"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."
Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kejadian di Andhangpangrenan
i
Gilang bawa aku ke Andangpangrenan.
“Mau makan di sini?” Aku nanya setelah turun dari motor dan meletakan helm di atas jok.
“Iya.”
“Mau makan apa?”
“Ini.” jawab Gilang sambil nunjuk motornya.
“Masa aku makan motor?”
Dia ketawa terus naruh helm yang aku pakai sebelumnya di spion, lalu membuka jok, kemudian mengambil bingkisan dari dalamnya. “Ini yang ada di dalam.”
“Oooh.... bawa bekal?”
“Iya.” katanya sembari melangkah menuju loket kemudian membayar untuk mendapatkan tiket masuk.
Setelah melalui gerbang, aku kembali menanya sambil jalan di sisi kanannya. “Siapa yang masak?”
“Aku,”
Aku kaget mendengar jawabannya. Benarkah? “Kamu bisa masak?”
“Engga.”
“Loh? Maksudnya apa?”
Dia berhenti mendadak dan menatapku. “Lihat.” katanya sambil menunjuk sekelilingnya dengan tangan kiri. “Ga ada peralatan dan bahan masak di sini.”
Ih sebel. Ujar hatiku. Namun aku diam dan memukul pelan lengan kananya. Terus kami ketawa.
“Kamu masak apa?”
“Ada deh.” katanya. “Eh, kita makan di sana aja, ya?” ajaknya sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang menghadap permainan anak yang sedang digunakan.
“Boleh.” Aku jawab.
Mendadak Gilang memegang tanganku dan mempercepat langkahnya entah kenapa.
Sesampainya, kami duduk sejajar tapi saling menatap satu sama lain.
Sungguh, bagiku, itu memang kencan!
Aku senyum sama dia yang senyum kepadaku.
“Fi,” sapanya.
“Apa?” Aku nanya meski gerogi.
“Lihat kamu, aku jadi laper.”
Aku langsung melengos setelah mendengarnya. Kali ini bukan karena marah, tapi malu yang tidak menentu.
Kemudian, dari sudut mataku, aku lihat Gilang mengeluarkan isinya. Tampak satu kotak berwarna jingga dengan penutup kuning serta sebotol air minum.
“Minum dulu,” katanya menyilahkan kepadaku botol yang sudah dibuka tutupnya.
Menghadapnya, meraih benda itu lalu minum.
Gilang senyum, terus minum.
Aku benar-benar tidak tahu apa saja yang ada dalam pikirannya. Tapi sungguh, aku saat itu, memiliki pandangan yang berbeda dari Gilang. Dia sangat memanjakanku, bukan karena PDKT, atau sejenisnya. Tapi aku merasa, dia melakukan itu karena memang membuatnya senang, atau entahlah. Aku hanya menebak.
Selanjutnya, lagi dan lagi, Gilang membuatku terkejut setelah dia membuka penutup kotak makan. Aku melihat, bakpao! Itu adalah makanan yang dia bilang mirip sama mukaku. Apa maksudnya?
“Kamu yang bikin ini?” Aku nanya.
“Engga.” Dia jawab sambil membagi roti itu menjadi dua.
“Terus, kamu masak apa?”
Gilang memberikan separuh bakpao kepadaku, langsung kuterima.
“Air.”
“Hah?”
“Iya, aku masak air buat minum.” jawabnya santai membuatku makin terkejut.
Ah, benar juga. Ga mungkin seorang sepertinya yang senangnya tidur di kelas bisa masak. Aku saja yang salah berharap.
Angin berhembus, sedikit kencang, memberi kepastian tentang perlunya daun-daun pepohonan di sekeliling kami menggugurkan dirinya yang telah menguning karena habis dimakan usia, khususnya untuk aku, biar bisa merasa romantis di dalam kesenduan bersama Gilang.
“Lihat,” kata Gilang sambil memberi kode dengan mukanya. Kulihat sebentar ke arah yang dimaksudnya di depan kami. Pria dewasa yang memiliki seorang anak dan tengah asik menuntunnya melewati jembatan goyang, sedang ibu di sisi agak jauh dari mereka berseru menyemangatinya, sambil aku memakan bagianku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku suka ayahnya.”
