NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:46.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terciduk

Gibran terkekeh geli melihat kepolosan sekaligus sifat materialistis istrinya ini. Dia merogoh saku belakang celananya untuk mengambil dompet. Namun, tepat ketika Gibran baru saja membuka dompet kulitnya, sebuah suara wanita yang melengking tinggi dari arah belakang mengejutkan mereka berdua.

"Gibran?! Kamu ngapain di lobi jam segini?"

Nayla dan Gibran menoleh serempak.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat elegan, perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya, dan kacamata hitam yang disampirkan di atas kepala, sedang berjalan anggun ke arah mereka. Di belakang wanita itu, seorang pria tua bertubuh tegap dengan rambut memutih namun tatapan matanya sangat tajam mengikuti dengan langkah berwibawa.

Gibran mendadak membeku, wajahnya kembali memucat. "Mama? Papa?" bisiknya dengan nada horor yang sangat kentara.

Nayla ikut menegang. ("Mama-Papa? Berarti mereka adalah ... pemilik gedung ini?!") batin Nayla menjerit panik.

Jantung Nayla langsung seperti jatuh ke dasar perutnya. Seluruh tubuhnya menegang kaku. Tangannya yang sejak tadi memegang ujung tas kecilnya,tangannya mendadak berkeringat dingin.

("Ya Allah… mereka orang tua Mas Gibran? Pemilik hotel ini? Habis aku … pasti habis!") batinnya kacau.

Nayla refleks mundur setengah langkah, seolah ingin bersembunyi di balik tubuh Gibran. Rasa minder langsung menghantamnya tanpa ampun. Penampilannya sangat sederhana hanya mengenakan baju kerja yang sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya sedikit pudar, sepatu murah dan penampilan yang sederhana tanpa aksesori apa pun. Sangat kontras dibanding wanita elegan di hadapannya yang terlihat seperti sosialita kelas atas.

Sementara itu, mama Gibran menghentikan langkah tepat di depan mereka. Sorot matanya bergerak pelan dari kepala sampai kaki Nayla, membuat gadis itu merasa seperti sedang dihakimi.

Gibran terlihat sama gugupnya. Untuk pertama kalinya Nayla melihat pria itu benar-benar kehilangan arah. Dompet di tangannya bahkan hampir terjatuh.

“M-Mama ngapain ke sini ?” tanya Gibran dengan tawa kaku yang dipaksakan.

“Apa maksud pertanyaan itu? Ini hotel keluarga kita,” jawab wanita itu tajam. “Justru Mama yang harusnya tanya, kamu sedang apa di sini bersama gadis ini?”

Deg!

Napas Nayla tercekat.

Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Otaknya berpikir ke mana-mana. ("Bagaimana kalau mereka marah karena aku masuk ke hotel semewah ini? Bagaimana kalau mereka mengira aku perempuan murahan? Bagaimana kalau mereka menyuruh satpam mengusirku sekarang juga?")

Pria tua di samping mama Gibran belum mengatakan apa pun sejak tadi, tetapi tatapan tajamnya justru membuat Nayla semakin ciut.

Suasana mendadak menjadi sangat canggung.

Gibran dan Nayla saling melirik panik. Keduanya sama-sama bingung harus menjelaskan apa. Tidak mungkin mereka mengatakan kalau pernikahan itu terjadi secara mendadak. Tidak mungkin juga mereka mengaku tinggal satu kamar tanpa restu keluarga.

“Ehm… jadi…” Gibran membuka suara pelan.

Namun kata-kata berikutnya tertahan di tenggorokan.

Sedangkan Nayla sudah hampir ingin menangis karena ketakutan.

"Katanya kamu tadi buru-buru ke ruangan karena ada rapat internal, kok malah berdiri di lobi sama ..." Wanita yang dipanggil Mama itu menghentikan kalimatnya, menatap Nayla dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menyelidik yang membuat Nayla merasa seperti selembar baju loakan yang sedang ditawar.

"...sama siapa ini, Bran? Karyawan baru?"

"Bukan, Ma. Ini ..." Gibran mendadak gagap, otaknya yang biasa encer mendadak macet total menghadapi situasi mendadak ini.

Sementara itu, Baskoro Mahardika sang ayah yang terkenal dingin dan bertangan besi di dunia bisnis melangkah maju.

Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung tertuju pada kemeja putih yang dikenakan Gibran. Pria tua itu mengernyitkan dahi.

"Gibran, kemeja apa yang kamu pakai itu?" tanya Baskoro, suaranya berat dan mengintimidasi. "Bahannya kasar, jahitannya tidak rapi, dan ukurannya sedikit terlalu longgar untuk bahumu. Sejak kapan kamu membeli pakaian murah seperti itu? Mana setelan jas pesanan khusus yang Papa belikan dari London?"

Gibran menelan ludah dengan susah payah. Dia melirik sekilas ke arah Nayla yang kini menunduk dalam-dalam karena tersinggung kemeja pemberiannya dihina sebagai pakaian murah.

"Ini ... ini kemeja darurat, Pa. Semalam jas Gibran kena tumpahan kopi di mobil, jadi Gibran terpaksa beli kemeja ini di ... di toko dekat sini," bohong Gibran, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

Sang mama, yang bernama Renata, melangkah lebih dekat ke arah Nayla. Indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu. "Tunggu dulu. Kok wangi parfum kamu sama dengan wangi parfum di baju Gibran ya, Mbak?" tanya Renata dengan nada penuh selidik yang sangat berbahaya.

