Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31: Perundungan
Rintik hujan perlahan mulai membasahi bumi, mengguyur lebatnya hutan yang kini diracuni oleh aroma anyir darah yang menyengat. Di sebuah sudut yang jauh dari pusat pertarungan sebelumnya, pembunuh bayaran terakhir dari kelompok Bulan Sabit Merah harus meratapi nasibnya yang tragis. Bahu kirinya tertancap dalam oleh bilah pedang yang dilemparkan dari jarak jauh, menembus daging hingga terpaku mati pada sebuah batang pohon besar di belakangnya.
Di tengah deru napasnya yang tersengal karena panik, sebuah siluet hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak tampak berjalan mendekat. Langkah kakinya tenang, seirama dengan detak jantung kematian yang mengintai tanpa emosi. Qin Xiang berhenti tepat beberapa jengkal di depan pria itu. Tanpa setetes pun rasa iba, ia mencengkeram gagang pedang rusaknya dan menekannya jauh lebih dalam, memaksa tubuh tak berdaya itu untuk semakin bergesekan dengan kasar pada kulit pohon.
"Tolong... ampun..." rintih si pembunuh dengan sisa tenaga yang ada. Kain merah yang semula menyembunyikan wajahnya kini telah koyak, menyingkap rupa yang pucat pasi karena dikuasai ketakutan yang luar biasa.
"Mencoba melarikan diri dariku hanya akan membuat penderitaanmu terasa jauh lebih panjang," ujar Qin Xiang dingin. Ia memutar gagang pedangnya sedikit demi sedikit, memancing jerit kesakitan yang menyayat malam. "Katakan, siapa yang memberikan perintah untuk membunuhku?"
"Ahk! Berhenti! Aku akan bicara... tolong ampuni nyawa kecilku ini!" Pria itu memohon dengan air mata yang menyatu dengan derasnya hujan. "I-Itu adalah Ji Yang! Putra dari Tetua Agung Ji Jie!... Tolong, aku hanya menjalankan perintah. Tolong lepaskan aku—"
"Aku tidak pernah memberikan janji untuk membiarkanmu pergi," balas Qin Xiang datar. Matanya berkilat tajam di balik gelap malam. "Sebab hanya orang mati yang mampu menyimpan rahasia."
Seketika, bilah pedang di tangan Qin Xiang berkelebat cepat. Dalam satu gerakan bersih, kepala pembunuh terakhir itu terkulai, menyisakan genangan darah yang membasahi tanah yang mulai becek.
"Ji Yang. Egomu rupanya benar-benar sudah melampaui batas hingga mengirim tikus-tikus ini," cibir Qin Xiang sinis. Selama ini, ia hanya menganggap perselisihan mereka sebagai kerikil kecil yang lazim terjadi di dunia kultivasi. Namun, mengirim pembunuh bayaran tingkat Inti Formasi membuktikan bahwa Ji Yang telah menggali lubang kuburnya sendiri.
Sebuah kilasan pikiran mendadak menyelinap dalam benaknya. Jika Ji Yang sudah berani mengambil tindakan sebesar ini kepadanya, maka Qu Long kemungkinan besar sedang menghadapi bahaya yang sama.
"Aku harus segera kembali."
...
Beberapa dupa berselang, tepat sebelum fajar sempat menyingsing, Qin Xiang telah melewati gerbang utama sekte. Ia bergerak secepat bayangan, langsung menuju kamar asramanya dengan harapan yang segera pupus.
Kosong.
Tanpa membuang waktu, ia melesat menuju Aula Kultivasi. Ia mencoba bertanya kepada beberapa murid luar yang masih mendiami zona pertama, namun hasilnya nihil; tak seorang pun melihat Qu Long sejak matahari terbenam.
"Di mana bocah tambun itu?" gumam Qin Xiang sembari menyisir koridor dengan tatapan yang kian mendingin.
Ia terus menyisir setiap sudut hingga akhirnya bertemu dengan seorang murid perempuan yang tampak ragu-ragu. Setelah sedikit desakan, murid itu memberitahu bahwa ia melihat Qu Long "diajak" secara paksa oleh beberapa murid senior menuju ke bagian barat sekte—wilayah sunyi yang jauh dari pantauan para tetua.
"Terima kasih, Saudari Junior," ujar Qin Xiang sembari menangkupkan tinju dengan singkat. Ia langsung berbalik dan berjalan pergi menuju titik terakhir Qu Long terlihat. Wajahnya yang semula tenang kini sepenuhnya tertutup oleh awan niat buruk; jika sampai Qu Long berakhir tragis, ia akan memastikan Ji Yang membayar harganya dengan sangat mahal.
...
Bagian barat sekte adalah wilayah asrama bagi para murid magang. Karena Qin Xiang pernah menghabiskan waktu lama di tempat ini sebagai "sampah" sekte, ia mengenali setiap jengkal tanahnya dengan sangat baik. Setelah memeriksa beberapa saat, matanya menyipit saat menatap ke arah hutan bambu yang tumbuh rimbun di sekitar asrama magang.
"Hutan itu..." bisiknya pelan sebelum melesat masuk ke dalam barisan bambu yang bergoyang.