“Heh?!”
“Bukan cinta.” jawabnya sambil menatapku.
“Terus?”
Gilang kembali memandang ke arah sang ayah, aku mengikuti maunya.
“Dia tahu, jembatan itu tidak aman. Kayunya sudah rapuh, banyak pengait yang lepas, dan goyangan yang ditimpulkan setiap anaknya bergerak sangat tidak seperti pada umumnya. Kalau anaknya jatuh, setidaknya cukup untuk menggores kulitnya hingga berdarah. Aku yakin, anak dan istrinya juga paham soal itu. Tapi mereka tetap mengikuti kemauan sang anak.”
Memang benar apa yang dikatakan Gilang. Itu cukup bahaya, terlebih jika tafsiranku tepat, umur anak itu baru jalan dua atau tiga tahun. Tapi kenapa Gilang menyukai sang ayah? Pikirku. Kutatap ke arah Gilang sambil terus makan bakpao.
“Aku berpikir begini,” katanya lalu menatapku. “Jalan nak, terus maju meski langkahmu tidak semulus sesuai harapanmu. Ayah di sini untuk menjagamu. Sedang ibu, menyemangati dan mendoakanmu.” tambahnya sambil memandang ke arah mereka lagi.
Aku, lagi-lagi tersentuh oleh kalimat Gilang. Dia benar-benar mengambil sesuatu yang luar biasa dari hal sepele seperti permainan itu.
“Tapi,” katanya. “jika aku jadi sang ayah, aku mau kau jadi sang ibu.”
Tersentak. Mataku tercekat setelah mendengarnya. Sungguh aku tidak bisa berkata-kata, aku hanya diam memandangnya sambil terus makan.
♥ ♥ ♥
ii
Sebetulnya, waktu itu, aku ingin nanya ke Gilang, perihal apakah aku dengannya sudah pacaran apa belum? Mumpung kami sedang berdua di Andang pangarenan. Tapi aku begitu malu untuk menanyakannya.
Padahal itu adalah kesempatan paling baik yang pernah aku inginkan bahwa kalau aku sedang berdua dengannya akan menanyakan soal itu. Nyatanya, kesempatan datang, dan kudiamkan.
Mungkin itu mudah bagimu, tapi aku mendapat kesulitan. Terlebih karena sikap Gilang padaku yang seringnya cuek, meksi memang dia membantuku diam-diam.
Sebenarnya bisa saja kuanggap hal itu tidak penting, dan jalani semuanya seperti biasa, seolah-olah kami memang sudah berpacaran.
Tapi, tentu aku merasa lebih nyaman kalau resmi. Jadi aku punya hak untuk mengklaim Gilang sebagai pacarku, dan dia juga begitu.
Aku yakin, kamu mengerti maksudku.
♥ ♥ ♥
iii
Sehabis makan, Gilang langsung memacu motornya menuju ke arah Wangon. Sungguh aku tidak ingat jalan mana saja yang dia ambil, karena terus susur-susur gang kecil.
Ah, kebiasaannya memang aneh. Tapi, kalau boleh jujur, jalan yang Gilang pilih jauh lebih sepi, jauh lebih segar daripada jalan raya, jauh lebih membuatku menikmati kebersamaan dengannya.
Senang sekali rasanya bisa bersama pria yang kuanggap bisa membuatku senang seketika. Tenang sekali rasanya bisa bersama pria yang kuanggap bisa memberikan perlindungan. Nyaman sekali rasanya bisa bersama pria yang kuanggap bisa membuatku bergantung dengannya. Riang sekali rasanya bisa bersama pria yang aku rindukan bisa berdua dengannya.
Biarkan aku memilih dan memiliki kesenangan-ku. Aku tak pernah ingin menganggumu, jadi jangan kau ganggu aku.
saya berharap author membalas nya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak
aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
lanjuuuut!
🆙🆙🆙🆙
up terus