Nayla mendongak kaget, matanya membelalak panik. Dia lupa kalau semalam tubuhnya sempat menempel erat pada dada Gibran saat insiden penggerebekan, sehingga parfum mahal Gibran menempel di kemejanya, sementara bau detergen murah milik Nayla mungkin tertinggal di kemeja putih yang kini dipakai Gibran.

"Eh, itu ... itu karena..." Nayla terbata-bata, merutuki nasibnya yang selalu terjebak dalam situasi salah paham.

"Dia pacar kamu, Gibran?" tebak Baskoro langsung pada intinya, membuat atmosfer di lobi gedung itu mendadak menjadi sedingin ruang pembeku. "Papa sudah berulang kali bilang, kalau kamu mau mencari pasangan, cari yang setara. Yang bisa mendukung bisnismu, bukan cewek yang ... yang penampilannya bahkan tidak cocok masuk ke gedung ini."

Perkataan Baskoro yang sangat merendahkan itu bagaikan tamparan keras bagi harga diri Nayla. Rasa minder yang tadi sempat hinggap mendadak menguap, digantikan oleh rasa dongkol dan amarah yang menyala-nyala. ("Enak saja orang tua ini bicara! Anak laki-lakinya yang pingsan mabuk di teras rumahku, kenapa sekarang aku yang dituduh tidak level?!")pikir Nayla meradang.

Nayla baru saja hendak membuka mulutnya untuk membalas perkataan ketus Baskoro dan membongkar semua kejadian memalukan semalam, namun sebelum sepatah kata pun keluar dari bibirnya, Gibran mendadak meraih pergelangan tangan kanan Nayla dengan erat.

Gibran menarik tubuh Nayla agar berdiri tepat di sampingnya, lalu menatap lurus ke arah mata sang ayah dengan pandangan yang penuh determinasi yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.

"Dia bukan pacar Gibran, Pa," ucap Gibran dengan suara bariton yang tegas dan menggema di sudut lobi.

Renata mengembuskan napas lega. "Oh, syukurlah kalau bukan "

"Dia istri Gibran. Menantu sah Papa dan Mama," potong Gibran dengan tenang namun berbobot, telak membungkam kalimat sang mama.

Hening.

Lobi Mahardika Tower mendadak seperti kuburan. Baskoro Mahardika melotot dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya, sementara Renata langsung memegangi dadanya, seolah-olah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak dihentikan secara paksa oleh takdir yang benar-benar salah alamat.

Nayla sendiri hanya bisa menatap Gibran dengan mulut setengah terbuka, menyadari bahwa kehidupan dewasanya yang tenang sebagai buruh korporat baru saja tamat digantikan oleh babak baru yang jauh lebih gila.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
MayAyunda: hai juga kak .terimkasih sudah mau mampir
total 1 replies
Indriani Kartini
keterlaluan bngt thor ngidamnya, 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
🔵🌹 Widian🧕
duh kasihan banget Nayla, kenapa waktu pertama lihat orang asing di teras rumah. ...nggak langsung lapor tetangga atau RT, jadinya runyam kan urusannya ?😬
MayAyunda: lagi panik kak he he
total 1 replies
🔵🌹 Widian🧕
wah...baru bab awal, aku sudah deg-degan nih.
siapa bos yang seenaknya mengatur ?
siapa itu sosok mayat di depan rumahnya ?
bagus Thor....👍
MayAyunda: baca terus kak ..terimkasih 🙏
total 1 replies
Muji Lestari
lanjutt thor
MayAyunda: terimkasih 🙏
total 1 replies
Queen Aletha
done ya ka thor
Hari Saktiawan
kenapa cuma satu bab aku ingin lebih sorry ya Thor permintaan ku banyak
MayAyunda: mf kak ada beberapa buku yg lain going kak silahkan baca :suami Dadakanku penjual bakso bakar,suami dadakan untuk Cantika,pembalasan istri yg terbuang,nikah dadakan karena warga,nikah dadakan demi parasetamol,nafkah 500 RB yang selalu diungkit
total 1 replies
Alia Chans
Hadir😉
MayAyunda: Terimkasih
total 1 replies
Chandra Dewi
seharusnya ttp melalui protokol jgn lengah sebelum tertangkap
MayAyunda: iya kak,terimkasih
total 1 replies
Hari Saktiawan
aku kurang suka ngomong lu gue bahasa planet ya Thor
Rio Mario
ya ampun nay ngidamnya ngerjain suami banget 🤣🤣 btw kok ortunya Gibran dr awal kehamilan Nayla gak pernah nongol ya ... pas awal kehamilan aja yg nyuruh mkn Makanan yg dia kirim🙏
MayAyunda: iya kak ..cerita lagi fokus ke Gibran apa Cantika 😁😁🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
🥰
Shinta Apriyani
sehat² Bumil n calon Debay🥰
Shinta Apriyani: sama²🥰
total 2 replies
Rio Mario
cerita nya bagus banget.... semangat ka othor nulis nya
MayAyunda: siap kak terimkasih
total 1 replies
Shinta Apriyani
Alhamdulillah selamat Nay
Shinta Apriyani: sama²☺️..ttp semangat ya👍
total 2 replies
gibran salamun
makin seru aja jalan ceritanya Nayla gak bisa diremehkan biar dari keluarga sederhana
MayAyunda: terimkasih🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
bhsnya ganti Ghibran jgn gw lo lg ya
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Shinta Apriyani
Akhirnya...haaah ikut lega👍☺️
MayAyunda: he he 😄🙏
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor, jangan lupa mampir yar😊
MayAyunda: siap.terumkasih kak
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!