...
Di tengah hutan bambu yang berserakan, sebuah tubuh tambun terbaring tak berdaya di atas tanah. Qu Long meringis kesakitan; wajahnya penuh dengan luka lebam keunguan, napasnya tersengal karena rasa nyeri dari rusuknya yang mungkin retak akibat perundungan beberapa murid sekte luar. Namun, meski kondisinya mengenaskan, suasana di sana tidaklah sunyi. Beberapa jeritan kesakitan justru datang dari para perundung yang nasibnya ternyata tidak jauh berbeda dengan Qu Long.
"Hahaha!" Qu Long tertawa getir di sela batuk darahnya. Ada kilat kebanggaan di matanya karena berhasil menjatuhkan beberapa perundung dan melukai mereka yang secara ranah berada di atasnya.
"B*bi! Aku benar-benar akan membunuhmu!" Seorang perundung di ranah Qi Fondasi tahap 5 yang tubuhnya penuh dengan bekas sabetan mencoba merangkak mendekat sembari menghunuskan pedang dengan tangan gemetar.
"Jangan bunuh dia... Master Sekte sangat melarang keras pembunuhan..." cegah rekannya yang lain, yang kondisinya terlihat jauh lebih hancur di sudut lain.
"Cih! Tapi tidak ada larangan untuk mematahkan setiap tulang rusuknya, bukan?!" Ia menatap sinis ke arah Qu Long yang masih memamerkan senyum mengejek.
"Coba saja kalau berani! Kakak Qin pasti akan mematahkan kemaluan kalian begitu dia kembali, hahaha!" tantang Qu Long berapi-api.
"Hehe, sampah itu? Aku mendengar kabar bahwa Senior Ji sudah mengurusnya dengan tuntas di luar sana," balas si perundung dengan ekspresi kejam.
Senyum di wajah Qu Long seketika membeku. Rasa pucat mulai merayap di wajahnya saat logika lambatnya menyadari kemungkinan pahit itu. "Apa... apa katamu?"
"Hahaha! Ada apa? Mana senyum jelekmu tadi, hah?!" Perundung itu menginjak dada Qu Long, menekan luka lebamnya dengan tumpuan berat badan. "Mari kita lihat bagaimana Kakak Qin-mu itu akan jatuh dari langit untuk menyelamatkan nyawa kecilmu ini!"
"Tidak mungkin..." Qu Long bergumam lirih. Namun, tepat saat keputusasaan mulai menyelimutinya, matanya menangkap sesosok familiar yang muncul tiba-tiba dari balik kabut bambu, menjatuhkan salah satu perundung di kejauhan hanya dengan satu serangan bisu.
"...Kakak Qin!"
"Apa kau sudah gila? Berhenti menyebut nama orang mati itu, Babi!" bentak perundung yang menginjaknya, sama sekali belum menyadari bahwa badai maut sedang berdiri tepat di belakang punggungnya.
"BERANI!"
Suara dingin Qin Xiang meledak, menyelimuti seluruh hutan bambu laksana guntur yang turun dari langit. Gelombang tekanan energinya begitu kuat hingga membuat ribuan daun bambu berguguran secara serentak, seolah-olah musim semi telah dipaksa kembali dalam sekejap mata.
"Apa yang—"
BANG—!
Sebelum perundung itu sempat menoleh, tinju Qin Xiang sudah mendarat telak di wajahnya. Tubuh murid itu terlempar jauh, menabrak lusinan batang bambu hingga hancur berkeping-keping sebelum akhirnya berguling tak berdaya di atas tanah yang dingin.
Qin Xiang berdiri mematung di tengah reruntuhan bambu. Ia sedikit mengernyit, menimbang-nimbang dalam batin untuk menahan diri agar tidak melanggar aturan sekte yang tegas. Ia lalu menatap tubuh penuh luka Qu Long dengan sedikit rasa iba, namun ada gurat pujian yang tak tertutupi di wajahnya.
"Kerja bagus," lirihnya sembari mengamati tubuh-tubuh perundung yang telah lebih dulu ditumbangkan oleh Qu Long.
"Hahaha... apakah Kakak Qin baru saja memujiku?" Qu Long mencoba merangkak duduk, berusaha mengatur napasnya yang tersengal sembari mengusap darah yang mengalir di wajahnya.
"Apakah kau menggunakan teknik yang kuberikan sebelumnya?" tanya Qin Xiang sembari mengulurkan tangan, menopang tubuh tambun Qu Long untuk bangkit berdiri.
"Tentu saja!" Qu Long mengangguk, senyum bualan khasnya kembali muncul meski ia harus meringis menahan nyeri. "Jika aku benar-benar serius, mereka semua pasti sudah aku kirim ke akhirat! Aku hanya tidak ingin Dantianku dihancurkan oleh para tetua karena melanggar aturan."
Qin Xiang tidak tahu apakah itu hanya sekadar bualan belaka atau fakta. Ia memilih untuk tidak membalas dan hanya menyangga beban tubuh Qu Long, membawanya melangkah kembali menuju pusat sekte tanpa menoleh sedikit pun kepada para perundung yang terkapar tak berdaya di belakang mereka.
Bersambung!