"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Racun di Dalam Kristal
Malam pelelangan berlian The Grand Alexander diadakan di ballroom hotel bintang enam yang berkilauan. Ratusan lampu kristal menggantung, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan setelan tuksedo mahal. Aku melangkah masuk dengan gaun emerald green yang memeluk tubuh, lenganku melingkar di lengan kokoh Liam.
Liam terlihat luar biasa tampan malam ini. Auranya yang dominan membuat orang-orang menyingkir memberinya jalan. Tapi di balik wajah datarnya, suara hatinya terus mengoceh.
[Kenapa semua pria menatapnya?! Aku ingin mencolok mata mereka satu per satu! Blair, jangan tersenyum pada siapa pun kecuali aku. Gaun ini... terlalu cantik untuk dilihat orang lain. Aku ingin segera pulang dan mengurungmu di kamar.]
Aku menahan tawa, meremas lengannya pelan. "Tenanglah, Liam. Aku hanya milikmu malam ini."
Liam tersentak, telinganya memerah. "Aku... aku tenang. Siapa yang bilang aku tidak tenang?"
Tiba-tiba, langkahku terhenti. Di tengah kerumunan, sosok wanita dengan gaun merah menyala berjalan mendekat. Wajahnya cantik, namun senyumnya memancarkan kelicikan yang sangat kukenal.
Elodie Lunara. Sahabatku di dunia nyata, musuh dalam selimut di dunia novel ini.
"Blair! Sayangku, kau datang!" Elodie memelukku singkat, aroma parfumnya menyengat. "Kau terlihat luar biasa. Oh, Tuan Alexander, terima kasih sudah menjaga sahabatku dengan baik."
Liam hanya mengangguk kaku, sorot matanya dingin.
"Blair, kemarilah sebentar. Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Ini tentang permata Ruby yang kau incar itu," bisik Elodie sambil menarik tangannya.
Aku melirik Liam. "Tunggu sebentar ya, Liam. Aku akan bicara dengan Elodie."
[Jangan pergi... aku tidak suka wanita itu. Tatapannya licik. Tapi Blair tampak sangat bersemangat. Sial, aku tidak bisa melarangnya jika dia sudah memberikan tatapan memohon seperti itu.]
Aku mengikuti Elodie ke sudut balkon yang lebih sepi. Di sana, seorang pelayan—yang kuyakin adalah orang suruhan Andreas—sudah menunggu dengan nampan berisi dua gelas sampanye.
"Minumlah dulu, Blair. Kau tampak haus," Elodie menyodorkan gelas kristal itu padaku. Matanya berkilat penuh antisipasi.
Aku menatap cairan bening di gelas itu. Sesuai Bab 5 di naskah asli Elodie, gelas ini berisi obat perangsang dosis tinggi. Rencananya, setelah aku meminum ini, Andreas akan muncul dan membawaku ke kamar hotel, sementara Elodie akan memanggil Liam untuk memergoki kami.
"Kenapa kau tidak minum dulu, Elodie? Kau yang bicara terus sejak tadi," ucapku santai, sambil menukar gelas di tanganku dengan gelas yang ia pegang di nampan.
Elodie tampak tersentak, wajahnya sedikit pucat. "Ah... aku sedang diet alkohol, Blair. Ini khusus untukmu."
"Diet alkohol? Sejak kapan seorang Elodie menolak sampanye mahal?" aku melangkah mendekatinya, memojokkannya ke pagar balkon. "Ayo, minumlah. Sebagai tanda persahabatan kita yang... sangat tulus ini."
"Blair, kau aneh sekali hari ini..." Elodie mencoba menjauh, namun aku mencekal tangannya.
"Atau kau takut, Elodie?" bisikku tepat di telinganya. "Takut dengan ramuan yang kau masukkan sendiri ke dalam gelas ini? Kau pikir aku sebodoh karakter yang kau tulis?"
Elodie membelalak. "Apa maksudmu?! Karakter apa?!"
"Aku tahu semuanya, Elodie. Tentang kau, tentang Andreas, dan tentang niat busuk kalian malam ini," aku meletakkan gelas itu kembali ke nampan pelayan dengan kasar hingga isinya tumpah. "Jangan pernah berpikir untuk bermain api denganku. Karena di dunia ini, aku adalah ratunya, dan kau hanyalah figuran yang mencoba mencuri panggung."
"Kau... kau gila, Blair!" Elodie berteriak pelan, wajahnya kini benar-benar putih bersih karena ketakutan.
"Pergilah sebelum aku menyuruh Liam menghancurkan seluruh karirmu dalam satu jentikan jari," ancamku sinis.
Elodie lari terbirit-birit, hampir tersandung gaunnya sendiri. Aku menghela napas, membersihkan tanganku dengan tisu. Rasanya sangat memuaskan bisa menghancurkan plot buatan penulisnya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar melingkar di pinggangku dari belakang. Aroma sandalwood yang familiar menenangkan sarafku.
"Apa yang dia katakan padamu?" suara Liam terdengar sangat protektif di ceruk leherku.
[Siapa pun yang membuat istriku marah, aku akan membuatnya menderita. Blair, wajahmu saat marah tadi... sangat menggoda. Aku ingin tahu apa yang wanita itu lakukan sampai kau terlihat begitu berapi-api.]
Aku berbalik, mengalungkan tanganku di leher Liam. "Hanya masalah kecil, Liam. Dia mencoba menawarkan minuman basi padaku."
Liam menyipitkan mata. "Minuman basi?"
"Ya. Tapi jangan khawatir, aku sudah membuang sampahnya," aku tersenyum manis, membuat Liam terpaku di tempat.
[YA TUHAN! Senyum itu... dia tersenyum padaku setelah mengusir wanita itu! Hatiku... berhentilah melompat-lompat! Aku ingin menciumnya di depan semua orang ini agar mereka tahu dia milikku sepenuhnya!]
"Liam," panggilku manja, membuat pria kaku itu menegang. "Aku ingin pulang. Aku bosan di sini."
"Pulang?" Liam berdehem, mencoba menjaga wibawanya. "Pelelangannya belum mulai, Blair."
"Aku tidak butuh perhiasan dari pelelangan ini," aku mengelus dadanya yang bidang. "Aku lebih suka desainku sendiri. Dan... aku lebih suka menghabiskan waktu dengan suamiku yang tampan ini di rumah."
Liam tidak bisa lagi menahan wajah batunya. Bibirnya sedikit bergetar membentuk senyuman tipis yang sangat langka.
[DIA MAU PULANG BERSAMAKU! Dia menolak pelelangan demi aku! Persetan dengan bisnis malam ini! Aku akan membawa permaisuriku pulang sekarang juga!]
"Baiklah. Kita pulang," ucap Liam tegas sambil menggenggam tanganku erat-erat, seolah takut aku akan berubah pikiran.
Aku tersenyum puas. Elodie, Andreas... kalian boleh punya rencana. Tapi aku punya kunci menuju hati sang penguasa Alexander Group. Dan malam ini, pemenangnya adalah aku.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/