang tampak hambar itu. "Apa yang sebenarnya dia makan sampai sikapnya menjadi sekeras ini?." pikir Adrian aneh.
Dengan rasa ingin tahu yang besar bercampur kesal, Adrian mengambil garpu Isvara dan mencicipi satu potong makanan milik istrinya itu. Begitu lidahnya menyentuh makanan tersebut, dahi Adrian berkerut.
"Aneh," gumamnya pelan. Rasanya hambar, sangat sedikit garam, dan hampir tidak ada rasa sama sekali. Bagaimana Isvara bisa bertahan hidup dengan makanan semacam ini setiap hari? Keinginan Adrian untuk memahami Isvara kembali muncul, namun segera ia tepis jauh-jauh. Baginya, Isvara hanyalah teka-teki yang tidak ingin ia pecahkan.
Di lantai atas, Isvara masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu jati yang kokoh itu, memejamkan mata sambil memegangi dadanya yang kembali terasa nyeri. Setiap kali berdebat dengan Adrian, jantungnya selalu memberikan reaksi yang menyakitkan.
Ia mengganti pakaian rumahan yang dia pakai dengan piyama sutra yang longgar, berharap bisa mengurangi rasa sesak di dadanya. Isvara merebahkan diri di atas ranjang king size miliknya ranjang yang ia tempati sendirian meskipun ia berstatus sebagai seorang istri. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia hanya ingin dunia berhenti berputar untuk beberapa jam saja.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Ponselnya di atas nakas bergetar hebat. Nama yang muncul di layar seketika membuat seluruh tubuh Isvara menegang.
Ibu.
Isvara menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau. Ia tahu panggilan ini tidak akan membawa kabar baik. Ia tahu panggilan ini hanya akan menaburkan garam di atas luka yang belum kering.
"Ya,?" suara Isvara terdengar lelah.
"Vara! Akhirnya kamu angkat juga!" suara ibunya di seberang sana terdengar mendesak, tanpa basa-basi menanyakan kabar. "Ibu dengar dari berita kalau perusahaan suamimu itu semakin besar. Kamu kan sekarang orang kaya, Vara. Masa kamu tega lihat kakakmu, Sekar, hidup susah seperti ini? Toko baju Sekar baru saja bangkrut karena terlilit utang. Dia butuh modal lagi, Vara. Bantu kakakmu, ya?"
Isvara memejamkan mata rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. Sekar. Kakak sulungnya yang selalu dimanja, yang selalu mendapatkan porsi kasih sayang penuh dari ibu dan ayahnya, sementara Isvara harus berjuang sendirian di panti asuhan demi mendapatkan sesuap nasi dan pendidikan.
"Bukankah aku tidak ada kepentingan membantu kalian," suara Isvara bergetar, namun ibunya seolah tuli.
"Isvara kamu tidak boleh bicara seperti itu." Ucap ibu yang menghentikan ucapannya karena Isvara langsung menyerang ibu kandungnya.
"Dengar baik-baik." ucap Isvara, setiap katanya ditekankan dengan tajam. "Jangan pernah lagi meneleponku hanya untuk meminta uang demi membiayai kemalasan Sekar. Aku sudah memberikan semua yang aku bisa selama bertahun-tahun ini. Jika Sekar ingin hidup lebih baik, suruh dia bekerja, bukan hanya menanti belas kasihanku!"
"Vara! Kamu berani sama Ibu?!"
Kalimat itu menjadi pemantik bagi kemarahan Isvara yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Isvara bangkit duduk, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan menohok.
"Aku tidak sedang melawan, aku sedang menetapkan batasan!" potong Isvara cepat. "Jangan ganggu kehidupanku lagi. Aku juga butuh kehidupan yang tenang tanpa gangguan dari orang-orang yang hanya mengingatku saat mereka butuh uang. Jika Ibu atau Sekar masih punya harga diri, berhentilah mengemis padaku. Aku bukan mesin uang!"
Isvara langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan melempar ponselnya ke ujung kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan isak tangis yang tertahan akhirnya pecah di dalam kamar yang sunyi itu.
Inilah hidup Isvara. Di luar, ia adalah singa yang ditakuti di dunia bisnis. Di rumah ini, ia adalah tawanan dalam pernikahan yang dingin. Dan bagi keluarganya, ia hanyalah alat untuk memperbaiki hidup kakak kesayangannya. Isvara merasa benar-benar sendirian di dunia ini, berdiri di tengah badai yang tak kunjung usai, berjuang agar jantungnya tidak berhenti berdetak sebelum ia bisa meraih kebebasan yang sesungguhnya.
Aku sesak Isvara...